Mengapa Ekonomi Bertumbuh Tinggi, tetapi Kemiskinan Tetap Tinggi?

oleh -98 Dilihat
banner 468x60

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis menurunkan kemiskinan. Produk domestik bruto hanya mengukur pertambahan nilai barang dan jasa secara keseluruhan, bukan menjelaskan siapa yang menciptakan, menguasai, dan menikmati pertambahan nilai tersebut. Ekonomi dapat bertumbuh sangat tinggi, tetapi kemiskinan tetap tinggi apabila hasil pertumbuhan terkonsentrasi pada kelompok pemilik modal, perusahaan besar, wilayah tertentu, dan pekerja berkeahlian tinggi.

Mekanisme pertama terjadi ketika pertumbuhan bertumpu pada sektor padat modal, bukan sektor padat karya. Investasi besar dapat meningkatkan produksi, ekspor, dan laba perusahaan tanpa menciptakan lapangan kerja yang cukup. Teknologi, otomatisasi, dan mesin meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi keuntungan efisiensi dan produktivitas lebih banyak mengalir kepada pemilik modal. Masyarakat berpendapatan rendah hanya menjadi penonton pertumbuhan ekonomi tinggi karena mereka tidak memiliki modal, kompetensi, teknologi, jaringan, atau akses pasar yang diperlukan untuk ikut menciptakan dan menikmati nilai tambah.

Mekanisme kedua muncul ketika pendapatan nasional meningkat lebih cepat daripada pendapatan rumah tangga miskin. Upah pekerja dapat bertambah, tetapi kenaikannya tertinggal dari pertumbuhan laba, harga aset, dan biaya hidup. Pemilik tanah, saham, perusahaan, properti, serta aset produktif menikmati pertumbuhan kekayaan, sedangkan masyarakat yang hanya mengandalkan upah harus menggunakan hampir seluruh pendapatannya untuk bertahan hidup. Pertumbuhan ekonomi tinggi akhirnya memperbesar kekayaan kelompok yang telah memiliki aset dan hanya memberikan tambahan pendapatan yang sangat kecil kepada kelompok yang tidak memiliki aset.

Mekanisme ketiga bekerja melalui kenaikan harga kebutuhan pokok. Pendapatan nominal masyarakat mungkin meningkat, tetapi harga pangan, perumahan, transportasi, energi, pendidikan, dan layanan kesehatan dapat meningkat lebih cepat. Daya beli riil masyarakat kemudian menurun. Angka pertumbuhan ekonomi terlihat tinggi secara makro, tetapi kehidupan rumah tangga justru semakin berat secara mikro. Pertumbuhan seperti ini menghasilkan paradoks: negara tampak semakin kaya, sedangkan banyak warga tetap miskin atau hanya sedikit berada di atas garis kemiskinan.

Mekanisme keempat berasal dari ketimpangan kualitas pekerjaan. Statistik ketenagakerjaan dapat menunjukkan bahwa banyak orang bekerja, tetapi sebagian besar bekerja pada sektor informal dengan pendapatan rendah, tidak tetap, tanpa perlindungan sosial, dan tanpa kepastian karier. Pekerjaan memang tersedia, tetapi pekerjaan tersebut tidak menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membangun tabungan, dana darurat, investasi, dan aset produktif. Masyarakat bekerja keras hanya untuk mempertahankan hidup, bukan untuk naik kelas secara ekonomi.

Mekanisme kelima terjadi ketika sistem pendidikan tidak menghasilkan kompetensi yang dibutuhkan oleh sektor-sektor produktif. Pertumbuhan ekonomi menciptakan kesempatan baru, tetapi masyarakat miskin tidak mampu memanfaatkannya karena mengalami kesenjangan pengetahuan, keterampilan, kesehatan, teknologi, dan akses pembiayaan. Kesempatan ekonomi tersedia secara formal, tetapi kemampuan untuk memasuki kesempatan tersebut tidak tersebar secara merata. Pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan kapabilitas akan memperbesar jarak antara kelompok yang siap dan kelompok yang tertinggal.

