Menuju Pulau Dewata

oleh -876 Dilihat
banner 468x60

Aiman Winarso bekerja sebagai presenter televisi kenamaan di Jakarta. Menyebutnya sebagai “presenter” terdengar agak keren dan menarik. Padahal, pekerjaan itu biasa-biasa saja, nyaris tak ada sesuatu yang bisa “dikembangkan” untuk kemajuan di masa depan. Tak ada kemewahan, juga tak bisa dibayangkan akan punya prospek yang lebih dari itu. Soal seringnya ia dikejar waktu dan padatnya pekerjaan, membuatnya hanya beberapa hari punya kesempatan lembur dalam tiga bulan.

Sebenarnya, pekerjaannya itu amat sangat membosankan, dan ia merasa bête dan stres di kala dalam kesendirian. Namun, perusahaannya cukup memberinya kebebasan, dan ia berusaha bersikap santai. Ia dapat bebas bicara apa saja sesuai yang dikehendakinya. Atasannya juga baik-baik saja, dan ia bisa berbaur dengan rekan-rekan kerjanya pada saat senggang di sela penayangan berita yang disiarkannya. Sampai kemudian, ia berjumpa dengan seorang wanita bernama Fatia Muharam, yang kemudian menjadi teman selingkuhannya.

Fatia sekitar lima tahun lebih muda darinya. Mereka berjumpa di sebuah pertemuan bisnis sampingan. Ketika suatu hari jari-jemarinya meng “klik” sesuatu, maka terjadilah pertemuan itu, dan mereka saling beradu pandang, kemudian saling curhat. Mereka beberapa kali bertemu untuk membahas rincian proyek kerja sama. Fatia pergi ke tempat kerjanya, begitu pun Aiman mampir ke kantornya. Pertemuan itu selalu singkat, melibatkan orang lain, dan hanya membahas soal-soal bisnis.

Ketika proyek itu selesai, entah bagaimana, kesepian tiba-tiba menerpa hari-hari mereka, seolah ada sesuatu yang teramat penting tiba-tiba raib dan menghilang begitu saja. “Selama bertahun-tahun saya tak pernah merasa kesepian seperti ini,” pikir Aiman dalam kesendiriannya.

Beberapa minggu kemudian, Aiman menghubungi Fatia lewat nomor kantornya, sedikit berkelakar dan bercanda, “Mau kalau saya ajak ke café?” tawar Aiman”.

“Café mana?” tanya Fatia.

“Yang dekat saja, di café Rosa, oke?”

“Oke-oke aja.”

Mereka pun pergi ke café Rosa, dan memesan kopi dan donat. Selama beberapa jam, Aiman menemukan banyak topik yang dibicarakan di hadapan Fatia. Dan Fatia rupanya bisa menangkap hal-hal yang agak sulit diutarakan lewat kata-kata, hingga membuat Aiman merasa heran dan takjub.

Mereka berdua sudah menikah, dan tak pernah mempermasalahkan hal itu. Mereka juga saling menyayangi pasangan masing-masing. Tetapi, mereka juga paham, apakah itu suatu cinta atau sekadar empati pada kehidupan rumah-tangganya. Mereka membahas lebih dalam perihal perbedaan cinta, sayang, empati, ataukah hanya sekadar menghormati dan menghargai pasangan masing-masing.

Mulai sejak itulah mereka sering bertemu dan berkencan secara teratur. Pekerjaan suami Fatia yang padat, sering pulang malam, membuat Fatia merasa bebas untuk pulang dan pergi sesuka hatinya. Meskipun sebenarnya, keduanya masih cukup setia pada pasangan masing-masing, tapi entah kenapa mereka terus saja berhubungan, seolah-olah mereka harus melakukannya, tanpa merasa bersalah. Mereka bergaul sedemikian akrab, bagaikan dua ekor anjing jantan dan betina, seakan terlepas dari pasal-pasal etika dan moralitas.
***

Mereka bertemu hanya jika situasinya memungkinkan. Dan lagi, keduanya merasa yakin, bahwa hubungan mereka akan bisa langgeng selamanya. Kehidupan pernikahan di satu sisi, dan hubungan perselingkuhan di sisi lain. Ya, mereka benar melakukan hubungan intim, tapi apakah hal itu bisa menyakiti pihak lain? (pikir mereka).

