Kelompok Matseba dan Kumba Futung Ikut Pameran OVOP Tingkat Provinsi NTT

oleh -1269 Dilihat
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Alor, Imanuel Djobo
banner 468x60

RADARNTT, Kalabahi – Kelompok Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Matseba dan Kumba Futung mewakili Alor mengikuti pameran One Village One Product (OVOP) tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Alor, Imanuel Djobo kepada media ini Rabu, (10/9/2025).

Menurut Imanuel Djobo (El Djobo) kegiatan OVOP merupakan program Gubernur NTT untuk mengembangkan satu desa satu produk unggulan untuk seluruh kabupaten kota di NTT. Dan kegiatan OVOP dimaksud dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas PMD Provinsi dengan melakukan pameran di halaman kantor Gubernur beberapa waktu lalu dengan menghadirkan 22 kabupaten dan kota salah satunya Kabupaten Alor.

Kabupaten Alor jelas El Djobo, mengikut sertakan dua kelompok UKM dari dua desa masing masing desa Lendola dengan kelompok UKM Matseba sedangkan dari desa Alor kecil kelompok UKM Kumba Futung. Dua kelompok UKM ini jelasnya diikut sertakan karena punya produk sendri sesuai dengan program OVOP yang dicanangkan Gubernur dan wakil Gubernur NTT yakni Melkiades Laka Lena dan Jhonny Asadoma.

El Djobo menjelaskan dikatakan program OVOP karena mengutamakan produk unggulan dari setiap desa yang ada di Kabupaten kota.

“Kelompok UKM Matseba dari desa Lendola dengan program unggulan kue baruas dari kenari karena Alor dikenal sebagai pulau kenari. Dan kelompok UKM Kumba Futung dari desa Alor kecil dengan program unggulan kue rambut. Produk yang dibawah terjual habis,” sebut El Djobo.

Tindak lanjut dari itu demikian Eli Djobo, Pemerintah Provinsi melalui Dinas PMD, melakukan pelatihan lanjutan untuk dua kelompok UKM tersebut yang dilaksanakan dari pada Selasa hingga Jumat, (9–12 September 2025) di hotel Simfony Kalabahi.

Dalam pelatihan tersebut lanjutnya, mereka diberikan materi bagaimana membangun jejaring sosial dengan memanfaatkan media sosial untuk bisa memasarkan produknya. Selain itu juga ada pelatihan tentang pembuatan kemasan yang baik terhadap produk produknya. Selain itu juga ada pelatihan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk mendapat sertifikat terutama produk produk yang belum ada BPOM.

“Untuk tahun ini dua desa karena secara tiba tiba.Tahun depan akan dilakukan seleksi untuk desa desa lain lagi,” ungkap El Djobo.

Istilah OVOP adalah sebuah gerakan revitalisasi ekonomi regional yang digagas pertama kali oleh Gubernur Provinsi OITA, Morihiko Hiramatsu. Gerakan OVOP yang dimulai tahun 1979 di Oita, Jepang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa di Jepang. 

Berkat kesuksesan ini, OVOP tidak hanya ditiru oleh perfektur-perfektur selain Oita di Jepang, tetapi diadopsi oleh berbagai negara lainnya, antara lain: Thailand, Malawi, Nepal, dan Indonesia. Di Indonesia, program OVOP mulai diterapkan tahun 2007 berdasarkan Peraturan Kementerian Perindustrian Nomor: 78/M-IND/9/2007.

Kini Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena kembali mengangkat OVOP sebagai salah satu program unggulan pembangunan daerah menuju desa mandiri berproduksi dalam segala bidang sesuai potensi desa masing-masing yang lebih diarahkan pada ketahanan dan kemandirian pangan. (NB/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.