Salah Tembak

oleh -627 Dilihat
banner 468x60

Ketika pasukan ABRI semakin menjauh dari tepi pantai, lalu mendaki menuju perbukitan, mereka berdecak kagum menyaksikan pemandangan bumi Timor Leste yang menakjubkan. Di suatu tempat, jauh di balik rerimbunan bukit, seorang tentara Fretilin sedang terbaring dalam posisi telungkup. Jika bukan karena posisinya yang rapi, serta sedikit gerakan pada sabuk pelurunya, orang akan mengira bahwa pemuda itu sudah mati. Namun, sebenarnya dia berjaga-jaga seakan sedang bertugas.

Di sebelah utara, tampak pemandangan indah membentang luas, menurun agak curam, lalu membentang rumput ilalang, kemudian menurun kembali secara zig zag menembus hutan belantara. Di sudut jalan bagian timur, tempat pemuda itu berbaring, tampak batu besar menonjol ke selatan, menghadap ke lembah-lembah curam di bawahnya. Ketika ia terjaga, akan tampak seluruh jalur jalan dan tebing yang membentang luas di bawahnya.

Wilayah di sekitar hutan dipenuhi oleh pepohonan tua yang barangkali sudah tumbuh sejak Portugis menduduki wilayah Timor Leste beberapa abad silam. Selain itu, tampak dari atas, padang rumput seperti halaman rumah idaman, padahal luasnya mencapai ratusan hektar. Warna hijau padang rumput lebih cerah dibandingkan hutan di sekitarnya. Di seberang lembah, ada jajaran tebing-tebing seperti para pasukan tentara yang sedang mengadakan baris-berbaris.

Karena pemandangan yang indah, tidak ada tempat yang liar dan sulit untuk dijadikan medan perang. Di dasar lembah, terdapat dua batalion tentara ABRI yang sedang beristirahat setelah berjalan seharian menembus hutan dan perbukitan. Malam harinya, mereka akan bergerak lagi, mendaki menuju bukit tempat pemuda itu sedang tidur pulas. Misi pasukan ABRI kali ini adalah penyerangan secara mendadak. Perintah komandan, tugas itu harus dilakukan pada tengah malam. Namun jika mereka gagal, pasukan Fretilin dari arah selatan akan menyerang balik, dan kondisinya pasti membahayakan.

Tentara Fretilin yang sedang tidur itu bernama Abilio Ramos, seorang pemuda dari pedalaman Timor Leste, yang bapaknya juga adalah pejuang yang sering berhadapan dengan pasukan ABRI sejak belasan tahun silam. Namun, kini ia sudah menua, rambutnya memutih dan matanya agak rabun. Tetapi, ia menaruh harapan besar kepada Abilio agar tak gentar menghadapi pasukan musuh, “Pergilah, Nak. Apapun yang terjadi, lakukan tugasmu sesuai kata hatimu sendiri!”

Sang ayah menepuk pundaknya serta menatapnya dengan mata tajam. “Ini tanah airmu sendiri, tempat di mana kamu lahir. Kalau kamu masih bertahan hidup setelah perang usai nanti, kita akan bahas bagaimana kelanjutan negeri ini ke depan. Sekarang ibumu sedang sakit-sakitan. Kamu berangkat saja, dan jangan ganggu dia di pembaringan.”

Abilio membungkuk hormat pada ayahnya, yang membalas dengan sikap tegas meskipun hatinya merasa riskan. Dia segera meninggalkan rumahnya untuk menjadi tentara. Berkat keberanian dan keteguhannya, dia segera mendapatkan kepercayaan dari rekan-rekan seperjuangan. Dia juga berani untuk terjun di posisi berbahaya sebagai penjaga di garis depan. Namun, yang namanya manusia, selalu tak luput dari rasa lelah, capek, maupun kantuk.

***

Lalu, apa yang membuat Abilio terbangun di sore itu? Dalam suasana yang hening, dengan raut muka yang kusam dan mata memerah, Abilio seperti menatap bayangan di kejauhan sana. Perlahan, dia mengangkat kepalanya lalu mengintip melalui semak-semak dan rumput ilalang, sambil menggenggam senapannya erat-erat.

