Pengalaman Mati Suri Sang Presiden 

oleh -66 Dilihat
banner 468x60

Entah karena racikan bumbu yang kurang pas, atau sejenis rempah-rempah yang sudah kadaluwarsa, beberapa resep masakan yang terhidang untuk acara “Temu Kebangsaan”, telah membuat presiden dan beberapa petinggi negara mengalami kejang-kejang. Presiden Prabono yang sangat mencintai rakyat, tak bisa marah-marah di depan publik lantaran dia pun bermasalah pada lambung dan pencernaannya, hingga terpaksa harus dirawat dan dilarikan ke rumah sakit.

Akhirnya, korupsi massal yang dilakukan secara senyap di komunitas Badan Gizi Indonesia (BGI) terungkap jelas. Karena para pejabat dan petinggi negara itu telah bersantap malam dengan hidangan MBG yang sudah dipersiapkan sejak sore tadi. Sebagian dari menu yang dihidangkan tidak layak dikonsumsi alias sudah basi.

Saya bersama tim medis lainnya, segera menangani beberapa pejabat tinggi yang sudah koma sesampai di rumah sakit lantaran ambulans mengalami kemacetan di perempatan jalan. Bahkan, telah dikabarkan adanya dua pejabat dan elit politik dinyatakan meninggal dalam perjalanan.

Penanganan medis di rumah sakit agak semrawut dan tumpang tindih, ditambah beberapa pasien baru yang harus segera ditangani dengan cepat dan cermat. Sebagai dokter ahli, saya harus menangani dua pasien sekaligus yang ditempatkan dalam ruang UGD, yakni Gubernur Jawa Barat Deni Mulyadi dan mantan presiden Joko Wibowo. Sementara, di ruang sebelah ada mantan presiden Megasari, bersama presiden yang sedang menjabat saat ini, Bapak Prabono.

Gubernur Deni sudah siuman setelah 40 menit mengalami pingsan, sedangkan mantan presiden Megasari baru pulih setelah hampir dua jam tak sadarkan diri. Tim medis dengan sigap mengupayakan pemulihan dan kesembuhan bagi para pasien lainnya, meski ada juga beberapa pasien yang sudah dipastikan meninggal, namun kemudian bangkit kembali setelah beberapa saat mengalami mati suri.

Aneh bin ajaib. Siapa yang tiba-tiba menghembuskan udara ke dalam paru-paru mereka, hingga membuat kedua mata mereka terbuka? Dan yang paling sulit dijawab oleh dokter seperti saya, siapa yang tiba-tiba menghadirkan kembali kesadaran bagi mereka, setelah beberapa menit, bahkan beberapa jam mengalami kematian?

Tiga bulan kemudian, sekretaris kepresidenan mengundang saya agar turut serta menghadiri upacara hari kemerdekaan 17 Agustus 2026. Sebagai dokter profesional, tidak ada salahnya saya menghadiri upacara dan duduk bersebelahan dengan para pakar dan kaum akademisi, meski agak jengkel juga karena tak biasa bagi saya menghadiri acara berjam-jam, mendengarkan pidato dan wejangan presiden yang membuat saya merasa ngantuk, hingga harus menutup mulut dengan telapak tangan lantaran menguap berkali-kali.

Selesai upacara, dalam jamuan makan siang yang seteril di Istana Negara, saya duduk satu meja bersama para akedemisi di bidang kedokteran. Saat itu, mendengar kelakar dan guyonan Bapak Presiden bersama beberapa mantan presiden di meja makan yang sama. Tampaknya mereka sibuk membahas pengalaman mati suri dalam tiga bulan lalu, ketika mereka sama-sama menyantap makan malam dengan jamuan MBG yang teledor itu.

