Oleh: Pujiah Lestari
Bicara mengenai identitas nasional, sangat terkait erat dengan pembentukan watak dan karakteristik suatu bangsa yang banyak dipengaruhi oleh akulturasi budaya lokal, hingga kompleksitas budaya antarnasional. Maka, terbentuklah identitas nasion yang tak pernah homogen, dan telah disinyalir dalam kitab-kitab suci, bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, bersama unit loyalitas yang muncul di kemudian hari.
Selain itu, muncul masalah baru yang terasa riskan dipersoalkan, misalnya soal feminisme, bahkan historiografi feminis. Tidak jarang, hal tersebut menimbulkan jarak dan kerenggangan antara hubungan lelaki dan perempuan, karena persoalan gender di tiap-tiap negara juga berbeda-beda, hingga terasa sulit untuk dipecahkan bersama. Tapi bagaimanapun, setiap negara dan bangsa adalah bagian dari universalitas peradaban yang berkembang. Dalam hal ini, negeri yang mendaku “adikuasa” sekalipun, akan teruji oleh waktu sehingga tak kebal dari kemungkinan menghadapi resesi seksual secara masif.
Untuk itu, tawaran sang lelaki yang tersirat dalam puisi “Rumah”, yang ditulis Sitor Situmorang di usia mudanya (1953), mengisyaratkan kerjasama antara pria-wanita dalam ketulusan cinta yang tanpa tendeng aling-aling. Coba perhatikan bait-bait berikut ini: Laut dan darat tak dapat lagi didiami / Benahilah kamar di hatimu / Atau – mari diam dalam rumahku , / Bumi yang tak berumah satu.
Bicara soal wanita, seakan bicara tentang lautan lepas yang tanpa batas. Salah satu sosok makhluk Tuhan yang unik ini, banyak menjadi pembicaraan oleh ribuan dan jutaan karya sastra di seluruh dunia, dari zaman ke zaman. Wanita adalah sosok yang berdiam diri di rumah, namun sekaligus menyimpan daya magis duniawi dan surgawi yang tak terbantahkan.
Seorang sastrawan sufi kenamaan, Jalaluddin Rumi menggambarkan sosok wanita sebagai makhluk yang dikuasai oleh perasaan-perasaan dan hawa nafsu ketimbang penguasaan akal dan rasio.
“Laki-laki dan perempuan adalah akal dan nafsu, keduanya merupakan pengejawantahan kebaikan dan kejahatan,” demikian tegas Rumi, “kedua makhluk ini bagaikan dua sisi mata uang, siang dan malam, dan selalu berada dalam suasana perang dan permusuhan.”
Di sisi lain, Rumi justru mengibaratkan wanita dengan suatu jalan menuju warna dan wewangian, namun berhati-hatilah, karena dia juga memiliki potensi untuk memerintahkan kejahatan mewujud ke dalam jasad laki-laki. Di sinilah garis besar tokoh wanita yang seringkali dinyatakan oleh Sitor Situmorang. Sementara itu, dalam karyamya, “Dia dan Aku” tersirat jelas betapa sosok wanita adalah makhluk yang dapat “membakar hati”, terutama dalam bait-bait:
Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini / Tapi jangan sampai terbakar sekali.
Di sini, Sitor menekankan pentingnya kewaspadaan dalam menyikapi wanita. Sebab, bila hasrat biologisnya tak terpenuhi, ia akan menyeret kecenderungan hasrat duniawi yang membahayakan. Sebagaimana diulas oleh banyak sastrawan akhir-akhir ini, bahwa problem utama kekisruhan dan konflik yang merebak di negeri ini, telah banyak dipicu oleh persoalan daging (the flesh) yang menuntut hak-hak atas pemenuhannya. Lebih tendensius lagi, kadang
Sitor menyinggung soal figur laki-laki yang merefleksikan aktivitas akal yang bersifat universal, dilengkapi dengan peran perempuan yang mengejawantahkan keindahan jiwa dan kedamaian bersama Sang Pencipta (Semesta).
Dalam puisi “Rumah” tersirat betapa perempuan memiliki daya tarik yang sangat kuat, seakan-akan mampu menaklukkan laki-laki sebagai budaknya, karena keterpikatan olehnya. Ia seakan mengejawantahkan pancaran Tuhan yang menyimpan segala sifat-sifat-Nya, baik keindahan maupun kasih sayang. Seakan-akan ia mewujud di hadapan laki-laki tanpa diciptakan, tetapi dia sendirilah Sang Pencipta itu. Akankah kita utamakan percakapan begini? / Bukankah bumi penuh suara inginkan isi? / Mari, Dik, dekatkan bibirmu pada bisikan hati / Tapi jangan sampai megap napas bernyanyi.
