Sinangko

oleh -92 Dilihat
Ilustrasi
banner 468x60

Dahulu kala, di ujung Selatan Kabupaten Alor, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang sangat cinta akan budaya. Di rumah itu, selalu saja didatangi oleh orang dalam Negeri maupun luar Negeri yang punya rasa ingin tahu tentang budaya di Selatan Pulau Alor dan diterima dengan ramah oleh putra sulung dari keluraga itu yang bernama Divan. Namun anak Perempuan, selalu ada di dapur untuk membantu ibunya menyiapkan hidangan yang akan di santap bersama.

Suatu hari, datang seorang lelaki berambut putih dan berkaca mata sambil menenteng tas bertuliskan Dinas Kebudayaan di punggungnya ke rumah itu.

“Permisi, apa benar ini rumahnya Pak Dominggus?” tanya lelaki itu kepada Perempuan muda yang sedang duduk sambil menatap layar handphone berisi Kumpulan puisi yang ditulisnya sendiri.

“Bapak sedang keluar, tapi kalau memang sangat penting, mari silahkan duduk.” Jawab Perempuan itu sambil mempersilahkan lelaki itu untuk duduk.

“Terimakasih nona. Maaf sebelumnya, apakah nona bisa membantu saya untuk mendapatkan beberapa informasi terakait dengan tarian lego-lego dari daerah ini?”

“Bisa pak.”

“Kalau boleh tahu, bapak ini dari mana?” lanjut Perempuan itu.

“Iya, Nama saya Dedi, saya utusan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Alor untuk mencari informasi tentang tarian daerah di wilayah ini.”

“Oia Pak. Di sini biasanya orang melakukan tarian lego-lego itu Ketika ada pesta adat dan itu selalu ada syair-syair yang dinyanyikan sendiri oleh orang-orang tua di kampung ini
dalam Bahasa daerah. Biasanya, syair itu berisi tentang ungkapan Syukur dan terimakasih, ada juga yang berisi tentang permintaan kepada Yang Maha Kuasa.” Jelas Perempuan itu.

“Apakah syair itu dinyanyikan oleh laki-laki dan Perempuan?”

“Kalau yang sering melakukan itu biasanya dari Laki-laki karena laki-laki yang biasa melakukan tarian itu sambil memegang busur dan anak panah serta mengenakan ikatan kepala yang terbuat dari kain merah dan bulu ayam. Selain itu, Perempuan di kampung ini selalu diberi pemahan bahwa hanya bisa di dapur. Sehingga sampai saat ini, tidak ada Perempuan yang berani melantunkan syair dalam tarian itu.”

Setelah Perempuan itu menyampaikan semuanya, terkejutlah lelaki tua itu tentang apa yang terjadi di kampung dan hal itu juga membuat ia menarik Kesimpulan serta menjawab pertanyaan yang selalu saja menghantui pikirannya Ketika ada kegitaan yang melibatkan semua daerah di Kabupaten Alor yaitu mengapa tak ada Perempuan mengikuti kegiatan tersebut. Dengan terburu-buru Ia lalu pamit tanpa meminum the yang baru saja disuguhkan oleh Perempuan muda itu.

Perempuan pun sangat penasaran dan berkata dalam hatinya, “ Sinangko, kamu harus coba!!!!”

Malam pun menjadi bagian dari perjalanan hari itu. Namun pikiran Sinangko masih saja berputar pada kejadian siang tadi. Dalam lamunan itu, “niat hati ingin bertanya tapi apalah daya, aku hanya figuran yang dipercayakan Tuhan untuk ambil bagian dalam keluarga ini.”

Tiba-tiba, terdengar seseorang mengetuk pintu. Dengan cepat membuka pintu lalu tampaklah ibunya di depan kamarnya.

“Nak, kamu kenapa? Kok wajahmu terllihat sangat lesu?”

“ Tidak apa Bu, aku hanya kurang istirahat saja.”

“Jujur saja, ini ibu, ibu yang mengandung dan melahirkanmu, jadi ibu tahu kamu sedang memikirkan sesuatu yang membuat kamu sangat terlihat lesu.”

“ Ibu, untuk apa aku sampaikan kalau hanya sekedar buang garam di laut.”

