Peristiwa di Kamar Hotel Misterius

oleh -1459 Dilihat
banner 468x60

Rapat para anggota DPRD Banten, selama tiga hari di hotel berbintang lima di Jakarta tidak menemukan kesepakatan, dan semakin lama semakin tak berujung pangkal. Sekitar jam dua dini hari, rapat baru ditutup, untuk kemudian dilanjutkan keesokan harinya. Rindu pada anak dan istri, membuat saya harus rutin menghubungi mereka di pagi hari, menanyakan kabar anak-anak yang biasanya diantar ke sekolah sebelum saya berangkat ke kantor. 

Pada malam Jumat, ketika sedang tidur seusai rapat, tiba-tiba saya terperanjat kaget ketika mendengar bunyi pintu kamar terbuka pelan-pelan. Siapa yang masuk itu (pikir saya), apakah petugas dan pelayan hotel. Lampu dibiarkan tak menyala, tetapi jam di ponsel menunjukkan angka 02.45 dini hari. Sinar bulan menembusi awan-awan kelabu yang melintas cepat di langit malam. Cahaya yang remang-remang menerangi sekeliling, menembus celah-celah hordeng jendela yang tertutup rapat.

Saya tak punya alasan untuk merasa takut. Suara pintu ditutup pelan-pelan, membuat saya memutuskan untuk bangkit sambil terduduk di ranjang. Tiba-tiba, lampu di samping ranjang menyala. Di sebelah ranjang, tempat satu meja tulis dan dua kursi kayu memepet ke dinding, saya melihat seorang wanita setengah baya membelakangi saya. Pelan-pelan ia mencopot bajunya, melepas blus putih dan menyampirkannya ke salah satu kastok di belakang pintu. Lalu, dia pun mencopot bra dan menyampirkannya ke tempat yang sama.

Saya terbelalak kaget, lidah saya kelu. Jantung berdegup kencang saat melihat wanita itu membungkuk untuk melepaskan rok hitamnya. Dia menaruh rok itu dan menyampirkannya di atas kursi. Sekarang wanita itu telanjang, hanya secarik celana dalam yang menggantung di pinggul. Saya menaksir usia wanita itu sekitar tigapuluhan. Tinggi semampai, ramping dengan buah dadanya yang besar. Kulitnya terang dan sehalus minyak zaytun. Wajahnya meruncing elok di bagian dagu, dan rambutnya yang berombak diikat ekor kuda sebahu. Melingkar pada lehernya, seuntai kalung emas sintetis.

Wanita itu perlahan duduk di atas ranjang. Namun, sebelum saya berusaha melompat dari ranjang, tiba-tiba wanita itu menutup bibirnya dengan telunjuk, “Ssst! Ini layanan plus hotel, enggak usah takut… tugas saya menghibur dan memuaskan Abang di hotel ini….”

Ketika ia menghadap dan menatap wajah saya, darah di sekujur tubuh berdesir. Pikiran saya masih terus berkecamuk: siapa yang mengirim wanita ini? Kenapa tiba-tiba masuk kamar hotel, padahal pintu kamar terkunci rapat? Dari mana ia mendapat kunci serep, hingga seenaknya menyusup masuk di tengah malam buta seperti ini?

Ia tersenyum menyeringai, hingga saya pun bertanya sambil mengernyitkan dahi, “Siapa kamu?”

“Nama saya Tuti… Tuti Ratnasari.”

“Siapa yang menyuruh kamu ke sini?” tanya saya lagi.

Dia tidak menjawab, namun masih menunjukkan senyum manisnya.

“Ocid ya?” tebak saya.

“Ocid siapa?” tanyanya heran.

“Abdul Rasyid, anggota dewan, masih satu fraksi dengan saya,” tegas saya lagi.

Wanita itu menggelengkan kepala dan kemudian mendorong saya dengan kedua tangannya, hingga saya rebah di ranjang. Seketika itu, saya melompat dan menepis lengannya keras-keras. “Enggak bisa!” teriak saya, “Kamu jangan sembarangan masuk tanpa izin. Saya punya keluarga, dan saya orang beragama. Kalau kamu enggak keluar sekarang, saya akan menghubungi petugas hotel,” ancam saya.

