Pertama kali mendaratkan kaki kami di Kabupaten Lembata, kami langsung menuju Pasar Tradisional Balauring. Blusukan ke pasar mungkin ini kali kedua bagiku ikut mendampingi suami. Sebelumnya kami blusukan di pasar tradisional di Sabu.
Kesan pertama terhadap pasar itu sudah teratur dan rapih, pemerintah sudah memberikan tempat yang baik mewadahi mereka dengan harga terjangkau biaya sewanya. Cuma memang khusus pedagang ikan, mereka tidak menggunakan lokasi yang sudah dibuat.
Aku tentu saja mendengarnya heran dan spontan bertanya kenapa? Ibu-ibu itu kompak menjawab karena lokasi terlalu jauh dari tempat para nelayan itu datang. Mereka khawatir ikan-ikan tidak terlalu segar lagi dan mungkin alasan-alasan lainnya yang membuat para penjual merasa lebih nyaman berjualan dekat pintu keluar pelabuhan. Heemm gumamku sambil mikir.
Kemudian kami masuk ke dalam pasar dimana suasana lengang. Para penjual di sana menjawab memang hari-hari seperti ini. Tidak heran roda perekonomian lambat berputar. Tentu saja untuk hal ini kami perlu menganalisa lebih lagi mengapa, karena banyak faktor penyebabnya.
Bersyukur para pedagang masih tetap semangat dan ceria. Tercermin pada wajah mereka ketika kami datang, mereka begitu senang dan mengatakan hampir tidak ada pejabat yang menengok mereka selama ini. Ke depannya sudah semestinya siapapun yang menjabat mau turun langsung ke bawah, melihat dan mendengar apa yang diinginkan rakyat.
Sebelum meninggalkan pasar, SPK membeli gula lempeng yang aku diminta coba. Enaknya, jadi ada tenaga lagi setelah kami semua berpanas-panas keliling dan aku sendiri sempat membeli 6 buah kain sarung di sana.
Lembata, Rabu, 9 Oktober 2024
Oleh: Esther Meilany Siregar / Istri Simon Petrus Kamlasi (SPK)







