Menjelang Anak Krakatau Meletus

oleh -161 Dilihat
Anak Gunung Krakatau Erupsi (Foto: Antara)
banner 468x60

Udin mendapati seekor semut besar sedang menunggu di depan rumahnya. Semut itu besar sekali, sepanjang dua meter dengan kaki-kakinya yang melengkung, kurang lebih satu setengah meter. Sedangkan antena yang berdiri tegak di atas kepalanya, sekitar dua meter lebih, hingga menyentuh atap plafon. Udin melihat semut itu gemuk sekali. Kakinya kekar, dan kalau berdiri dia kalah telak dengan kebesaran tubuh semut itu.

Ia gemetar ketakutan, tak berani membuka mulutnya. Tiba-tiba, semut besar itu berkata dengan suaranya yang melengking, “Panggil saja saya Semut.”

Udin terperanjat kaget dan mundur selangkah, masih tetap membisu. Pandangannya terperangah, berdiri terbengong-bengong di ambang pintu.

“Jangan takut, saya ke sini mau menolong orang-orang Banten, Jakarta dan Lampung Selatan, bukan mau menyakiti kalian. Ayo, kita masuk ke dalam.”

Udin menggendong ransel di pundaknya, sementara tangan kanannya menenteng kresek belanjaan dari minimarket berisi roti tawar, susu, mie instan dan dua botol besar air mineral.

“Ayo cepat masuk, Pak Udin. Kita bincang-bincang sebentar di dalam rumah.”

Mendengar namanya disebut, Udin seketika mengubah sikap. Dia menutup pintu seperti yang diperintahkan, menaruh ransel dan kresek di atas kursi lalu melepas sepatunya. Semut mengisyaratkannya agar duduk di ruang tengah, dan Udin pun menurutinya.

“Saya minta maaf, Pak Udin, kalau-kalau saya terlihat buru-buru,” kata Semut kemudian. “Saya tahu ini akan mengejutkan Bapak, tapi saya tidak punya pilihan lain.”

Udin masih terbengong-bengong. Sempat kepikiran bahwa ini adalah ulah seorang teman kantornya yang mengenakan kostum semut untuk membuat lelucon dengannya. Tapi ia mengamati gerakan semut itu ketika melangkah ke dalam tadi, bahwa ini memang betul-betul semut besar yang bisa bicara. Lalu, kata Semut lagi, “Saya tahu, mestinya saya membuat janji dulu untuk mengunjungi Pak Udin. Bukan berarti saya tidak mengerti akhlak dan sopan santun. Siapa pun pasti akan terkaget-kaget menemukan semut besar di depan rumahnya. Tapi ada satu hal penting sangat mendesak, yang harus saya kemukakan pada Bapak.”

“Hal mendesak apa?” akhirnya Udin berhasil membuka mulutnya.  “Apa hubungannya dengan saya?”

“Tentu saja ada hubungannya dengan Bapak.”

Udin terpaku di tempat, berusaha agar tidak menggeser posisi duduk, dan katanya lagi, “Baik, kalau begitu silakan sampaikan… tapi sebelumnya, apakah boleh saya merokok?”

“Silakan, silakan,” kata Semut sambil tersenyum. “Ini kan rumah Bapak? Masa Bapak harus minta izin pada saya. Silakan saja Bapak merokok atau minum apa pun sesuka Bapak. Boleh saya bikinkan kopi?”

“Tak usah.”

“Oh maaf, seharusnya bukan saya yang menawarkan….”

Udin menarik sebungkus rokok dari saku kemejanya, kemudian menyulutnya dan menghisapnya dalam-dalam. Dia melihat tangannya sendiri yang gemetar saat menghisap rokok. Di depannya, si Semut Besar tampak sedang mengamati setiap gerak-geriknya.

“Anda… bukan bagian dari komplotan jawara, kan?” Udin mendapat sedikit keberanian untuk bertanya.

“Hahaha… rupanya Pak Udin ini punya selera humor juga,” tawa Semut keras, “Kayak enggak ada kerjaan. Ngapain komplotan jawara harus menyewa semut untuk mengejar tujuannya? Bisa-bisa mereka diketawain sama anak-anak generasi milenial….”

“Begini, kalau Anda di sini mau melobi pembayaran, Anda akan buang-buang waktu saja. Sebab, saya tidak punya otoritas sama sekali untuk membuat keputusan. Hanya atasan saya yang bisa melakukan itu. Saya hanya menjalankan perintah. Maaf, saya tidak bisa melakukan apa pun untuk Anda.”

“Tenang dulu, Pak Udin, sabar dulu,” kata Semut sambil mengangkat kaki kanan bagian depannya. “Saya datang ke sini bukan untuk mengatasi urusan kecil seperti itu. Saya tahu, Bapak ini adalah asisten kepala Bagian Peminjaman di Bank Djakarta Mandiri atau BDM. Tapi kunjungan saya tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan pembayaran pinjaman. Saya ke sini untuk menyelamatkan orang-orang Banten, Jakarta dan Lampung Selatan dari kehancuran, terutama mereka yang tinggal di dekat pesisir pantai.”