“Entah berapa lama saya mengalami pingsan,” kata Bapak Presiden lirih, “tetapi saya seperti mengalami kehidupan di dunia lain selama berbulan-bulan. Saya berjumpa dengan almarhum bapak saya, kakek saya, para eyang dan bibi saya yang sudah meninggal lebih dulu. Lalu, mereka mengajak saya ke suatu tempat, memakaikan seragam militer ke tubuh saya, lalu saya diperintahkan duduk di atas kursi semacam singgasana Nabi Sulaiman. Ketika kursi itu diputar ke belakang, tiba-tiba saya melihat ribuan masyarakat yang kulitnya cokelat dan sawo matang seperti orang-orang Indonesia berkumpul di tengah Padang Pasir Jordania. Mereka semua tersenyum ceria dengan muka-muka yang cerah menyambut kehadiran saya, seakan saya adalah pemimpin baru mereka. Seketika itu, saya dan rakyat Indonesia memasuki pintu gerbang yang sangat besar, menyaksikan orang-orang yang hidup makmur dan sejahtera di negeri itu. Saya merasa senang menyaksikan mereka menyambut rakyat Indonesia, menyediakan rumah-rumah mewah yang dihiasi sungai-sungai dengan mata air jernih di sekelilingnya. Di sepanjang sungai itu tumbuh berbagai-macam buah-buahan subur, dan mereka bersama keluarganya saling duduk dan bercengkerama di meja-meja hidangan yang tersedia di halaman-halaman rumah. Mereka hidup berdampingan dengan gembira, dan saling berbagi perasaan di antara mereka. Tanpa ada rasa iri, cemburu, dan tak ada saling curiga dan dengki di antara mereka. Namun suatu pagi, sekelebat makhluk besar bersayap indah, tiba-tiba menegur saya, ‘hai Prabono, tempatmu bukan di sini, rakyatmu sedang menunggu, ayo kembali ke asalmu’, tiba-tiba saya menarik nafas panjang, mata saya terbuka, dan seketika saya tersadar sedang berada di rumah sakit.”

“Wah, itu pengalaman yang bagus, Pak Presiden,” puji saya.

“Tapi, apakah itu rasional, ataukah hanya halusinasi saya saja?” tanya Presiden.

“Saya kira itu pengalaman yang universal. Banyak orang yang pernah mengalami mati suri, juga menjalani pengalaman yang tak jauh berbeda seperti Pak Presiden.”

“Saya kira dunia medis dan kedokteran, tidak layak menyimpulkan pengalaman saya sebagai rasional?” protes Pak Presiden lagi.

“Saat ini dunia kedokteran sedang mengalami transformasi, bahkan sedang merevolusi diri, terutama sejak peristiwa Covid beberapa tahun lalu.”

“Oo begitu… ya, ya, saya mengerti,” ujar Pak Presiden, “memang banyak persoalan religius dan spiritual yang belum terjawab oleh dunia kedokteran hingga saat ini.”

Sambil menggeser posisi duduk, saya pun memalingkan muka ke arah mantan presiden Joko Wibowo, seketika menanyakan perihal pengalamannya selama mengalami mati suri tiga bulan yang lalu.

“Waah, kalau saya sampaikan panjang sekali ceritanya. Sama sekali ndak kebayang oleh saya. Terutama waktu saya dibawa ke masa lalu ketika kehidupan keluarga kami mengalami masa-masa kecil, kemudian mengalami kesulitan di masa pemerintah Orde Baru, digusur dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kemudian, saya sibuk jadi pengusaha kayu, kuliah di UGM, sampai akhirnya saya memutuskan bergabung dengan PDIP, menjadi walikota Solo, hingga diusung oleh partai menjadi gubernur Jakarta dan presiden dua periode. Tak terasa, sepertinya waktu berjalan begitu cepat. Kemudian, sekelebat ada cahaya terang yang menyilaukan mata, lalu muncul makhluk-makhluk misterius yang membawa saya memasuki lorong hitam yang panjang, gelap gulita, menakutkan, sampai kemudian saya terbebas dari lorong gelap itu dan menemukan diri saya di dunia yang indah, subur dan makmur…”

“Apakah Pak Joko tidak berjumpa keluarga Bapak di alam sana?”