Kedalaman karya Sitor
Dalam puisi “Dia dan Aku” justru tersurat dengan jelas di awal baitnya: Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta? / Bukankah udara penuh hampa ingin harga? Di sini nampak jelas, betapa sosok wanita dapat diibaratkan genangan air yang tiba-yiba bergolak tanpa ampun.
Kita mengenal ribuan karya puisi maupun prosa yang menisbatkan manusia sebagai makhluk hewani tiba-tiba membabi-buta tanpa kehadiran sosok wanita. Dalam novel Perasaan Orang Banten (Hafis Azhari), terpapar jelas identitas seorang santri yang tiba-tiba kalap mengamuk lantaran kehilangan kembang desa (Jamilah) yang sangat dicintainya.
Banyak orang berpendapat bahwa kalapnya seorang santri (Tohir) disebabkan faktor perbedaan dalam pandangan agama, sikap primordial atau rasialis. Padahal, faktor utamanya justru adalah soal perempuan. Apalagi, ketika Jamilah bersedia menjadi kekasih Yosef, yang lagi-lagi urusannya adalah perkara cinta (tuntutan daging), kecemburuan, serta hasrat nafsu tak terlampiaskan.
Itulah yang membuat Presiden Soekarno mengangkat harkat derajat wanita melalui karya prosanya “Sarinah” . Digambarkan bahwa Sarinah merupakan pengejawantahan figur Kartini yang cerdas dan independen. Namun kemudian, pasca tahun 1965-an peran perempuan seakan ditenggelamkan dalam percaturan sejarah. Belum lagi mengenai isu-isu politik Orde Baru yang menyusupkan hoaks-hoaks mengenai kaum wanita Gerwani yang dinistakan oleh kekuasaan totaliter. Dalam hal ini, Soeharto tak pernah menyatakan “maaf” atas perlakuan diskriminatifnya terhadap perempuan Indonesia hingga akhir hayatnya.
Tak pelak lagi, nampak masih kental dominasi kaum lelaki di bawah bayang-bayang kerajaan Majapahit hingga militerisme Orde Baru di tanah Jawa (Nusantara). Bagaimana pun, setiap bangsa, dari zaman ke zaman, tak terlepas dari karakteristik pembedaan antara dominasi sini atas sana, kami dan mereka, bangsaku dan bangsa lain (liyan). Sifat manusia selalu berpolemik, bersengketa, bahkan “bertempur” untuk memperebutkan kue keuntungan yang lebih besar dan masif dari sarana-sarana produksi. Antara Jawa dan Sunda, Indonesia, Cina atau Amerika, bahkan perempuan atas lelaki yang terus berjuang untuk menghapus eksploitasi dan diskriminasi. Juga dalam soal ras dan warna kulit, antara kulit putih yang memaksakan supremasi atas kulit hitam, kemudian si kulit hitam berjuang untuk pembebasan dirinya.
Dalam puisi-puisi Sitor Situmorang perihal wanita, secara implisit ia menawarkan kemungkinan “kerjasama” yang saling mengisi dan melengkapi. Lampu setia / yang menunggu diri / Serta kursikursi / Dan jam di malam tua. Lalu, bagaimana pula jika seluruh kaum wanita di Indonesia – dan dunia ini – bergerak bersama-sama untuk memboikot kaum lelaki, hingga mereka sepakat untuk menolak pelayanan dirinya atas syahwat kaum lelaki?
Identitas kemanusiaan dengan ragam konflik-konfliknya, seringkali dipanggungkan secara intrinsik dan konfrontatif oleh peran kaum penyair dan sastrawan, yang memang ahlinya dalam meneliti perasaan dan pemikiran manusia. Terlepas dari adanya pengakuan pemerintah atau tidak, karya-karya Sitor terus mengalir, serta menerima apresiasi pembaca yang semakin marak di republik ini.
Bagi seorang Sitor, dan seumumnya pekerja seni yang baik, ketika hidupnya sudah difokuskan untuk mencapai sasaran dan tujuan yang kuat, maka kerja keras bukanlah suatu pilihan melainkan sudah menjadi kebutuhan primer. Dan dengan kesabaran dan ketekunan, pada waktunya nanti, kerja keras dan jerih-payah itu akan terbayar juga. Tak ada rahasia dalam meraih kesuksesan dan keberhasilan. Semua itu hasil dari persiapan, kerja keras, dan belajar dari kejatuhan dan kegagalan. Juga tak ada sastrawan dan seniman hebat yang tiba-tiba menjadi sukses, karena segala kesuksesan itu diraih dari kejatuhan, kemudian bangkit dan bangkit kembali dengan kekuatan baru. Demikian halnya dengan sang lelaki yang melakukan perburuan terhadap pujaan hatinya.
