Hari Minggu pagi, sekitar Pk. 10.00 saya bersama istri dan Rina, puteri kami yang duduk di kelas 3 SMU, masuk ke area museum melewati pintu gerbang yang kosong melompong. Ada bangunan pos penjaga di situ, namun tak seorang pun menunggu, hingga istri saya menyarankan agar mobil terus dimasukkan ke tempat parkir yang tak begitu luas. Rina turun dan melongok ke pos penjaga, namun akhirnya sepakat dengan pendapat ibunya, bahwa bangunan gedung yang akan kami kunjungi toh hanya sebuah museum. Jadi menurutnya, tak apalah kami nyelonong masuk ke dalam hingga mendekati pintu utama yang terbuka lebar.
Matahari mulai meninggi, dan suasana mendung di musim hujan pada pertengahan bulan Januari. Boleh dibilang, keluarga kami adalah pengunjung pertama di museum itu, dan tidak menutup kemungkinan satu-satunya pengunjung di hari itu, karena museum itu konon selalu sepi, hingga Pak Nugroho, salah seorang pengurus masih sempat memandu kami untuk berkeliling, menerangkan berbagai hal yang berkaitan dengan foto dan benda-benda bersejarah yang terpajang di sepanjang ruangan museum.
Istri saya berdiri dengan satu kaki masih berada di ambang pintu, seolah ragu-ragu untuk masuk ke dalam gedung. Ia melemparkan tatapan janggal ke bagian dalam yang agak gelap, hingga Rina terheran-heran menatap ibunya yang seakan merasa canggung sambil mengerutkan dahi. Saya mengamit lengan sweater yang dikenakannya, sambil menegaskan untuk apa harus menunggu di luar, jika di mobil tadi menyatakan setuju dengan usulan Rina untuk mampir sejenak di museum itu, sebelum meluncur ke tempat tujuan menuju rumah mertua di Jakarta Selatan.
Pak Nugroho sang pengurus museum mendekat, seraya menjelaskan pernah adanya keraguan yang sama diekspresikan oleh para pengunjung sebelumnya. Begitu kami masuk setelah mengisi buku tamu, kami masih berkesempatan untuk celingak-celinguk lebih dalam. Interior museum yang gelap dan suram mengingatkan kami akan rumah duka. Ketika masuk ke ruang berikutnya, istri saya bertanya-tanya apakah kami berada di tempat yang benar ataukah di alam mimpi dan khayalan. Namun, Rina tampak santai tanpa beban. Ia malah memegang-megang beberapa foto yang terpajang di dinding, seakan ingin membuktikan apakah foto-foto itu benar-benar asli ataukah hasil suntingan fotografer yang dibagus-baguskan.
Pak Nugroho berdehem beberapa kali, seakan ingin menarik perhatian pengunjung. Tidak ada tamu yang pernah pergi begitu saja apabila mereka sadar kehadirannya telah diketahui oleh pengelola museum. Dalam pertempuran antara keraguan dan kesopan-santunan ketika berada di lingkungan orang lain, biasanya keraguan selalu saja terkalahkan. Pak Nugroho melipat kedua tangan dan tersenyum, berharap senyuman itu mampu meyakinkan kami agar terus berkeliling museum.
Ia bertubuh kurus, tinggi, persis tengkorak, dengan tinggi badan sekitar 180 sentimeter. Pelipisnya mengkerut ke dalam dan dibayangi oleh usianya yang mungkin sekitar 70-an tahun. Giginya kecil, keabuan, dan tampak seolah telah ditata sedemikian rupa agar terjajar rapi. Ia mengenakan kemeja kuning berlengan panjang, dengan celana berwarna biru tua. Nama “Nugroho” tersulam dengan rapi di sekitar dada kanan kemejanya.
“Ayo, sini, masuk ke dalam,” tutur Pak Nugroho dengan antusiasme yang dibuat-buat. “Jadi bangunan museum ini kami upayakan…,” suaranya samar dan tiba-tiba menghilang. Pak Nugroho terdiam, entah dia lupa mengucapkan sesuatu, ataukah mencari kata- kata yang tepat untuk disampaikan di hadapan kami bertiga.