Di malam saat bersama Fatia, Aiman selalu pulang terlambat dan harus membuat beberapa kebohongan pada istrinya. Kalaupun istrinya menelpon studio teve, ia sudah membisiki bagian resepsionis, bahwa dirinya sedang sibuk di lapangan hingga esok hari. Boleh jadi mereka berdua akan bosan berbohong kepada pasangannya, serta memutuskan untuk membiarkan perselingkuhan itu redup secara alami, lalu mereka kembali ke kehidupan rumah-tangga dengan nyaman. Mereka seakan tak pernah berpikir segalanya akan menjadi buruk. Aiman sendiri seolah dapat membuktikan kenyataan itu, meskipun dalam hatinya selalu menentang. Itulah salah satu penyebab, hingga Sang Takdir punya kuasanya sendiri yang sulit terbantahkan, khususnya ketika suami Fatia semakin mengendus kabar perselingkuhan itu.

Setelah memaksa Fatia bicara apa adanya, si suami menerobos masuk ke pekarangan rumah Aiman dan menghajarnya dengan sekali pukulan telak mendarat di pipinya. Aiman tersungkur menimpa pohon mawar di pekarangan rumahnya. Hari itu juga, ia beralasan pada atasannya di kantor studio teve, seraya meliburkan diri selama beberapa hari dengan alasan sakit dan terjatuh saat membersihkan mobil di pekarangan rumah.

Kejadian itu seolah sudah digariskan. Istri Aiman juga sedang sendirian di rumah, dan segalanya menjadi runyam. Aiman merasa kewalahan menjelaskan apa yang tengah terjadi pada istrinya. Sementara, Fatia sudah mengakui semuanya. Sedapat mungkin Aiman membela diri di hadapan istrinya, tetapi usahanya itu sia-sia belaka. Istrinya tak mau mendengarkan. Ia merasa stres, membisu, dan tidak mau mengucapkan sepatah kata pun. Keesokan harinya, ia membereskan semua barang-barangnya untuk berangkat menuju terminal, menaiki mobil antar kota, pulang ke rumah orang tuanya di daerah Bandung sambil membawa puteri semata wayangnya.

Aiman menelepon tetapi istrinya tak mau mengangkat sama sekali. Ia menelepon lagi dan lagi, tetapi yang menjawab justru ibunya: “Ayo, mau ngomong apa, kamu? Mau bikin alasan macam-macam? Kamu pikir, anak saya akan saya biarkan kembali ke pangkuan laki-laki brengsek macam kamu?!”

Perempuan tua itu mengakui bahwa memang sedari awal dia merasa keberatan hubungan anaknya dengan Aiman, dan sepanjang di pelaminan anaknya, ia merasa lesu dan kurang enak badan. Kini, dari mulutnya sendiri ia berkoar-koar bahwa pada akhirnya dugaannya itu telah terbukti kebenarannya. Dalam hatinya, seakan ia bersorak-sorai seperti mendapat bonus dari alam surga.

Di hari-hari yang menyedihkan itu, Aiman memutuskan untuk mengambil cuti, tetapi yang dikerjakannya hanya berbaring nelangsa di tempat tidur. Ponselnya seketika berbunyi, dan siapa lagi kalau bukan Fatia. Ia menyatakan bahwa ia juga merasa kesepian. Suaminya mengobrak-abrik pakaiannya setelah menamparnya keras-keras, kemudian ngeloyor pergi entah ke mana.

“Saya benar-benar capek, Man. Padahal, saya sudah minta maaf berkali-kali, dan berusaha menjelaskan semuanya, tetapi tetap dia tak mau dengar.”