Udin mengamati ruangan untuk mencari semacam kamera kecil atau CCTV, kalau-kalau pembicaraan mereka sedang direkam untuk suatu maksud terselubung. Tetapi, sepertinya di sekitar ruangan tidak ada tanda-tanda adanya kamera tersembunyi.

“Terus terang,” ucap Udin, “saya tidak mengerti apa yang terjadi di sini. Ini bukan berarti bahwa saya tidak percaya, tapi saya sepertinya tidak bisa memahami keanehan semacam ini. Apakah keberatan kalau saya mengajukan beberapa pertanyaan?”

“Silakan, silakan,” kata Semut, “kira-kira apa yang ingin Bapak pertanyakan?”

“Benarkah Bapak ini semut betulan?”

“Ya, tentu saja, seperti yang Bapak lihat sendiri. Saya seekor semut, dan bukan kiasan, metafora atau dekonstruksi AI, maupun proses kompleks lainnya. Maukah saya berteriak-teriak supaya Bapak dengar?”

Semut meluruskan moncong mulutnnya, antenanya menegang dan bergetar, dan keluarlah suara: “Nnngggeeettt…”

“Cukup, cukup, saya percaya, saya percaya!” teriak Udin, khawatir suaranya yang keras bisa terdengar oleh orang-orang di luar. “Baik, itu hebat. Sekarang saya tak perlu ragu lagi kalau Anda semut betulan.”

“Ada yang mengatakan bahwa saya adalah gabungan keseluruhan semut-semut di muka bumi ini. Meskipun anggapan itu tak berpengaruh kalau saya ini memang benar-benar semut.”

Udin mengangguk, berharap untuk menenangkan diri, “Tadi Anda bilang bahwa kedatangan Anda ke sini untuk menyelamatkan wilayah Banten dan Jakarta dari kehancuran?”

“Tepat sekali, itulah yang saya katakan… termasuk Lampung Selatan juga.”

“Oke, lalu kehancuran macam apa yang Bapak maksud?”

“Tak usah panggil saya ‘bapak’, cukup panggil saja Semut.”

“Ya, kehancuran macam apa?”

“Nyi Roro Kidul saat ini sedang marah, hingga dalam waktu dekat akan mendatangkan Gunung Anak Krakatau meletus, serta menimbulkan tsunami besar,” kata Semut dengan suara berat dan lirih.

Sambil mata berkaca-kaca Udin menatap Semut. Kemudian, mereka saling menatap satu sama lain, lalu sang Semut kembali membuka mulutnya, “Tsunami kali ini sangat dahsyat… dahsyat sekali! Sudah diatur untuk menghantam Banten Selatan hingga mencapai Jakarta pada jam 23.00 malam, pada tanggal 30 September 2026. Gempa dan tsunami kali ini jauh lebih hebat ketimbang yang melanda Selat Sunda beberapa tahun lalu. Diperkirakan jumlah korban yang tewas mencapai seratus ribu lebih di sepanjang pantai Selat Sunda hingga mencapai Jakarta. Bangunan-bangunan akan hancur, berubah menjadi tumpukan puing-puing, penghuninya mati tertimpa reruntuhan. Transportasi macet total, baik darat maupun laut. Ambulans dan mobil pemadam kebakaran tidak berguna, ribuan orang hanya bisa berbaring dan sekarat di mana-mana.”

Keduanya saling diam membisu. Suasana terasa hening dan lengang. “Lalu Anda,” kata Udin, “punya rencana apa untuk menghentikan gunung meletus dan tsunami ini?”

“Tepat sekali pertanyaan itu, Pak Udin,” kata Semut mengangguk. “Ini adalah poin utama yang ingin saya bicarakan dengan Bapak. Jadi, nanti Bapak dan saya akan naik perahu dan berlayar menuju gunung Anak Krakatau. Setelah bersandar di pantai, kita langsung mendaki ke atas mencapai puncak, kemudian kita akan menghentikan ulah Nyi Roro Kidul yang bersiap-siap melontarkan senjata misterius ke pusat kawah Anak Krakatau…”

“Senjata misterius?” kata Udin mengernyitkan dahi, “Semacam rudalkah, atau bahkan nuklir?”

“Saya sendiri enggak tahu, senjata apa yang dia pakai untuk meledakkan Gunung Anak Krakatau, tetapi peristiwa ini sudah diramalkan banyak paranormal, bahkan sudah diprediksi secara ilmiah oleh banyak ilmuan, bahwa pada malam tanggal 30 September 2026, Nyi Roro Kidul akan mengamuk di atas puncak, hingga menimbulkan gunung Anak Krakatau meletus, lalu terjadilah muntahan lahar dan lava pijar di tengah laut hingga terjadi tsunami dahsyat.”