“Anakku, harimau saja tak membiarkan anaknya terluka bahkan menangis, apalagi ibumu ini yang seorang manusia, mana mungkin seperti itu.” Jawab ibunya sambil meneteskan air mata. Melihat ibunya menangis, maka tersentuhlah hatinya lalu Ia memeluknya sambil berkata.

“Bu. Pelukan hangat ini yang aku rindukan, dukungan seperti inilah yang sangat ku nantikan. Ibu, jika suatu saat, Aku menjadi seorang Perempuan yang melawan, apakah masih pantas disebut sebagai anakmu?” tanya Sinangko pada Ibunya.

Sinangko, sampai kapanpun kamu akan tetap jadi anak Perempuan yang selalu ibu banggakan. Kamu itu anak yang sangat luar biasa. Ketahuilah nak, jika suatu saat ibu tak Bersama denganmu, doa ibu di sepanjang Tengah malam akan selalu terucap namamu.” Jawab Ibunya.

Setelah menjawab itu, ibu mengajak anak perempuannya untuk ke meja makan agar mereka makan malam Bersama sebelum kantuk menjemput di pertengahan malam ini karena mereka telah dinanti oleh Divan dan ayahnya. Setelah makan bersama mereka beranjak ke kamar masing-masing.

Di kamarnya, Sinangko kembali merenung, “Seandainya aku punya keberanian dan kekuataan, mungkin aku adalah Perempuan yang akan selalu tampil di depan.” Usai merenungi nasibnya, Ia pun melontarkan.

“Tuhan, mungkinkah aku sangat berdosa? Aku cape dengan hidup ini, mohon berikan kekuatan dan petunjuk kepada hamba. Biarkanku menempuh ingin dengan melangkah dalam jalan menuju lupa. Izinkan agar malam ini jadi tidur terindah karena digauli oleh mimpi yang tak ingin usai sebab ku tahu tak ada kata selesai untuk setiap rencana-Mu dalam hidup ini. Jadikan aku Cahaya untuk menyenangkan-Mu.

Amin.”

Suatu waktu, ayahnya pulang sambil marah-marah entah apa penyebabnya. Ia duduk di teras rumah dan mulai mengoceh dengan nada tinggi.

“Minaaa,,,Minaaaaaaa,, bawa anak kesayanganmu kesini, sekarang!!!!!!!” Ia memanggil istrinya bersama anak Perempuan.

Perempuan tua itu dengan terburu-buru memanggil anaknya yang berada di kamar untuk keluar dan sama-sama menghadap.

Ketika sampai di teras rumah, tanpa basa-basi, “Prakkkk” Satu tamparan keras dari laki-laki itu mendarat di pipi kanan anaknya.

“Kamu itu Perempuan bukan laki-laki. Kamu tidak pantas untuk berbicara tentang budaya, apalagi sampai membagikan informasi kepada orang yang baru kamu kenal!!!!!”

“Sudah ayah sampaikan berapa kali?

Seharusnya kamu itu paham benar. Kalian Perempuan itu tidak punya hak untuk berbicara di ruang tamu apalagi di atas panggung. Perempuan itu suaranya hanya ada di seputaran dapur!!!!!!” marah ayahnya.

“Kali ini, tidak boleh ada yang membela kau, dan kamu memang harus di kurung di gua belakang agar bisa merenungi kesalahanmu supaya tidak terulang lagi hal seperti ini. KAU PAHAM?!!!!!”

“Baik ayah.” Jawab Sinangko dengan gemetar dan menangis. Itulah percakapan terakhir antara ayah dan anak perempuannya sebelum lelaki itu melangkah sambil memerintahkan anaknya agar segera mungkin menyelaraskan langkah dengan pernyataan yang telah dilontarkan lewat bibir tak merona yang jujur.

Maka Sinangko pun beranjak pergi tanpa memperdulikan teriakan bahkan tangisan dari ibunya. Kakaknya juga tak tega melihat adik perempuannya menerima hukuman itu, namun apalah daya, dia hanya seorang anak yang dibawa kendali ayahnya.