Muka wanita itu seakan meringis, matanya melotot tajam. Ia segera mengemasi pakaiannya, memakai kembali bra dan roknya. Dengan secepat kilat ia mengambil bajunya dari kastok dan mengenakannya. Setelah itu, ia ngeloyor keluar sambil membanting pintu kamar.

Kembali saya kunci pintu rapat-rapat, kemudian berbaring hingga azan subuh terdengar dari seluruh penjuru. Setelah solat subuh saya berbaring dan tertidur pulas, sampai kemudian alarm ponsel berdering, dan waktu sudah menunjukkan Pk. 07.30 pagi.

Setelah mandi dan berpakaian, saya turun ke ruang makan dan bertemu Ocid yang sedang sarapan. Dia duduk di seberang meja kawannya, kemudian saya bergabung pada kursi ketiga, “Brengsek kamu, Cid,” ujar saya pelan.

“Brengsek kenapa?” kata Ocid heran.

“Siapa perempuan yang kamu kirim tadi malam?”

Ocid sudah hendak menghirup teh hangatnya, tetapi terhenti seketika. Kebingungan, lalu dia bertanya dengan logat Medannya, “Kau ini ngomong apa, Kawan? Saya tahu kau itu seorang religius, seorang anggota dewan yang taat beragama. Tak mungkin saya berbuat macam-macam sama kau, kecuali jika saya mau kuwalat, ngerti enggak kau?”

Saya menghela nafas dalam-dalam. “Semalam ada seseorang masuk ke kamar hotel…”

“Laki atau perempuan?” potong Ocid.

“Yaa perempuan lah,” tegas saya.

“Lho? Dari mana dia punya kunci?” tanya teman Ocid.

“Enggak tahu, bingung saya… kok bisa-bisanya dia masuk tanpa permisi atau setidaknya mengetuk pintu dulu, aneh….”

Saya dan Ocid sudah berteman akrab sejak kami menjadi aktivis partai ketika memasuki era reformasi. Sudah bertahun-tahun kami memiliki visi yang sama demi menyuarakan semangat demokrasi dan kesejahteraan, serta bertekad memperjuangkan aspirasi segenap rakyat, bahwa setiap warganegara sama kedudukannya di mata hukum. Saya percaya Ocid, dan banyak berutang budi kepadanya. Dia kelahiran Medan, meskipun jarang ia menggunakan nama marga di belakangnya.

Suatu hari, ketika ia terlilit persoalan hukum karena data-data keuangan yang dibeberkan para jurnalis, saya berusaha menjadi saksi, hingga menyelamatkannya dari kasus yang membelitnya. Saya tahu ia bersalah, tapi saya juga tahu adanya kekuatan elit yang menunggangi, lalu sibuk mencari-cari alibi untuk mempersalahkan lawan politiknya sekecil apapun. Bagi saya, kesalahan yang masih bisa ditoleransi belum sebanding dengan kerja keras, kejujuran, dan kegigihan Ocid untuk membela kepentingan rakyat banyak.

“Kalau memang bukan kamu yang mengirim perempuan itu ke kamar saya, ya sudahlah, lupakan saja.”

Seusai sarapan, Ocid menemani saya berbelanja di minimarket yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari hotel. Sesampainya di tempat parkir, saya melihat dari balik pintu ruang resepsi, wanita yang masuk ke kamar hotel saya. Sekelebat dari beberapa wanita yang saya lihat, tiba-tiba seseorang dari mereka tersenyum ke arah kami. “Itu dia, Cid,” seru saya, “perempuan yang di depan itu yang mendatangi saya tadi malam.”

Ocid menoleh ke arah pintu, tetapi hanya sempat melihat bagian belakang kepala wanita itu, karena ia keburu berpaling dan masuk ke dalam. Saya berlari mendekati meja resepsionis, lalu menekan bel. Seorang laki-laki muncul dan mendekat.

“Apakah betul perempuan yang berdiri di depan pintu tadi bernama Tuti Ratnasari?”

“Maaf, Pak, tadi banyak tamu-tamu wanita di sekitar sini. Saya tidak sempat memperhatikan mereka satu persatu. Di hotel ini memang banyak perempuan datang dan pergi. Tamu-tamu kami tidak suka kami banyak bertanya soal itu,” kata pegawai lelaki itu sambil tersenyum.

Malam hari seusai rapat, saya tak bisa tidur nyenyak, hanya duduk-duduk di tepi ranjang dengan kepala bersandar ke dinding. Saya mengkhawatirkan kedatangan wanita itu lagi. Akan tetapi, pada pukul 12.30 saya sudah tertidur sambil duduk.

Tak berapa lama, tiba-tiba muncul kegaduhan orang-orang yang berteriak dan saling berkelahi di sekitar lorong hotel. Padahal, seharian lorong itu kosong, hingga saya mengira para tamu di sebelah kamar sudah pada check out. Melalui tembok, saya bisa mendengar suara tubuh seseorang terguling di lantai dan kursi meja dibentur-benturkan ke pintu. Tak berapa lama, terjadi keheningan sesaat, lalu terdengar kembali bunyi tubuh manusia diseret disertai suara erangan dan rintihan. Dengan jelas, saya masih bisa mendengar suara pintu belakang hotel dibuka, dan suara benda berat seakan dilempar keluar pintu. Baku-hantam itu dalam imajinasi saya, tak ubahnya dengan perlakuan orang-orang Batak terhadap marbot dalam novel Perasaan Orang Banten.

Saya membuka sedikit daun jendela, dan melihat sesuatu yang mirip badan manusia dimasukkan ke bagasi mobil. Saya mencoba berlari ke arah kamar tempat keributan terjadi, akan tetapi kamar itu terlihat rapi dan bersih. Semua perabot lengkap tersusun dengan baik. Lalu, ke mana orang-orang itu? Siapa yang tadi membuat kegaduhan di sekitar itu?

Segera saya berlari ke kamar Ocid dan bermaksud membangunkannya. Tapi kemudian, saya berubah pikiran dan kembali ke kamar. Pikir saya, kalau Ocid tidak mendengar kegaduhan tadi, setidaknya dia mendengar suara tubuh manusia yang dibentur-benturkan ke pintu kamar saya. Segera saja pikiran saya kembali pada Tuti Ratnasari, sampai kemudian saya memutuskan untuk mengabaikannya.

Tak berapa lama, saya mulai terlelap. Baru sebentar memejamkan mata, tiba-tiba ranjang tempat tidur bergoyang-goyang. Saya terkesiap dan bangkit dalam posisi duduk. Kali ini, wajah Tuti tidak lagi tersenyum. Matanya melotot tajam seperti sedang marah. Lampu kamar menyala hingga saya melihatnya dengan jelas.

“Mau apa lagi, kamu?” tanya saya pelan.

Wanita itu tidak menjawab, hanya menggeram kesal, menggeretukkan gigi-giginya. Tiba-tiba ia mencengkeram kedua bahu saya, hingga saya berusaha meronta dan melepaskan diri dari cengkeramannya. “Jangan main-main, sebaiknya kamu keluar. Kalau tidak, saya akan menghubungi polisi sekarang juga,” ancam saya.

Setelah wanita itu keluar kamar, tiba-tiba muncul seorang lelaki berbadan kekar dan besar, langsung mendorong tubuh saya keras-keras. Tangan raksasa itu kemudian menyasar leher dan mulai mencekik saya. Ya Allah, siapa laki-laki tak dikenal ini? Apakah suaminya? Tak mungkin lawan politik saya begitu sembrono mmembayar orang suruhan untuk menyerang saya secara fisik seperti ini? Siapakah dia?

Dengan sekuat tenaga saya berusaha melawan dan memukul keras-keras muka lelaki itu. Tetapi anehnya, pukulan saya seperti menghntam air dan menembus muka lelaki misterius itu, sampai kemudian ia menghilang dari pandangan mata.

Kali ini saya berusaha tidak membuang-buang waktu. Saya berlari keluar kamar dan berteriak-teriak minta tolong. Saya menggedor pintu kamar Ocid. Setelah pintu dibuka, saya bergegas masuk dan mencekau bahu Ocid. “Hey, hey, apa-apaan ini… ada apa, Kawan?” tanya Ocid heran.