***

Jika dilihat dari biodatanya, sebenarnya Udin hanya seorang karyawan biasa yang bekerja selaku wakil atau asisten pada Divisi Kredit Bank Djakarta Mandiri (BDM). Memang dia sering mengalami banyak sengketa dan perselisihan di lapangan. Dia sudah limabelas tahun bergelut setiap hari sejak lulus dari perguruan tinggi, lalu bergabung menjadi staf bank. Sebagai petugas penagih utang, posisinya memang terbilang tak populer. Sementara orang-orang konglomerat seenaknya meminjam uang pada momen-momen yang menentukan, dengan jaminan tanah maupun saham, hingga cukup meyakinkan petugas pinjaman untuk memberikan berapa pun yang mereka butuhkan.

Semakin besar pinjaman yang diberikan, semakin baik reputasi mereka di perusahaan. Banyak pinjaman yang akhirnya tak mampu mereka kembalikan, hingga membuat mereka berkelit sana-sini, atau bersembunyi di lubang-lubang dapur. Pada saat itu, Udin-lah yang harus bersusah-payah turun ke lapangan. Ketika kondisi ekonomi memburuk, pekerjaan Udin kian menumpuk. Di antaranya saat harga saham anjlok, kemudian nilai jual tanah, hingga jaminan tak berarti lagi. “Pak Udin, ayo segera datangi mereka,” kata bosnya memerintahkan. “Sekarang tidak ada waktu lagi, ambil saja apa-apa yang mereka punya.”

Wilayah utara Jakarta hingga Banten adalah markas para jawara, pusat pertikaian politik dan kekuasaan. Seakan uang mengalir di bawah permukaan laut, dari satu lubang ke lubang lainnya. Sengketa tanah, penipuan dan penyelundupan obat-obatan dan barang ilegal, judi online, semuanya menyusup masuk dari berbagai penjuru pulau dan mancanegara. Terjun ke wilayah utara, Udin telah dikepung lebih dari sekali oleh oknum jawara yang mengancam untuk membunuhnya.

Tetapi, dia tidak pernah jera dan gentar. Apa gunanya mereka membunuh satu orang pegawai bank? Mereka bisa saja memukul atau menembaknya dari belakang. Mereka bisa saja mengerahkan komplotan untuk mengeroyoknya habis-habisan.

Dalam hal ini, mental Udin cukup tangguh menghadapinya. Dia hidup sendirian, tidak ada istri, tak punya anak, kedua orang tuanya sudah meninggal. Kedua adiknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di daerah Bandung dan Bogor. Kalaupun orang-orang membunuhnya, itu tak akan berpengaruh apa-apa dengan kehilangan satu orang petugas bank, dan bumi akan terus berputar pada porosnya.

Bukan Udin tapi justru oknum jawara dan preman di sekitarnya yang gugup ketika melihat dia begitu tenang dan dingin. Dia segera mendapatkan reputasi di dunianya sebagai seorang pria tangguh. Sekarang bagaimana pun, Udin yang berjiwa independen dihadapkan pada kebingungan yang pelik. Apa yang dibicarakan si Semut tadi? Kemarahan Nyi Roro Kidul? Anak Krakatau akan meletus dahsyat? Dan lagi, tsunami besar yang mengorbankan ratusan ribu nyawa?

“Sebetulnya, siapa sih Nyi Roro Kidul itu?” tanya Udin kemudian.

“Dia semacam dewi agung, puteri dari segala puteri…”

“Semacam jin-kah?”

“Bahkan jin dari segala jin.”

“Ah, bikin pusing aja… lalu ngapain dia marah-marah, sampai memuntahkan lahar gunung Anak Krakatau, yang menimbulkan tsunami besar?”

“Saya sendiri kurang paham jika Anda menanyakan apa sebabnya,” kata Semut dengan pandangan menerawang. “Tidak ada yang tahu pasti apa yang dipikirkan Nyi Roro Kidul dalam otak kepalanya. Beberapa orang pernah melihatnya. Dia biasanya melintas di sepanjang Pantai Laut Selatan sambil mengendarai kereta kencana. Konon, parasnya cantik jelita. Semua orang yang melihat akan terpesona. Tetapi, jika ada sesuatu yang tak dia sukai dari perbuatan manusia, dia akan protes bahkan marah-marah tak keruan…”

“Kalau marahnya demi membela kebenaran dan keadilan, mungkin bisa dimengerti…”

“Justru itu, sebagian orang menyebutnya sebagai si Ratu Adil…”

“Tetapi untuk menegakkan keadilan, ngapain juga harus mengeluarkan bencana?”