Istri saya terpaksa mengambil-alih pembicaraan. “Kami dengar di museum ini, Bapak menyimpan benda-benda atau seragam tentara yang pernah dipakai almarhum Jenderal Soeharto, apakah benar begitu?”
“Ya, benar sekali,” kata Pak Nugroho mengiyakan, “terutama di ruang sebelah ini. Karena itu, saya harap Ibu dan keluarga bisa masuk ke ruangan ini.”
Pak Nugroho tersenyum lagi, kelopak mata kanannya memicing dan berkedut. “Ini kami namakan museum sejarah, lebih tepatnya Museum Sejarah Pak Harto, yang disingkat menjadi MSPH. Mudah-mudahan generasi muda Indonesia tidak merasa kesulitan menyebutkan istilah MSPH.”
Rina mengerutkan kening sambil mengangkat kedua bahunya. Ia menunjuk sebuah pakaian seragam militer yang dikenakan patung mirip Soeharto di sebuah kotak kaca setinggi tubuh orang dewasa, “Apakah pakaian seragam itu asli?” tanya Rina kemudian.
“Ya, itu memang asli,” balas Pak Nugroho. “Sengaja kami minta dari keluarga Cendana untuk ditampilkan di museum ini. Jadi, seragam ini persis yang dipakai Presiden Soeharto ketika beliau menjabat Mayor Jenderal berikut tongkat militer yang dikenakannya.”
Istri saya melihat-lihat tongkat militer yang dipajang di suatu etalase kaca, berikut topi dan sepatu tentara yang konon pernah dikenakan Presiden Soaharto juga. “Saya kira Bapak ini cuma ngibul saja,” protes istri saya, “bagaimana mungkin Pak Nugroho mengatakan bahwa ini semua adalah asli. Lalu, bagaimana Bapak bisa mendapatkan semua ini?”
Saya menepuk pundak istri saya, agar jangan bicara terlalu tendensius mengenai koleksi yang dihimpun Pak Nugroho. “Yang ingin kami tanyakan,” sela saya, “apa hubungan Pak Nugroho dengan keluarga Cendana? Apakah masih ada famili dengan keluarga besar Jenderal Soeharto?”
“Oh, sama sekali tidak. Misalnya handuk, sikat gigi dan botol sampo di dalam etalase ini. Kami mendapatkannya beberapa tahun lalu dari orang yang pernah bekerja sebagai petugas hotel, di mana Pak Harto pernah menginap di hotel tersebut.”
“Petugas hotel itu masih hidup?” tanya Rina seketika.
“Dia sudah meninggal setahun yang lalu, di usia yang ke-80 tahun.”
Istri saya melihat-lihat peci hitam di etalase, yang tampaknya masih baru, kemudian selorohnya, “Sepertinya peci itu belum pernah dipakai siapapun? Bapak beli dari mana?”
“Husss,” kata saya mengingatkan.
Pak Nugroho berdehem sekali lagi, dan katanya, “Peci itu saya dapatkan dari seorang petani di Cianjur, yang waktu itu menemukan peci di tengah sawah, persis pada saat Pak Harto memberi wejangan pada acara Kelompencapir.”
“Lalu, bagaimana Bapak bisa yakin kalau itu pecinya Presiden Soeharto?”
“Karena petani itu meyakinkan saya, bahwa peci hitam itu ditemukan di kursi yang diduduki Pak Harto setelah selesai acara tersebut.”
“Omong kosong!” teriak Rina. “Ah, sudahlah, ayo kita keluar saja, Mah,” teriak Rina kepada ibunya. Seketika saya mendekat dan memperingatkan mereka lebih tegas lagi, mengingat kami berposisi sebagai tamu, dan apa salahnya bersikap santun di tempat orang lain selama beberapa menit.
