Ada banyak perubahan sejak saya mengenal Jafar beberapa tahun lalu. Dia selalu memperingatkan saya, sambil mengutip hadis Nabi, bahwa jika kita mencintai apa yang ada di bumi, niscaya para penduduk langit akan mencintai kita juga.
Kami mulai berjumpa sejak memasuki bangku kuliah pada jurusan Filsafat di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Sebagian teman mahasiswa merasa risih dan canggung bersahabat dengannya, bahkan cenderung menghindarinya. Itu lantaran dia begitu polos dan selalu bicara blak-blakan dalam segala hal, termasuk dalam urusan rumah-tangga. Kami saling betukar pikiran, bukan saja mengenai buku yang telah kami baca dan pelajari, tetapi juga dalam hal yang sifatnya agak riskan untuk dipersoalkan.
Lalu, apakah persoalan riskan yang dialami oleh keluarga saya? Salah satunya perihal paman saya yang mengalami kelainan jiwa, dan bertahun-tahun telah dirawat di rumah sakit jiwa, Kota Bogor.
Di hari ulang tahunnya yang ke-50, saya mencoba mengajak Jafar, melalui perjalanan dari Ciputat, sambil mengendarai mobil yang sengaja saya rental selama dua hari. Sehabis menjenguk paman di rumah sakit, saya berencana mengajak Jafar menginap di rumah bibi yang tinggal di kota Bogor. Lalu, keesokannya menyempatkan diri bersantai di Kebun Raya, sambil membahas masalah agama dan filsafat yang menjadi kebiasaan dan kegemaran kami berdebat di lingkungan kampus.
“Kenapa dia enggak mau pegang ponsel?” tanya Jafar dalam perjalanan menuju Bogor.
“Bukan hanya ponsel,” jawab saya, “bahkan dia alergi dengan segala alat-alat elektronik, dan segala macam yang disebutnya teknologi buatan manusia.”
“Kalau dengan teve atau radio.”
“Sama sekali dia tak pernah mendengar radio atau menonton teve sejak menderita kelainan jiwa.”
“Sejak kapan itu?”
“Kurang lebih delapan tahun lalu.”
Perbincangan dengan Jafar terus berlanjut sambil mendengar lagu-lagu sendu dan lembut kesukaannya. Entah kenapa, di sepanjang perjalanan yang biasanya saya terjebak kemacetan bila menjenguk bersama keluarga, kali ini mobil yang saya sopiri meluncur dengan mulus dan cepat, tanpa ada kemacetan dan hambatan sama sekali.
Hadiah ulang tahun buat paman sudah saya persiapkan, berupa cokelat kesukaannya, karena konon menurut Bibi, hanya tiga jenis makanan yang dia konsumsi semenjak ia sakit, yakni nasi, lauk, dan cokelat. Konon, dengan tiga jenis makanan itu sama sekali dia tak pernah menderita sakit apapun. Bahkan, gula darahnya konon baik-baik saja menurut dokter yang kerap memeriksa kesehatannya.
“Aneh juga ya, kalau kita mengamati orang gila,” kata Jafar seketika, “organ-organ tubuhnya seakan berbeda dengan kita dalam merespon makanan yang masuk.”
“Maksudmu?” tanya saya singkat.
“Coba kalau kita perhatikan orang gila yang sering berkeliaran di jalanan. Kadang mereka berada di tempat sampah, lalu memakan sisa-sisa makanan yang sudah basi, tapi sepertinya kita tak pernah mendengar mereka mengeluh karena mulas atau sakit perut?”
Saya menanggapinya dengan tersenyum, lalu sambung Jafar, “Kalau misalnya kita kirim teknologi buatan manusia, misalnya kita beri hadiah ponsel untuk ulang tahunnya, apa reaksi paman kamu?”