“Mungkin semacam balas dendam… atau membalas keburukan dengan keburukan…”

“Apa hak dia untuk membalas keburukan manusia? Bukankah itu hak Tuhan melalui tangan-tangan para malaikat-Nya? Apakah dia sejenis malaikat juga?”

Wallahu a’lam, Pak Udin,” balasnya dengan tatapan berkaca-kaca.

“Lalu, apa pula masalahnya dengan anak-cucu semut yang mungkin akan menjadi korbannya?”

Keduanya terdiam. Semut mengamati reaksi Udin, tak berapa lama ia pun melanjutkan, “Tolong jangan salah paham. Saya merasa tidak ada permusuhan pribadi dengan Nyi Roro Kidul. Kadang saya tidak melihat dia sebagai perwujudan kejahatan. Bukan berarti juga saya ingin menjadi pacarnya. Tetapi saat ini, wanita misterius itu telah mencapai titik di mana ia terlalu berbahaya untuk diabaikan. Dengan semua jenis kebencian yang ia serap dan simpan selama bertahun-tahun, jantung dan tubuhnya seakan membesar menyerupai dendam kesumat. Dan yang lebih parah lagi, terjadinya kebangkitan spiritual di kalangan umat manusia akhir-akhir ini, telah mengguncang dirinya dari tidur nyenyak yang dia nikmati. Dia mengalami semacam dorongan oleh kemarahan yang mendalam. Jadi, saya telah menerima informasi dari sumber yang dapat dipercaya tentang ketepatan waktu, terutama juga dari binatang-binatang kecil seperti lebah, kupu-kupu, bahkan para cacing dan semut anak-cucu kami.”

Semut itu mengatupkan mulutnya agak malu-malu, kemudian memejamkan matanya seperti memikirkan sesuatu lebih dalam.

“Jadi apa yang ingin Anda katakan adalah,” jelas Udin, “bahwa Anda dan saya harus pergi ke puncak Gunung Anak Krakatau, lalu bertempur melawan Nyi Roro Kidul agar membatalkan niatnya meledakkan gunung itu, begitu?”

“Kurang lebih seperti itu,” ujar Semut sambil menjulurkan antenanya.

Udin mematikan rokoknya setelah menghisapnya dalam-dalam, “Tetapi, yang masih belum saya mengerti, kenapa Anda memilih saya?”

Semut menatap langsung ke mata Udin sambil tersenyum, “Selama ini saya sangat menaruh hormat pada Bapak. Bayangkan, Pak Udin telah mengabdi selama limabelas tahun untuk mengamankan bank BDM. Seakan Bapak tidak menyadari tugas yang sangat berbahaya ini, suatu pekerjaan tak populer yang tidak ada daya tariknya, dan selalu dihindari banyak orang. Saya paham betul, betapa sulitnya pekerjaan langka ini buat Bapak. Saya percaya, baik atasan maupun karyawan lainnya, sama sekali tidak menghargai pencapaian dan kerja keras Bapak selama ini. Barangkali mereka buta semuanya. Tetapi Bapak, yang tidak dihargai dan tidak mendapat dukungan, tidak pernah merasa capek atau mengeluh pada pekerjaan Bapak. Selain itu, setelah orang tua Bapak meninggal, Bapak juga sibuk mengurus kedua adik Bapak yang waktu itu masih remaja, membiayai mereka sekolah, kuliah hingga menikah, yang semuanya itu butuh pengorbanan basar,” ia terdiam sejenak, lalu sambungnya, “dan Bapak tak pernah menuntut adik-adik agar membalas jasa-jasa yang telah Bapak berikan.”

Semut mengamati reaksi Udin, tapi ia masih terdiam dan kurang begitu yakin. Lalu, Semut pun menambahkan, “Sebenarnya, Pak Udin, tidak ada yang menarik untuk dilihat dari kepribadian Bapak, selain itu Bapak juga pendiam dan tak pandai bicara, sehingga Bapak sendiri cenderung dipandang rendah oleh anak-anak buah Bapak. Tapi saya berpikir dengan akal sehat, bahwa Bapak adalah seorang pemberani, dan tidak ada satu orang pun di Banten dan Jakarta ini yang layak mendampingi perjuangan saya selain Bapak.”

Udin menghela napasnya, “Hmm, baiklah kalau begitu… tapi, ngomong-ngomong dari mana Anda banyak tahu tentang sejarah hidup saya?”

“Nah, Pak Udin, buat apa saya jadi semut sekian lama, kalau saya tidak menjaga penglihatan saya pada kenyataan hidup ini… selain itu, buat apa pula saya punya antena ini?” tegasnya sambil menjentikkan antena di kepalanya.

