Namanya selalu mengingatkan saya pada tokoh-tokoh terkenal dari Rusia, seperti pembalap Nikita Mazepin atau bahkan pemimpin besar Rusia, Nikita Khrushchev. Tetapi, Nikita Rinjani berasal dari Indonesia, dan dia bukan seorang lelaki melainkan seorang wanita cantik. Dan seperti yang saya ketahui sejak perkenalan pertama, konon dia pernah mondok di suatu pesantren modern di daerah Jawa Timur.
Akhir-akhir ini, sering saya teringat wajahnya yang ayu nan cantik. Saya sendiri kurang mengerti mengapa rasa cinta ini terus meretas dan menggebu-gebu kepadanya. Sejak pertama kali berjumpa, di jam pertama dan hari pertama, begitu menggoda pikiran dan hati ini. Tetapi apa boleh buat, kini ia harus pulang ke kota Bandung sejak beberapa minggu setelah lulus dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten.
Yang jelas, Nikita memiliki dada besar, kaki ramping dan mata agak kebiruan, dihiasi tahi lalat kecil di atas bibirnya yang seksi. Ketika saya bermimpi tentang sosok bidadari, selalu saja yang terbayang adalah wajah Nikita yang baru turun dari angkutan umum. Lalu, memasuki pintu gerbang kampus, kemudian mampir sebentar di kantin untuk menyantap nasi uduk dengan sambal dan lauk telor, ditambah beberapa gorengan tempe dan bakwan. Sewaktu saya menemaninya makan, saya bisa memahami ketika ibu penjaga kantin yang gendut dan tembem berbisik di telinga saya, “Semua orang tahu kalau Nikita itu cantik. Kamu beruntung sekali mendapatkan dia.” Dengan tekanan kata-kata dan keseriusannya itu, pijaran api tampak pada sorotan kedua matanya.
Kadang saya menyempatkan diri menyapa melalui WA, meskipun hanya beberapa patah kata saja. “Hai, gimana dengan Bandung. Di Banten hujan lebat. I love you!” Ketika mengirim WA, saya sudah menduga bahwa pesan itu takkan berbalas, tapi kadang saya pun menduga-duga bahwa dia terlampau sibuk atau sangat berhati-hati untuk menyusun kata-kata.
Umurnya sekitar 20 tahun waktu itu. Ia kuliah sambil mengikuti kursus musik seminggu dua kali, juga mengikuti kelas sastra seminggu sekali. Tapi kalau mau jujur, sebenarnya ia kurang berbakat dalam hal musik. Sedangkan di bidang sastra? Lumayan lah, atau dia cukup bisa, tapi standar saja. Pas-pasan. Suatu hari, setelah berminggu-minggu tidak saling sapa, ia mengirim WA bahwa sekarang ia sedang mengikuti kontes kecantikan di kota Bandung. Lalu, saya pun membalas dengan WA, seraya memuji dan menyanjung dirinya, kecantikan alaminya, hingga ke soal matanya yang indah, pinggulnya yang menawan juga postur tubuhnya yang menggiurkan. Selesai mengetik pesan, saya agak ragu apakah mau dikirimkan atau tidak. Tapi akhirnya, saya kirimkan juga.
Beberapa minggu kemudian, saya menerima kabar darinya bahwa ia hanya meraih juara ketiga. Dia pun menelepon, dan menyuruh saya datang. Keesokan paginya, kontan saya naik bus antar-kota dari Banten menuju kota Bandung. Ia merasa fustasi karena kekalahan itu. Saya berusaha menghiburnya bahwa juara ketiga dari 120 peserta adalah kemenangan, tetapi ia bersikukuh bahwa itu adalah kekalahan.
Saya tiba di rumahnya pukul 10.30 setelah makan somay dan es teh manis di terminal. Seorang pembantu membukakan pintu, dan ia menatap saya erat-erat seolah tidak percaya kalau saya sudah membikin janji akan bertemu dengan Nikita. Di ruang tamu saya menunggu kehadirannya lama sekali. Saya sempat melihat-lihat beberapa foto yang terpajang, termasuk beberapa kaset CD musik Britney Spears, Avril Lavigne hingga grup musik The Cranberries dan Evanescence.
Ketika Nikita muncul, saya merasa didatangi seorang peri atau bidadari dari surga firdaus. Hari-hari berikutnya kami sering membuat janji untuk saling ketemu di hotel tempat saya menginap di dekat kampus Universitas Padjadjaran (Unpad).
Kami menghabiskan waktu untuk menonton film, mendatangi gedung kesenian, supermarket, perpustakaan hingga toko buku. Malam Minggu, Nikita beralasan pada orang tuanya bahwa ia akan menginap di rumah salah seorang saudaranya. Padahal, ia mendatangi hotel dan berduaan dengan saya selama beberapa hari. Boleh jadi saya adalah laki-laki pertama yang tidur dengannya, hingga membuat saya merasa telah masuk ke dalam kehidupannya.
Akhirnya, kami merasa betah tinggal di hotel tersebut, hingga memperpanjang masa penginapan selama satu minggu. Di daerah Lembang kami berjalan-jalan, bertemu dengan teman-teman Nikita, ikut menghadiri acara reuni bersama teman-teman SMA-nya, hingga kemudian saya pun harus kembali ke daerah Banten.
Beberapa bulan kemudian, ia menelepon dan bicara panjang-lebar mengenai bagian-bagian dari fase perjalanan hidupnya yang tidak saya ketahui. Saya memaklumi apa-apa yang ia utarakan, di samping saya sendiri juga bukan orang yang cukup taat pada aturan-aturan keagamaan. Ya, saya boleh dibilang, bukan seorang religius, dan juga punya banyak kekurangan seperti kebanyakan orang.
Alangkah naïf bila saya terlampau jauh menghakimi dan memvonis kekurangan Nikita. Suatu hari, ia mengabarkan pada saya bahwa ia akan menikah dengan seorang temannya dari Bandung. Dan laki-laki yang beruntung itu pernah berjumpa dengan saya pada acara reuni SMA lalu. Bagi saya, memang sangat logis bila ia memilih temannya yang tampan dan ganteng itu.
Tetapi, menjelang acara pernikahan, ia mengalami beban psikologis. Ia sering bermimpi tentang ikan lele jumbo yang menggigit kemudian memasuki tubuhnya dari segala arah. Selama berminggu-minggu ia terus-menerus bermimpi dikerubungi lele-lele yang menggigit dan menggerayangi tubuhnya. Ketika ia berpindah tidur ke kursi sofa, ia pun mengalami hal yang sama. Ikan-ikan lele itu terus-menerus mengikuti dan mengganggu dirinya, hingga ia pun terbangun dan jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Dan mereka pun menikah. Tetapi, baru berjalan beberapa bulan, suami tercintanya mengejutkan saya. Meskipun, saya sendiri baru mendengar dari pihak Nikita bahwa konon, suaminya ringan tangan dan sering memukuli dirinya. Ketika suaminya berteriak, Nikita ikut berteriak. Ketika Nikita memukul, suaminya balik memukuli dia habis-habisan. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk meninggalkannya.
Setelah menerima kabar perceraiannya saya pun tak bisa tidur. Selalu terkenang akan dirinya. Ah, Nikita yang mendapat juara ketiga kontes kecantikan. Sang bidadari kampus yang membuat para mahasiswa betah mengikuti perkuliahan. Sang bunga mawar merah yang membuat saya tak bisa tidur jika teringat wajahnya yang cantik. Barangkali, Anda akan mengira saya akan tertawa girang ketika mendengarnya dibawa ke rumah sakit dengan pipi lebam dan kepala berdarah-darah. Tetapi, saya tak bisa tertawa sama sekali, bahkan senyum pun tidak.
