RADARNTT, Jakarta – Nilai tukar euro melorot versus dolar, Senin, karena laporan aktivitas bisnis untuk ekonomi zona euro mengecewakan, memperpanjang penurunan setelah data Amerika Serikat menunjukkan aktivitas tetap stabil, dan menjelang serangkaian pidato dari Federal Reserve pekan ini.
Data zona euro yang lemah mendukung ekspektasi untuk pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Bank Sentral Eropa (ECB) tahun ini, dengan pasar memperkirakan peluang sekitar 77% untuk pemotongan setidaknya 25 basis poin pada pertemuan Oktober, demikian laporan Reuters, di New York, Senin (23/9/2024) atau Selasa (24/9/2024) pagi WIB.
Sebuah survei yang disusun S&P Global memperlihatkan aktivitas bisnis zona euro berkontraksi tajam bulan ini, karena industri jasa yang dominan di blok tersebut stagnan, sementara penurunan manufaktur berakselerasi.
Kontraksi tersebut tampak meluas, dengan penurunan Jerman semakin dalam, sementara Prancis kembali mengalami kontraksi setelah dorongan dari sentimen Olimpiade pada Agustus.
Sebaliknya, aktivitas bisnis Amerika stabil pada September, tetapi harga rata-rata yang dibebankan untuk barang dan jasa melesat pada laju tercepat dalam enam bulan, yang mungkin menunjukkan akselerasi inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Data tersebut muncul setelah Federal Reserve memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pekan lalu, yang mana beberapa pejabat berkomentar, Senin, bahwa langkah itu dimaksudkan untuk mempertahankan keseimbangan yang baru muncul dan sehat dalam perekonomian.
S&P Global mengatakan Indeks Output PMI Gabungan Amerika, yang melacak sektor manufaktur dan jasa, sedikit berubah di 54,4 pada bulan ini dibandingkan angka akhir 54,6 pada Agustus, dengan pembacaan di atas 50 menandakan ekspansi.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang melacak kinerja greenback terhadap sekeranjang enam mata uang, termasuk yen dan euro, naik 0,05 persen menjadi 100,83 setelah melejit setingginya 101,23 pada sesi tersebut. Euro merosot 0,39 persen menjadi USD1,112 dan berada di jalur penurunan harian terbesar sejak 9 September.
“Yang paling kami perhatikan adalah ekspektasi suku bunga, sebagian besar memperkirakan the Fed akan memimpin dan bersikap relatif lebih agresif dalam hal pemotongan suku bunga, secara historis itu merupakan interpretasi yang wajar,” kata Michael Green, Manajer Portofolio Simplify Asset Management di New York.
“Apa pun yang akan menyebabkan pasar menghitung ulang mendekati posisi the Fed, kemungkinan akan memberikan setidaknya beberapa manfaat bagi dolar AS.”
Dolar jatuh untuk minggu ketiga berturut-turut pekan lalu, setelah the Fed memangkas suku bunga, dan beberapa pejabat bank sentral dijadwalkan untuk berbicara minggu ini termasuk, Chairman Fed Jerome Powell, serta Gubernur Michelle Bowman, Lisa Cook, dan Adriana Kugler.
Poundsterling menguat 0,2 persen menjadi USD1,3345 setelah naik ke USD1,33595, tertinggi sejak 3 Maret 2022, menyusul survei serupa menunjukkan aktivitas bisnis Inggris melaporkan perlambatan pertumbuhan bulan ini, meski tidak separah zona euro.
Bank of England mempertahankan suku bunga tidak berubah, Kamis lalu, dengan gubernurnya mengatakan bank sentral harus “berhati-hati untuk tidak memangkas terlalu cepat atau terlalu banyak”.
Terhadap yen Jepang, dolar melemah 0,37 persen menjadi 143,38 setelah liburan di Jepang. Greenback mencapai level tertinggi dua pekan di 144,50 yen, minggu lalu, setelah Bank of Japan (BOJ) membiarkan suku bunga tidak berubah dan mengindikasikan tidak terburu-buru untuk menaikkannya lagi.
Bagi yen, pemungutan suara partai yang berkuasa akhir minggu ini untuk memilih perdana menteri yang baru membuat pekerjaan BOJ lebih menantang dalam beberapa bulan mendatang, dengan para kandidat terdepan menunjukkan berbagai pandangan tentang kebijakan moneter. Pemilihan itu mungkin terjadi pada akhir Oktober. (Sumber: Ipotnews)