“Tapi tetap saja, saya masih bingung… saya tidak tahu apa-apa tentang urusan dunia gaib yang tak masuk akal ini. Saya pun tidak memiliki jenis otot yang diperlukan untuk diajak bertempur melawan orang sakti semacam itu. Saya yakin Anda bisa menemukan orang yang lebih kuat dari saya, seorang pria yang bisa pencak silat, debus atau karate, yang memang pantas disebut petarung.”

Semut memutar mata dan memancangkan antenanya, “Sejujurnya, Pak Udin, sayalah orang yang akan melakukan pertempuran ini. Tapi saya tidak bisa melakukannya sendirian. Saya membutuhkan keberanian, doa, dukungan dan semangat Bapak untuk menegakkan kebenaran dan keadilan ini.”

Semut mengangkat kaki depan kanannya, dan matanya menyorot tajam, “Sebenarnya, pertempuran dengan Nyi Roro Kidul dalam suasana gelap cukup menakutkan saya. Selama bertahun-tahun saya hidup sebagai makhluk introvert, dan selalu berdampingan dengan alam. Pertempuran bukanlah sesuatu yang menjadi kebiasaan saya. Tetapi kali ini, saya melakukannya karena memang harus. Yang pasti, pertarungan khusus ini akan menjadi sesuatu yang sengit. Saya mungkin akan mati, tergilas, dan tidak kembali lagi. Saya mungkin juga kehilangan salah satu anggota tubuh. Tetapi saya tidak bakal lari. Karena itu, Pak Udin, apa yang saya inginkan dari Bapak semata-mata agar Bapak bisa berbagi keberanian dengan saya, untuk mendukung dengan sepenuh hati sebagai teman sejati. Apakah Bapak mengerti apa yang saya maksudkan?”

Tetap masih bingung sambil mengernyitkan alisnya. Meskipun, ia bisa percaya pada apa yang Semut katakan. Cara Semut bicara, raut wajahnya, memiliki kejujuran sederhana yang menarik langsung ke hati. Setelah bertahun-tahun bekerja di divisi terberat di bank BDM, Udin memiliki kemampuan untuk merasakan hal-hal seperti ini.

“Saya tahu ini pasti sulit bagi Bapak sendiri. Mana mungkin tiba-tiba ada semut besar datang menerobos masuk ke rumah, dan meminta Bapak percaya pada hal-hal yang saya utarakan. Tapi yang saya lihat, reaksi Bapak wajar-wajar saja sepertinya. Karena itu, saya bertekad memberikan bukti pada Bapak bahwa saya benar-benar ada, benar-benar maujud. Sekarang katakan pada saya, Pak Udin, bahwa selama ini Bapak banyak mengalami kendala untuk memulihkan pinjaman bank yang dibuat oknum jawara Toni Sumarto, untuk kepentingan politik dan bisnis saudara-kerabatnya, bukankah begitu?”

“Ya, benar sekali,” jawab Udin mengangguk.

“Jadi, mereka memiliki banyak pemeras yang bekerja di belakang layar, dan orang-orangnya bekerja sama dengan oknum jawara. Mereka berbuat licik dan curang untuk membuat perusahaan bangkrut dengan mengajukan pinjaman. Petugas pinjaman bank Bapak menyodorkan tumpukan uang tanpa pemeriksaan latar belakang yang layak. Dan seperti biasa, orang yang tersisa untuk membersihkan setelahnya adalah Bapak sendiri. Tetapi dalam hal ini, Bapak kewalahan untuk menjangkau orang-orang besar ini. Ya, mereka memang bukan lawan enteng. Para wartawan daerah dan ormas, bahkan seniman yang dangkal wawasan, juga sulit memahami fenomena ini. Mereka hanya akan jadi bulan-bulanan dari permainan politik Toni Sumarto, sebagaimana politik Orde Baru yang senang melakukan intimidasi seperti dalam buku Pikiran Orang Indonesia itu. Belum lagi, di belakang layar banyak politisi kuat yang mendompleng. Mereka punya hutang kepada bank sebanyak delapan trilyun, dan itu adalah situasi yang sedang Bapak hadapi. Benarkah apa yang saya katakan ini, Pak Udin?”

“Ya, memang seperti itu,” balas Udin dengan tatapan menerawang.

Semut mengulurkan kaki depannya lebar-lebar, menepuk pundak Udin sambil berujar, “Jangan khawatir, Pak Udin. Serahkan semua urusan itu pada saya. Besok pagi, saya akan berusaha memecahkan masalah yang sedang Bapak hadapi. Santai saja, dan nikmati tidur nyenyak Bapak malam ini.”

Dengan senyum lebar Semut berbalik, kemudian keluar melalui pintu samping, meninggalkan Udin sendirian.

***

Saat Udin tiba di tempat kerja keesokan harinya pukul 08.30, telepon di mejanya tiba-tiba berdering.

