Tak Mau Jadi Bintang

oleh -843 Dilihat
banner 468x60

Saya tidak tahu apakah kontrak yang ditandatangani Ibu dengan pihak teve itu mengikat atau tidak. Tahu-tahu saya diajak untuk mengisi formulir pendaftaran, yang bahkan saya sendiri tidak sempat membaca secara mendetil mengenai draf isi kontrak kesepakatan tersebut.

Awalnya Ibu mengantar saya ke kantor suatu agen pencari bakat. Kemudian, mereka saling sambung telepon membicarakan ini-itu yang enggak jelas dan sulit dimengerti. Mereka bilang, saya ini seorang indo campuran atau blasteran, meskipun Ibu menolak untuk menyebut kata “blasteran”. Memang ibu saya kelahiran Bandung (Sunda), tetapi ayah asli kelahiran Uni Emirat Arab, yang bekerja di kantor kedutaan Jakarta.

Ketika pihak agen menelepon pada hari Minggu mengenai rencana diadakan audisi, reaksi saya biasa-biasa saja. Dia memberi tahu Ibu bahwa acaranya bernama “Bukbar” alias Buka Bareng untuk siaran selama bulan Ramadan, dan saya akan mengisi acara tayangan anak-anak. Tadinya saya merasa keberatan, tetapi karena Ibu mendesak terus, bahwa saya harus menabung untuk membeli sepeda listrik model terbaru, akhirnya saya setuju saja, dan tidak ada salahnya untuk mencoba.

Audisinya dilakukan sepasang-sepasang, lelaki dan perempuan. Saya berpasangan dengan seorang cowok blasteran yang mengaku sudah kelas 3 SMP. Saya mengenakan kaos putih longgar, celana hitam dan jilbab merah. Pasangan saya berdandan ala majalah fesyen remaja dungu dan kelihatan seperti orang senewen. Wajah cowok itu selalu nyengir dan cengengesan sepanjang waktu, yang mungkin di pikirannya membuat dia merasa lucu dan imut. Padahal, menurut saya, gayanya ketika nyengir mirip seperti cowok lagi ngeden dan buang air besar. Karena itu, saya sering memanggilnya dengan julukan “Toilet”.

Dua orang ibu-ibu yang memandu audisi itu menyuruh kami menyanyikan lagu religi “Asmaul Husna”, kemudian membaca dialog dalam bahasa Arab. Tentu saja, si Toilet sanggup melakukan semuanya dengan sempurna, tetapi saya memutuskan untuk bercanda-ria dan ketawa-ketiwi saja. Suara musik pengiringnya terlalu cempreng, sehingga saya harus menyanyikannya dengan nada tinggi. Si Toilet sebenarnya tak bisa bicara bahasa Arab, hanya logat dan aksennya yang kearab-araban. Di sepanjang acara dia menggunakan bahasa Indonesia, kecuali pada kata “na’am” dan “la” saja.

Tadinya saya mengira enggak bakal lulus, karena cuma ketawa-ketiwi saja waktu mengikuti audisi tersebut. Tetapi, ketika seorang utusan agen menelepon Ibu dua hari kemudian, tiba-tiba Ibu melompat-lompat seperti orang kesurupan, sambil berteriak-teriak memeluk Ayah, “Anak kita jadi artis… anak kita jadi artis, Pak, alhamdulillah…!”

Tak berapa lama, saya pun diajak mengikuti rapat yang menjengkelkan di studio teve. Konon, acaranya akan ditayangkan di PITV (Pendidikan Indonesia Televisi). Produser memberi tahu kami, bahwa nama acaranya “Bukbar” untuk pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Ia menjelaskan konsep acaranya. Ada keluarga Arab yang pindah ke Indonesia, dan memelihara seekor onta, kemudian saya disuruh mengajari onta itu bicara dalam bahasa Arab. Suatu konsep yang menurut saya “sableng” dan “senewen”. Kok bisa ya, orang-orang dibayar dan mendapat rizki, hanya untuk membuat acara-acara dungu seperti itu?