Mekanisme keenam muncul ketika kebijakan fiskal dan perlindungan sosial gagal mengoreksi ketimpangan. Pemerintah dapat membangun infrastruktur dan memberikan bantuan, tetapi kemiskinan tetap tinggi apabila kebijakan tidak tepat sasaran, bantuan hanya mempertahankan konsumsi, kebocoran anggaran terjadi, dan program tidak meningkatkan kapasitas produktif masyarakat. Bantuan yang tidak disertai pendidikan, peningkatan kompetensi, akses modal produktif, pendampingan usaha, dan penciptaan lapangan kerja hanya meringankan akibat kemiskinan tanpa memutus penyebabnya.

Mekanisme ketujuh berasal dari perilaku ekonomi rumah tangga. Kenaikan pendapatan tidak otomatis membentuk kekayaan apabila masyarakat langsung mengubahnya menjadi kenaikan konsumsi, gaya hidup, dan utang. Rumah tangga tetap miskin apabila membelanjakan seluruh pendapatan, tidak membangun dana darurat, tidak berinvestasi pada kompetensi, dan tidak mengakumulasi aset produktif. Pertumbuhan ekonomi mungkin telah meningkatkan pendapatan, tetapi perilaku konsumtif menghabiskan peningkatan tersebut sebelum sempat diubah menjadi kekayaan.

Rangkaian mekanismenya dapat ditegaskan sebagai berikut: Pertumbuhan ekonomi → peningkatan produksi dan pendapatan nasional → hasil pertumbuhan terkonsentrasi → penciptaan pekerjaan berkualitas terbatas → upah tertinggal dari laba dan harga aset → biaya hidup meningkat → daya beli masyarakat bawah melemah → tabungan dan investasi rumah tangga tidak terbentuk → kemiskinan tetap tinggi.

Pertumbuhan ekonomi hanya akan menurunkan kemiskinan apabila pertumbuhan ekonomi tersebut bersifat inklusif, padat karya, efisien, produktif, tersebar antardaerah, meningkatkan upah riil, memperluas kepemilikan aset, dan membuka akses yang setara terhadap pendidikan, kesehatan, teknologi, modal, serta pasar. Masyarakat juga harus mengubah tambahan pendapatan menjadi dana darurat, peningkatan kompetensi, dan investasi pada aset produktif, bukan sekadar menaikkan konsumsi.

Pernyataannya harus tegas membedakan: pertumbuhan ekonomi bukan pemerataan ekonomi. Kenaikan produk domestik bruto bukan bukti bahwa kehidupan seluruh masyarakat telah membaik. Negara dapat semakin kaya secara statistik, sementara sebagian besar rakyat tetap miskin secara nyata, apabila nilai tambah hanya berputar di antara pemilik modal dan tidak berubah menjadi pekerjaan berkualitas, upah riil, kepemilikan aset, serta kemampuan produktif masyarakat.

Pertumbuhan tanpa distribusi pendapatan akan menghasilkan ketimpangan. Distribusi pendapatan tanpa pemberdayaan akan menghasilkan ketergantungan. Pemberdayaan tanpa perubahan perilaku akan kembali menghasilkan kemiskinan. Penurunan kemiskinan membutuhkan ketiganya sekaligus: pertumbuhan ekonomi yang inklusif, sistem yang adil, dan manusia yang efisien dan produktif serta bertanggung jawab.