Di atas tebing yang menjulang tinggi, tepat di ujung batu besar, berdiri seorang pria tegak sambil memanggul senapan. Sosok itu tampak seperti patung, berdiri diam dengan keanggunan dan kewibawaan luar biasa. Pakaiannya yang berwarna abu-abu berpadu sempurna dengan latar langit. Senapan di tangannya terlihat jelas. Seakan menyinarkan cahaya sore yang ditingkap oleh sinar mentari yang menguning.

Abilio merasa seperti melihat monumen dari sosok pahlawan perang setelah suatu bangsa merebut kemerdekaannya. Namun, perasaan itu segera hilang saat menyaksikan lelaki gagah itu seakan mundur dari tebing. Abilio dengan cepat mengangkat senapannya, membidik langsung ke tubuh pria itu. Dia tahu bahwa jika ada musuh yang melihatnya, maka misinya itu akan gagal total. Kini, ia sedang menarik pelatuk, baginya segala urusan akan segera selasai.

Tapi nanti dulu, sebab pria itu tiba-tiba berbalik, menatap langsung ke arah Abilio. Mata keduanya saling bertemu. Tiba-tiba Abilio merasa tubuhnya gemetar. Apakah memang sesulit itu membunuh seseorang di medan perang? Bukankah dia musuh, dan setiap musuh akan membahayakan bagi ribuan pasukan Fretilin? Kini, tangannya melemah, wajahnya pucat, dan dia hampir pingsan karena perasaan yang membebaninya.

Namun, dalam beberapa menit ia kembali tenang. Ia merasa yakin dengan tugasnya untuk menembak pria itu. Tentu saja pria itu tidak menyadari keberadaan dirinya. Meskipun, seandainya dia berbalik lagi dan pergi, tentu Abilio akan membiarkannya.

Abilio kembali melirik ke lembah di bawah, dan melihat sekelompok tentara ABRI sedang bergerak di padang rumput nun jauh di sana. Jika pria di atas bukit itu masuk ke barisan mereka, tentu ia akan memberi tahu pasukan musuhnya. Abilio kembali membidik, kali ini ke arah dadanya. Ia masih ingat kata-kata ayahnya, “Apapun yang terjadi lakukan tugasmu sesuai kata hatimu sendiri!”

Seketika itu, dengan hati yang mantap, dia menahan napas dan menarik pelatuknya. Dor!!!

***

Seorang perwira Fretilin yang sedang menjelajahi area di bawah tebing mendengar sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Seorang pria gagah perkasa, seakan melompat dari bukit tinggi dalam posisi tegak berdiri. Rambutnya yang beruban, berkibar tertiup angin. Perwira itu terpaku, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sekejap kemudian, terdengar suara keras dari dahan-dahan pohon yang patah, lalu seketika sunyi.

Dengan gemetar, perwira itu berdiri dan berlari ke tempat di mana dia mengira pria gagah itu terjatuh. Tetapi, ia tidak menemukan apa-apa. Sesampainya di posko, perwira Fretilin itu tidak menceritakan apa yang dilihatnya. Ketika komandan bertanya, apakah dia menemukan sesuatu dari arah sana, dia hanya mengatakan, “Kosong, Pak! Tidak ada sesuatu yang membahayakan!”

Sementara itu, setelah menembak dan menepati sasarannya, Abilio merasa bangga, lalu mengisi ulang senapannya untuk kembali berjaga-jaga. Tak lama kemudian, seorang berseragam Fretilin mendaki cepat ke atas bukit, dan segera menghardiknya, “Siapa yang nembak tadi, kamu ya?”

“Iya,” jawabnya mantap.

“Ke arah mana?”

“Laki-laki itu sedang berdiri di bukit sebelah sana, sekarang dia sudah jatuh.”

“Goblok kamu!” Sersan itu menempeleng Abilio keras-keras.

“Abilio, dengar!” dia mencengkeram lehernya, “Dengar, sudah berkali-kali saya katakan, kalau kamu lelah, segera melapor ke posko. Supaya cepat-cepat digantikan oleh tentara Fretilin lainnya, ngerti enggak kamu?”

Muka Abilio pucat, pelupuk matanya semakin kusam, kemudian lanjut sersan, “Tahu enggak, siapa orang yang kamu tembak tadi?”

“Enggak tahu,” Abilio menggeleng.
“Dia itu Pak Ramos, ayahmu sendiri?!”

“Ya, Tuhan…!” (*)

*

Oleh: Hafis Azhari / Penulis prosa dan esai di berbagai media nasional, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Jenderal Tua dan Kucing Belang.  

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.