“Habhu Kodo” Gaya Berbusana Perempuan Hawu Raijua

oleh -1578 Dilihat
banner 468x60

“Memakai pakaian yang pantas merupakan bentuk menghargai diri sendiri.” Nusantara memiliki beragam budaya dan gaya berbusana yang unik dan penuh makna.

Demikian halnya para perempuan Hawu Raijua (Sabu Raijua) mewarisi tradisi habhu kodo. Secara harfiah hahbu = tutup, pakai, ikat dan kodo = dada. Habhu kodo artinya tutup dada dalam hal ini dada perempuan dewasa dengan sarung. Para puan sebagai pencipta wastra lokal telah menetapkan etika memakai sarung untuk semua aktivitas baik hidup mau pun meninggal.

Habhu kodo adalah style bersarung bagi perempuan Hawu Raijua yang telah diterima sebagai warisan berbusana yang pantas dan layak turun temurun. Meski pun sejarah dari penetapan berbusana habhu kodo mulai kabur dalam ingatan generasi masa kini, namun bentuknya masih terpelihara. Beta (saya) sangat berterima kasih untuk para puan yang telah menjaga warisan berharga sekaligus unik yang memperkaya budaya bersarung di Nusantara.

Sejak seorang anak perempuan tiba pada masa ia bersarung, maka sang ibu akan melakukan ritus di sebut leko wue = pancing buah/lebih tepat tubuh/badan. Artinya sianak mulai diperkenalkan memakai sarung menurut gendernya. Tubuh sianak akan mengenakan sarung untuk melindungi dirinya baik secara fisik mau pun spiritual menuju pertumbuhan dari hari, bulan dan tahun.

Sarung si-anak biasanya sangat sederhana dari segi warna hanya paduan putih dan hitam tanpa motif seperti sarung puan dewasa. Pada hari itulah/leko wue si anak menerima pengakuan sosial sebagai perempuan dengan style bersarung.

Habhu kodo telah diajarkan oleh ibu kepada anak-anak puannya sampai mereka remaja, dewasa dan tua dimana ujung sarung hanya sampai di dada saja. Apakah ini sopan? Bagi puan Hawu-Raijua inilah yang cara bersarung yang paling sopan dan setiap orang yang melihat mesti memakai sudut pandang mereka.

Habhu kodo atau telajang dada dimana sarung diikat pada dada persisi di bawah ketiak merupakan kebiasaan harian mulai dari dalam rumah sampai pada lingkungan di luar rumah seperti acara kematian, perkawinan, syukur panen, melaut, berladang, memikul tuak, memetik daun nila, memikul air, bahkan saat memimpin ritus milik perempuan. Yang paling menarik, saat mereka menari (pedoa dan ledo) pun wajib habhu kodo; bagi mata para puan disinilah keindahan mereka, mempersembahkan tubuh mereka di hadapan semesta.

Perempuan/tubuh dihayati sebagai mikro pertiwi (ibu bumi) sumber kehidupan bagi generasi. Bila udara dingin, mereka memakai selimut untuk menutup bahu dari arah belakang dan bukan sebaliknya.
Yang lebih menarik, puan-puan senior (oma-oma) bukan lagi habhu kodo melainkan habhu dhallu (ikat di perut artinya ujung sarung diikat sampai di perut persis pada pusar). Style oma-oma ini untuk aktivitas di sekitar rumah dan sekitar kampung.

Refleksi beta, habhu kodo dapat menjadi simbol dari konteks Hawu Raijua yang sangat kering dan panas yang membuat mereka gerah. Apalagi sarung yang bahannya dari kapas cukup tebal dan pasti memancing keringat; kecuali di waktu udara dingin seperti Juli-Agustus sarung memberi kehangatan.

Pemandangan habhu kodo saat ini hanya kita lihat pada acara tarian seperti ledo dan pedoa sedangkan secara harian praktek ini mulai berkurang. Pada umumnya para puan akan bersarung dengan memakai atasan dari tekstil pabrik sesuai kemajuan dan perubahan zaman.

Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa puan Hawu Raijua memiliki style berpakian habhu kodo. Harap melihatnya dari lensa designer lokal yaitu leluhur Hawu Raijua dan jangan dengan mata pornografi. Sebab tubuh puan terhormat dalam balutan habhu kodo. Lain padang lain belalang, lain budaya lain stylenya, yang terindah saling menerima dan menghormati.

Harap bermanfaat bagi generasi puan Hawu Raijua. Salam!
Kupang, 08-08-2024

Oleh: Paoina Bara Pa, Pendeta GMIT

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.