Saya menjelaskan tentang apa yang dialami oleh kebanyakan orang yang menderita delusi tersebut. Seakan ia menganggap benda buatan manusia semacam energi jahat yang bergetar-getar, dengan aktivitas membahayakan yang dapat dirasakannya. Suatu kali, paman bahkan merobek-robek koran dan majalah, hanya karena ia melihat gambar dan membaca sebuah artikel yang menyinggung perasaan dan menakut-nakuti pikirannya.
Kini, mobil memasuki tempat parkir dan datang lebih awal. Biasanya saya datang terlambat dan membuat keluarga kami harus berlama-lama menunggu antrian. Tapi kali ini, baru ada beberapa orang di kursi tunggu, dan kami mendapat giliran nomor dua. Rintik-rintik hujan mulai turun saat kami telah sampai di ruang tunggu, kemudian tiba giliran kami menapaki jalan kecoklatan yang mengarah menuju sanitorium.
Dua orang petugas memeriska bawaan kami, membuka bungkus cokelat, karena khawatir kalau ada sedikit saja benda tajam, termasuk sendok garpu, si pasien lalu memakainya untuk melukai tubuhnya sendiri. Bahkan, seorang petugas segera meminta bolpoin yang ada di kantong baju Jafar, dan dia menjelaskan jangankan bolpoin, bahkan sebuah toples kaca yang dibawa penjenguk untuk menaruh cemilan, tetap tak diperbolehkan masuk.
Di kursi ruang tunggu kami menunggu. Tak berapa lama, muncullah paman bersama seorang petugas yang segera pergi setelah kami saling jumpa.
Wajahnya menyedihkan terlihat cemberut, kebingungan, dan berjerawat. Lama sekali ia manatap wajah Jafar, namun dibalas dengan menyodorkan tangan, “Kenalkan, nama saya Jafar, teman kuliah Alim,” ujarnya sambil tersenyum.
Paman menyambut dan menyalaminya, dan tak seperti biasanya ia pun menyebutkan namanya, “Saya Onad.”
“Wah, namanya bagus banget,” puji Jafar dengan senang hati.
Kotak cokelat saya sodorkan ke meja. Biasanya dia langsung menyambarnya, namun kali ini sepertinya ia merasa malu pada Jafar.
“Ambil saja, Bang Onad, kami sudah kenyang makan cokelat di mobil,” kata Jafar berbohong. Lalu, Paman pun mengambil kotak cokelat, dan segera menyembunyikannya di pangkal paha.
“Oya, sekarang adalah hari ulang tahun Bang Onad,” teriak Jafar sambil berdiri, “ayo kita bersama-sama menyanyikan lagu ulang tahun di ruang tunggu ini…”
Jafar menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” sambil bertepuk tangan. Saya pun ikut berdiri, dan beberapa pasien bersama penjenguknya di kursi samping juga ikut bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu ulang tahun, seraya mengucapkan selamat dan menjabat tangan paman.
Seorang suster cantik datang menghampiri kami sambil tersenyum. Jafar segera mengamit kursi dan mengambil posisi duduk di meja sebelah. Lalu, berbincang-bincang dengan suster perawat itu tentang segala hal yang berkaitan dengan kehidupan pasien sakit jiwa. Ia pun menjelaskan, bahwa suatu kali Paman Onad pernah mencoba bunuh diri, menyayat pergelangan tangannya dengan pecahan toples plastik. Sejak peristiwa itu, semakin diperketat benda-benda yang akan dibawa masuk oleh para penjenguk. “Karena itu mohon maaf, jika tadi kami menahan bolpoin yang ada di kantong Mas Jafar.”
“Ah enggak apa-apa, memang seharusnya begitu,” balas Jafar.
Sejak pertemuan yang menyenangkan itu, saya selalu mengajak Jafar tiapkali menjenguk paman di rumah sakit. Hampir tiap bulan saya menyewa mobil, dan Jafar merasa senang jika saya ajak berkunjung, karena menurutnya, banyak sekali hal-hal filosofis yang dapat diambil hikmahnya, jika kita berkunjung ke tempat-tempat unik semacam itu.