“Pak Udin,” kata suara seorang pria dengan lugas dan dingin, “Nama saya Sahib Kusen, biasa dipanggil Bang Sakib. Saya adalah pengacara dalam kasus Pak Toni Sumarto. Saya menerima telepon dari klien saya pagi ini berkaitan dengan masalah pinjaman tunda. Dia ingin Bapak tahu bahwa dia akan mengambil tanggung jawab penuh untuk mengembalikan seluruh jumlah yang diminta pada tanggal jatuh tempo. Dia juga akan memberikan nota yang harus Bapak tandatangani. Ada satu permintaannya bahwa Bapak jangan sampai mengirim Semut Besar lagi ke rumahnya. Saya ulangi sekali lagi, bahwa dia tidak ingin Bapak mengutus Semut lagi ke rumahnya. Saya sendiri tidak sepenuhnya paham apa yang dia katakan, tapi saya kira ini semua sudah jelas bagi Bapak Udin. Kira-kira paham apa yang saya maksudkan, Pak?”

“Anu… ya, ya, saya paham sekali.”

“Bapak akan berbaik hati untuk menyampaikan pesan saya pada Semut Besar itu, secepatnya besok pagi, paham kan, Pak?”

“Ya, akan saya sampaikan. Klien Anda tidak akan pernah melihat Semut lagi, saya jamin itu.”

“Terima kasih banyak. Saya akan mempersiapkan nota untuk Bapak besok siang.”

Sambungan telepon terputus. Semut mengunjungi Udin di kantornya setelah sarapan pagi. “Untuk kasus Toni Sumarto, kelihatannya berjalan lancar nih?” katanya dengan tangan bersedekap. Udin menoleh ke pintu menatap Semut, sambil melirik kanan-kiri dengan gelisah.

“Jangan khawatir, Bapak adalah satu-satunya orang yang bisa melihat saya di sini. Tapi sekarang saya yakin Pak Udin menyadari kalau saya benar-benar ada. Saya bukan produk dari imajinasi siapapun, juga bukan produk robot AI. Saya hanya ingin membantu rakyat, dapat melakukan aksi dan memberi hasil. Saya makhluk hidup biasa yang bisa diraba secara kasatmata.”

Udin mengangguk dan menyalakan rokok.

“Sekarang bagaimana? Apakah saya berhasil mendapat kepercayaan Bapak berkaitan dengan masalah yang saya singgung tadi malam? Bapak akan bergabung dengan saya untuk menghadapi Nyi Roro Kidul?”

Udin menghisap rokoknya, dan jawabnya mantap, “Ya, Insya Allah saya akan siap.”

“Terimakasih sebelumnya, Pak Udin,” katanya santun. “Saya paham akan rasa tanggungjawab Bapak yang tinggi. Bagaimana pun, kita tidak punya pilihan untuk menyelamatkan populasi manusia yang berjumlah delapan miliar, sedangkan semut, entah berapa trilyun akan terselamatkan, yang bersembunyi di lubang-lubang perkampungan sepanjang pesisir Pantai Selatan. Pokoknya, Bapak dan saya harus pergi ke puncak gunung untuk menghadapi Nyi Roro Kidul. Kalaupun kita harus kehilangan nyawa karenanya, kita tidak akan memperoleh simpati dari siapa pun, kecuali dari para penduduk langit. Tidak seorang pun akan tahu bahwa pertempuran hebat sedang terjadi jauh di atas permukaan laut, dan di atas puncak Gunung Anak Krakatau. Jadi, hanya Bapak dan saya yang akan tahu, dan pada akhirnya ini akan menjadi pertempuran sunyi.”

Udin menatap tangan kanannya untuk sementara waktu, kemudian memperhatikan asap mengepul dari rokoknya. Lalu, ia pun bicara memelas, “Anda tahu, Semut, saya ini hanya manusia biasa. Saya ini hanya laki-laki biasa. Kepala saya sudah mulai botak, perut saya agak buncit. Umur saya sudah lebih dari empatpuluh tahun. Kaki saya juga lemah. Dokter bilang bahwa saya memiliki gejala radang paru-paru dan tenggorokan, karena itu kadang-kadang mengalami sesak napas. Saya, boleh dibilang tidak pernah menjumpai satu orang pun yang terang-terangan menyukai saya, baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan pribadi. Saya tidak tahu bagaimana bicara dengan orang lain, dan saya tak pandai berperilaku dengan orang yang belum dikenal. Saya juga tidak punya kemampuan atletik, postur badan pendek, mata rabun jauh, juga agak tuli sebelah. Apa yang bisa dibanggakan dari saya? Seolah dalam hidup ini apa-apa yang saya lakukan cuma makan, tidur dan berak doang. Sesekali datang ke masjid untuk melakukan solat. Saya bahkan tidak mengerti mengapa orang semacam saya ini masih hidup? Apalagi sampai harus menyelamatkan ratusan ribu nyawa penduduk Banten, Jakarta dan Lampung segala?”

