Waktu yang Menyiksa

oleh -1411 Dilihat
banner 468x60

“Hidup itu ada dalam genggaman waktu.
Betapa sakitnya jika waktu mengeratkan genggaman pada hidup”

September ini mengingatkanku pada perjuangan yang dipatahkan oleh dusta. Tentu setelah satu tahun berlalu, aku pun harus berani untuk memulainya kembali. Dengan Langkah yang masih sama. Juga pada jalan yang sama, namun suasana yang berbeda dan mungkin juga waktu yang berbeda. Hal ini terjadi bukan oleh keinginanku. Memang sudah seharusnya untuk memulai kembali. Instingku memang selalu benar. Aku tahu bahwa akan ada kisah yang berakhir dengan kenangan luka. Sayatan-sayatan ingatan itu akan selalu menggiring hidup pada suatu penyesalan yang amat besar atas kisah yang pernah terjadi. Juga atas waktu yang membiarkan dia datang dan boleh mengenal dengan lebih dalam tentang diriku.

“Aaaahhh, kamu tak akan sanggup. Percayalah sama saya, aku tahu kelemahanmu Julita” pikiran pesimisku mulai mengusik optimisku.

Tentu ini adalah suatu cobaan yang harus aku runtuhkan dan harus aku lawan jika aku benar-benar menginginkan suatu masa depan yang cemerlang yang sedari awal perjalanan telah runtuh karena ulah sih pendusta. Telah memporakporandakan semuanya. Pesimis bisa mematahkan optimis. Tapi aku yakin bisa bangkit dari keterpurukan ini. Untuk saat ini aku luluh dengan realita, tapi nanti akan kubuktikan keberhasilan pada realitas ini. Untuk saat ini biarkan aku hidup dalam genggaman waktu yang menyakitkan dan sangat tidak bersahabat denganku. Tapi nanti, akan kubuktikan pula pada waktu yang menyakitkan ini. Aku tidak memaki suatu pertemuan yang sederhana lalu berakhir dengan suatu kerumitan yang mematikan.

Aku bangun lalu melangkah menuju suatu jalan pertempuran. Tentu aku harus memulainya hari ini juga.

“Julita, janganlah kau hidup dalam ekspektasi belaka. Bangkitlah!” pikiran optimisku mengingatkan aku.

Hari ini, aku berani melangkahkan kaki dan mulai kembali dengan rutinitasku seperti satu tahun yang lalu sebelum dia mengisap semua manisku dan meninggalkan pahitnya padaku. Dengan candanya yang serasa membiusku, membuat aku pun berani untuk menyulam hidup bersamanya. Biasanya untuk mengawali hari, aku akan menikmati secangkir kopi pahit.

“Jul,, kamu itu perempuan. Ubahlah kebiasaanmu minum kopi pahit. Biarkan ibu menambahkan sedikit gula hanya untuk mengurangi rasa pahitnya” pinta ibu.

“Biarkan aku meminumnya bu. Tentu pahitnya kopi hanya menjadi mediasi untuk dapat menghilangkan pahitnya realitas hidupku kini” bantahku.

Ibu tentu sangat prihatin dengan hidupku saat ini. Aku tahu itu. Tapi aku sudah dewasa. Bukan anak bontot lagi. Aku harus berani untuk menjalankannya. Berani menerobos lorong yang sedikit membutakan mata.
“bu, jika ada yang menelepon atau pun ada yang datang dan ingin menemuiku, katakan saja bahwa aku sedang sibuk” pesanku.


Apakah sudah saat untuk memulai kembali rutinitasku satu tahun yang lalu? Tapi, aku harus memulainya di mana? Mungkinkah aku harus kembali ke tempat lama yang telah aku khianati? Namun, jika aku ke sana kembali, pasti pikiran aku sedikit mengingatkan akan begitu banyak kenangan. Tapi, jika tidak ke sana, mau kemana lagi aku menepi? Tidak mungkin tersia. Aku harus berani.

Setelah beberapa menit aku berjalan, melewati lorong-lorong jalan di sekitar kampung, lalu melewati pula jalan yang terjal, akhirnya aku tiba di tempat lamaku yang pernah membuat aku nyaman dalam berimajinasi. Gubuk kecil itu, tidak begitu jauh dari rumahku, cuman jalannya sedikit menantang dan sejauh pengalaman belum pernah ada orang lain yang melewati jalan itu, dan hanya aku yang tahu tentang gubuk kecil itu. Sehingga, tempat ini adalah tempat ternyaman yang pernah aku rasakan.