Yang membuat saya tertawa justru ketika ia mendatangi dokter bedah, lalu memutuskan untuk operasi kandung kemih, hanya sehari sebelum acara pernikahan. Saya tanyakan, kenapa kamu tega melakukan itu? Apakah tidak kasihan pada suamimu? Dia menjawab, bahwa dirinya memang perlu operasi dan tidak bermaksud untuk menyakiti suaminya. Hanya setahun ia menjalani pernikahan dan hidup bersama suaminya itu.
Bagi gadis muda seperti dirinya, masa-masa itu bisa membuatnya depresi. Bisa membuatnya melompat atau terperosok jatuh. Tetapi, Nikita terlihat bahagia dan baik-baik saja, karena berpisah dengan suaminya yang ringan tangan. Meskipun begitu, dari dasar lubuk hatinya barangkali ada rasa depresi yang menghinggapi dirinya.
Ikan lele jumbo itu kembali lagi. Begitu pula dengan penyakitnya. Nikita dirawat selama beberapa minggu di rumah sakit lantaran ada masalah di sekitar perutnya. Saat-saat itu, ia bertemu dengan Iskandar, seorang eksekutif muda terkenal. Mereka saling mencintai. Dia menyarankan Nikita agar mempelajari administrasi bisnis. Menurut teman-temannya, kini Nikita telah menemukan cinta sejatinya. Mereka pun memutuskan untuk menikah dan tinggal bersamanya.
Nikita mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor firma hukum atau semacam agensi. Pekerjaan yang menyenangkan, katanya, tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa gundahnya. Kini, alur perjalanan hidupnya seperti kembali ke jalan yang benar. Iskandar adalah laki-laki sensitif, tetapi ia sama sekali tak pernah memukulnya. Seleranya cukup tinggi. Ia juga pembaca yang tekun, penulis esai dan kritik sastra yang produktif. Saya menduga ia adalah salah satu dari ribuan pemuda Indonesia yang mempunyai koleksi film yang disutradarai Steven Spielberg, juga koleksi CD musik Bon Jovi, Oasis hingga Coldplay. Dia mendengarkan musik-musik itu, juga menonton film-film itu. Sedangkan Nikita belum bicara banyak tentang dirinya, kecuali sedikit perihal depresi dan beban psikologisnya.
Saya agak heran, kenapa pasangan itu belum juga dikaruniai anak setelah beberapa tahun menikah. Padahal, katanya, Iskandar sangat menyukai anak-anak. Atau barangkali mereka tidak punya waktu. Iskandar memang banyak menggunakan waktunya untuk mendengar musik, serta mempelajari seluk-beluk mengenai dunia musik. Tetapi, tak pernah ia memperlihatkan kemampuannya bermusik kepada siapapun. Dengan caranya yang pintar menyembunyikan rahasia, serta kemampuannya yang belum jelas, Iskandar sering membela dirinya mengenai hak-hak individu dalam kebebasannya berekpresi.
Suatu hari, di usinya yang ke-30, Nikita menginap di hotel bersama seorang teman laki-laki di kantornya. Peristiwa itu hanya tiba-tiba saja terjadi. Tak perlu banyak dipersoalkan. Sayangnya, Nikita membuat kekeliruan. Karena ia menceritakannya pada Iskandar suaminya. Pertengkaran pun terjadi. Iskandar membanting kursi dan membuat satu galon air berantakan membasahi ruang depan. Selama beberapa minggu mereka saling diam, tidak bertegur-sapa. Kadang-kadang Iskandar menghabiskan waktu malamnya dengan mendengar musik sambil mabuk minum-minuman beralkohol.
Di usianya yang ke-33, kehidupan seksualnya hampir punah. Iskandar mengatakan padanya bahwa ia begitu mencintainya, menghormatinya, dan takkan pernah melupakannya. Tetapi, beberepa bulan kemudian ia tertarik pada seorang janda beranak satu di tempat kerjanya. Iskandar mengatakan pada Nikita bahwa ia berencana menikahi janda tersebut dan tinggal bersamanya.
Nikita menerima perpisahan itu dengan baik-baik. Barangkali inilah kali pertama ia merasa ditinggalkan seorang laki-laki, hingga ia pun tenggelam dalam depresi yang cukup akut. Ia berhenti bekerja dan menjalani terapi di bawah pengawasan psikiater di daerah Bogor. Ia diberi lithium dengan dosis tinggi, serta beberapa obat yang mengendalikan rasa depresi dan hasrat seksualnya.