“Setelah sekian lama, akhirnya saya berjumpa juga.”

“Apakah Bapak tidak berjumpa Ibu Megasari?”

“Dengan Pak Harto dan Gus Dur saya berjumpa…”

“Kalau dengan Presiden Soekarno?” pancing saya lagi.

“Barangkali saya harus menemui Bu Megasari dulu, baru bisa berjumpa dengan Pak Soekarno.”

“Sepertinya Bapak Joko lebih mendekati tipikal Pak Harto ketimbang Bung Karno,” gumam saya.

“Nanti dulu, semuanya ini kan masih proses… barangkali suatu saat nanti, saya harus berjumpa dan akur kembali dengan Bu Megasari.”

Saya menoleh ke arah mantan presiden Ibu Megasari, lalu beginilah pengalaman Ibu Megasari ketika mengalami mati suri: “Tidak lama saya memasuki lorong gelap, tiba-tiba sekelabat cahaya terang benderang datang, dan di depan saya sudah ada Bapak Soekarno menggandeng tangan saya. Wajahnya terang dan cerah, juga putih dan bersih mempesona, usianya sekitar 30-an tahun. Beliau mengajak saya ke suatu rumah dengan bangunannya yang unik dan langka. Tiba-tiba, keluarlah dari pintu depannya Ibu dan nenek saya yang sama-sama berparas cantik, berpakaian kebaya Bali, dengan mengenakan selendang dan bulang pasang, serta rambut disanggul yang begitu menawan. Saya diajak Bapak berlari-larian bersama anak-anak muda Indonesia, di tengah hamparan padang rumput nan hijau, sambil memetik buah khuldi yang enak rasanya, di depan pemandangan gunung dan perbukitan indah, dengan udara sejuk seperti perkampungan di Batu Tulis, Jawa Barat. Tapi keesokannya, ketika saya sedang bercakap-cakap dengan almarhum suami saya, tiba-tiba seseorang menepuk pundak saya. Dia bilang, katanya Ibu Mega harus kembali… dan kembali… lalu tiba-tiba saya terkesiap dan ketika membuka mata, tahu-tahu sedang berada di ruang perawatan…”

“Jadi, berapa lama Ibu Mega tinggal bersama bapak, dan dipertemukan dengan suami dan nenek yang dari Bali?”

“Sepertinya cukup lama… mungkin beberapa bulan kami saling bercengkerama di sana…”

“Tetapi di bawah perawatan saya, Ibu Mega hanya mengalami koma selama dua jam saja?” tanya saya heran.

“Di situlah masalahnya. Barangkali dunia dimensi yang saya masuki berbeda, bukan hanya dalam soal ruang tetapi juga soal waktu.”

“Tapi, apakah Ibu tidak mengalami rasa takut, atau sakit?”

“Boro-boro sakit… bahkan gatal pun tidak ada. Wong di alam sana tidak ada nyamuk, tidak ada polusi, udaranya sejuk dan asri, bahkan satu hama pun tidak saya temukan.”

Suasana hening dan senyap selama beberapa waktu, kemudian Ibu Megasari mengangkat wajahnya sambil menambahkan, “Apakah ada pasien lain mengalami hal yang sama dengan saya?”

“Oh, iya, saya kira pengalaman mati suri yang dialami Pak Gubernur Deni Mulyadi, banyak mengalami persamaan dengan Ibu, bukankah begitu Pak Gubernur?” dan saya pun menoleh ke wajah Gubernur Jawa Barat.

 Pak Deni Mulyadi tersenyum simpul dan mendehem beberapa kali. Wajahnya yang ceria sudah tak asing lagi. Ia membetulkan totopong putih yang melingkar di kepalanya, lalu katanya tegas: “Saat itu, saya justru melihat roh saya keluar dari jasad, lalu saya seakan terbang melayang, menyaksikan anak, keluarga dan saudara-kerabat yang bersedih, baik di ruang perawatan maupun mereka yang menunggu di luar ruangan. Saya juga diperlihatkan dengan pengalaman masa lalu saya, sejak masa kecil hingga dewasa, bahkan dipertemukan dengan para leluhur saya dari tataran Sunda, baik ayah, kakek, buyut hingga para leluhur Pajajaran sejak Prabu Siliwangi hingga Raja Purnawarman, sebagai raja pertama di seluruh wilayah Jawa.”