“Sama saya juga.”

Hatinya merasa hancur, luluh-lantak. Ia terisak-isak selama menelepon Aiman. Bagaimana pun, ia dan suaminya pernah berpacaran sejak semester awal perkuliahannya di kampus Universitas Indonesia (UI). Kini, Aiman berusaha menghibur dan menenangkannya, tapi apa yang harus ia katakan?

“Kita nonton aja, yuk?” akhirnya ia memberi usul. Mereka pun pergi ke bioskop 21, kemudian menyantap mie ayam di warung samping jalan. Untuk pertama kalinya pertemuan mereka tak banyak mengeluarkan kata-kata. Sebelum matahari terbenam, tiba-tiba terlontar dari mulut Fatia suatu gagasan yang agak aneh menurut Aiman, yakni pergi ke Pulau Bali.

“Ke Bali? Ngapain?” tanya Aiman.

“Saya sudah enggak betah di Jakarta,” kata Fatia lesu, sambil menatap mata Aiman dalam-dalam. Kemudian lanjutnya lagi, “Sudah lama saya pengen ke Bali, itu impian saya. Sewaktu pengantin baru dulu, kami ingin sekali berbulan madu ke Bali, tapi waktu itu dananya terbatas. Jadi, ayo kita tinggal di sana sekarang, berduaan saja. Lagipula, buat apa kita bertahan di Jakarta, cuma bikin gerah dan sumpek saja.”

Semula tak pernah kepikiran oleh Aiman untuk tinggal di Bali, tetapi akhirnya ia harus setuju pada usulan Fatia. Mereka menghitung uang yang mereka punya. Tabungan Fatia sekitar 80 juta, sementara punya Aiman hanya 50 juta. Jika disatukan sekitar 130 juta rupiah.

“Jumlah segitu menurut saya cukup untuk tinggal selama beberapa tahun di perkampungan Ubud. Harga tiket pesawat paling tiga juta untuk dua orang. Kita merencanakan sekitar lima juta untuk sebulan, kemudian lima juta untuk sewa rumah kontrakan. Nanti sisanya bisa kita bikin usaha kecil-kecilan…”

“Usaha apaan?” tanya Aiman ragu.

“Usaha apa saja yang sesuai dengan kondisi di lingkungan sana,” kata Fatia agak jengkel.

“Kamu kan laki-laki? Masak untuk hidup mandiri saja enggak punya bayangan sama sekali? Dasar, kuli teve,” canda Fatia kemudian.

Aiman tertawa keras. Ia pun menanggapi usulan Fatia dengan menjawab tegas, “Oke, baiklah kalau begitu.”

Di tempat kerja keesokan harinya, Aiman menyerahkan surat pengunduran diri. Atasannya sudah mendengar rumor mengenai dirinya, dan menegaskan lebih baik mengambil cuti saja sementara waktu. Rekan-rekan kerjanya terkejut mendengar ia tiba-tiba ingin berhenti. Namun, tak satu pun berusaha membujuknya agar tidak melakukan itu. Berhenti bekerja ternyata tak terlalu sulit bagi Aiman. Setelah memutuskan untuk membebaskan diri dari segala hiruk-pikuk, tidak ada yang tak bisa ia singkirkan. Seolah-olah ia akan mempertaruhkan hampir semua uangnya untuk mengambil keputusan. Aiman mengemas segala sesuatu yang dia pikir akan dibutuhkan di sana. Ia menyatukannya dalam koper besar. Fatia juga melakukan hal yang sama.
***

Ketika Aiman terbang melintasi Pulau Jawa, tiba-tiba ia dicekam rasa takut jika seseorang secara tak sengaja mengambil kopernya. Di dunia ini, pastilah ada ribuan koper dengan warna dan model yang sama seperti miliknya. Mungkin saja ketika dia sampai di Pulau Bali dan membuka koper, lalu ia menemukan koper itu berisi benda-benda aneh milik orang lain. Jika isi kopernya hilang, maka tak akan ada satu pun yang tersisa baginya untuk menyambung hidup. Mungkin hanya Fatia yang ia miliki.

Kekacauan seketika melanda pikirannya. Apakah ia akan kembali ke Jakarta hanya dengan membawa tubuhnya? Tapi, kini ia sudah berada di dalam pesawat, dalam penerbangan menuju Bali. Tubuhnya agak gemetar dan waswas. Meski pesawat terbang difasilitasi pendingin, tubuhnya dibanjiri keringat. Fatia menggenggam tangannya erat-erat dan memeluknya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi ia tahu apa yang sedang dirasakan Aiman.

Setelah guncangan mereda, kepala Aiman terasa agak ringan. Ia mengendurkan bahu yang tegang dan menyerahkan diri ke aliran waktu. Ia sempat tertidur selama beberapa menit, dan ketika ia membuka mata, di bawahnya terhampar perairan Pulau Bali yang begitu indah.
Masalah terbesar yang ia hadapi adalah hampir tidak ada hal yang harus ia kerjakan. Di pedalaman Ubud, Aiman tidak bekerja dan tidak memiliki teman. Kampung itu memang sejuk, indah nan asri, tapi ia tidak memiliki bioskop, galeri, maupun gedung kesenian, juga tak ada teman yang bisa diajak futsal seperti di Jakarta. Ia telah pergi dengan sangat mendadak hingga ia pun benar-benar lupa untuk membawa buku. Bacaan yang sempat dibawanya di dalam koper adalah novel lama yang baru dibelinya, di antaranya karya Ahmadun Yosi Harfanda, Hafis Azhari, dan karya terbaru Eka Kurniawan berjudul “Sumur”.

Padahal, membaca adalah kegemaran Aiman, dan ia merasa kurang nyaman membaca karya sastra melalui ponsel atau layar komputer. Ia selalu bermimpi jika memiliki banyak waktu luang, hingga bisa berenang dalam tumpukan buku-buku bagus. Tetapi sayang, saat ini ketika ia memiliki banyak waktu luang, sedikit sekali bahan bacaan yang bisa ia baca.

Fatia semakin pandai menguasai bahasa Bali. Ia pun membaca mantra-mantra yang dipakai oleh orang-orang pedalaman yang beragama Hindu. Beda dengan Aiman yang cenderung penyendiri, Fatia justru semakin dekat dengan banyak orang. Di pantai Kuta dan Sanur, mereka mulai mengenal beberapa bule dan berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Karena tak ada banyak hal yang bisa dilakukan, mereka berjalan-jalan ke mana pun. Aiman mencoba memancing di pelabuhan tapi tidak mendapatkan apa-apa. Iseng-iseng ia membeli buku sketsa dan cat air di sebuah toko di dekat Pantai Kuta. Ia mulai melukis orang-orang yang sedang berjemur di tepi pantai berikut pemandangan pesisir, air laut, matahari dan langit yang kebiruan. Fatia duduk di sisinya, melihat lukisannya sambil melafalkan bacaan-bacaan mantra dari buku yang diperolehnya di sebuah Pura. Untuk membunuh waktu, sesekali Aiman melukis orang-orang yang bersembahyang di Pura di dekat kampung tempat tinggalnya.

“Ahay! Kamu lumayan berbakat jadi pelukis, Man. Kita bisa hidup dengan menjual lukisan. Kamu tinggal memperkenalkan diri sebagai seniman, bagaimana?” teriak Fatia.

Aiman tersenyum sinis, seakan meremehkan kemampuannya, meski Fatia menanggapinya cukup serius. “Ya, semoga saja,” gumam Aiman.

“Semoga apanya?” tanya Fatia.