“Tetapi tak ada jalan lain, Pak Udin, mereka itu hanya bisa diselamatkan oleh orang seperti Bapak. Dan untuk orang-orang seperti Bapak-lah alasan saya mencoba untuk menyelamatkan penduduk semut di republik kepulauan yang luas ini.”

Udin mendesah lagi, lebih dalam saat ini, “Baiklah kalau begitu, lalu apa yang akan saya lakukan pada waktunya nanti….”

Semut menjelaskan rencananya. Mereka akan pergi bersama-sama menuju Pantai Carita pada sore hari tanggal 30 September 2026, satu hari sebelum gunung itu meletus dan memuntahkan lahar-laharnya di sekitar laut Selat Sunda. Udin diperintahkan untuk melobi seorang nelayan agar menyewa perahu menuju gunung Anak Krakatau, dengan bayaran dua kali lipat dari sewa biasanya. Setelah perahu bersandar, mereka akan mendaki menuju puncak gunung sambil berjalan pelan-pelan, kemudian ketika sampai di puncaknya mereka akan berjumpa dengan Nyi Roro Kidul yang akan menjatuhkan senjata misterius tepat pada Pk. 23.00. Paling tidak, satu atau dua jam sebelum niatnya terlaksana, mereka berdua harus dapat menghalau dan membatalkan rencanananya.

“Lalu, kalau kita merencanakan pertempuran, kira-kira seperti apa bentuk pertempuran itu?”

Setelah jeda untuk berpikir, Semut menjawab, “Hmm, seperti apa bentuk pertempurannya… sebaiknya mengenai hal ini, biarlah Tuhan yang mengatur…”

“Maksudnya, apakah saya tidak boleh bertanya?”

“Ya, seperti itu. Saya kira, diam adalah pilihan yang terbaik.”

“Seperti yang dialami Nabi Khidir terhadap Nabi Musa, begitu?”

“Kurang lebih seperti itu.”

***

Selalu saja muncul hal-hal yang tak terduga. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berjalan mengendap dari belakang, seketika menikam punggung Udin dengan keris pusaka tepat pada tanggal 29 September 2026 sore, setelah ia berkeliling sepanjang hari dan melangkah menyusuri jalan di sekitar Cengkareng, Jakarta Barat. Saat itu, dia sedang menuju salah satu kantor cabang BDM, seorang pria muda dengan jaket kulit melompat dari arah belakang. Wajah pria itu kosong, dan dia mencengkeram keris tajam di tangan kanannya. Keris itu kecil hitam, hampir tidak tampak nyata. Udin berbalik ingin menatap objek di tangan pria misterius itu, tidak menyangka keris tajam itu diarahkan ke punggungnya. Orang itu tiba-tiba menarik keris itu, mengelap darah dengan ujung jaket, kemudian sekali lagi dia hujamkan keris itu di bawah kiri punggungnya hingga menembus lambung.

Darah bercecer di mana-mana, tetapi Udin tidak merasakan sakit. Tusukan benda tajam itu membuatnya terkapar di trotoar. Ransel hitam di pundaknya terlempar ke arah lain. Dia mendengar orang-orang berteriak. Segala sesuatunya menjadi kabur dan samar. Ah, saya akan mati di sini, pikirnya. Ia mengingat ketika Semut menyatakan bahwa teror sesungguhnya adalah teror untuk melumpuhkan imajinasi manusia.

Ketika matanya terbuka dan kesadarannya pulih, tahu-tahu ia mendapati dirinya sedang berbaring di rumah sakit. Ia mengamati sekitarnya, membuka lebar-lebar kelopak matanya. Hal pertama yang tampak pada penglihatannya adalah sangkutan selang kecil di sekitar tangan dan hidung, serta tabung dan botol infus tergantung di samping pembaringannya. Berikutnya ia melihat seorang perawat berpakaian putih-putih. Kini, ia semakin menyadari dirinya sedang berbaring telentang di ranjang rumah sakit.

Oh ya, pikirnya, saat itu saya sedang berjalan di sepanjang trotoar ketika seorang pria tiba-tiba menikamnya. Mungkin di sekitar punggung atas dan bawah? Dia menghidupkan kembali adegan dalam pikirannya. Ketika ia mengingat keris hitam kecil di tangan pemuda itu, jantungnya berdebar-debar. Laki-laki brengsek itu mencoba membunuhnya. Tapi tampaknya, ingatan Udin tidak bermasalah. Dia bahkan tidak merasa sakit. Dan dia tidak punya perasaan apapun, hanya saja tak mampu mengangkat lengan kirinya.

Kamar rumah sakit tidak memiliki jendela. Dia tidak tahu apakah itu siang atau malam. Dia ditikam sekitar jam empat sore hari. Entah berapa banyak waktu telah berlalu sejak saat itu? Apakah jam pertemuan malam hari dengan Semut telah berlalu? Udin mencari-cari jam di kamar itu, tapi penglihatannya masih kabur, dan ia tak bisa melihat apa-apa dari kejauhan.