“Apakah Pak Gubernur juga berjumpa dengan makhluk bersayap?” canda saya. Tampak Presiden Prabono tersenyum mendengar kelakar saya, entah senyum bermakna apa.

“Saya kira dua orang bertubuh besar itu mengenakan totopong Sunda juga. Mereka tidak berjubah dan bersorban. Barangkali keduanya adalah malaikat yang tiba-tiba menyodorkan daftar nama-nama di hadapan saya, kemudian salah seorang dari mereka mengatakan bahwa nama saya belum tercatat dalam daftar. Lalu, teman di sebelahnya bilang, sekarang kamu harus kembali… belum waktunya di sini…”

“Lalu, apa reaksi Pak Gubernur?” pancing saya lagi.

“Kenapa saya harus kembali? Kata saya memprotes mereka.”

“Masih banyak hal yang harus kamu selesaikan sebagai khalifah di muka bumi,” kata mereka ketus.

“Apa yang harus saya selesaikan? Luka-luka masa lalu saya?”

“Bukan. Kamu sudah sampai pada kesadaran untuk mengobati luka masa lalu.”

“Apakah saya harus membalas dendam?”

“Juga bukan. Kamu pun sudah sampai pada kesadaran untuk memaafkan.”

“Ya, sebagai orang Sunda, saya memang harus memaafkan semua etnis di negeri ini, termasuk Jawa, karena bagaimana pun saya juga menginginkan agar Tuhan memaafkan kesalahan-kesalahan saya di masa lalu.”

“Itulah kesadaran tertinggi dalam ajaran agamamu.”

“Dalam ajaran Islam ataukah Hindu?”

“Dalam ajaran semua agama.”

“Juga agama Nusantara?”

“Islam dan Muhammad adalah agama dan nabi yang terakhir. Tetapi, semua ajaran agama yang baik, termasuk dalam kategori Islam juga. Dan semua agama yang baik, menganjurkan manusia agar sampai pada kesadaran tertinggi, yakni kelapangan hati untuk mengampuni dan memberi maaf kepada siapa pun.”

“Semacam sifat rahman dan rahim, begitu?”

“Ya, kurang lebih seperti itu.”

“Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang diperlakukan tidak adil selama hidup di dunia?”

“Itu bukan urusan Anda.”

“Bagaimana dengan etnis Sunda yang berkali-kali mengalami penjajahan dan penindasan?”

“Juga bukan urusan Anda.”

“Lalu, bagaimana dengan orang-orang jahat dan zalim?”

“Itu urusan kami.”

“Kami siapa?”

“Tuhan dan para malaikat yang berhak membalasnya.”

“Apakah saya tak punya kewenangan untuk membalas dan menghakimi mereka semua?”

“Durasi ruang dan waktumu sangat terbatas dalam kehidupan dunia ini.”

Gubernur yang agak bawel dan senewen ini terus saja merangsek dan memprotes, “Oke, kalau derajat saya sudah sampai pada kesadaran tertinggi, berarti saya sudah selesai dengan diri saya. Lalu, untuk apa saya harus kembali ke muka bumi?”

“Agar mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran.”

“Bukankah itu tugas para Nabi, Satrio Piningit atau Ratu Adil?”

“Anda harus menjadi Satrio Piningit bagi bangsa dan negara Anda.”

“Lalu, tiba-tiba berdatangan laki-laki secara serempak menepuk pundak saya,” kata Pak Gubernur antusias.

“Laki-laki siapa?” potong saya seketika.