Saya pun ditanya mengenai jadwal acaranya. Tetapi, spontan saya nyatakan bahwa hari Minggu enggak mau syuting, karena harus latihan bulutangkis bersama teman-teman di Gedung Olahraga. Kalau misalnya, harus syuting pada jam sekolah sih mau-mau saja. Tetapi, Ibu segera memelototi saya. Ia mengusulkan pengambilan gambarnya di waktu sore atau malam. Produser kemudian menegaskan bahwa pengambilan gambar harus selesai pada minggu kedua bulan puasa.

Seminggu kemudian, saya diajak oleh Ibu menemui produser di studio teve PITV, lalu diperkenalkan dengan aktor-aktor lainnya. Peran Ayah dipanggil “Abi” dan peran ibu dipanggil “Umi”. Yang menarik bagi saya adalah peran ibu yang suaranya nyaring dan cempreng, persis ibu guru TK yang sedang mengajarkan huruf hijaiyah atau surah al-fatihah.

Pemain tetap lainnya adalah bapak-bapak mengenakan peci hitam bernama Pak Murad. Saya pernah melihat dia di suatu acara anak-anak di RCTI dan SCTV, seorang ayah yang ramah, santun, dan sama sekali saya tidak menduga kalau bapak itulah yang bakal mengisi suara boneka onta yang saya ajak bincang-bincang dalam bahasa Arab.

Karakter saya bernama “Sadaf”, sedangkan si boneka onta dipanggil “Kasim”. Orang yang mengarang nama-nama itu pastilah memerlukan pemikiran panjang, serta membuka-buka kamus Google untuk meneliti dan membanding-bandingkan dengan nama bagus lainnya.

Lewat WA, staf agen mengirimkan jadwal latihan dan pngambilan gambar. Latihan dilakukan pada hari Sabtu dan Selasa sore. Kadang waktunya sangat panjang, dari Pk. 16.00 hingga Pk. 22.00 malam. Sedangkan pengambilan gambar makin tak jelas jadwalnya, kadang sampai jam 23.00, bahkan hingga pagi dini hari. Saya merasa senang karena hari Minggu kosong, sehingga saya bisa bercengkerama dengan teman-teman di lapangan olahraga, juga Ayah merasa senang karena saya tidak bolos sekolah.

***

Pada pertengahan Januari tibalah skrip untuk dua episode pertama, karena mereka akan mengambil gambar dua episode sekaligus dalam sekali waktu, mulai pada akhir minggu itu. Episode pertama berkisar pada seorang teman yang memberikan hadiah seekor onta boneka pada saya. Lalu, saya bercakap-cakap dengan menyatakan “ahlan wa-sahlan”, kemudian berlanjut menanyakan namanya “man ismuka”, kemudian dijawab oleh Pak Murad selaku pengisi suara.

Pasangan saya si Toilet muncul pada latihan berikutnya. Ketika saya masuk untuk rapat, dia sudah duduk-duduk di kursi, seperti biasa nyengir dan cengengesan. Yang paling aneh justru cara berpakaiannya, dengan sorban dan baju koko, namun celananya gombrang persis jubah Arab yang kepanjangan sehingga menyapu padang pasir. Dia melonjak kaget saat boneka onta muncul, lalu bertanya dengan aksen kearab-araban. Setelah dijawab namanya “Kasim”, lalu si Toilet memaksakan diri untuk menaiki boneka onta kecil itu. “Oo, enak juga ya, naik ke punggung onta?” Kemudian, dia melanjutkan dengan kata-kata, “Hai Kasim, apakah kau puasa? Apakah nanti sore mau ikut buka bareng?” Tentu saja si Kasim mengangguk dan mengatakan, “Na’am, na’am, saya ikut buka bareng!”

Sejenak saya berdoa, sambil berharap, semoga teman-teman sekolah enggak ada yang nonton acara Bukbar berikut adegan-adegan dungu yang menyebalkan itu.