***
Tirai-tirai dibiarkan tergerai menutupi jendela, dan dindingnya terbuat dari lapisan kayu mahoni yang gelap, hingga tiap ruangan tampak suram seperti gedung bioskop yang akan menampilkan pertunjukan film. Meski begitu, setiap kotak kaca tempat menyimpan benda-benda bersejarah diterangi oleh pencahayaan lampu yang dipasang di langit-langit. Di atas meja dan undakan kayu terdapat tudung kaca yang rutin dibersihkan hingga terlihat bersih mengkilap. Sementara, bohlam lampu spotlight bersinar terang sampai-sampai di sekeliling kami ikut terkena pantulan cahayanya.
Setiap tudung kaca terlihat jernih dan transparan. Kami bisa melihat kacamata, ikat pinggang, hingga cerutu yang konon bekas dipakai Presiden Soeharto. Rina mengamati semua itu dengan bibir mencibir, sambil melirik sinis ke arah Pak Nugroho yang dalam pandangannya seperti makhluk halus membisiki dirinya, datang dari negeri antah barantah yang mengisolasi diri dari keramaian dunia. Istri saya berjalan di sebelah Pak Nugroho dan Rina, diikuti oleh saya yang merasa waswas bukan karena melihat segala keanehan yang ada, akan tetapi khawatir mereka mengemukakan sesuatu yang membuat Pak Nugroho merasa tersinggung.
Langkah kami terhenti di hadapan obyek pameran berupa tabung kaca yang terletak di atas undakan keramik, tidak jauh dari ruang penyimpanan lemari kaca berisi pakaian-pakaian Presiden Soeharto.
“Ini cuma tabung kosong, enggak ada apa-apanya,” kata Rina heran.
“Oya?” kata ibunya sambil tertawa nyinyir.
“Kok enggak ada apa-apanya?” tegas saya sambil menoleh ke arah Pak Nugroho.
“Isi tabung ini memang tidak seperti yang kalian lihat,” kata Pak Nugroho sambil berdiri menunduk di depan tabung. “Isinya telah disegel serapat mungkin agar tidak ada udara yang masuk maupun keluar. Tabung ini berisi hembusan terakhir nafas Presiden Soeharto sebelum wafatnya. Saya memiliki koleksi ini dari dokter yang mendampinginya sejak detik-detik terakhir beliau wafat dan menghembuskan nafas terakhirnya.”
Saya terperangah mendengar keterangan itu. Rina tertawa-tawa geli. Saya segera mengamit lengan istri saya sambil memberinya isyarat agar jangan ikut berkomentar. Ia menutupi mulutnya dengan sebelah tangan untuk meredam gelegak tawanya. Kepalanya berpaling dan menunduk ke lantai, meski tetap saja tawanya mengalir sedemikian bebas.
Pak Nugroho tampaknya maklum, karena sudah cukup lama ia menunjukkan koleksi uniknya tersebut, dan sudah terbiasa menanggapi segala macam reaksi pengunjung. Rina masih terpaku di depan tabung, matanya nanar menatap permukaan kaca yang bening itu. Dia mengangkat alat untuk mendengar dari samping tabung yang bentuknya mirip stethoscope.
“Ini apa? Apakah benda yang sering dipakai oleh Soeharto juga?” tanya Rina.
“Bukan, itu namanya tabung kematian, berasal dari kata deathoscope,” kata Pak Nugroho. “Alat yang sangat sensitif. Kalian boleh memakainya, lalu kalian bisa mendengar nafas terakhir presiden kedua kita, Jenderal Soeharto.”
“Ya ampun!” pekik istri saya, “apakah Pak Nugroho sudah minta izin pada keluarga Cendana?”
“Itu saya sendiri yang menerbitkan sertifikasi kematian. Tabung itu mendapatkan tempat kehormatan tersendiri di museum ini. Saya membelinya dari Jerman, dan boleh dibilang ini penemuan mutakhir di era milenial ini, yang kemudian bisa kita praktekkan untuk orang-orang terkenal lainnya di negeri ini.”
