Prada Lucky Namo: Kisah Tragis dari Barak yang Harusnya Aman

oleh -1745 Dilihat
banner 468x60

Prada Lucky Namo: Cerminan Luka Sistemik pada Tubuh Milter Kita

Di ruang sederhana itu, tercium aroma dupa bercampur wangi bunga melati. Di sudut ruangan, sebuah peti kayu berwarna cokelat muda terhampar, dikelilingi orang-orang dengan wajah sembab terisak-isak. Di sebelahnya, duduk seorang ibu memeluk foto seorang pemuda gagah berpakaian tentara. Jemarinya gemetar, matanya bengkak karena tangis yang tak kunjung kering. Sedang di sisinya berdiri seorang ayah, rahangnya terkatup mengeras, tapi air matanya juga terlihat mengalir.

Sementara di dalam peti, terbaring seorang prajurit muda yang baru saja memulai perjalanan hidupnya. Namanya Prada Lucky Chepril Saputra Namo. Tubuhnya sudah dibersihkan, dipakaikan seragam kebanggaannya. Tak ada lagi yang bisa melihat luka-luka di tubuh mudanya—lebam, cambukan, sulutan rokok—semua telah disamarkan seragam TNInya. Tapi publik kadung sudah tahu, luka-luka itu ada , menghadirkan cerita yang jauh lebih kelam dan menyakitkan daripada yang terlihat.

Almarhum Lucky, potret nyata tentang sebuah racun yang menjadi tradisi di barak-barak militer kita. Dia tidak gugur di medan perang tapi mati karena pukulan dan cambukan. Ia tidak mati melawan musuh menjaga tapal batas negeri tapi meregang nyawa justru di tangan mereka yang seharusnya melindunginya, para seniornya. Mau sampai kapan kisah tragis begini terus tertayang pada layar ingatan anak negeri?

Senioritas yang Menjadi Racun

Saya tahu, militer punya tradisi. Senior membimbing junior. Menanamkan disiplin. Membentuk mental baja. Itu indah, setidaknya di atas kertas.

Tapi pada senyatanya, budaya senioritas sering jadi tradisi busuk sebuah institusi. Akibatnya, tradisi ini tidak lagi membentuk, tapi merusak. Tidak lagi membimbing, tapi menginjak. Semua dibungkus dengan kata-kata manis: “pembinaan.” Padahal yang terjadi adalah pelecehan, intimidasi atau bahkan penyiksaan. Lucky hadir menjadi yang ke sekian sebagai korban.

Prada Lucky hanyalah satu nama dari daftar panjang korban yang tak pernah tercatat di papan kehormatan. Dan selama kita membiarkan budaya ini, kita sedang memupuk racun yang sama, menunggu korban berikutnya.

Jangan Seret Hanya Pelaku Utama

Yang lebih menyakitkan, muncul kabar bahwa ada pihak yang menyembunyikan HP milik Lucky. Kalau benar, ini bukan sekadar barang yang hilang. Ini adalah bukti yang mungkin bisa bicara, tapi dibungkam.

Siapa pun yang melakukannya, entah senior, atasan, atau perwira yang ingin “merapikan” situasi, semua sama-sama mencederai keadilan. Ini bukan sekadar pelanggaran prosedur, ini penghinaan terhadap duka keluarga dan kemarahan masyarakat.

Maka jangan hanya menangkap empat orang pelaku penganiayaan. Seret semua yang terlibat, langsung atau tidak langsung ke meja hukum.

Beladuka yang Tidak Cukup Hanya dengan Karangan Bunga

Ucapan turut berbelasungkawa tak cukup. Karangan-karangan bunga juga bakal layu dalam seminggu. Belasungkawa sejati adalah memastikan keadilan ditegakkan agar tidak ada lagi Prada Lucky lainnya.

Kita berhutang kepada keluarga Lucky, terutama ayah – ibunya, bukan hanya simpati, tapi jaminan bahwa anak mereka tidak mati sia-sia. Mengusut tuntas kasus ini, termasuk mereka yang mencoba menghapus jejak, adalah bentuk penghormatan terakhir paling layak yang bisa kita berikan.

Langkah yang Harus Diambil

  1. Proses semua pelaku tanpa pandang bulu. Baik pelaku langsung maupun pihak yang mencoba menutup-nutupi.
  2. Buka semua fakta ke publik. Keluarga dan masyarakat berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
  3. Bersihkan budaya senioritas yang beracun. Hentikan tradisi kekerasan yang dibungkus disiplin.
  4. Sediakan jalur pelaporan aman untuk prajurit junior. Mereka harus punya tempat bicara tanpa takut dibungkam.

Prada Lucky Namo seharusnya masih hidup hari ini. Seharusnya ia sedang latihan, sedang bercanda dengan teman-temannya, sedang menabung untuk membahagiakan orang tuanya. Tapi nyawanya direnggut justru oleh mereka yang seharusnya menjadi saudara seperjuangan.

Kalau kita diam, kita berkhianat kepada Lucky, kepada keluarganya dan kepada semua prajurit muda yang percaya bahwa seragam hijau adalah simbol kehormatan, bukan ancaman apalagi kematian tragis akibat tradisi busuk.

Jangan biarkan luka ini jadi cerita yang terulang!

#JusticeForPradaLucky
#PradaLucky
#LuckyNamo
#RIP

Oleh: Aven Jaman

Penulis adalah Warga NTT tinggal di Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.