Di tengah depresinya yang berat, ia mulai bicara tentang lele jumbo lagi. Lele-lele itu tidak akan membiarkan dirinya sendirian. Ketika merasa gugup, ia akan sering-sering pergi ke toilet. Waktu dengan saya pun begitu. Bisa berkali-kali ia mondar-mandir ke toilet, hingga belasan kali dalam sehari.
Memang dia pernah bercerita pada saya bahwa ada tiga Nikita di dalam dirinya. Pertama seorang nenek-nenek yang diperbudak oleh keluarganya, kedua seorang gadis kecil yang senang melompat-lompat di sekitar danau, dan ketiga seorang perempuan muda yang cantik. Adapun Nikita sesungguhnya adalah perempuan muda itu, yang selalu ingin berkeliling dunia selamanya.
Setelah beberapa hari kami bersama lagi di suatu hotel lantai empat, saya menjadi khawatir dibuatnya. Terkadang saya merasa takut untuk keluar hotel dan pergi berbelanja, meski saya berusaha menghibur diri bahwa Nikita tidak bakal bunuh diri. Ia akan tetap di tempat tidur, dan tidak akan terjun dari lantai empat dan seterusnya dan sebagainya.
Beberapa minggu setelah saya kembali ke Banten, ia mengabarkan bahwa ia mulai kerja lagi. Obat-obatan baru yang ia minum membuatnya merasa cocok dan segar kembali. Pihak kantor memberinya tugas untuk membayar ketidakhadirannya yang cukup lama. Ia dipindahkan ke kantor cabang, tetapi masih di wilayah Bandung. Di usianya yang ke-35 ia tak lagi kelihatan cantik seperti di masa 20 tahun saat pertama kali berjumpa. Ia menjadi member di suatu gym, dan berkenalan dengan teman-teman baru. Dari situlah ia mengenal laki-laki bernama Aiman Wiwoho, yang juga sudah bercerai seperti dirinya.
Belum lama ini mereka menikah. Mula-mula, Aiman ingin mengatakan ke semua orang tentang impresinya terhadap karya puisi dan cerpen yang dibuat Nikita. Ia menilai bahwa Nikita cukup terampil dalam menulis cerpen, walaupun tak pernah melibatkan diri dalam perkumpulan seniman atau budayawan di manapun. Di sisi lain, Nikita memandang selera Aiman bagus juga dalam mengapresiasi karya seni.
Waktu berlalu. Aiman Wiwoho akhirnya merasa kelelahan atas pencapaian estetika Nikita, karena ia menginginkan anak. Di usianya yang ke-36 akhirnya Nikita hamil dan melahirkan seorang anak. Ketika saya ada tugas ke daerah Tasikmalaya dan menyempatkan diri berjumpa selama beberapa menit di kota Bandung, saya nyaris tak bisa mengenali dirinya lagi. Pipinya tembem, badannya gembrot, mungkin bertambah berpuluh-puluh kilogram. Tanpa riasan, wajahnya begitu pucat, bukan karena waktu melainkan karena rasa frustasi.
Senyumnya pun sudah berubah. Seperti senyum perempuan yang licik dan menyimpan rasa dendam, iri dan dengki. Untuk beberapa saat kami terdiam, tak tahu harus berkata apa. Saya berusaha memecah kesunyian dan bertanya mengenai kabar anaknya.
“Di penitipan anak,” katanya tak acuh. “Lalu, anakmu sendiri bagaimana?”
“Baik, alhamdulillah,” kata saya.
Kami menyadari, jika kami tidak melakukan sesuatu, pertemuan ini akan terasa menyakitkan. “Bagaimana dengan keadaan saya sekarang? Masih cantik, kan?” Ia bertanya, seolah memerintahkan saya untuk memakinya.
“Masih sama seperti dulu,” kata saya pura-pura.
