Roni Gerung dan istri cantik yang baru dinikahinya sedang makan siang di depan stasiun Kota Serang provinsi Banten. Di atas meja, terdapat saus dan kecap, serta beberapa aqua dan teh botol. Seorang pelayan datang menyediakan nampan berisi lauk-pauk, sementara nasinya menyusul dibawakan oleh pelayan lain di dalam besek berbentuk bakul kecil.
“Ayo makan,” kata Roni sambil mengambil piring dan menyedok nasi, kemudian memberikannya pada sang istri. Ia mencomot daging ayam, sambal dan lalapan, kemudian istrinya menyusul mencomot beberapa lauk-pauk dan sambal goreng.
Di sebelah kanan pada meja seberang, dua polisi muda datang dan mengambil posisi duduk sambil ketawa-ketiwi. Tampak yang satunya berbadan kekar sedang menceritakan lelucon kepada rekannya yang ceking namun berbadan tinggi sekitar 170 sentimeter.
Sesekali mereka mencuri-curi pandang ke arah meja Roni. Udara siang panas menyengat, menguarkan bau tak sedap dari kandang ayam penduduk yang tak jauh dari situ. Ratusan orang bergegas menuju peron atau mengejar kereta menuju stasiun Rangkasbitung, kemudian sebagian besar melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Penjual somay, batagor dan ketorprak berteriak menawari orang yang lalu-lalang dengan suara malas-malasan. Beberapa wanita muda wara-wiri membagi-bagikan stiker dan brosur, menawarkan hotel terdekat dengan pelayanan tukang pijat profesional.
Nasi dan lauk-pauknya terasa lezat, hingga istri Roni mencomot ikan lele dan bawal, serta menaburinya dengan sambal goreng. Sementara, Roni sendiri terlihat pucat dan letih. Ia justru merasa senang telah mengakhiri bulan madunya, dan sekarang akan menuju rumahnya di Kota Cilegon, dengan dua tiket kereta yang telah dipesan melalui online.
Selama seminggu berbulan madu, dan menginap di hotel mewah, Roni selalu mencemaskan soal sakit flu dan batuk-batuk yang tak kunjung reda. Namun, ia tak merasa mengalami gejala-gejala yang berat, meskipun sesekali ia mengalami sesak nafas dan mual-mual. Sebelum acara pernikahan, sebetulnya keluhan itu sering ia rasakan, tapi ia berusaha bertahan, bahkan di hari-hari bulan madu yang menegangkan.
Sambil meminum teh botol dengan sedotan, ia melirik ke muka istrinya dari balik kacamatanya yang tebal. Kemudian, ia menekan-nekan pangkal hidungnya yang berlendir. Nampak bulir-bulir keringat berleleran di sekitar dahi dan pipinya yang pucat.
“Sepertinya Akang masih flu, ya?” tanya istrinya pelan.
“Saya cuma pusing-pusing. Semalam tidur enggak nyenyak.”
“Obat dari dokter sudah dihabiskan?”
“Ah, saya minum setengahnya saja, lagi pula sudah agak mendingan kok.”
Sementara mereka mengobrol, si polisi berbadan kekar tiba-tiba membuang teh manis di hadapan meja mereka. Roni bersejingkat dan bangkit dari tempat duduknya. Sandal dan celananya basah terciprat air teh.
“Ah, brengsek,” kata Roni dengan suara pelan. “Maaf Pak, ada apa ini? Kenapa membuang air di depan kami?”
Polisi berbadan kekar menggeser kursinya, lalu duduk di hadapan Roni.
“Dengan membuang air di hadapan kalian, apakah ada di antara kalian yang terluka?”
Roni menjulurkan kakinya serta memperlihatkan sandalnya yang basah.
“Apakah sandal itu basah karena air yang saya buang tadi? Mana buktinya, bahwa sandal kamu tadinya kering?”
“Bapak jangan bohong. Sandal Bapak memang sudah basah dari tadi,” temannya yang ceking menimpali, kemudian ikut menggeser kursinya.