“Mereka adalah Bung Karno, Soeharto, Gus Dur dan Habibie… mereka tidak mengatakan apa-apa, tetapi tatapan mereka seakan memberi isyarat agar saya menuruti perintah kedua orang itu.”

“Kedua malaikat tadi?”

“Ya.”

“Maksudnya, agar Bapak Deni Mulyadi menjadi Presiden RI setelah Bapak Presiden Prabono, begitu?”

“Barangkali,” katanya mengangguk sambil mengedipkan matanya.

Semuanya terdiam saling mematung. Gubernur Deni memegang kepalanya, sambil menopangkan kedua tangannya pada meja. Presiden Prabono melirik dengan perasaan gembira. Tampak sudah tidak ada lagi ambisi pada wajah sang presiden, bahkan di usianya yang sudah uzur ia merasa lelah dan letih. Yang ia kehendaki adalah keamanan dan ketertiban nasional, dan secara tulus dan ikhlas ia menghendaki kehidupan rakyat Indonesia menjadi akur, makmur dan bersatu, entah siapa pun yang harus menjadi pemimpinnya.

Mantan Presiden Joko dan Ibu Megasari juga tersenyum gembira. Pada meja di sebelahnya ada mantan Presiden Yudhoyono yang didampingi oleh Agus Harimurti, Puan Maharani dan wakil presiden Gibran. Mereka tampak segar bugar, tidak terkontaminasi oleh keracunan makanan, meski mereka sempat berbaring selama beberapa minggu di musim pandemi Covid-19 lalu.

Mereka saling tersenyum merekah, seakan menyetujui usulan para mantan presiden yang sudah almarhum, ketika mereka menepuk pundak Gubernur Deni Mulyadi di alam surgawi.

Sekelebat cahaya putih terpendar. Pak Gubernur menarik nafas dan membuka kedua matanya. Ia melirik ke arah saya, kemudian berpindah tatapan matanya pada seorang perawat muda dan cantik di samping saya.

“Jam berapa sekarang, Neng?” tanya Gubernur Deni pada perawat cantik yang parasnya mirip lukisan Nyi Roro Kidul itu.

“Jam empat lewat,” suaranya lembut dan merdu.

“Pagi atau sore?”

“Pagi, Pak Gubernur.”

“Apakah Neng sudah punya suami?” tanyanya spontan.

Perawat cantik itu tersenyum sambil mengganti botol dan cairan infus terbaru. Setelah itu, ia menaruh dua pil dan satu suplemen berbentuk kapsul di pangkuannya, menyuruh Pak Gubernur agar membuka mulut seraya meminumkannya dengan air putih hangat.

Gubernur Jawa Barat itu terpesona menyaksikan perawat cantik yang bekerja dengan terampil dan cekatan, mengingatkan pada Rasulullah yang berbaring di pangkuan Aisyah sekitar 1400 tahun lalu. Tak lama kemudian, sarapan pagi datang. Perawat muda itu menyuapkan bubur ke mulut Pak Gubernur, dan ia pun menghabiskan semua makanan itu dengan lahapnya. Kini, Pak Gubernur berbaring tenang, dan dengan tatapan menerawang ia bergumam pada dirinya sendiri, “Benar apa yang dikatakan Rasulullah dulu, bahwa kasih sayang Tuhan tentu akan mengalahkan kemurkaan-Nya.”

Keesokan harinya di waktu sepertiga malam, sekitar Pk. 03.00 dini hari, lamat-lamat masih terdengar suara Pak Gubernur dari tirai jendela ruang perawatan. Ia mengangkat tangan sambil berdoa di pembaringannya: “Ya Allah, anugerahkan bagi saya istri dan anak-anak yang menyenangkan hati, dan jadikan saya pemimpin yang adil, bertakwa, hingga dapat memakmurkan masyarakat Jawa Barat, dan seluruh rakyat Indonesia.” ***

Catatan: “Sebagian nama tokoh dan instansi, sengaja ditulis secara kias dan fiktif.”

Oleh: Hafis Azhari

(Peneliti program historical memory Indonesia, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.