Setibanya di gubuk, aku mencoba membersihkannya kembali. Sudah setahun lebih, aku baru kembali menginjakkan kaki di tempat ini. Gubuk kecil ini merupakan tempat nyaman untukku merangkai kata. Sepi, dibarengi dengan angin sepoi-sepoi yang menyentuh pori-poriku membuatku betah dan merasa nyaman melewati hari-hariku di sini. Dan aku hanya ditemani oleh komputerku yang sudah usang. Aku tak pernah menginginkan siapa pun untuk datang dan menemaniku disaat aku harus melewati keseharianku di gubuk kecil ini. Aku lebih menyukai kesendirian.

“Julita, jangan hanya menatap gubuk kecilmu itu dengan penuh iba. Sedikitlah menjamahnya, dan memisahkan dia dari sentuhan debu-debu yang membuatnya usang. Jangan membiarkan dia terus merasa asing oleh orang yang pernah nyaman tinggal di dalamnya” batinku.

Memulai dengan memeriksa komputer usangku, sebab sudah setahun lebih aku meninggalkannya. Membersihkan debu dan mencoba menyalakan tombol powernya. Dan ternyata dia masih mau menyapa temannya ini dan bekerja sama lagi denganku. Pikirnya dia sudah tak segan berteman denganku, ternyata dia masih bersedia untuk menjadi tempat merangkai kata dengan jari-jemariku yang terus menari di atas tombol keyboard.

Ketika sedang membersihkan lemari buku yang biasa aku gunakan untuk menyimpan semua buku dan tulisan-tulisan yang dilahirkan oleh diriku, tak sengaja ditemukan selembar kertas yang diselipkan di dalam buku antologi cerpen yang merupakan karya perdanaku. Raguku mulai merasuki. Apa sesungguhnya yang tertulis di kertas itu. Aku masih tidak berniat untuk mengambil dan membacanya. Tapi ada keinginan yang kuat untuk mengetahui apa isi di balik kertas itu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka dan membacanya.

“Harapan adalah impian yang terbangun”, yang pernah kukutip dari tulisan seorang filsuf Yunani Kuno, Aristoteles.

Kalimat ini mengingatkanku akan kejadian yang telah berlalu. Dengan kegigihan yang telah tertanam untuk mengawali karirku. Kata-kata itu menjadi motivasi dan pedoman untuk mewujudkan harapan yang telah tertanam begitu lama sedari aku masih di bangku SMA. Untuk dapat meraih impian ini merupakan suatu hal yang pelik. Tapi, usaha merupakan Langkah pertama dan kata pertama yang selalu ada dibenakku.

Setelah membereskan semuanya, aku mulai menempatkan tubuh di depan komputer usang itu. Namun, pikiranku masih belum bersahabat. Kisah akan perpisahan yang menyakitkan masih terngiang dan terus mengoda pikiranku, terus menggerogoti nalarku untuk tidak perlu melupakannya. Aku masih terus beradu dengan masa lampau.

“Julita,,, ayo mulailah merangkai kata. Jika tidak! Ekspektasi akan tetap ekspektasi” pikiran optimis memberikan semangat.


Dengan sedikit ragu aku mulai menggerakan jari di atas keyboard. “waktu yang menyiksa”. Kalimat pertama yang terlintas di benakku. Pikiranku pun mulai tidak bersahabat. Bayangan-bayangan akan kisah indah yang berkakhir pilu mulai terlintas. Kupikir ini merupakan sumber yang cukup baik untuk dijelmakannya menjadi suatu tulisan. Meskipun hati terasa perih. Tetapi lebih baik mengungkapkannya pada kata dari pada terus menyimpannya dalam nalar. Sebab, mungkin saja apabila tulisan ini rampung, kisah akan waktu yang menyiksa pamit dari hidupku. Dan membiarkan aku hidup dalam genggaman waktu yang membuatku sedikit nyaman. Sebab, jika dia tidak lekas pamit, mungkin saja aku bisa menjadi orang sinting. Hidup dalam dunia yang tidak bersahabat.

Beberapa menit berlalu, jariku masih terus menari di atas keyboard menuliskan kata yang dilahirkan nalar. Dan akhirnya, tulisanku mulai rampung. Tapi harus kah aku mengakui bahwa “waktu yang menyika” merupakan suatu cerita yang memojokan diriku sendiri dan seolah-olah tidak mampu untuk berjuang dan beradu dengan nalar?

“Julita, itu adalah perjuangan menghilangkan rasa sakit. Hidup adalah pertarungan antara masa lalu dan hari ini. Tidak perlu takut”. Batinku.


Senja mulai merangkak dan beranjak keperaduannya. Beruntung aku telah menyelesaikan tulisanku. Sungguh hari ini merupakan awal yang baik. Aku belum ingin kembali. Tapi malam ini juga aku harus ke tempat penerbitan, sebab aku telah menghubungi mereka untuk berkunjung. Dan lebih daripada itu, aku ingin segeranya orang lain membaca tulisanku. Aku ingin agar semua orang tahu akan suasana hidupku saat ini. Aku ingin agar semua orang tahu, bahwa masih ada orang yang berhati jahat namun tampang rupawan dan berwibawa.