“Maaf Pak, saya kira tugas kalian menjaga ketertiban, bukan membuat onar seperti ini.”
“Oya, kami membuat onar?” nada tersinggung ditunjukkan oleh si tubuh kekar.
“Saya kira, tugas polisi itu menegakkan hukum dan keadilan,” timpal Roni lagi.
Sambil mengibaskan tangannya, si polisi ceking berkata kepada rekannya, “Ayolah, Pak, kita tangkap saja! Jangan buang-buang waktu lagi!”
Kedua polisi itu memegangi tangan Roni, mengapitkan borgol ke pergelangan tangannya. Roni meronta-ronta sambil berteriak, “Apa salah saya? Tolong jelaskan dulu, Pak, ada apa ini?”
“Diam!” Si ceking mencabut pistolnya, “kamu boleh ngomong, tapi nanti di kantor polisi.”
Istrinya begitu terperenjat hingga teriakannya tak jelas. Ia baru saja lulus kuliah, dari jurusan biologi Untirta, dan belum pernah ia melihat polisi menangkap orang di hadapannya. Ia hanya mengeluarkan beberapa patah kata dari mulutnya,
“Ya ampun, Pak… tolonglah, Pak….”
Kedua polisi itu menarik dan menggelandang Roni dan istrinya, memasukkan mereka ke mobil patroli, dan sesampainya di kantor polisi, segera Roni didudukkan menghadap meja interogasi.
Si tubuh ceking memukul tengkuknya, sambil menyodorkan pertanyaan, “Apakah benar kamu ikut mengompori mahasiswa, hingga terjadi demo besar-besaran pada Jumat kemarin?”
“Kami mau pulang ke rumah, kami sudah pesan tiket kereta, Pak,” teriak Roni.
“Biar saja tiketnya hangus,” balas si tubuh kekar sambil memoncongkan mulutnya ke wajah Roni. Lalu, ia menoleh dan berteriak kepada istrinya, “Jangan menunggu di sini. Pergi lagi ke stasiun dan pulang saja. Kalau saya belum kembali besok, cepat kirim mahasiswa untuk segera membebaskan saya.”
Istrinya mengangguk, menutupi mulutnya yang tersedu dengan telapak tangan. Setelah melepaskan ikat pinggangnya, mereka mengurung Roni ke dalam sel di serambi Kantor Polisi. Satu-satunya jendela di ruangan yang dipalangi enam ruas baja. Letaknya menghadap halaman luas, yang dihiasi taman dan pepohonan. Di bawah pohon besar, ada dua ayunan tergantung di sebatang besi, bergoyang lembut tertiup angin sepoi-sepoi. Di gedung seberang terdengar suara orang sedang mnggunakan golok pencincang daging. Suara bacokannya terdengar berirama. Barangkali ada dapur besar tempat ibu-ibu memasak di sekitar itu.
***
Roni merasa kelelahan hingga tak lagi memikirkan apa yang bakal dilakukan aparat-aparat itu terhadap dirinya. Dia rebahan di karpet tipis dan kasar yang tersedia di dalam sel. Kekisruhan politik di Jakarta sejak tahun 1965, 1998, hingga bergulirnya era reformasi, kini sudah lewat. Sebagian aparat kepolisian justru dilahirkan setelah memasuki era milenial ini. Partai-partai politik saling beradu argument dengan gagasan-gagasan terbaru, meski semuanya sepakat bahwa setiap warganegara sama kedudukannya di mata hukum.
Di pagi hari, setelah matahari terbit, Roni dibawa lagi ke lantai dua untuk diinterogasi. Di tangga, ia berpapasan dengan laki-laki ceking yang pernah menangkapnya. Polisi itu cengar-cengir dan cengengesan, memutar-mutarkan bola matanya yang menonjol, serta mengarahkan telunjuk ke arahnya seolah sedang menembakkan pistol.
Di lantai dua, ia berhadapan dengan polisi berseragam dengan tanda bintang dua di pundaknya. Di seberang meja panjang, duduklah seorang Kepala Biro dan seorang pria bermuka badak. Di atas permukaan meja dari kaca ada berkas yang memuat informasi kasusnya. Ia merasa jengkel, bahwa hanya dalam hitungan jam mereka sudah menyusun setumpuk laporan tentangnya. Pikiran lain terlintas di benaknya, apakah mereka menyimpan semua berkas dan rekam-jejaknya selama ini?
Sang Kepala Biro adalah lelaki bertubuh tinggi, kurus, botak, tampak tenang dan cerdas. Tangannya yang ramping memegang kertas laporan di dalam map dengan sikap seorang dosen. Di sebelah kiri duduk seorang pemuda pencatat, sambil membawa papan jepit yang ditaruh di atas kedua pahanya.
“Nama?” tanya sang Kepala Biro sambil berdiri menghadapnya.
“Roni Gerung.”
“Usia?”
“Empat puluh tiga.”
“Pekerjaan?”
“Dosen.”
“Tempat kerja?”
“Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.”
“Status politik?”
Matanya berkaca-kaca. Sambil menghela nafas ia berkata, “Saya bukan aktivis politik dari partai manapun, dan saya tak punya kartu anggota di partai manapun.”
Sang Kepala Biro meletakkan kertas dan mulai bicara. “Kesalahan Anda adalah mengganggu stabilitas, memprovokasi massa, hingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.”
“Begini, Pak,” ia menyela sambil membetulkan posisi duduknya.
“Apa?”
“Saya tidak memprovokasi siapapun, juga tidak mengganggu stabilitas apapun. Justru anak buah Bapak-lah yang menyiram minuman hingga membasahi kaki dan sandal saya. Seharusnya mereka yang mendapat sangsi, dan bukan saya.”
“Ini kantor kepolisian. Kami hanya bicara berdasarkan fakta. Pernyataan Anda itu sama sekali tak berdasar, karena Anda tak punya saksi-saksi.”
“Ini buktinya.” Ia menunjukkan tengkuk kirinya yang agak bengkak. “Anak buah Anda memukul tengkuk saya dengan kepalan tangannya.”
“Itu tak membuktikan bagaimana sandalmu bisa basah. Selain itu, bisa saja luka di tengkuk itu akibat terbentur daun pintu dan lain sebagainya.”
“Pak! Saya ngomong apa adanya!” teriak Roni lagi. Kekesalannya mulai bangkit, “Pihak kepolisian seharusnya minta maaf pada saya. Tiket kereta saya jadi hangus. Sandal saya rusak, dan saya terlambat mengikuti seminar tentang buku Pikiran Orang Indonesia di kampus Untirta, padahal saya adalah salah satu pembicaranya. Jadi pada prinsipnya, kalian harus ganti rugi atas kerusakan dan kehilangan waktu saya. Barangkali kalian mengira saya ini cuma rakyat biasa. Saya ini dosen, sarjana S2, filosof juga pakar dalam soal logika, dilektika dan materialisme. Kalau perlu, kita menggelar debat terbuka di kampus-kampus, atau beradu argumen secara keilmuan di media luring maupun daring, bagaimana?”
“Bung, Anda jangan teriak-teriak di depan aparat,” tegur si muka badak.
“Kami sudah biasa menghadapi orang seperti Anda,” kata yang lainnya, “dengan mudah, kami bisa membuktikan kesalahan Anda di sini.” Dia menyorongkan beberapa lembar kertas di hadapannya.
Dia bingung membaca beberapa tulisan disertai tandatangan di bawahnya, yang kesemuanya hampir sama menyatakan dirinya telah memprovokasi massa di alun-alun kota pada Jumat lalu. Si pemuda menyodorkan ponsel yang menunjukkan dirinya sedang berteriak, meski tanpa ada suara. Seorang saksi wanita dari kampus Untirta juga mengirim informasi kepada pihak kepolisian. Bahwa dirinya telah melakukan mark up atas anggaran yang pernah dipakainya bersama beberapa mahasiswa, dalam suatu kegiatan riset dan penelitian ilmiah. Kini, kepalanya makin pusing, flu dan batuknya muncul lagi. Ia mengerang dengan lesu, perutnya kumat dan mual-mual lagi.