“Semoga mereka terbahak-bahak menyaksikan karya saya ini,” cetus Aiman, “Apa kamu enggak perhatikan, selama ini kita jalan-jalan ke berbagai daerah di seantero Bali ini. Kita menyaksikan karya-karya ratusan pelukis handal, bahkan mereka yang berkelas internasional. Bagaimana mungkin mereka akan memperhitungkan pelukis amatiran seperti saya ini?”

Mereka saling diam dengan tatapan murung, kemudian kata Fatia, “Lalu, apakah kita bisa menghabiskan waktu selama dua tahun di Bali ini, tanpa melakukan apa-apa?”

“Yah, selama kita enggak kerampokan atau salah satu yang sakit, atau hal-hal tak terduga lainnya, mungkin kita masih bisa bertahan. Tapi, ada baiknya kita harus persiapkan untuk hal-hal yang tak terduga.”

“Atau, katakanlah tiba-tiba saya hamil, lalu apa yang akan kamu lakukan?”

“Kalau uang kita enggak cukup, mungkin kita harus kembali ke Jakarta.”

“Ah, dasar!” kata Fatia jengkel, “Kamu masih enggak ngerti juga.”

“Apanya yang enggak ngerti?”

“Kamu ngerti enggak sih, Man?”

“Apanya?”

“Kita enggak bakal kembali ke Jakarta, tahu? Mau ngapain ke sana lagi?”
***

Selama bulan-bulan itu mereka makan seadanya. Mereka berusaha mengonsumsi makanan dan minuman seirit mungkin. Seminggu tiga kali, mereka menyusuri perkampungan melalui kebun-kebun dan pematang sawah. Berkat udara segar yang melimpah, serta  olahraga ringan menaiki bukit, tubuh Aiman jadi bagus dan atletis. Setelah matahari terbenam di kampung itu, tak ada suara-suara bising, kecuali serangga-serngga kecil di pesawahan. Musim pancaroba datang, maka bergantilah dari musim panas ke musim hujan. Angin bertiup kencang. Ombak-ombak di pesisir pantai tampak agak berbuih dan meninggi.

Terbersit dalam diri Aiman kerinduan untuk pulang ke Jakarta. Ia ingin menonton film, pertunjukan teater di Gedung Kesenian Jakarta, terutama juga tentang koleksi-koleksi musik lawas yang ia miliki, seperti The Beatles, Rolling Stones, Diana Ross, Iwan Fals, Koes Plus, Nicky Astria, Doel Sumbang hingga Achmad Albar. Koleksi lawas itu hanya bisa didengar melalui kanal YouTube, tetapi Aiman merasa nyaman mendengarnya langsung dari CD yang ia miliki. Sejak masa kuliah, ia rajin berkeliling ke toko-toko musik, naik kereta ke Malioboro, tukar-menukar barang dengan kolektor lain, dan perlahan memperkaya koleksi miliknya. Ia merasakan kembali setiap detail dari sampul rekaman lawas, termasuk bobot dan kualitas suara yang terbilang unik dan langka.

“Kalau kamu ingin pulang ke Jakarta, pulang saja. Saya bisa kok ngurus diri sendiri,” suatu ketika Fatia dapat menangkap pikiran Aiman.

“Emang kenapa? Kok tiba-tiba kamu ngusir begitu?”

“Saya melihat gerak-gerik kamu, sepertinya kamu kangen sama anakmu, iya kan?”

Aiman terdiam dengan tatapan menerawang, kemudian jawabnya lirih, “Ya, mungkin saja.”

Mereka saling memandang keluar jendela. Bulan mengambang seperti karang yang dingin. Bayang-bayang di permukaan bulan tampak seperti kulit yang terkena kanker hingga memperluas wilayahnya. Cahaya bulan memperdaya pikiran manusia. Aiman menggeliat, melemaskan lengan dan jari-jemarinya. Haruskah ia kembali ke Jakarta, dengan cara yang sama saat ia datang ke Pulau Bali?

“Bagaimana kalau kita menikah secara resmi?” kata Fatia tiba-tiba.

“Maksudmu, menikah menurut aturan agama?”

“Ya.”