Setelah latihan ketiga, produser menginginkan banyak perubahan, sehingga skrip yang telah diperbarui dikirimkan lewat WA pada Jumat sore. Sabtunya saya menghabiskan seharian di studio, dan saya geleng-geleng kepala, karena tidak bisa percaya, betapa lamanya waktu yang diperlukan hanya untuk membuat dua acara teve berdurasi 20 menit. Akhirnya, saya makan malam bersama semua pemeran di studio. Ketika saya pulang, nampaknya sudah menunjukkan Pk. 05 dini hari, hingga saya melompat dan berguling-guling di tempat tidur saking lelah dan jengkelnya. 

Tak sampat memerhatikan, tahu-tahu ada karakter baru yang bergabung untuk episode keempat. Skripnya mengatakan, “Habib, sepupu saya sudah datang dari Arab Saudi untuk berkunjung dan menginap di Jakarta selama satu minggu.” Ketika si Habib nongol di tempat latihan, dalam keadaan terengah-engah berkeringat akibat berlari setelah turun dari Trans Jakarta, saya kok merasa tidak melihat ada tanda kehadiran cowok yang memerankan Habib. Saya kembali merogoh tas untuk mengambil skrip, tetapi kertas skrip yang sudah lusuh itu justru basah kuyup karena tertimpa botol mineral yang bocor.

Ketika baru masuk studio, tiba-tiba suara keras memekakkan telinga saya, “Hey Habib! Itu dia Sadaf sudah datang!” Saya merasa serba salah dan kikuk setengah mati. Tak berapa lama, produser nongol dari balik pintu seraya memperkenalkan saya dengan Rendy yang akan memerankan tokoh “Habib” sepupu saya. Pak Murad mengambil posisi duduk di sebelah saya, begitu juga seorang kru sambil memakan cemilan. Si Toilet tiba-tiba nongol sambil mendelik genit ke arah saya, “Itu yang akan memerankan Habib, orangnya ganteng, kan?”

Si Toilet mengajak Rendy duduk berdampingan dengan saya. Badannya gemuk dan tambun, mukanya kearab-araban. Begitu dia duduk di sebelah saya, kontan saya mengernyitkan hidung, karena tak mengira si Habib itu berkeringat setelah berlarian menuju studio, dan keringatnya bau apek. Mungkin lain kali saya harus membawa kantong plastik, karena bau badannya itu hampir membuat saya muntah.

***

Pada akhir semester kedua, seluruh pelajar Indonesia bersiap-siap melaksanakan ujian, tak terkecuali saya. Waktu sedemikian padatnya untuk pengambilan gambar, persiapan menghadapi ujian, latihan bulutangkis, bimbingan belajar dan lain-lain.

PITV mulai mengudarakan acara tersebut seminggu menjelang puasa Ramadan, sebagai bagian dari program persiapan bulan puasa hingga seminggu setelah lebaran. Ibu saya tidak sempat merekam acara pertama di pemutar DVD. Akhirnya, seluruh keluarga duduk menonton acara Bukbar, termasuk kakek, nenek, dan bibi-bibi saya. Ramainya bukan main, berisik banget seluruh ruangan. Acaranya ternyata menghibur dan seru juga, bahkan Ayah dan bibi-bibi tertawa terpingkal-pingkal sepanjang penayangan acara.

Karena teman-teman pada sibuk menghadapi jelang ujian semester, ikut les dan bimbel, latihan sepakbola, bulutangkis, volly hingga main game di ponsel, saya cukup merasa yakin bahwa tak seorang pun dari teman-teman yang menyaksikan tayangan acara Bukbar di PITV. Tetapi Ibu dan para bibi dan paman saya, pada latah teriak-teriak ke sana kemari, di warung tetangga, di pengajian hingga tukang sayur, padahal mereka sudah berjanji agar tak banyak omong soal acara Bukbar tersebut. 