“Sekarang Anda harus mengaku bersalah,” kata sang Kepala Biro. “Meskipun ini kejahatan serius, kami tak akan menghukum dengan berat. Cukup Anda menandatangani surat pernyataan ini, serta berjanji bahwa Anda tidak lagi mengganggu ketertiban umum yang menimbulkan keresahan bagi masyarakat, paham?”
Tiba-tiba amarah Roni bangkit, dan ia pun berteriak keras, “Apa-apaan ini? Saya tidak mau menandatangani apapun, karena saya tidak bersalah! Saya juga tidak melakukan mark up anggaran untuk kebutuhan riset dan penelitian mahasiswa yang saya libatkan. Kalian tidak akan bisa membuktikan bahwa saya bersalah, justru anak buah kalian-lah yang memukul tengkuk saya, dan saya telah kehilangan waktu sebagai pembicara untuk seminar, sebagai pendidik di tengah masyarakat!”
Kedua interogator mengerling saling berpandangan. “Wah, kalau begitu, kami tidak pernah mendidik siapapun dong?”
Kepala Biro memiringkan kepalanya. Dua penjaga melangkah maju dan mencengkeram lengan Roni, sementara di sepanjang lorong gedung, ia terus saja berteriak-teriak, “Akan saya laporkan kalian ke Kapolri! Kalian telah berlaku sewenang-wenang kepada saya! Kalian lebih kejam daripada penjajah kolonial di zaman Hindia Belanda…!”
***
Setelah makan malam dengan lauk tempe oreg dan sayur nangka, Roni terserang demam tinggi. Sepanjang malam ia menggigil kedinginan dan basah kuyup oleh keringat. Ia tahu api amarah telah membakar kepalanya hingga penyakitnya kambuh lagi. Tak ada obat tersedia, karena kopernya ditinggalkan bersama istrinya. Biasanya, pada waktu begini di rumah sedang selonjoran di kursi sofa, duduk-duduk santai di depan teve sambil sesekali mengomentari grup-grup WA di layar ponselnya.
Sekarang ia kesepian di dalam sel. Bohlam jingga menjadi satu-satunya sumber cahaya, yang membuat penjaga bisa memantaunya pada tengah malam. Beberapa saat lalu, dia meminta kepada mereka agar dikirimkan koran atau majalah, tapi mereka menolaknya. Lewat celah kecil di pintu ia mendengar suara-suara. Tampaknya polisi piket sedang main kartu di kantor sebelah. Teriakan dan suara tawa sesekali terdengar. Suara harmonika terputus-putus dari ujung rumah penduduk, ia terus memandangi bolpoin dan dua lembar kertas HVS yang ditinggalkan penjaga, kalau-kalau ia ingin menuliskan sesuatu. Pada sepertiga malam menjelang fajar, ia sempat menggoreskan pena di atas kertas: “Kalau seorang filosof dan intelektual berdebat dengan para militer, semakin lama mereka berargumen, semakin tak keruan maksud pembicaraannya.”
Ia merasa sengsara, terus memijat-mijat keningnya. Ia merasa jengkel, karena ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya begitu sampai rumah. Sebuah makalah harus sudah dicetak minggu depan, dan empat buku best seller harus dibacanya untuk materi kuliah yang diajarkan kepada para mahasiswa.
Bayangan sosok penjaga melintasi celah pintu. Roni bergegas ke arah pintu dan berteriak lewat lubang, “Pak Polisi… Pak Polisi…!”
“Mau apa kamu?” sebuah suara garau menimpali.
“Kasih tahu atasan Anda, bahwa saya sakit keras selama minggu-minggu terakhir ini. Saya bisa mati di sini, kalau tidak minum obat yang disediakan dokter.”
