Ekonomi ekstraktif adalah ekonomi yang dibangun dari eksploitasi sumberdaya alam seperti tambang dan menghasilkan kerusakan lingkungan yang hebat. Daron adalah penulis buku: “Mengapa Negara Gagal”. Berikut dialog imajinatif saya dengan Daron Acemoglu.
Saya: Profesor Daron Acemoglu, saya ingin membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemakmuran suatu negara. Apa yang Anda pikir menjadi kunci utama bagi sebuah negara untuk menjadi kaya?
Daron Acemoglu: Saya telah melakukan penelitian yang luas tentang hal ini, dan saya dapat mengatakan bahwa tidak ada negara kaya yang muncul dari ekonomi ekstraktif yang mengeruk sumberdaya alam. Negara-negara yang kaya biasanya muncul dari kreativitas dan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Saya: Benarkah? Saya pikir banyak negara yang kaya karena memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Daron Acemoglu: Tidak sepenuhnya benar. Banyak negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah tetapi tetap miskin. Contohnya, banyak negara di Afrika yang memiliki sumber daya alam yang kaya tetapi tidak dapat menggunakannya untuk meningkatkan kemakmuran masyarakatnya. Sebaliknya, negara-negara yang berinvestasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti Korea Selatan dan Singapura, telah berhasil mencapai kemakmuran yang tinggi.
Saya: Itu sangat menarik. Jadi, apa yang Anda pikir menjadi kunci utama bagi sebuah negara untuk menjadi kaya?
Daron Acemoglu: Kunci utama adalah kemampuan untuk menciptakan inovasi dan teknologi baru, serta memiliki institusi yang kuat dan efektif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Negara-negara yang berinvestasi dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi memiliki peluang yang lebih besar untuk mencapai kemakmuran yang tinggi, tidak hanya untuk sekarang, tetapi juga untuk masa depan.
Saya: Saya setuju dengan Anda. Kreativitas dan inovasi memang sangat penting bagi kemajuan suatu negara.
Daron Acemoglu: Ya, dan itu tidak hanya tentang menciptakan teknologi baru, tetapi juga tentang memiliki kemampuan untuk mengadaptasi dan mengimplementasikan teknologi yang sudah ada dengan cara yang efektif dan efisien. Dengan demikian, negara-negara dapat meningkatkan produktivitas dan kemakmuran masyarakatnya.
Saya: Profesor Daron Acemoglu, saya ingin membahas tentang kebijakan ekonomi Indonesia yang saat ini sedang melakukan ekspansi terhadap penambangan nikel dan sumber daya alam lainnya. Apa pendapat Anda tentang hal ini?
Daron Acemoglu: Saya khawatir bahwa kebijakan tersebut dapat berdampak negatif pada kemakmuran jangka panjang Indonesia. Ekstraksi sumber daya alam yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah dan tidak berkelanjutan.
Saya: Tapi, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan dapat menjadi sumber pendapatan yang besar bagi negara.
Daron Acemoglu: Saya paham bahwa sumber daya alam dapat menjadi sumber pendapatan yang besar, tapi sejarah telah menunjukkan bahwa negara-negara yang terlalu bergantung pada ekstraksi sumber daya alam seringkali mengalami apa yang disebut “kutukan sumber daya”. Mereka cenderung mengalami stagnasi ekonomi, korupsi, dan kerusakan lingkungan yang parah.
Saya: Apa yang Anda sarankan agar Indonesia dapat menghindari “kutukan sumber daya” tersebut?
Daron Acemoglu: Saya sarankan agar Indonesia berinvestasi dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas dan kemakmuran masyarakatnya. Selain itu, Indonesia juga perlu memperkuat institusi dan kebijakan lingkungan yang efektif untuk mengurangi dampak negatif dari ekstraksi sumber daya alam.
Saya: Saya setuju dengan Anda. Indonesia perlu memiliki strategi pembangunan yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada kemakmuran jangka panjang.
Daron Acemoglu: Ya, dan itu memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia. Dengan berinvestasi dalam sumber daya manusia dan teknologi, Indonesia dapat menciptakan kemakmuran yang berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada ekstraksi sumber daya alam.
Demikian dialog imajinatif dengan Prof. Daron Acemoglu, penerima Nobel Ekonomi tahun 2024.
Oleh: Goris Sahdan
.