Di kebun raya Bogor, kami berbincang-bincang selama beberapa jam, sambil menyesap kopi dan cemilan-cemilan khas Bogor. Menurut Jafar, delusi yang dialami paman sejenis “referensial mania” yang tampaknya berbeda dengan tokoh-tokoh sakit jiwa dalam cerpen “Rosi dan Orang-orang Sinting”, yang kebanyakan menderita depresi berat akibat tekanan sistem militerisme Orde Baru. Akan tetapi, referensial mania diakibatkan bayangan-bayangan setiap benda yang ada di sekelilingnya, seakan menjadi referensi terselubung terhadap keberadaan dirinya di alam raya ini.
“Dia selalu menganggap dirinya lebih pintar dari manusia lainnya. Fenomena alam selalu membayanginya ke manapun dia pergi. Awan-awan di langit juga saling bicara, memancarkan simbol-simbol atau tanda-tanda, bahkan saling bertukar informasi secara rinci mengenai dirinya,” jelas Jafar.
Pikiran terdalamnya didiskusikan saat malam hari, dalam bentuk alfabet, oleh dinding dan pohon-pohon yang terlihat di jendela, dan setiap daun-daunnya bergerak seperti tangan-tangan manusia. Dia menganggap setiap benda, engsel pintu, batu kerikil, jendela dan lubang angin, bahkan lantai yang ia duduki, hingga matahari yang bersinar di pagi hari, seakan serempak mengirim pesan dan memberitahu keberadaan dan keunggulan dirinya.
Tapi menurut beberapa suster dan perawat, sejak mengenal Jafar dan berjumpa dengan sahabat saya itu, konon pesan-pesan itu berubah dan tak lagi menakutkan. “Memang, pesan-pesan itu berbentuk sandi dan simbol-simbol yang mengandung tema dan maksud tersendiri,” ujar Jafar. Dan setelah tiga bulan mengenal Jafar, Paman Onad merasa tak lagi dikelilingi oleh mata-mata intelijen yang seakan dilahirkan di sekitar tahun 1965 lalu.
Dulu, Paman Onad menganggap baju yang dipakainya, meja dan kursi, pintu dan jendela, dianggap memiliki tangisan histeris yang seakan menyimpang dari kodrat alam dan ciptaan Tuhan. Untuk itu, dia merasa harus waspada, serta mencurahkan setiap menit dan detik hidupnya untuk memecahkan kode-kode yang terus-menerus datang, menumpuk, dan menyerbu pikirannya.
Sejak mengenal Jafar, konon setiap udara yang dihirupnya berusaha untuk disusun ulang dari titik nol. Siluet sel darah merahnya seakan telah mengalir secara jernih dan normal. Bagaikan aliran dari sumber mata air di pegunungan yang mencari celah-celah hingga mencapai ke muaranya dengan baik. Burung-burung yang bersuara merdu, yang dulu dianggapnya kacau dan serba kelaparan, kini bersenandung merdu dan menikmati rizki sebagai limpahan karunia dan kasih sayang Tuhan.
“Di awal tahun 2021, saya sering mendapatinya di malam hari, dan Paman Onad kelihatan jarang tidur,” kata suster perawat.
“Apa saja yang dia lakukan?” pancing Jafar.
“Dia hanya menulis-nulis di udara dengan jari-jemarinya, dan sesekali dia tertawa terbahak-bahak.”
Jafar mengingat momen awal tahun itu memang banyak orang-orang meninggal karena terserang Covid-19. “Lalu, apa reaksi Paman Onad waktu itu?” tanya Jafar.
“Dia hanya tertawa-tawa seakan sedang meraih kemenangan.”
“Tapi bulan-bulan kemudian kasus Covid semakin menurun, lalu apa reaksinya?”
“Dia enggak lagi tertawa-tawa, hanya senyam-senyum saja kalau terlihat sedang makan.”