Karakteristik yang tekun berjuang mengedukasi masyarakat ini, seakan dipelihara melalui afirmasi ingatan, memori kolektif dan penguatan teks-teks terpilih, baik dalam bentuk puisi maupun prosanya. Bahkan, secara masif dicatat oleh sejarah maupun sastra yang terus berupaya untuk mementingkan dan mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan yang universal (sense of common humanity).
Tersingkirnya dunia sastra
Memang sangat jarang setelah tumbangnya kekuasaan Orde Baru, kita mendengar karya sastra yang secara ekstensif dibahas dan diperbincangkan di jagat ide dan pemikiran intelektual, seperti pada karya Sitor Situmorang, Nirwan Dewanto, maupun Subagio Sastrowardoyo.
Seringkali, kita menyaksikan suatu karya sastra hanya selesai dalam sekali peluncuran (launching) atau sekali acara bedah buku. Setelah itu, tergolek di antara tumpukan buku-buku lainnya, atau bisa jadi nama pengarangnya terpampang di katalog perpustakaan, meski bukunya dibiarkan tergeletak usang dan berdebu.
Sebagian sastrawan kadang melemparkan tuduhan bahwa problem semua itu adalah budaya baca masyarakat yang sangat rendah. Namun di sisi lain, ada juga penyair yang berani menyoal kualitas karya sastra yang memiliki tingkat keterbacaan yang kurang mengena di hati publik. Dalam hal ini, karya-karya Sitor Situmorang adalah kekecualian. Selain diperbincangkan kalangan seniman milenial, juga merambah dalam skala masif ke dunia kampus, pelajar dan para mahasiswa.
Karya-karya Sitor telah menjawab segala keraguan kita terhadap ide-ide keindonesiaan yang seakan padam dan mati suri. Ia tampil dengan mengejawantahkan gagasan dari kekuatan imajinasi dan akal sehat tentang memori kolektif manusia Indonesia. Ia seakan menjawab kehausan patologis yang tak terperikan, di saat para sastrawan merasa tidak lagi memiliki ide-ide yang bergerak (writer’s block). Meskipun sebagian masih mempertanyakan, kalaupun ide-ide itu memang diam dan sakit, lalu di bangsal berapa dan rumah sakit mana ia dibaringkan. Ataukah ia dianggap seonggok batu yang mati, tak perlu dirawat dan dikuburkan secara layak.
Seringkali, ketika kita menghadiri acara pameran buku yang diselenggarakan kalangan sastrawan maupun jurnalis, kita merasa masygul menyaksikan segelintir pengunjung yang lalu begitu saja di sekitar pajangan etalase buku-buku sastra. Mereka hanya merasa perlu membaca buku-buku IT, multimedia, bisnis dan manajemen. Hal itu mengindikasikan kelesuan perhatian masyarakat pada karya-karya sastrawan, yang memang akhir-akhir ini tak pernah menunjukkan kenaikan angka pada catatan-catatan statistik kita.
Padahal, karya-karya sastra yang dipajang itu, terlebih karya-karya Sitor Situmorang, telah mengekspresikan setiap ide dan gagasan tentang fenomena keakuan dan keindonesiaan.
Sitor seakan telah mengembara dan berpetualang dalam imajinasi dan pikiran sehabis-habisnya.
Ia menangkap dan menyerap sisi-sisi kehidupan sekuat tenaga. Ia sanggup memantau, menganalisis, bahkan berani melihat dari jarak dekat, dari kedalaman psikologi manusia dengan risiko apapun yang mesti dihadapinya.
Sitor telah rela mengabdikan diri, menggambarkan warna-warni keindonesiaan dengan sekuat energi. Sementara, sebagian masyarakat tak pernah ambil pusing mengenai jejak-langkah atau sejarah pikiran di balik lapisan warna-warni yang ternyata menyimpan kesakitan dan derita yang dialami sebagian anak bangsa, diperlakukan sewenang-wenang oleh rezim tiran yang telah merampas hak-hak hidup mereka selama puluhan tahun. Itulah pula yang dialami Sitor sebagai sastrawan yang pernah mendekam di tahanan Salemba selama rezim Orde Baru, tanpa proses pengadilan. ***
Penulis adalah Peneliti sastra milenial Indonesia, juga pegiat oirganisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa







