Ketukan pintu itu disertai ucapan salam yang sopan. Tak ada kecurigaan sama sekali, hingga saya meninggalkan laptop dan langsung membuka pintu. “Siapa ya?” tanya saya seketika. Lelaki berbadan tinggi dan ceking itu mengenakan helm hitam, tiba-tiba menodongkan sebilah belati yang dikeluarkan dari balik jaketnya. Ia pun membuka maskernya, namun masih menodongkan belatinya ke wajah saya.
“Saya ke sini bukan mau merampok barang maupun uang, tapi saya hanya ingin kamu menceritakan sesuatu,” ancam lelaki jangkung itu.
“Cerita apa?” tanya saya kaget.
“Cerita apa saja, yang penting baru dan orisinal,” jelas lelaki itu, “saya tahu kamu punya banyak cerita di kepala.”
Lelaki itu menarik lengan saya dan mengajak duduk di sofa. Ia langsung menjulurkan mukanya ke wajah saya, “Begini, beberapa hari ke depan, saya mau mengikuti lomba baca cerpen di alun-alun kota. Cerpennya cukup lima halaman, harus baru, orosinal dan tidak boleh menyadur dari cerita manapun. Karena itu, beri saya cerita sekarang juga!” suaranya semakin mengancam.
“Hadiahnya berapa?” tanya saya sambil memalingkan pandangan dari belati yang masih ditodongkan.
“Seratus juta rupiah.”
“Cukup hadiah yang diberikan untuk sebuah lomba baca cerpen,” puji saya.
“Ini bukan semata-mata soal hadiah, tetapi juga prestise dan ketenaran nama saya sebagai seniman.”
“Oo, jadi kamu seniman toh? Di alun-alun mana?”
“Ssst, ini rahasia saya, jangan coba-coba kamu tahu, ya?”
Kini, ia membuka helmnya dan menaruhnya di bawah sofa. Rambutnya agak panjang laiknya seorang seniman jalanan. Kumis dan janggutnya bergelayut seakan tak terurus. Saat itu, saya menjelaskan padanya bahwa saya bukan seorang pendongeng atau pencerita, meskipun banyak cerpen-cerpen saya yang ditampilkan media-media lokal dan nasional. Tetapi, lelaki jangkung itu terus mendesak dengan alasan dia telah membaca banyak apresiasi dan kritik sastra yang dilayangkan oleh para penulis milenial akhir-akhir ini, khusus mengenai karya-karya saya.
“Pokoknya kamu harus kasih cerita sekarang, dan saya akan merekamnya melalui ponsel ini.” Ia merogoh kantong jaketnya, mengambil ponsel dan menyodorkannya di atas meja.
Situasinya cukup mencekam. Saya minta baik-baik agar dia menaruh belati yang masih ditodongkan ke muka saya. Bagaimana saya harus merangkai cerita di kepala jika menghadapi todongan belati seperti ini.
“Hidup di Jakarta, kalau saya pengen sesuatu, saya harus nunjukin kekuatan, tahu?” Ia mulai menyarungkan belatinya dan diselipkannya ke dalam jaket.
“Emang Bapak dari mana?” tanya saya dengan waswas.
“Saya dari Yogyakarta, Jawa Tengah. Di sana, kalau saya pengen sesuatu, tinggal minta baik-baik kepada yang punya rumah, tetapi di Jakarta sini, untuk berteduh dari teriknya matahari saja harus mencari tempat dan berjalan kaki sejauh ratusan meter. Di sana, jika saya pengen ketemu salah satu personel Sheila On7, cukup dengan mengetuk pintu, lalu mengajak saya minum teh dan menyanyikan sebuah lagu. Tetapi di sini, bahkan seekor kucing pun merasa kesulitan untuk mencari sisa-sisa makanan.”
Kami terdiam, suasana hening, lalu suaranya tiba-tiba mengancam, “Alim, kamu mau cerita sekarang, atau belati ini menembus leher kamu?”
Saya merasa terdesak. Lelaki jangkung itu memang mau bikin gara-gara.
Setelah menarik nafas, dengan mata menerawang saya memulai cerita: “Pada suatu hari, dua orang sedang berada di dalam ruangan, lalu…”
“Lalu apa?” desaknya lagi setelah menunggu dalam waktu yang cukup lama.
Ia terlihat tegang, karena merasa seolah-olah cerita itu ditujukan kepadanya. Ketika saya melanjutkan, baru seperempatnya tiba-tiba terdengar ketukan pintu di luar.
“Siapa yang mengetuk itu? Istri kamu, teman, atau siapa?” bisiknya.
“Saya kira bukan istri saya, karena dia sedang liburan bersama anak-anak di rumah nenek mereka di Bandung.”
“Tapi siapa, teman atau tetangga? Ayo, silakan buka, tapi kamu jangan macam-macam, ya?” ancamnya kemudian.
Rupanya, tamu itu seorang salesman yang menawarkan jenis kompor terbaru, yang super hemat dari pemakaian gas elpiji. Saya persilkan untuk masuk dan duduk di sofa. Dia mendemonstrasikan tata cara pemakaian kompor. Lelaki jangkung itu duduk di sebelahnya, kini ia mulai mengeluarkan rokoknya, kemudian menarik sebatang dan menyulutnya.
Dia tetap duduk mematung, sementara si salesman terus bicara hingga mengakhiri demonya dengan memberi selembar brosur kepada saya, dan kepada si jangkung, dia bertanya, “Kalau Bapak ini siapa?”
“Dia sahabat lama dari Jogja,” potong saya berbohong. “Dia tinggal di Jakarta Timur, kakeknya mati dalam peristiwa politik 1965, karena dituduh bersekongkol dengan pemerintahan Soekarno yang kemudian digulingkan oleh rezim militer.”
Si salesman manggut-manggut sambil mengeluarkan selembar brosur lagi dan memberikannya pada si jangkung. Setelah salesman itu pamit, cerita pun saya teruskan hingga nyaris setengahnya. Lalu kemudian, lagi-lagi terdengar suara ketukan.
Dua orang menunggu di depan pintu, yang satunya bersiap-siap membidik kamera teve di pundaknya. “Pak, kami dari lembaga survai, ingin mengajukan lima pertanyaan yang perlu Bapak jawab. Saya mohon waktunya selama beberapa menit agar Bapak menjadi salah satu responden kami…”
“Tolong cari responden lain saja, karena hari ini saya sedang sibuk,” tolak saya.
Si pemegang kamera terus merangsek, “Tolonglah Pak, cuma lima pertanyaan saja. Mereka tidak akan membayar kami kalau kami tak mendapatkan responden sama sekali.”
Keduanya saya persilakan masuk dan duduk di sofa, bersebelahan dengan si jangkung. Satu persatu pertanyaan mereka, saya jawab. Sampai kemudian mereka pamit dan menyalami kami berdua.
“Lalu, ke mana saja kalian akan mengadakan survai, setelah dari Jakarta ini?” tanya saya kemudian.
“Minggu besok kami harus berangkat ke Merauke, Papua, tapi saya khawatir situasinya rawan di wilayah itu. Bisa jadi, ketika saya mengetuk pintu, tiba-tiba seorang warga Papua menodongkan pisau atau golok di leher saya, hehehe….”
“Ayo, lanjutkan,” desak si jangkung dengan raut memerah, karena merasa tersinggung.
“Sampai mana tadi, saya lupa.”
“Si tokoh utama ditemani sahabatnya berziarah ke makam kakeknya yang meninggal dalam peristiwa politik 1965,” jelasnya.
Saya pun melanjutkan cerita yang dipaksakan itu, dalam situasi tegang dan kurang terkendali. Saya menelan ludah dan coba meneruskan cerita dengan suara agak tercekat. Lelaki jangkung itu menatap saya erat-erat. Saya yakin penyair Rendra, Sapardi Djoko Damono, atau Sutardji Calzoum Bachri tak pernah mengalami situasi seperti ini. Bahkan, sastrawan generasi berikutnya seperti Putu Fajar Arcana, Leila Chudori, Hafis Azhari maupun Panji Sukma, juga belum tentu pernah mngalami situasi setegang ini.