“Oya?” katanya sambil tersenyum sinis.
Saat itu kami sedang duduk-duduk di kantin terminal, mengingatkan saya ketika sering makan nasi uduk di kantin kampus dulu. Saya menawarkan mau makan apa, tetapi ia menolak. Ia hanya memesan segelas es teh manis, dan saya memesan secangkir kopi. Tak berapa lama, bus antar-kota yang akan saya tumpangi hendak berangkat. Di terminal itu kami mengucapkan salam perpisahan di depan pintu bus, dan itu terakhir kalinya saya bertemu dengannya.
Suatu hari, belum berselang lama, ia menelepon saya bahwa dirinya mengidap kanker rahim. Suaranya masih terdengar dingin seperti biasanya. Saya menanyakan apakah kanker yang dideritanya karena hasil diagnosa dokter, ataukah ada hubungannya dengan lele jumbo yang merasuki pikirannya. Ia tidak menjawab.
Di ujung kalimatnya terdengar suara yang agak parau. Saat itu, kami berbincang sebentar tentang anak-anak kami, lalu ia meminta saya menceritakan banyak hal tentang kehidupan rumah-tangga saya. Istri saya ada di samping, dan saya pun beralasan dalam keadaan sibuk, nanti akan saya hubungi kembali.
Malamnya, kepikiran terus dan tidur saya tidak nyenyak. Saya menduga bahwa Nikita berbohong pada saya, dan ia tidak mengidap kanker. Ada sesuatu yang berhubungan dengan ambisinya, obsesinya selama 15 tahun terakhir, dan ia tidak mengidap kanker. Ambisi dan hasrat itu seakan mengacaukan pikirannya.
Jam lima pagi, saya keluar rumah, berjalan-jalan di trotoar sambil menelepon dia. Suara perempuan menjawab. Saya menyebutkan nama saya, tetapi kemudian saya tak bisa berkata apa-apa.
“Masih di sana?” tanya perempuan itu.
“Ya,” jawab saya.
“Sudah pernah bicara dengan Nikita?”
“Ya.”
“Apa dia pernah mengatakan terus terang kalau dia mengidap kanker?”
“Ya.”
“Benar, memang dia mengidap kanker. Dan kamulah satu-satunya laki-laki yang membuat dia berterus-terang tentang penyakit yang dideritanya.”
Saya terkejut mendengar kata-kata terakhir itu. Semua kenangan bertahun-tahun sejak pertama kali bertemu tiba-tiba berhamburan di kepala saya. Perempuan itu terus bicara tetapi saya tak mendengar bagian akhir dari kata-katanya. Seketika air mata saya meleleh. Memang saya kurang memerhatikan kata-katanya sejak dulu, terutama bagian-bagian yang menyinggung soal kesehatan, operasi, mastektomi, imunitas, dan berbagai hal tentang perbedaan sudut pandang. Saya kurang memerhatikan beberapa aktivitas Nikita yang mestinya saya tahu, saya pelajari, dan saya bantu. Tapi sekarang, semuanya sudah terlambat.
Lalu, kami pun banyak bicara melalui telepon. Saya bicara tentang apa saja, dan kadang merasa kesulitan menyampaikan sesuatu yang ingin saya kemukakan. Saya hanya menginginkan dia bisa tersenyum dan tertawa.
Mendekati hari operasi, saya lebih sering menelepon, khususnya kepada anaknya, juga kepada Aiman Wiwoho suaminya. Di depan pintu operasi mereka tampak baik-baik saja, dan sempat bercanda-ria. Entah kenapa, sepertinya mereka tidak merasa khawatir, dan tidak setegang saya waktu itu.
Sesaat saya menunduk dengan khidmat, memejamkan mata sambil berdoa atas kesembuhannya. Tetapi pada akhirnya, kita harus berpasrah pada ketentuan Tuhan. ***
Oleh: Alim Witjaksono,
(Pengamat dan penikmat sastra mutakhir Indonesia, menulis esai dan sastra di berbagai media nasional cetak dan online)







