Mensyukuri Anugerah Cinta 

oleh -737 Dilihat
Ilustrasi
banner 468x60

Entah kenapa, semalam suntuk saya enggak bisa tidur sama sekali. Ada perasaan aneh yang tak menentu di pikiran, di benak, di dalam hati atau apalah entah kita menyebutnya. Mungkin jika saya seorang psikolog, saya akan berusaha menganalisisnya, tetapi saya kurang yakin kalau apa yang saya alami bisa dianalisis secara mendetail. Sebab, ini bukan sejenis ilmu, juga bukan sesuatu yang bisa direntangkan dengan deretan kata-kata. Tetapi, untuk dikatakan, bahwa apa yang saya alami ini sejenis kebahagiaan yang bersifat kudus dan sakral, sepertinya juga kurang tepat.

Subuh itu, saya bangun pagi dengan riang dan penuh rasa syukur yang mendalam. Betapa indahnya hidup ini, betapa beruntungnya saya dihidupkan dan dihadirkan di permukaan bumi ini. Bayangkan, bahkan perasaan aneh ini membuat saya teringat pada kebesaran Sang Pencipta. Bukankah ini yang dinamakan rasa senang dan gembira, dan dengan sendirinya perasaan semacam ini akan mudah untuk disyukuri.

Saya bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju meja, dan saya buka kembali surat balasan cinta dari Novia Rista, yang biasa saya menyebutnya dengan panggilan “Novia”. Saya tersenyum sendiri, sambil mensyukuri indahnya teknologi ponsel yang dapat menghubungkan semua kehendak dan keinginan manusia dari berbagai belahan dunia. Saya buka kembali kata-kata terakhir yang Novia kirim tadi malam, sekitar Pk. 23.30, dan setelah itu barangkali ia menaruh ponselnya di atas meja lalu berbaring di tempat tidurnya. “Slmt tdr, say,” tulisnya.

Saya membalasnya berkali-kali tetapi dia tidak lagi menyahut. Dan saya pun harus berbaik sangka kalau dia sudah mulai beranjak ke tempat tidur. Tampaknya memang, mudah sekali manusia berbaik sangka kepada seseorang yang dia cintai dalam hidupnya.

Kemarin lusa, juga kami saling berbalas WA, dan tak terasa kami sudah saling bertegur sapa selama dua jam lebih. Hanya sesekali kami saling bicara melalui suara, dan juga sesekali saling kirim gambar foto. Kami merasa nyaman untuk saling mengirim chat, sambil membayangkan dia sedang berbaring di tempat tidur, dikelilingi roh-roh yang barangkali juga tersenyum di sekeliling kami. Jari jemari semakin lincah menorehkan huruf demi huruf, bahkan kalimat demi kalimat. Saya menekan layar ponsel sambil memalingkan mata, menatap pagar dan pintu gerbang rumah. Di situlah, minggu lalu kami saling berpisah, sambil mengatakan sampai ketemu lagi nanti.

Ketika saya melambaikan tangan, saya tetap memandangi kepergiannya dari kejauhan, dengan mengendarai motor matik yang sering dia pakai untuk berangkat kuliah. Pada semester tahun ini dia mengatakan lulus S1 pada jurusan sastra Indonesia di kampus Untirta Banten, dan saya berjanji akan ikut menghadiri acara wisuda untuk meraih gelar kesarjanaannya.

Sejak berpisah sore itu, saya masuk kamar dan menghempaskan badan di atas tempat tidur, lalu berbaring menerawang selama beberapa waktu. Dalam bayangan saya, bukan hanya pemandangan alam yang indah Tuhan menganugerahi hiburan penglihatan. Tetapi, justru sosok manusia yang nyaris serupa dengan diri kita yang memiliki indera, organ tubuh, berikut struktur anatomi lainnya yang tak jauh berbeda antara pria dan wanita. Hanya beberapa lekukan tubuh di sekitar dada, leher dan bagian bawah perut yang agak sedikit berbeda.

Entah mengapa, makhluk sejenis itu membuat hidup saya begitu optimistis dalam memandang realitas kehidupan. Apa yang saya alami, tampaknya juga dialami oleh milyaran umat manusia di muka bumi ini. Ketika membayangkan sosok wanita yang kita cintai, ia sangat memengaruhi bagaimana cara kita memandang dunia, bereaksi dan bertumbuh dari dalam diri. Novia seakan menumbuhkan kekuatan untuk bangkit, jawaban atas segala keraguan, yang semuanya seakan tertanam di dalam jiwa saya. Bukankah ketika rasa percaya diri sedang tumbuh mekar dalam diri kita, berarti kita sedang mengagumi karya cipta Tuhan yang ada dalam diri kita, yang merupakan cerminan semesta makro ini?

Betapa menyenangkan ketika saya mendengar nada dering di ponsel, lalu membaca tanda bahwa Novia sudah menjawab surat saya. Sesekali saya mendapat kiriman foto dirinya mengenakan sweater ungu, memakai topi yang menutupi rambut panjangnya yang indah. Malam itu, orang-orang sudah mulai tidur, namun suara peluit kereta terdengar di kejauhan, sementara deru suara mesin pabrik semakin terdengar jelas. Siapa pun yang pernah jatuh cinta, saat-saat menyendiri bersama ponsel sambil berbalas surat dengan kekasih, adalah saat-saat terindah dalam hidup ini.

Bagaikan seorang pakar linguistik dalam cabang Ortografi, saya bisa menebak gaya bahasa yang biasa dikirim Novia, misalnya dia sering memakai empat huruf untuk kata sayang (syng), tiga huruf untuk kata cinta (cnt), tiga huruf untuk kata kenapa (knp) atau kalau (klw), bahkan dia menggunakan huruf q untuk kata saya (sy). Jarang dia menggunakan tanda titik (.) untuk memisahkan dua kalimat, tetapi seringkali dia memakai tanda koma (,) untuk memisahkan satu kalimat dengan kalimat lain, dan seterusnya.

Memang ada kejanggalan ketika kita terlampau jatuh cinta, karena akan berdampak adanya medan magnet yang berlawanan, atau tumbuhnya reaksi balik atas hal-hal yang di luar urusan kami berdua. Suatu hari di Minggu sore, ketika saya membuka pintu pagar, lalu memasuki pekarangan rumah Novia, saya membayangkan situasinya seperti minggu lalu ketika kami duduk santai berduaan sambil bercengkerama. Seakan tak ada seorang pun yang ada di dalam rumah, bahkan di muka bumi ini. Tetapi kali ini, entah kenapa, ketika saya direcoki oleh adanya bocah kecil keponakan Novia yang mengajukan pertanyaan ini-itu, kemudian muncul seorang nenek-nenek berusia 80-an yang tampaknya agak tuli, serasa saya menghadapi bongkahan batu besar yang membebani, dan bukan sekadar kerikil-kerikil tajam.

Kenapa? Bukankah bocah kecil itu adalah saudara-kerabat Novia juga? Bahkan nenek jompo itu pun bagian dari darah dagingnya juga? Kenapa saya harus sibuk menahan perasaan, seolah menganggap mereka sebagai makhluk pengganggu yang menjengkelkan?

Saat kami menyantap mie ayam di pelataran alun-alun Kota Serang, Novia duduk agak membungkuk, dan dari punggungnya seolah saya menebak banyak misteri. Saya menatapnya agak menyamping pada tengkuknya, leher dan dagunya yang lancip, dan seketika ia menengok dan membalas tatapan saya: “Kenapa? Kayaknya serius banget?” Saat itu, ia mengenakan celana panjang dan baju katun yang serasi. Ada sedikit bintik-bintik pada kedua pipinya, yang tampaknya dia merasa terusik jika saya menanyakan sesuatu yang mendetil perihal ciri-ciri pada postur tubuhnya.

Dari taman alun-alun, saya membawa Novia menuju kampus almamater saya, mengenalkan pada beberapa teman lama yang menjadi dosen di sana. Kehadiran wanita idaman di kampus almamater, terasa seperti mendengar alunan suara musik yang indah, ditemani segelas anggur terbaik. Seorang sahabat lama mengajak kami ngobrol sambil duduk-duduk di kantin kampus. Ia memancing kami untuk membicarakan rencana masa depan disertai tawanya yang renyah terbahak-bahak. Novia mendengarkan obrolan kami sambil senyam-senyum. Ia hanya mengeluarkan beberapa patah kata, dan itu pun jika pertanyaan ditujukan mengenai identitas dirinya.

Kadang muncul pertanyaan seorang sahabat yang agak prinsipil, misalnya mengenai apa yang dipikirkannya, keyakinannya, tujuan hidupnya, bahkan bergurau menyoal apakah sudah matang memutuskan saya sebagai kekasihnya. Lalu, ketika Novia dipancing mengenai nasibnya, terkait dengan hubungan Aris dan Ida dalam novel pergerakan Pikiran Orang Indonesia, ia hanya berpikir sejenak sambil menaikkan alis, lalu jawabnya singkat: “Mudah-mudahan kita semua akan berakhir dengan baik.”

Setelah itu, saya mengantar Novia pulang, dan sejak itu saya resmi menjadi tunangannya. Kemudian, sering saya memikirkan berbagai hal mengenai harapan, keinginan, bahkan kalimat-kalimat indah di seputar pernikahan. Setiap kali saya datang ke rumahnya, selalu saya temukan keluarga dan penghuni rumah saling sibuk membicarakan soal rencana pernikahan. Rumah Novia kini dipenuhi bau parfum setrika, pembersih lantai, serta sapu ijuk dan lap pel yang kelihatan serba baru. Kamar depan selalu terlihat rapi dengan seprai berwarna mencolok.

Kapan pun dan jam berapa pun saya menjumpai Novia di rumahnya, pihak keluarga selalu menyeret saya ke meja makan, dan Novia harus selalu mendampingi saya, meskipun hanya satu-dua suap. Pada kesempatan lain, ketika saya bersiap-siap menjemputnya untuk diajak jalan-jalan, baik ke gedung kebudayaan, bioskop atau alun-alun kota, dia sudah menunggu di teras rumah bersama ibunya.

“Kabarnya pasar sore di perempatan pasar Royal sudah dibuka sejak dua hari lalu. Ayo, kita ke sana, soalnya Ibu harus ganti sandal dan tas baru, karena talinya sudah agak kendur,” ajak sang Ibu.

Apa boleh buat. Kami pun berangkat bertiga menuju pasar sore, kemudian jalan-jalan di sepanjang trotoar, ikut menawar-nawar barang. Kalian bisa bayangkan, berapa uang yang harus saya keluarkan untuk membelanjakan keperluan Novia, ditambah sandal dan tas baru ibunya, plus kerudung hijab untuk acara pengajian. Dan jika Anda membawa calon mertua jalan-jalan ke pasar sore, atau bahkan ke pasar sepertiga malam, tentu Anda akan gengsi jika tidak menunjukkan sikap dermawan, laksana Malaikat Mikail yang dengan loyal menurun-nurunkan rizki bagi hamba-hamba kekasih Tuhan.

Kalau bukan karena rasa cinta yang mendalam pada Novia, tentu saja saat-saat menjadi tunangan adalah waktu yang sangat membosankan, ketimbang pendapat ibunya yang kadang berkomentar, bahwa ia merasa senang sering diajak jalan-jalan oleh calon menantunya yang arif dan bijaksana.

Sekarang saya sudah menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga bersama Novia. Saya kira, Indonesia adalah bahasa yang indah memakai istilah “rumah tangga” yang berarti ada anak-anak tangga yang harus kami bangun bersama, bahkan kami naiki tiap-tiap anak tangga dengan bergandeng tangan dan saling bahu-membahu.

Dulu, saya tak meminta apa pun pada Tuhan untuk dihadirkan di muka bumi ini. Demikian halnya dengan Novia Rista istri saya. Dan kini, kami dipertemukan untuk saling bersatu dan membangun biduk rumah tangga, juga bukan atas inisiatif kami sendiri, karena dari milyaran wanita di muka bumi ini, justru Novia-lah yang menjadi pujaan hati lantas memutuskan untuk menikahinya.

Tentu banyak perbedaan pendapat antara saya dengan istri selama menjalani masa-masa pernikahan. Bahkan, perbedaan itu pun semakin meruncing ketika kami memiliki seorang momongan, dan berpikir keras bagaimana harus menjaga dan mendidiknya dengan baik. Sesekali saya terjatuh dan berpaling, seakan-akan hakikat Tuhan terasa jauh dari pandangan dan pemikiran saya. Sekali waktu, saya juga berpaling, serta menilai wanita lain sebagai sosok bidadari cantik yang berbeda bahkan bertolak-belakang dengan hakikat istri saya pribadi.

Tetapi apa pun yang terjadi, saya harus memaafkan perbedaan ini. Bagaimana pun, kesalahan Novia adalah kesalahan saya juga. Sikap egois Novia adalah bagian dari sikap egois saya sebagai pria. Sampai saat ini, saya merasa kesulitan untuk menjelaskan apa itu cinta. Barangkali, kesediaan saya untuk memaafkan Novia, seberapa pun dia bersikap keras dan egois, adalah bagian dari cinta yang menjadi anugerah tersendiri dalam hidup saya.

Bukankah saya menginginkan agar Tuhan memaafkan segala dosa dan kekhilafan saya di masa lalu, baik terhadap Novia, mantan kekasih lain, maupun terhadap saudara kerabat sendiri? Bukankah ketika kita bersikeras mempertahankan kemurkaan Tuhan, dampak negatifnya takkan menimpa siapapun, kecuali akan merugikan diri kita sendiri?

Jika kita berjuang secara independen, mendekatkan diri secara intensif pada Tuhan, dengan sendirinya frekuensi dan vibrasi kita meningkat, sehingga ketenangan dan kelapangan hati dapat diraih, betapa pun dunia dan sekelilingnya berkecamuk badai dan prahara. Untuk itu, jangan sampai kita berpaling dari kasih sayang Tuhan, yang telah mempertemukan dan mempersatukan kita dengan pasangan hidup, serta menjadikan anak sebagai amanat keturunan yang harus dirawat, dilindungi, dan dipelihara dengan baik.

Beberapa hari setelah menghadiri acara wisuda Novia, saya mengajaknya jalan-jalan ke taman alun-alun bersama anak kami yang baru setahun, dan sudah mulai belajar berjalan. Kami pun duduk-duduk di pelataran sambil memesan mie ayam.

Saat Novia sedang menyantap mie ayam, saya teringat beberapa tahun lalu, ketika saya memerhatikan dirinya duduk agak membungkuk. Saat itu, saya menatap bagian tengkuknya, leher dan dagunya yang lancip, dan betapa pemandangan itu adalah anugerah Tuhan sebagai ciptaan terindah, yang selayaknya bagi saya agar tak henti-henti menikmati dan mensyukurinya. (*)

Oleh: Mu’min Roup

Penulis adalah Peneliti dan Dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga penulis prosa dan esai di berbagai media nasional cetak dan online

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.