“Selesaikan ceritanya sekarang juga. Kalau ada yang mengetuk pintu lagi, usir dia!” teriak si lelaki jangkung.
Dengan suara agak terbata, saya melanjutkan ceritanya. Namun, ketika hampir mencapai ending, tiba-tiba terdengar teriakan dari luar, “Paket, paket! Ini paketnya, atas nama Alim Witjaksono!”
“Paket apaan?” Saya melongok dari pintu sambil membuka sedikit, “Saya enggak pernah pesan paket apapun?” balas saya.
“Ini paket COD, mungkin sejenis alat-alat kosmetik pesanan istri Bapak…”
“Istri saya sedang berlibur ke rumah orang tuanya di Bandung.”
“Nah, itu dia. Paket ini dipesan dari Bandung, harganya sekitar 800 ribu rupiah.”
“Waduh, saya lagi enggak pegang uang cash, di dompet saya hanya ada 100 ribu perak,” keluh saya.
Lelaki jangkung itu bangkit dari sofa, mendekati kami seraya menawarkan sesuatu, “Kalau begitu, biarkan saya yang bayar, Pak Alim. Berapa tadi, 800 ribu ya?”
Dia merogoh dompetnya di kantong celana, mengeluarkan uang delapan lembar 100 ribuan, kemudian membayarkannya pada kurir COD tersebut.
Kami kembali duduk di sofa, “Ayo, lanjutkan, sekarang sudah mendekati ending.”
“Bagaimana saya akan membuat ending kalau situasinya seperti ini?” protes saya lagi.
“Seperti apa?”
“Dalam situasi tegang seperti ini?”
Lelaki jangkung itu menghisap rokok di tangannya, “Kalau begitu, bikin ending yang agak pendek dan menegangkan, misalnya si tokoh protagonis mengadakan perlawanan, sampai kemudian dia terkapar karena tembakan tokoh antagonis, bagaimana?”
“Berarti, berakhir dengan absurd?”
“Emangnya kamu mau bikin ending bagaimana? Si protagonis dan antagonis kemudian saling berpelukan, atau bertemu di pelaminan, begitu? Sudahlah, jangan bikin saya pusing, hidup di Jakarta ini berat, Kawan? Di sana-sini pengangguran, terorisme dan anak jalanan. Apalagi setelah pandemi Covid-19 ini, semakin marak gelandangan, pembegalan dan penjambretan. Kita semua sedang depresi, Kawan, bikin ending yang absurd saja, kurang lebih seperti karya-karya Putu Wijaya…”
Saya pun terpaksa mengakhiri cerita itu sesuai kemauan si jangkung, bahwa sang tokoh porotagonis akhirnya mati terkapar, dan tidak ada harapan apa pun bagi penyampaian misi pada nilai-nilai kebaikan dan keindahan.
Setelah merasa puas, ia menyentuh layar ponsel, memasukkannya ke kantong jaket, lalu mengamit helm dari bawah sofa. Sebelum keluar rumah menuju motornya, ia sempat memoncongkan mulutnya sambil memberi ancaman, “Awas, jangan coba-coba kamu kirim cerita yang sama di media manapun, terutama di media-media luring, paham?”
“Oke,” jawab saya mengangguk. Kemudian ia pun ngeloyor pergi.
Seminggu kemudian, ponsel saya bordering disertai getaran, “Halo? Ini dari siapa, ya?”
Rupanya, suara itu milik si jangkung yang mengabarkan dirinya mengalami kekalahan dalam ajang final sayembara baca cerpen di alun-alun kota. Itulah, jika dia mengakhiri ending cerita atas kemauan dan hawa nafsunya sendiri. Sementara, para tim juri, biarpun umurnya sudah sepuh, tetapi mereka telah mengalami pencerahan dan emansipasi kesadaran. (*)
Oleh: Alim Witjaksono
Penulis adalah Pengamat sosial dan peneliti sastra mutakhir Indonesia, menulis esai dan prosa di berbagai media nasional luring dan daring)