Setibanya di rumah aku langsung disapa oleh segelas kopi pahit. Ibu tahu apa yang paling utama aku butuhkan untuk meredakan lelah dan menenangkan pikiranku.

“Julita, dari penerbit menghubungi kamu. Tapi ibu katakan kepada mereka bahwa kamu sedang sibuk”.

“Makasih bu atas informasihnya”. Ucapku

Setelah menyelesaikan segelas kopi pahit, aku langsung menuju tempat penerbitan untuk memberikan file antologi cerpen. Raguku mulai menghantui, apakah tulisan ini mereka menerimanya dan siap untuk diterbitkan atau malah sebaliknya. Tapi ternyata, realitas membunuh raguku. Tulisanku diterima dan siap untuk diterbitkan. Kini mulai nampak bahwa aku yang satu tahun lalu sudah kembali meskipun pernah setahun diruntuhkan oleh orang yang tak pernah memikirkan akan nasib sesama karena ulahnya.


Setelah menunggu selama sebulan lebih, akhirnya antologi cerpen “waktu yang menyiksa” kini berada di hadapanku. Aku yakin bahwa buku ini sedang berada di tangan semua penghuni jagat. Terimakasihku berlimpah kepada para editor dan penerbit. Dan saatnya aku memberanikan diri untuk membuka dan membacanya. Aku masih ragu untuk membacanya, meskipun sudah membuka halaman pertamanya. Aku tak berniat untuk membaca di rumah. Beranjak dari kursi kamarku dan langsung menuju sebuah café yang khusus untuk menikmati kopi dan tidak begitu jauh dari rumahku. Setibanya di café, aku langsung memesan segelas kopi pahit.

“Kamu kan cewek, mengapa kamu suka kopi pahit?”

“Tak selamanya perempuan tidak membolehkan dirinya untuk menikmati segelas kopi pahit”

Kemudian, pelayan itu memulai dengan gayanya yang seolah-olah filosof ulung yang tahu semua merangkai kata tentang filosofi kopi. Tapi aku sedikitpun tertarik pada kata-katanya.

“Nona, apa kamu tahu arti dari pahitnya kopi yang dapat menyembuhkan pahitnya hidup?”

“Cukup! Aku tidak ingin mendengarkan rangkaian kata-kata filosofi kopimu. Sebab, aku menikmati kopi bukan karena fiolosinya”

Pelayan itu pun seketika diam dan langsung bergegas untuk menghidangkan kopi atas permintaanku. Dalam keasikan membaca antologi cerpen, aku dikagetkan oleh suara yang tak asing ditelingaku.

“Julita”

Aku lalu meangkat muka dan melihat sosok lelaki yang bertubuh tegap, tampan dan sok berwibawa berdiri tepat di depanku. Lelaki yang pernah meciptakan luka dalam diriku. Lelaki yang oleh rayuan membuatku seolah-olah tak mampu menjalani hidup tanpa dia.

“Aku telah membaca antologi cerpenmu. “Waktu yang menyiksa”. Tentu aku tahu itu bertolak dari kisah yang telah kita rangkai bersama. Sekali lagi, maafkan aku Julita. Aku tidak berniat melakukannya. Tapi itu semua terjadi karena atas permintaan orang tuaku. Aku telah dijodohkan”

“Cukup Roy! Aku tidak ingin melihat kamu lagi dan mendengar kata-kata klasikmu itu. Kamu tidak pernah tahu apa yang aku rasakan setelah kau berkhianat. Hadirmu telah memudarkan impianku. Aku harus memenuhi semua keinginanmu. Sekarang ketika aku kembali memperjuangkan masa depanku, kau kembali hadir dengan ucapan maafmu yang beracun itu”. Tak terasa air mata bergulir dan menjamah pipih.

Seketika setelah mengucapkan kata-kata yang telah aku pendam, seola-olah terangkatlah semua bebanku. Lalu aku bangun dan langsung melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah.

“Kamu telah mematahkan mimpi besarku. Kamu telah menciptakan dan menyuruh waktu untuk menggenggam diriku dengan begitu perih”

Aku sungguh sangat menyesal karena sudah berkenalan dengan dia si lelaki pecundang. Dan ternyata benar kata Plato seorang filsuf Yunani Kuno.

“Jangan terlalu banyak mengenal orang. Sebab, kalian lebih sering disakiti oleh orang yang kalian kenal, sedangkan orang yang tidak kalian kenal nyaris tidak menyakiti kalian”.

Oleh: Irenius Boko
Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA dan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa UNWIRA Periode 2024/2025

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.