“Tak ada atasan saya yang kerja antara hari Sabtu dan Minggu ini. Nanti saja, dua hari lagi saya akan sampaikan.”
“Jadi, saya di sini sampai hari Senin?”
“Tentu saja, Bung.”
“Mati aku!”
Mereka saling diam, tak berapa lama Roni berteriak lagi, “Aparat-aparat di kantor ini harus bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan saya!”
“Tenang saja Bung, Anda tidak akan mati di sini.”
“Mampus aku!”
***
Ia makin terbiasa hidup di tahanan, dan berusaha agar tetap tegar. Batuknya semakin parah, dan lendir keluar terus dari lubang hidungnya. Seharian ia berbaring di tempat tidur, memikirkan makalahnya tentang sifat alamiah Homo Sapiens yang pandai beradaptasi dengan lingkungan. Tapi seringkali ia diselimuti kemarahan, mengutuk dengan suara keras, “Bangsat doang! Dasar, institusi para bajingan!”
Dia bersumpah, begitu keluar dari tahanan, ia akan menulis artikel dan opini panjang di Radar NTT untuk menyoal demokrasi, serta menggugat ketidakadilan yang diselenggaran pihak aparatur negara. Ia merasa yakin bahwa universitasnya akan mengirim orang untuk menyelamatkannya. Yang harus dilakukannya adalah tetap tenang dan sabar menunggu. Cepat atau lambat, polisi toh akan membebaskannya, meskipun mereka tak akan pernah menduga bahwa mungkin dia akan menolak pergi, kecuali para polisi menulis surat permintaan maaf. “Gerombolan enggak jelas… bajingan-bajingan tengik,” kutuknya dalam hati.
Saat dia terbangun pada Senin pagi, cuaca sudah cerah. Di suatu tempat, ada seorang lelaki mengerang. Dia bangkit dari pembaringan dan mendekat ke jendela. Di tengah halaman, seorang pemuda diikatkan ke sebuah batang pohon, pergelangan tangannya terborgol dari belakang. Lelaki berjenggot panjang itu menggeliat-geliat sambil melontarkan sumpah-serapah: “Bangsat kalian semua! Saya ini berjihad menegakkan agama Allah, kalian semua murtad, kafir, tempat kalian hanya neraka jahannam!”
Roni memicingkan matanya agar bisa memandang lebih tajam. Dengan rasa heran, dia mengenali pria itu, dialah Syekh Nur, orang yang mengaku-ngaku keturunan Nabi dan Rasul. Aneh sekali? Orang itu bukankah rivalnya dalam setiap acara debat dan pertengkaran? Dalam suatu acara talkshow yang ditayangkan teve swasta, kedua rival itu pernah disandingkan hingga nyaris adu jotos kalau tidak dipisahkan oleh para kru dan kameramen. Kenapa para polisi itu menghukum dua sosok yang berseberangan dalam satu tahanan?
Di sore hari, Roni mendengar jeritan di halaman, bergegaslah ia menuju jendela. Rupanya Syekh Nur meludahi polisi jangkung dan ceking yang dulu pernah menangkapnya di stasiun. Kontan polisi kekar rekannya segera membela, dan menampar bolak-balik pipinya. Si ceking mengambil seember air kemudian mengguyurnya dari kepala. “Mampus,” kata Roni mensyukuri, “daripada gue ludahi mukanya di depan kamera teve, mendingan disebor dengan seember air di tahanan.”
Sesaat mata Roni terpejam, tapi muka masamnya menunjukkan bahwa dia berjuang menahan diri untuk tidak memaki polisi, atau lebih tepatnya, dia tetap keberatan untuk bersimpati pada aparat. Seketika ia bersin-bersin, kemudian kumat lagi batuk-batuk sambil mengeluarkan ingus dari hidung. Tiba-tiba ia melangkah sempoyongan, mencengkeram pegangan kursi untuk menegakkan diri. Demam tinggi dan kepala pusing menyengatnya. Ia yakin penyakitnya kumat lagi, setelah beberapa hari tidak minum obat yang diberikan dokter. Amarah membakar dadanya, perutnya mual-mual, tenggorokannya merekat dan tersumbat.
