Menjelang Kematian Jenderal Soeharto

oleh -1037 Dilihat
banner 468x60

Apa wasiat penting Jenderal Soeharto yang menjabat tigapuluh tahun presiden RI menjelang wafatnya? Satu hal yang terkesan di benak anak-anaknya adalah, ia ingin dibawakan makanan Pizza dan akan segera menyantapnya. Makanan yang khas berbentuk bulat itu berasal dari Napoli, Italia, dan dikenal sejak abad ke-18. Lalu, apa kata-kata terakhir yang dia ucapkan saat sekaratnya? Tak seorang dokter pun tahu, bahkan juga tak seorang putera dan puterinya yang mendengar pesan terakhirnya.

Setelah mereka kelelahan mondar-mandir bergantian ke rumah sakit, karena sekaratnya telah memakan waktu berbulan-bulan, ditambah khawatir atas tuntutan Kejaksaan Agung yang berharap ia cepat pulih. Barangkali, lebih baik ia terus memperpanjang masa sakitnya, ketimbang harus mempertanggung jawabkan pelanggaran hukumnya dalam soal korupsi, kolusi dan nepotisme.

Saya sebagai Shift Manager di salah satu Pizza Hut di Jakarta Pusat, tak terlampau memusingkan presiden militer itu meninggal sekarang, besok maupun tahun depan. Banyak orang penting yang diharap-harap segera mati, tetapi toh dapat bertahan lama selama bertahun-tahun. Sebaliknya, banyak pula yang kelihatan segar-bugar dan sehat wal afiat, tetapi ketika Tuhan berkehendak, bisa saja tiba-tiba terdengar kabar duka tentang kematiannya secara mendadak. Entah akibat serangan jantung, komplikasi, operasi kanker, atau kecelakaan tunggal menabrak tiang listrik. Bahkan, ada juga yang saat penguburannya diselimuti badai hujan dan petir menggelegar, serta terdengar suara letusan keras di angkasa.

Ketika anak buah saya memasak Pizza pesanan keluarga Soeharto, tampak adonan begitu lengket, sehingga terpaksa saya memerintahkan agar mengurangi kadar glutten untuk mengurangi unsur jelai dan gandumnya. Selain itu, saya pun mengirim laporan melalui email kepada CEO Pizza Hut Pusat, yang saat itu memimpin puluhan cabang di seluruh Jakarta, agar mengurangi kadar glutten di semua cabang Pizza Hut supaya mengurangi kadar kelengketannya.

Rupanya CEO tak pernah mau membalas email saya, dan tentu saja saya merasa tersinggung. Bayangkan, apa jadinya ketika seorang karyawan berdedikasi tak dihiraukan oleh atasannya. Apalagi, ketika berhadapan dengan ribuan karyawan memble, yang kerjanya hanya mau giat setelah dibentak-bentak tak keruan. Bagi saya, setidaknya CEO menjawab kalau keluhan saya sedang dipertimbangkan sebagai upaya menghargai inisiatif bawahannya. Memang sih hanya urusan seorang konsumen, terutama puteri presiden yang komplain mempersoalkan kelengketan Pizza, tetapi setidaknya dia cukup menghargai walaupun hanya urusan satu orang konsumen.

Saya merasa terpukul dan sakit hati. Persis seperti peristiwa beberapa hari lalu di Cafe Bang Fals, ketika salah seorang sepupu Roni duduk bercanda dan berhadapan dengan Roni. Ketika ceweknya Roni, sesama karyawan Pizza Hut mengendus di kejauhan, kontan ia menangis di sepanjang jalan, lalu memasuki rumah kontrakannya serta mengobrak-abrik pakaian Roni dan melemparkannya satu persatu melalui jendela. Roni sendiri bingung, apa yang dia lakukan, lalu mengapa berteriak-teriak mengatakan “Kita putus! Pokoknya, kita putus sekarang juga!!”

Seorang teman mengabarkan beberapa hari kemudian, bahwa Roni meninggal dunia karena overdosis, tetapi selentingan kabar lain mengatakan bahwa ia bunuh diri karena diputus oleh pacarnya sesama karyawan Pizza Hut. Mana yang tepat, sulit untuk ditelusuri kebenarannya.

Yang jelas, Roni meninggal hanya tiga hari sebelum presiden Orde Baru itu meninggal. Tak ada pihak mana pun yang menyalahkan pacarnya tentang apa yang terjadi, meskipun tentu soal penyebab sakit hatinya dapat mudah ditelusuri. Tapi, bagaimana kita menjelaskan secara pasti, bahwa penyebab seseorang bunuh diri dikarenakan ia merasa tersinggung atau sakit hati telah diputuskan oleh pacarnya?

Begitu pun ketika berminggu-minggu dan berbulan-bulan CEO tak menanggapi email saya, apakah perlu bagi saya untuk merasa sakit hati lalu mengundurkan diri? Jika pun saya benar-benar mengundurkan diri dari jabatan saya, apakah CEO Pizza Hut akan sakit hati bahkan bunuh diri, jika salah seorang Shift Manager dari salah satu cabang yang memble, dengan puluhan karyawan yang melempem, telah mengundurkan diri?

Tentu saja, keluarga presiden yang sedang terkapar di Rumah Sakit hanya mau peduli soal seragam kami yang kelihatan rapi, dihiasi logo dengan palet merah mengkilap, sementara soal kualitas Pizza yang keasinan atau kemanisan, mereka tak ambil peduli. Yang penting, mereka menuruti permintaan terakhir ayahnya, karena barangkali kurang yakin apakah sang ayah akan menemui jenis makanan seperti Pizza di negeri akhirat sana.

Presiden Soeharto harus menelan beberapa pil dan kapsul setelah menyantap Pizza buatan kami. Konon, beberapa dokter dari negeri China ikut dilibatkan karena profesionalitasnya. Meskipun barangkali, sang presiden deg-degan juga, karena dalam imajinasinya China adalah negeri komunis, sementara dia sendiri naik ke panggung politik lantaran sibuk menjadikan Partai Komunis Indonesia sebagai rival sengitnya. PKI telah dijadikan komoditas politik selama berpuluh-puluh tahun, diserang habis-habisan, sambil menunggangi tokoh-tokoh agama yang tak mengerti dan tak mau mempelajari ilmu politik modern. Bahkan, mereka pun tak tahu menahu ketika ditanyakan soal hubungan antara komunisme dengan marxisme yang menjadi cikal bakalnya.

“Pokoknya mereka PKI, karena itu mereka harus diberangus sampai akar-akarnya!” begitu teriak mereka. Dan Soeharto sebagai presiden Orde Baru bukannya meluruskan dan mencerdaskan mereka yang belum tahu, tetapi justru mengipasi dan membanggakan, serta mengambil keuntungan dari ketidakpahaman dan kedunguan masyarakat.

Dalam pemeriksaan di Kejaksaan Agung, berkali-kali Soeharto menyatakan dirinya “lupa” untuk menjawab tuduhan korupsi dan kolusinya. Itu masih mending, ketimbang salah satu anaknya yang terbukti memerintahkan pembunuhan terhadap Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita di tahun 2001, karena ia pun terjerat kasus korupsi berskala trilyunan seperti ayahnya. Sang Hakim Agung tewas dengan empat luka tembakan, lalu dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir. Secara pribadi, saya percaya, bahwa penembaknya, baik pesuruhnya maupun pelaksananya enggak bakal mau dikuburkan di tempat yang sama. Apalagi di samping pemakaman Yang Mulia almarhum Syafiuddin Kartasasmita.

Beberapa saat kemudian, saya menerima email dari CEO Pizza Hut, yang ditembuskan ke semua Shift Manager di seluruh cabang se-Indonesia. Tetapi ironisnya, tak ada sangkut-pautnya dengan usulan saya dan keluarga Cendana agar meningkatkan kualitas produk pada masakan Pizza. Dia hanya menulis satu kalimat berikut ini: “Buah jambu akan jatuh tidak jauh dari pohonnya.”

Entah apa maksudnya, waktu itu saya belum ngerti. Barulah selang beberapa tahun, kata-kata itu bisa saya pahami, terutama ketika saya melihat bokong mobil truk yang mengangkut tambang batu bara ilegal, terdapat tulisan: “Piye, enak jamanku, toh?”

Beberapa pembisik sempat mengabarkan keluarga Cendana yang masih berduka, bahwa konon Amerika terlibat penuh dalam mendanai para demonstran untuk menjatuhkan Bapak Soeharto, orang nomor satu Orde Baru itu.  

Memang serba dilematis, karena di satu sisi anak-anak Soeharto merasa jengkel dan marah pada Amerika, namun di sisi lain mereka tak kuasa untuk menyekolahkan anak-cucunya ke negeri Amerika juga. Karena menurut mereka, pendidikan anak-anak di sana jauh lebih terjamin ketimbang di negeri ini.

Bagi saya pribadi, pendapat itu salah kaprah. Buktinya, tidak jarang anak-anak Indonesia yang diperalat dalam acara-acara pesta, lalu hamil di usia lima belas oleh bocah kulit putih Amrik yang setahun lebih tua umurnya, kemudian mengelak untuk mengakui sang jabang bayi sebagai anak kandungnya.

Barangkali jika Roni tidak mengajak sepupunya, serta pacarnya tidak sakit hati dan melempar-lempar pakaiannya melalui jendela, keadaannya mungkin akan berbeda. Mungkin jika CEO mau menuruti usulan saya untuk mengurangi kelengketan pada Pizza, kondisi kesehatan Soeharto boleh jadi akan membaik.

Mungkin juga, jika anak Soeharto tidak sampai hati menghilangkan nyawa seorang Hakim Agung, ambisinya akan tercapai untuk menaiki puncak tangga kekuasaan di negeri ini. Tentu pihak Amerika akan mendukungnya, meskipun dia harus bermuka dua, karena dulu Amerika juga yang dituduh telah menjatuhkan kekuasaan ayahnya. ***

Oleh: Alim Witjaksono

Penulis adalah Peminat dan pengamat sastra milenial Indonesia, juga aktif menulis prosa dan esai sastra di berbagai media nasional, cetak dan online

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.