Kepada Jafar saya memperlihatkan album foto paman sewaktu muda. Beberapa foto di masa SMP, ketika ia tersenyum bersama almarhum ayahnya (kakek saya). Dia menarik pelapis buramnya dan memperhatikan foto-foto sewaktu paman kuliah di jurusan teknik sipil di Kota Cilegon. Ada foto remang ketika ia masih kanak-kanak, dengan pakaian rapi dan peci hitam layaknya Presiden Soekarno. Dia pernah ingin bertunangan dengan wanita berwajah gemuk yang menghilang di lipatan foto.
Jafar membalikkan albumnya. Dia mencermati bagian-bagian sudut rumah Paman Onad, terutama sewaktu ia masih hidup dengan orang tuanya. Ada anak perempuan satu-satunya yang dibesarkan oleh istrinya, dan kini sudah menginjak kelas 3 SMU. Gadis itu kelihatan pemalu, dengan kening mengkerut, dan memalingkan wajahnya dari seorang presiden yang mengenakan seragam tentara. Foto lainnya beberapa tetangganya, terutama Bi Siti dan Nyi Hindun yang saya kenal, tukang mengumbar gosip, cerewet dengan mata liar dan jalang. Anaknya sewaktu berusia tujuh tahun, sedang menggambar seekor kucing liar dengan sorotan matanya yang garang.
Beberapa foto terlihat miring, terlipat bahkan berjamur akibat lembabnya cuaca, namun kemudian Jafar merapikannya dan menyusun ulang beberapa foto paman yang masih ceria di saat muda. Satu foto bersama ayah dan ibunya yang sedang berekreasi di Pantai Carita, Ancol hingga Kebun Raya Bogor, ditaruhnya di halaman muka.
Keberadaan Jafar seakan mengubah konsep pemikiran keliru yang ada dalam benak Paman Onad, bahwa hidup bukanlah merasakan kehilangan satu demi satu kebahagiaan. Akan tetapi, berusaha mengubah pola pikir untuk dapat menikmati kebahagiaan yang sudah ada di dalam diri kita. Itu bukanlah suatu kemungkin agar kita dapat hidup lebih baik, tetapi suatu kepastian jika kita berusaha dan bertekad untuk menjadi lebih baik, lalu berupaya menciptakan perbaikan.
Kini, arus gelombang yang semula dianggap kepedihan yang menyakiti dirinya, perlahan-lahan semakin terhempas oleh keriangan, kepedulian dan kelembutan hati yang ditunjukkan oleh Jafar. Sepintas masih saya ingat, ketulusan hati Jafar, sering pula terpancar saat berjalan-jalan di sekitar kampus UIN Jakarta, terutama ketika beberapa anak gelandangan memanggil-manggil namanya, kemudian diajaknya menyantap baso bersama-sama di serambi kampus.
Pagi itu, tak biasanya ponsel saya berdering. Ternyata suara Bibi di kejauhan. Ia menyatakan bahwa Paman Onad sudah sembuh, dan saat ini sudah berada di rumah bersama anak gadisnya yang sudah menginjak kelas 3 SMU.
“Apakah pihak rumah sakit yang mengantarkan ke rumah?” tanya saya kemudian.
“Bukan, dia sendiri yang menelepon dari rumah sakit, lalu memesan kendaraan menuju rumah.”
“Dia yang menelpon?” tanya saya kaget.
“Ya, sekarang dia sudah enggak alergi dengan telepon dan barang-barang elektronik lainnya.”
“Apakah dia sendiri yang memencet nomor telepon?” tanya saya lagi.
“Ya, syukurlah dia tidak lagi salah untuk membedakan huruf o dengan angka 0.”
“Baiklah, sampaikan salam saya, nanti setelah kuliah saya pengen ketemu dengan beliau.”
“Tolong diajak bersama Jafar, ya?”
“Ya tentu, menurut saya, selama ini memang dialah malaikat penolongnya.” (*)
Oleh: Alim Witjaksono
Penulis adalah Peneliti sastra milenial Indonesia, menulis cerpen dan esai di berbagai media nasional luring dan daring.