Saya tidak menjawab, hanya menunjuk-nunjuk ke arah kamar dengan tubuh bergetar. Ocid segera menuju kamar saya, kemudian kembali lagi dengan tatapan keheranan. “Ada apa, Kawan?”

Saya duduk di ranjang Ocid, menghela napas panjang dan sedapat mungkin menenangkan diri. Saya menceritakan keseluruhan kejadian di kamar hotel, sejak kedatangan Tuti Ratnasari, kemudian kegaduhan dan keributan, hingga sesosok mayat yang dimasukkan ke bagasi mobil, lalu yang terakhir dengan datangnya laki-laki raksasa yang tiba-tiba menyerang hendak membunuh saya.

“Saya kok enggak mendengar apa-apa, sampai kamu berteriak-teriak dan menggedor pintu kamar saya?” kata Ocid sambil mengerutkan kening.

Saya menggelengkan kepala. Tak habis pikir jika kegaduhan yang ramai itu tidak didengar oleh satu pun penghuni kamar hotel itu. Tetapi di sisi lain, kalau toh mereka mendengar kegaduhan itu, kenapa tak seorang pun yang keluar kamar, atau setidaknya melongokkan muka di depan pintu?

Setelah empat hari menginap di hotel itu, saya dan Ocid bergabung dengan anggota dewan lainnya di lobi hotel, kemudian menuju resepsionis untuk mengurusi pembayaran. Manajer hotel bertanya apakah kami merasa nyaman menginap di sana. Ocid kemudian melihat peluang untuk menceritakan apa-apa yang saya alami selama empat hari di hotel tersebut.

Manajer itu terdiam membisu selama saya dan Ocid menceritakan kejadian itu. Sebentar kemudian, dia berkata dengan tatapan menerawang, “Rupanya Tuti Ratnasari sudah kembali menghantui tamu-tamu saya lagi.” Ia terdiam sesaat, kemudian lanjutnya dengan panjang-lebar: “Dulu, hotel ini kepunyaan pengusaha wanita yang perangainya kurang baik. Dia menyediakan seorang wanita pelacur kawakan bernama Tuti Ratnasari. Pemilik hotel ini memanfaatkan perempuan itu buat menarik kedatangan para tamu. Setelah tamu-tamunya mabuk dan tidur dengan Tuti, biasanya apa-apa yang dia miliki jadi habis ludes, baik isi dompetnya, perhiasan yang dikenakannya, hingga jam tangan di tangannya. Pemilik hotel ini juga menyediakan para lelaki hidung belang yang melindungi Tuti, sampai-sampai tak jarang terjadi perkelahian dan pembunuhan sekalipun. Tapi lama kelamaan, kasus-kasus semacam itu semakin terbongkar dan para pelakunya sudah dijatuhi hukuman yang setimpal. Setelah peristiwa itu, hotel ini jadi vakum dan tak terpakai selama beberapa tahun. Sebagian orang mengatakan bahwa hotel ini didiami para hantu. Kami membeli tempat ini tiga tahun lalu, serta mengembalikan keramaian bisnisnya. Tapi saat ini, baru kali pertama saya mendengar pengalaman mengerikan seperti ini.”

“Sekarang, Tuti Ratnasari sendiri sudah berkeluarga?” tanya saya spontan.

“Dia terbunuh oleh empat orang yang bersekongkol untuk menghabisinya selepas dari penjara. Dan tiap malam Jumat, konon dia sering mendatangi para tamu di hotel ini, baik dari kalangan pengusaha, pegawai dinas, akademisi, termasuk para politisi.”

Saya, Ocid dan anggota dewan lainnya langsung cabut. Dan saya pun menduga, bahwa bukan hanya saya sendiri yang mengalami kejadian aneh seperti itu. Sebab, ketika kami harus mengadakan rapat-rapat dewan pada bulan-bulan berikutnya, nampaknya tak satu pun dari anggota DPRD yang sepakat untuk mengadakan rapat di hotel misterius itu. (*)

Oleh: Muhamad Pauji

Penulis adalah Pegiat organisasi kepemudaan Orang Indonesia (OI), menulis prosa dan esai sastra di berbagai media nasional cetak dan online, di antaranya kompas.id, NU Online, espos.idalif.id, Solopos, Ruang Sastra, Kabar Banten, Tangsel Pos, dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.