Di dalam hatinya, ia berkomitmen agar suatu saat nanti tak perduli entah kapan waktunya, Ia ingin sekali membebaskan adiknya dari belenggu beban yang hukumannya tak pantas diterima oleh anak Perempuan. Perlahan Sinangko mulai memasuki gua itu tanpa menoleh sedikitpun hingga pada akhirnya, tubuhnya hilang ditelan oleh gelapnya gua.

Sinangko yang selalu mengingat ajaran baik dari setiap orang yang pernah ditemuinya, kini ia terperangah dalam kegelapan. Tetapi, Ketika matanya tertuju pada batu-batu kecil dan tumpukan dedaunan, ia mengingat ajaran ibunya, bahwa dari gesekan batu dalam tumpukan dedaunan kering dapat menghasilkan api untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan. Ia segera mengambil dua batu kecil lalu meletakkan di tumpukan daun kering sambil menggesek kedua batu itu.

Namun, hampir dua menit berlalu, asap tak kunjung muncul. Hampir menyerah merenggut semangatnya, namun ia terus mencoba dan di percobaan yang kedua, akhirnya ia berhasil membuat api dari ajaran ibunya. Malam itu ia beristirahat dengan ditemani bising nyamuk dan nyanyian jangkrik yang tak kenal tangga nada hingga membuat matanya terbuka sepanjang malam namun tubuh terbaring
lemah.

Di luar, terdengar hujan deras mulai bertamu pada bumi yang sunyi bahkan petir pun turut hadir dengan gagah bahkan ganas tanpa memiliki undangan yang jelas, baik dari bumi maupun hujan itu sendiri. Namun dalam hati Sinangko, hanya ada tanya, “bagaimana keadaan ibu malam ini?

Mungkinkah ibu memikirkan keadaanku ini?” tanya itu menghias malamnya untuk menjemput pagi yang penuh harap dalam rasa cemas berkelimpahan.

Di pagi yang cerah, namun gua itu masih tampak gelap. Ketika Sinangko hendak bangun, tanpa sengaja, tangannya menyentuh sebuah batu hingga berdarah. Lalu darah tanpa sengaja mengalir memasuki cela batu. Tak disangka, hal itu membuat ia menemuka suatu hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Sebuah pintu rahasia gua itu terbuka lalu tampaklah sebuah Cahaya yang begitu menyengat mata.

Karena penasaran, Ia lalu berjalan memasuki tempat itu dengan hati-hati. Tiba-tiba terdengar suara, “Cucuku, selamat datang dan selamat melanjutkan apa yang telah ku tanamkan selama ini.

Berjalanlah terus ke depan dan lihat di samping kananmu. Apa yang ada di situ, ambillah dan gunakan dengan baik.” Sinangko terkejut namun ia memantapkan langkahnya, lalu terus berjalan ke depan seperti apa yang telah diperintahkan dalam suara itu. Lalu, tampaklah sebuah selendang tenun khas Alor Selatan yang begitu cantik dan sangat menarik untuk dimiliki.

Karena tadi telah disampaikan melalui suara bahwa ambil, maka ia menyodorkan tangannya dan mengambil kain tenun tersebut. Ketika tangannya menyentuh kain tersebut, ia merasakan sesuatu terjadi dalam tubuhnya.

Tubuhnya seperti lebih ringan dan kaki tangan seperti lebih lincah untuk digerakkan serta ia menjadi lebih berani untuk maju karena merasa telah memiliki kekuatan yang besar mengalir dalam tubuhnya.

Dengan penasaran, Ia lalu berteriak dengan keras. “Apakah dengan ini aku bisa mengangkat derajat Perempuan serta Perempuan dapat dipercaya dan dibanggakan dan tak lagi dianggap remeh oleh orang lain?”

“Itulah tujuan kenapa kau di pilih. Lanjutkan!!!!!!” Suara itu menyambung apa yang ditanyakan Sinangko.

“Pergilah, tidak akan ada seorangpun yang bisa menghentikan dirimu jika selendang itu masih ada padamu” lanjut suara yang tak diketahui siapa orangnya.

“Baiklah. Akan aku lakukan seperti yang engkau sampaikan. Walaupun, aku tak melihatmu tapi aku percaya bahwa engkau Adalah orang sejalan denganku dan juga orang yang sangat baik. Semoga suatu saat, kita berjumpa walau tak lama. Pada intinya di manapun kamu dan bagaimanapun dirimu, aku sangat berterimakasih atas apa yang telah kau berikan kepadaku.” Lanjut Sinangko.