Kasus Maluku Utara: Ekonomi Melonjak, tetapi Kemiskinan Turun Sangat Lambat

Provinsi Maluku Utara memberikan contoh konkret bahwa pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi tidak otomatis menurunkan kemiskinan secara sebanding. Namun, Provinsi Maluku Utara tetap memperlihatkan paradoks pembangunan yang penting: ekonominya melonjak sangat tinggi, tetapi manfaat pertumbuhan ekonomi tersebut belum menyentuh seluruh masyarakat secara proporsional.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa ekonomi Maluku Utara tumbuh sebesar 34,17% sepanjang 2025. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp133,62 triliun, sedangkan PDRB per kapita mencapai Rp97,26 juta per tahun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh industri pengolahan yang tumbuh 62,64% dan ekspor barang serta jasa yang tumbuh 40,13%. Angka tersebut menempatkan Maluku Utara sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi paling luar biasa di Indonesia. Namun, persentase penduduk miskin hanya turun dari 6,03% pada September 2024 menjadi 5,59% pada September 2025. Penurunannya hanya 0,44 poin persentase dalam satu tahun. Fakta tersebut memperlihatkan ketimpangan kecepatan yang sangat mencolok: ekonomi tumbuh 34,17%, tetapi tingkat kemiskinan hanya berkurang 0,44 poin persentase. Pertumbuhan ekonomi berlangsung sangat cepat, sedangkan pengurangan kemiskinan berjalan sangat lambat. (BPS Maluku Utara—September 2024).

Fenomena tersebut terjadi karena pertumbuhan Maluku Utara terutama ditopang oleh pertambangan nikel, industri pengolahan mineral, kawasan industri, dan ekspor. Sektor-sektor tersebut menghasilkan nilai tambah yang sangat besar, tetapi nilai tambah itu tidak otomatis berubah menjadi pendapatan yang diterima secara merata oleh seluruh rumah tangga.

Mekanisme pertama bekerja melalui sifat industri yang relatif padat modal. Pembangunan tambang, smelter, pembangkit listrik, pelabuhan, alat berat, dan fasilitas pengolahan membutuhkan investasi bernilai sangat besar. Investasi tersebut dapat menaikkan PDRB secara drastis, tetapi sebagian besar nilai tambahnya melekat pada modal, teknologi, mesin, dan keuntungan perusahaan. Setiap kenaikan PDRB sebesar Rp100 tidak berarti bahwa Rp100 tersebut dibagikan secara merata kepada masyarakat Maluku Utara. Sebagian menjadi penyusutan mesin, laba perusahaan, pembayaran modal, pembelian bahan dan peralatan dari luar daerah, upah tenaga ahli, serta pendapatan pemilik aset.

Mekanisme kedua muncul melalui kepemilikan aset. Masyarakat lokal yang tidak memiliki saham, perusahaan pemasok, alat berat, teknologi, modal, atau lahan produktif tidak otomatis menikmati kenaikan laba industri nikel. Mereka mungkin memperoleh pekerjaan dan upah, tetapi bagian terbesar dari pertambahan nilai ekonomi tetap mengalir kepada pihak yang menguasai modal dan rantai pasok. PDRB dicatat berdasarkan lokasi kegiatan produksi, bukan berdasarkan tempat tinggal pemilik modal atau tempat keuntungan akhirnya digunakan.

Mekanisme ketiga terjadi melalui kebocoran ekonomi keluar daerah. Perusahaan dapat membeli mesin, teknologi, jasa profesional, bahan penolong, dan perlengkapan dari luar Maluku Utara. Tenaga ahli dari luar daerah juga dapat mengirimkan sebagian pendapatannya kepada keluarga di daerah asal. Keuntungan perusahaan dapat berpindah ke kantor pusat atau pemegang saham di luar daerah. Seluruh kegiatan produksi tersebut menaikkan PDRB Maluku Utara, tetapi sebagian pendapatannya tidak berputar kembali dalam perekonomian masyarakat lokal.

Mekanisme keempat berkaitan dengan ketidaksesuaian kompetensi. Industri pengolahan mineral membutuhkan tenaga dengan keterampilan teknis, manajerial, digital, keselamatan kerja, rekayasa, dan pemeliharaan peralatan. Masyarakat lokal yang belum memiliki kompetensi tersebut hanya dapat memasuki pekerjaan berupah rendah atau tetap bekerja pada sektor informal. Kesempatan ekonomi memang tumbuh, tetapi kemampuan masyarakat untuk menangkap kesempatan itu tidak meningkat dengan kecepatan yang sama.

Mekanisme kelima bekerja melalui kenaikan biaya hidup. Kehadiran investasi besar, pekerja pendatang, dan kawasan industri meningkatkan permintaan terhadap perumahan, pangan, transportasi, dan berbagai jasa. Harga kebutuhan hidup dapat meningkat di sekitar pusat pertumbuhan. Pekerja industri mungkin memperoleh kenaikan pendapatan, tetapi petani, nelayan, pedagang kecil, pekerja informal, dan masyarakat di luar kawasan industri harus menghadapi kenaikan harga tanpa memperoleh kenaikan pendapatan yang sebanding.