“Lalu, menurut ajaran Islam atau Hindu?”

“Bukankah kita ini adalah anak semua bangsa?” canda Fatia.

Aiman tersenyum, dengan sorotan mata berkaca-kaca, lalu katanya lagi, “Apakah kita perlu memberitahu orang tua kita?”

“Ya, terserah kamu. Kalau saya, tinggal menghubungi Ibu di Kebayoran Baru, lalu mengatakan bahwa saya akan menikah di Bali. Bagaimana dengan kamu sendiri?”

“Orang tua saya masih lengkap kedua-duanya. Apakah cukup dengan memberitahu lewat telepon saja?”

“Terserah kamu. Kalau kita mau menikah menurut Islam, tentu banyak perbedaan pendapat dari kalangan ulama di manapun. Tetapi, sebaiknya tentu kita berpijak pada pendapat yang meringankan dalam urusan menikah ini, paham kan?”

“Ya, saya mengerti.”

Dan mereka pun saling diam, kemudian terlelap tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dalam tidurnya malam itu, Aiman bermimpi sedang melintasi pematang sawah dan menaiki bukit yang curam dan terjal. Dari atas bukit, ia menyaksikan kemeriahan di sebuah rumah yang mengadakan pesta pernikahan dengan alunan suara-suara musik ala Pulau Dewata. Di sebelah selatan, bukit melandai ke pesisir pantai Sanur. Lampu-lampu jalan menghiasi jalan raya sepanjang pantai. Sisi lain bukit terbungkus kegelapan. Tak ada indikasi apa pun yang menunjukan bahwa pesta pernikahan baru saja digelar di sana beberapa saat lalu.

Aiman kembali ke rumah sambil ditemani seekor anjing yang tiba-tiba mengikutinya dari belakang. Di dalam rumah, ia tidak menemukan Fatia, kemudian memanggil-manggilnya dengan suara keras. Dan setelah lama ia mencarinya ke rumah tetangga dan seluruh kampung, selama berhari-hari dan berminggu-minggu, tidak juga ia menemukan Fatia. Karena diterpa kelelahan, di tengah malam ia menutup pintu dan jendela rapat-rapat, menatap ke cermin yang melapisi lemarinya, lalu menemukan dirinya sudah keriput dan tua renta.

Dalam kesendirian di rumah itu, suatu hari tubuhnya merasa lemas dan lunglai, dan tak seorang pun yang dapat menolongnya. Berhari-hari ia jatuh pingsan, sementara anjingnya merasa kehausan dan kelaparan di dalam rumah.

Aiman yang tua-renta itu, kini merasa dirinya telah mati sebatang kara di dalam rumah, dalam kesendirian dan kesepian. Jasadnya hanya ditemani seekor anjing liar yang kelaparan, dan kemudian menyantap dagingnya pelan-pelan, mengunyah hati dan jantungnya, kemudian menyeruput sup kental di sekitar otak kepalanya. Sampai kemudian kesadarannya berkedip, dan ia pun bersejingkat seraya berteriak-teriak di tempat tidur.

“Kenapa, Man, ada apa?” tanya Fatia sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.

“Ah, enggak. Saya hanya memikirkan sesuatu…,” katanya dengan mata yang memerah karena rasa takut.

“Memikirkan apa? Kenapa kamu berteriak-teriak?”

Ia menghela napas dalam-dalam, dan sambungnya, “Saya memikirkan usulan kamu untuk menikah secara resmi. Sebaiknya, memang harus kita lakukan secepat mungkin…”

“Kapan?”

“Sebaiknya besok kita menghubungi orang tua kita dulu, baru kemudian melangsungkan pernikahan yang sederhana.”

Fatia memeluk tubuh Aiman, mengecup pipinya, seraya mengucapkan terimakasih bahwa usulan yang baik itu segera direspon oleh kekasihnya. ***

Oleh: Muakhor Zakaria,
Pengamat sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media luring dan daring.


banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.