Lama kelamaan, saya senang dan lengket juga bersama Kasim si boneka onta. Tetapi, bekerja bersama boneka rakitan yang kepalanya goyang-goyang tak selalu berjalan mulus. Sebab, dalam suatu adegan ketika si Toilet merasa kesal lalu menepis kepala boneka itu, tahu-tahu Kasim terpental dan jatuh dari sofa, hingga badan dan kepalanya terputus. Serentak para kru dan pemain saling bersitatap ngeri dan terpana menyaksikan kejadian itu.

Pak Murad segera mengendalikan situasi dengan memeluk badan dan kepala onta itu erat-erat, dan saya pun segera menghampirinya, “Aduuh, kacian Kasim… anta marid…” Seluruh pemain tertawa seketika, hingga terasa semakin meredakan ketegangan.

Produser dan penulis berkumpul bersama para pemain. Menurutnya, jadwal pengambilan gambar terlalu padat jika harus ditunda. Semua adegan saya dan onta akan diambil dari belakang. Tidak akan ada pengambilan jarak dekat bagi Kasim yang malang itu, sedangkan adegan kepalanya bergoyang-goyang pun terpaksa ditulis ulang.

Pak Murad kelihatan serius banget di luar acara, hanya ngomong seperlunya saja. Ia selalu menghafal dialog dengan sempurna dan jarang mengacau, sedangkan saya lebih banyak improv ketimbang terlalu terikat pada skrip. Para pemeran dan kru nampaknya bisa maklum, karena ini acara teve yang pertama buat saya. Tetapi, pemain latar dan pemusik nampaknya menganggap bahwa guyonan dan kelakar saya lucu dan kocak juga.

***

Senin pagi ketika saya masuk kelas, empat orang teman saya yang paling brengsek tertawa terpingkal-pingkal melecehkan saya, hingga mereka sepakat menjuluki saya, “Cewek Onta”. Dua teman pemain bulutangkis di Gedung Olahraga juga membaca-baca pesan teks di WA Grup, menanyakan apakah betul si Cewek Onta itu adalah saya sendiri. Begitu mereka memeriksa surelnya sama saja, sebagian menyukai, meledek, menghina maupun mencaci maki.

Yang paling merepotkan adalan Ibu dan bibi-bibi saya, yang ramai-ramai memposting di laman Facebook dan Instagram, kemudian segera posting di halaman utama situs terbaru di website PITV: “Hey nonton ya, itu anakku!” Kemudian bibi-bibi enggak kalah ramai: “Kamu lihat tuh! Itu acara paling bagus di PITV, dan pemainnya adalah keponakanku!” Ketika tautannya diklik, tahu-tahu muncul foto besar saya dan para pemain, berikut Onta Kasim yang bertengger di halaman tengah.

Ketika di laman Facebook, ada permintaan pertemanan dari mantan pacar Ibu di kampung dulu, bagi saya, sikap Ibu terbilang kurang fair ketika dia membalas dengan sengit, “Kawin saja tuh sama onta!” Pertengkaran kemudian berlanjut, seakan menyibak memori masa lalu yang bahkan saya pun belum sempat lahir ke muka bumi. Ibu mencaci maki mantan pacarnya, kemudian dia pun membalas saling caci maki di medsos.

Urusan jadi merebak luas hingga menjadi topik perbincangan di keluarga besar kami. Ayah memilih sikap diam dan mengalah. Itulah yang membuat Ibu merasa senewen selama beberapa minggu, hingga memutuskan pelarangan saya agar tidak lagi menghadiri acara syuting ke studio. Kontrak kesepakatan kerja akhirnya dibatalkan. Seorang bibi dan paman malah menuduh produser ikut bermain di balik provokasi yang dilakukan mantan pacarnya itu.

Tetapi, apapun sekenario di balik pembatalan kontrak itu, saya tetap berkesimpulan, bahwa dalam urusan cinta, kualitas kedewasaan seseorang tak memandang usia muda maupun tua. Tak lama kemudian, mulailah ramai gunjingan di medsos yang mengubah acara “Bukbar” menjadi acara “Bubar”. ***

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis adalah Prosaik generasi milenial, peraih nominasi untuk lomba cerpen nasional 2021 di litera.co.id, juga pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.