Mekanisme keenam muncul akibat konsentrasi geografis. Pertumbuhan industri terutama terjadi pada lokasi tambang, kawasan pengolahan, pelabuhan, dan pusat logistik tertentu. Masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pertumbuhan tidak otomatis memperoleh pekerjaan, infrastruktur, pasar, dan kesempatan usaha baru. Maluku Utara tumbuh sangat tinggi sebagai satu kesatuan statistik, tetapi hasil pertumbuhannya dapat terkonsentrasi pada perusahaan, kelompok pekerja, dan wilayah tertentu.

PDRB per kapita sebesar Rp97,26 juta juga tidak berarti bahwa setiap penduduk Maluku Utara menerima pendapatan sekitar Rp8,1 juta per bulan. PDRB per kapita hanya diperoleh dengan membagi seluruh nilai tambah ekonomi dengan jumlah penduduk. Angka tersebut merupakan nilai rata-rata statistik, bukan pendapatan nyata yang masuk ke rekening setiap warga. Sebagian kecil perusahaan dapat menghasilkan nilai tambah yang sangat besar sehingga menaikkan angka rata-rata, sementara sebagian masyarakat tetap hidup dekat garis kemiskinan.

Rangkaian mekanismenya dapat dirumuskan secara tegas: Investasi nikel dan pembangunan smelter → produksi serta ekspor melonjak → PDRB tumbuh sangat tinggi → keuntungan terkonsentrasi pada pemilik modal dan aset → sebagian pendapatan keluar daerah → pekerjaan berkualitas membutuhkan kompetensi khusus → keterlibatan masyarakat lokal terbatas → biaya hidup meningkat → kemiskinan hanya turun sedikit.

Kasus Maluku Utara tidak membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi gagal sama sekali. Kemiskinan tetap turun dari 6,03% menjadi 5,59%. Namun, perbandingan antara pertumbuhan ekonomi sebesar 34,17% dan penurunan kemiskinan sebesar 0,44 poin persentase menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut belum cukup inklusif. Mesin ekonominya melaju sangat cepat, tetapi gerbong kesejahteraan masyarakat bergerak jauh lebih lambat.

Pernyataannya harus tegas: Maluku Utara merupakan contoh nyata bahwa daerah yang kaya sumber daya dan mengalami pertumbuhan ekonomi sangat tinggi belum tentu membuat seluruh rakyatnya cepat keluar dari kemiskinan. Kekayaan digali di daerah tersebut, produksi dicatat di daerah tersebut, dan ekspor dikirim dari daerah tersebut, tetapi sebagian besar nilai tambah belum tentu menjadi upah, pendapatan, tabungan, dan aset produktif milik masyarakat setempat.

Pertumbuhan baru dapat disebut berkualitas apabila industri besar membangun tenaga kerja lokal, memperkuat pemasok lokal, mengembangkan usaha mikro dan kecil, meningkatkan upah riil, memperluas kepemilikan aset, serta menghubungkan keuntungan industri dengan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, efisiensi dan produktivitas masyarakat. Daerah tidak cukup hanya menjadi lokasi penggalian sumber daya dan pencatatan PDRB. Masyarakatnya harus menjadi pelaku, pemilik, pemasok, tenaga ahli, dan penerima utama nilai tambah ekonomi.

Salam SUCCESS Cerdas Finansial!

Oleh: Vincent Gaspersz

Penulis adalah Lean Six Sigma Master Black Belt & Certified Management Systems Lead Specialist (Ahli Rekayasa Sistem dan Manajemen Sistem, Anggota Senior Institute of Industrial and Systems Engineers/IISE No. 880194630). Menulis Disertasi Doktor Teknik Sistem dan Manajemen Industri di ITB, 1991 tentang Keterkaitan Struktur Industri dengan Produktivitas di Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.