“Oya? Apa menurut Pak Nugroho, Jenderal Soeharto itu orang terkenal juga?”
“Husss,” bisik saya memperingatkan.
“Nafas Presiden Soeharto,” sambung Pak Nugroho, “adalah nafas pertama yang saya simpan di sini, kemudian selanjutnya kami akan merencanakan penyimpanan nafas-nafas berikutnya…”
“Nafas berikutnya mungkin orang-orang yang mewarisi harta kekayaannya? Atau para jenderal kaki tangannya seperti yang ada dalam novel Pikiran Orang Indonesia itu?” celetuk Rina.
“Tolong jangan sebut-sebut tentang novel itu, karena saya malas membacanya.”
“Atau mungkin para artis dan selebriti terkenal?” sahut istri saya tak acuh.
Kembali saya memperingatkan mereka agar jangan banyak berkomentar. Istri saya keluar lagi gelak tawanya. Ia mengeluarkan sapu tangan dari tas, serta menyumpal bibirnya untuk menahan diri dari suara tawa yang menggema di setiap sudut gedung.
Rina mengangkat semacam earphone dan mengenakannya ke telinga, sementara matanya menatap ke arah tabung kaca tanpa berkedip. Cahaya membuncah dari dalam tabung. Ia mendengarkan dengan seksama, lalu alisnya saling bertaut, dahinya berkerut. “Ah, omong kosong, saya enggak dengar apa-apa, kok?” ujar Rina kemudian.
Pak Nugroho menahan tangan Rina, “Tunggu dulu,” katanya, “ada berbagai bentuk keheningan di dalam tabung ini. Hening cangkang kerang di laut, hening yang tiba-tiba muncul setelah bunyi tembakan senjata. Nah, nafas terakhir Pak Harto masih ada di sini. Telinga kamu butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Tak berapa lama, kamu akan bisa mendengar hembusan nafas terakhir beliau.”
Istri saya mengamit alat tersebut, menundukkan kepalanya dan memejamkan mata agar dapat lebih khusyuk mendengarkan nafas terakhir dari dalam tabung. Rina menatap wajah ibunya dengan perasaan waswas. Tak berapa lama, ibunya melepas alat tersebut seraya menggelengkan kepala, “Ah, taik kucing, saya juga enggak dengar apa-apa.”
“Sama sekali?” tanya saya.
“Sama sekali, enggak ada suara apa pun!”
***
Saya menarik earphone dari telinga istri saya, dan berusaha fokus mendengarkan dalam beberapa menit. “Sepertinya suara nafas orang yang sedang tidur?” ujar saya dengan pandangan menerawang.
“Tidur ngorok, maksudnya?” sindir istri saya.
“Sulit untuk menebaknya,” kata saya sambil melekatkan earphone ke telinga, “apakah orang yang mau tidur, ataukah baru bangun tidur?”
“Semoga saja bukan orang yang sedang mimpi buruk,” celetuk Rina di sebelah saya.
Istri saya menekankan permukaan sapu tangan pada kedua bola matanya yang agak basah, lalu ia menghadap ke Pak Nugroho, “Apakah Bapak ini seorang dokter, atau apa?”
“Saya adalah doktor sekaligus dokter,” katanya dengan bangga dan penuh percaya diri.
“Maksudnya, doktor secara akademik?” tanya Rina.
“Ya, secara akademik saya bergelar doktor, dan secara keilmuan saya membidangi masalah kedokteran. Tapi sekarang sudah pensiun, sejak beberapa tahun lalu.”
“Oo, begitu.”
“Tapi, bukankah ini bertentangan dengan teori ilmu pengetahuan?” tanya istri saya, “walaupun Bapak berhasil menyimpan hembusan karbon monoksida terakhir dari nafas seorang jenderal…”
“Karbon dioksida terakhir dari Bapak Presiden Soeharto,” koreksi Pak Nugroho.