Keesokannya, di meja interogasi, Roni mendengar keterangan Kepala Biro yang menyorongkan selembar kertas, “Kami sudah membuatkan pernyataan tentang permintaan maaf Anda. Jadi, kami hanya butuh tandatangan Anda di sini.”
Sambil menahan amarahnya, kembali ia batuk-batuk lagi, kamudian bersin-bersin dengan mengaluarkan lendir yang terciprat ke muka Kepala Biro. Tapi, dengan penuh kerendahan hati sang Kepala Biro memaklumi, dan memberinya tisu agar segera mengelap ingus di hidungnya.
Setelah membaca surat pernyataan tersebut, muncul suara-suara protes di telinganya, “Jangan tandatangani, itu bohong, itu dusta!” Tapi kemudian, digelengkannya kepalanya dan memaksa suara itu lenyap. Ia bertanya kepada Kepala Biro, “Tapi, kalau surat ini saya tandatangani, apakah ada jaminan kalau saat ini juga saya dibebaskan?”
“Tentu saja,” katanya mengangguk.
“Oke kalau begitu.”
***
“Sekarang Anda bebas,” sang Kepala Biro berkata sambil tersenyum, dan mengangsurkan selembar kertas untuk mengelap jempolnya.
Namun, Roni begitu sakitnya hingga tak mampu berdiri dari kursi saat berusaha pertama kali. Dia melipat-gandakan upayanya dan perlahan berdiri. Dengan sempoyongan, ia keluar gedung untuk menemui pengacaranya di halaman, meski kemudian lupa untuk meminta ikat pinggangnya kembali. Di dadanya terasa ada bom yang akan meledak. Jika dia mampu, kepikiran olehnya bahwa bom itu sepantasnya membumihanguskan markas kepolisian, hingga menewaskan seluruh anggotanya.
“Maafkan saya, yang membuat tengkuk Anda bengkak,” kata polisi ceking ketika berpapasan di halaman.
“Enggak apa-apa, semua manusia tak lepas dari salah dan dosa,” ia ngeloyor dengan tatapan sinis. Setelah menjauh, dari mulutnya keluar umpatan, “Bangsat, kalian semua!”
Pada saat keluar dari pintu gerbang markas polisi, Roni melihat ada penjual minuman teh. Seketika ia mengingat polisi kekar yang menyiramkan minuman teh di hadapannya waktu di stasiun Serang dulu. Ia memesan segelas es teh manis dan meneguknya hingga habis. Setelah itu, ia menyantap mie ayam yang dipesannya di samping trotoar jalan.
Kini, Roni Gerung telah kembali ke pangkuan istrinya yang cantik, sambil terus mengonsumsi obat-obatan yang pernah diberikan dokter. Selang beberapa bulan kemudian, kesehatannya semakin pulih dan ia mengajar filsafat lagi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Bersamaan dengan itu, tersiarlah merebaknya pandemi Covid-19 yang menjangkiti ratusan warga, hingga menewaskan 14 orang, 8 di antaranya dari pihak kepolisian.
Polisi bertubuh kekar dan seorang Kepala Biro telah dikebumikan secara protokoler, sedangkan polisi ceking masih terkapar di rumah sakit hingga tulisan ini dipublikasikan. Sampai saat ini, tak seorang pun tahu, dari mana asal muasalnya hingga pandemi itu menewaskan para aparat kepolisian kita. (*)
Oleh: Chudori Sukra
(Pengasuh ponpes Riyadlul Fikar, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, seperti Kompas, Republika, Koran Tempo, Jurnal Toddoppuli, Bangka Pos, Radar NTT, Harian Analisa, Kabar Madura, Kabar Banten, NU Online, dan lain-lain).