Setelah semua kejadian itu, Sinangko berbegas untuk keluar dari Gua itu. Namun dalam hatinya, masih saja memikirkan tentang ayahnya. Mungkinkah ayahnya akan sangat marah karena ia keluar tanpa persetujuannya?, ataukah ayahnya akan menerimanya dengan baik dan memperlakukannya seperti apa yang telah Ia dengar dari suara misterius itu?.

Langkah demi langkah Ia ayunkan dengan penuh hati-hati sambil matanya melirik, apakah ayahnya ada diseputaran tempat itu atau tidak. Ketika kakinya menyentuh pintu gua itu, terkejutlah ia karena hal tak terduga terjadi saat itu.

Semua ada di rumahnya datang ke tempat itu untuk menjemputnya dengan wajah yang berseri dan ayahnya tampak bangga dengan anak Perempuan satu-satunya itu. Mereka kemudian memanggil Sinangko, lalu ibunya berlari dan memeluknya “ Kamu baik-baik sajakan nak?” tanya ibunya penuh rasa khawatir.

Sambil berjalan ke rumahnya, Sinangko hanya menjawab dengan air mata yang tak berhenti mengalir membasahi pipinya yang terlihat kusam. Ketika mereka telah tiba di rumah, Sinangko lalu dengan gagah berdiri dan mulai menceritakan segala yang terjadi pada zaman dahulu di kampung itu.

Tampak ayahnya keheranan karena ia saja hanya tahu cerita itu tak secara lengkap namun anak perempuannya yang selalu di pinggirkan, kini lebih lihai menggambarkan, hal ia pernah hidup di zaman itu. Bahkan, Sinangko sangat hafal betul nama-nama dari kakek nenek buyutnya.

Suatu waktu, kabar pagi menjemput bangun mereka saat matahari bertengger di balik rindang pohon kelapa dan jam dinding menunjukan pukul 07:13. Kabar itu menggemparkan keluarga itu, sebab nama Sinangko masuk dalam perlombaan perlombaan Tingkat desa pada mata lomba cerita budaya.

Mendengar kabar itu, sangat gembiralah Sinangko, maka dengan penuh semangat, Ia mengambil selendang yang didapatnya dari gua, lalu mencucinya. Tiba tiba, terdengar teriakan minta tolong dari dalam kamar. Ia lalu buru-buru menjemur selendang itu dan bergegas menuju tempat suara itu berasal.

Terlihat banyak orang telah mengerumuni kamar itu. Ternyata, kabar tidak mengenak harus Ia terima, Ibunya yang sangat menyayanginya harus pergi lebih dahulu meninggalkan dunia ini terlebih khusus meninggalkan mereka. Ketika Ia dalam keadaan sedih itulah, ada suara menghampirinya.

“Cucuku, itulah akibatnya jika seseorang menginginkan apa yang bukan untuknya.” Sinangko akhirnya mengerti selama ini, Ibunya hanya pura-pura peduli dengannya agar ia memberikan selendang itu kepadanya.

Maka Sinangko tidak pergi melihat ibunya, namun ia Kembali lalu mengambil selendang itu dan meninggalkan rumahnya. Ia memantapkan langkahnya ke tempat di mana lomba itu di adakan.

Tiga hari kemudian, Terik matahari yang begitu panas, seorang tetangga berlari ke rumah sinangko dan memberitahukan kepada ayahnya bahwa sinangko berhasil menjuarai lomba dan sekarang sinangko telah terkenal. Terlihat di koran yang sedang di pegang oleh tetangga itu, bahwa Sinangko akan diwawancarai oleh saluran televisi terkenal.

Sejak saat itu, nama Sinangko selalu dibanggakan dan dijadikan bahan nasehat oleh orang tua terhadap anak-anaknya di kampung itu. Hingga kini, nama itu seakan menjadi panggilan akrab dan rasa bangga terhadap anak Perempuan suku Kamang.

SELESAI…….

(Sebuah kisah menggapai rasa)
Karya: Migel Manetlau

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.