“Tetap saja alat ini tak menghasilkan suara apa pun. Menurut saya, enggak mungkin nafas terakhir seseorang bisa disimpan ke dalam perangkat teknologi semacam ini.”
“Tapi suami Ibu bisa menangkapnya tadi. Meskipun bukan persis suara nafas di sini, melainkan keheningan atau kesunyian. Kita semua memiliki jenis kesunyian yang berbeda-beda. Bukankah suami Ibu memiliki kesunyian yang berbeda saat dia bahagia, saat dia marah kepada anak atau kepada Ibu sendiri? Telinga Ibu bisa membedakan secara spesifik macam-macam kesunyian yang ada di dunia ini.”
“Ah, saya enggak ngerti apa yang Bapak sampaikan.”
Istri saya mengangkat bahu sambil mengerutkan kening, seakan merasa kesulitan membaca apa yang dijelaskan Pak Nugroho. Seorang pesuruh tiba-tiba nongol dari pintu samping sambil membawa alat yang terdapat pipa kecil sepanjang setengah meter. Pak Nugroho mengambil alat itu dari tangannya. “Nah, alat ini saya beli dari Jerman,” sambil menunjukkan benda aneh itu di hadapan kami, “bentuknya seperti pompa kecil yang digunakan untuk menarik hembusan udara dari tubuh seseorang dan memasukkannya ke dalam tabung vacum. Hanya ada di tempat-tempat khusus di Hamburg Jerman dan beberapa negeri Eropa. Tapi, alat ini hanya bisa dibeli dengan rekomendasi khusus dari menteri kesehatan.”
Sebelum kami menanyakan harga alat itu, tiba-tiba Rina mengambil ponsel dari kantongnya, kemudian menyalakan alat perekam, “Coba Pak Nugroho sebutkan, siapa menteri kesehatan yang memberi rekomendasi pada Bapak untuk membeli tabung… apa namanya tadi?”
“Tabung kematian,” teriak istri saya dari ruang sebelah.
Pak Nugroho tiba-tiba tersentak kaget, “Lho, siapa yang menyuruh kalian membawa ponsel ke dalam museum ini? Bukankah setiap ponsel harus ditinggalkan di pos penjaga di depan pintu gerbang tadi?”
“Saya kira di depan enggak ada penunggunya,” kata saya membela puteri saya.
“Jadi, kalian masuk tanpa izin?” semprotnya ketus.
“Kami sudah mendatangi pos penjaga, tapi tak ada seorang pun di sana, Pak Nugroho yang terhormat,” ujar Rina kesal.
Seketika itu, Pak Nugroho berteriak lantang. Ia membanting earphone yang dipegangnya seraya memekik-mekik histeris, “Sarman! Sarmaaan!”
Ia berlari-lari keluar gedung museum, menuju bangunan pos penjaga. Seorang pemuda tergopoh-gopoh menuju pos penjaga yang barangkali datang dari toilet atau dari warung sebelah untuk keperluan membeli rokok. Istri saya menyarankan agar bergegas menuju tempat parkir, dan saya pun segera menyalakan mesin mobil.
Dari kejauhan terdengar suara Pak Nugroho sedang membentak dan marah-marah tak keruan, kemudian menunjuk-nunjuk muka pesuruhnya seraya menempelengnya keras-keras. “Sepertinya orang-orang di sini mewarisi pikiran-pikiran pemerintah masa lalu yang enggak waras,” ujar istri saya sambil mendelik jengkel ke arah Pak Nugroho.
Melihat kondisi yang tidak memungkinkan, saya tidak sempat pamit lalu menancap gas keluar pintu gerbang. Di dalam ransel Rina sudah tersimpan rekaman wajah dan segala pengakuan dusta dan kebohongan dari Pak Nugroho, sebagai pemilik gedung Museum Sejarah Pak Harto (MSPH) yang siap kami sebar-luaskan ke ranah publik. (*)
Oleh: Alim Witjaksono
Penulis adalah Prosais dan pengamat sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, luring dan daring.