“Dok!” dia memanggil seorang perawat.

“Oh ya, syukurlah Bapak sudah siuman rupanya,” kata sang perawat.

“Jam berapa sekarang?”

Perawat itu melihat jam tangan digitalnya, “Sepuluh kurang seperempat.”

“Malam?”

“Pagi, Pak, sekarang masih pagi,” kata perawat sambil tertawa.

Udin mengerang, susah payah berusaha untuk mengangkat kepalanya dari bantal. Bunyi kasar yang muncul dari tenggorokannya terdengar seperti suara orang lain. “Sepuluh kurang seperempat pagi, tanggal 30 September, kan?”

“Bukan, Pak, sekarang sudah tanggal 1 Oktober 2026,” kata perawat, mengangkat lengannya sekali lagi untuk memeriksa tanggal pada jam tangannya.

“Hmm, hari ini tanggal 1 Oktober 2026?” gumam Udin sambil mengernyitkan dahi.

“Ya, hampir dua hari Bapak mengalami pingsan.”

Dia mengamati wajah perawat dengan tatapan berkaca-kaca, “Apakah tadi malam tidak ada tsunami di Selat Sunda?”

“Tsunami di Selat Sunda?” perawat itu terbengong.

“Ya, tadi malam?”

Kembali perawat terheran-heran, sambil menggeleng. “Tidak ada kabar apa-apa tentang tsunami di Selat Sunda, Pak.”

Dia menarik napas lega. Ya, apa pun yang terjadi, setidaknya meletusnya gunung Anak Krakatau telah dilewati.

“Bagaimana dengan luka saya?”

“Luka Bapak?” tanyanya kemudian. “Apanya yang luka?”

“Saya ditusuk orang dari punggung, kan?”

“Ditusuk? Saya kira tidak ada luka tusuk di punggung Bapak?”

“Di sekitar trotoar di dekat pintu masuk Bank Djakarta Mandiri, ada orang menikam saya dua kali?”

Perawat melontarkan senyum gugup ke arahnya. “Maaf, Pak Udin, saya kira Bapak dibawa ke rumah sakit bukan karena luka tusukan.”

Udin tertegun. “Lalu, kenapa saya bisa dibawa ke rumah sakit?”

“Seseorang menemukan Bapak tergeletak di jalan, tak sadarkan diri. Di daerah Cengkareng, Jakarta Barat, dekat kantor cabang BDM. Bapak sendiri tidak memiliki luka eksternal, hanya kedinginan saja. Dan kami masih belum menemukan apa penyakitnya. Sebentar lagi dokter akan datang, dan sebaiknya Bapak bicara langsung dengan dokter nanti.”

Tergeletak di jalan tak sadarkan diri? Udin sangat yakin ia melihat keris pusaka terarah kepadanya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk meluruskan pikirannya. Dia akan mulai dengan menyusun semua fakta dalam urutan.

“Maksud Bu Dokter tadi, ada orang yang mengantarkan saya ke rumah sakit ini, dalam keadaan tak sadarkan diri, sejak kemarin sore, benar begitu?”

“Ya, benar, Pak” kata perawat, “saya sendiri kurang tahu, apakah Bapak tidur atau pingsan. Tapi sepertinya Bapak kurang tenang di pembaringan, kadang mengigau, seperti sering mengalami mimpi buruk. Saya mendengar Bapak berteriak-teriak, ‘Semut! Semut! Awas, dia melemparkan tombak segoro… hati-hati dengan keris saktinya… itu senjata pusaka Nyi Roro Kidul, rebut dari tangannya!’ oya, apakah Bapak punya teman yang namanya Semut?”

Udin memejamkan matanya dan mendengarkan irama jantungnya yang lambat. Berapa banyak dari apa yang dia ingat benar-benar terjadi, dan berapa banyak yang hanya halusinasi belaka? Apakah Semut Raksasa itu benar-benar ada?

Lalu, apakah Semut itu bertempur melawan Nyi Roro Kidul untuk menghentikan gunung meletus dan tsunami di sepanjang Pantai Selatan? Ataukah ini semua hanya mimpi panjang belaka?

***

Semut datang ke kamar rumah sakit keesokan harinya. Udin terbangun untuk menemukan dirinya dalam cahaya redup.

“Semut!” seketika Udin memanggilnya.

Semut terlihat lemas, perlahan membuka matanya. Perut hitam besar menggembung dan menyusut dengan napasnya.

“Saya bermaksud untuk bertemu dengan Anda di Pantai Carita seperti yang telah kita janjikan,” kata Udin, “tapi saya mengalami kecelakaan sore kemarin… sesuatu yang sama sekali tak terduga… dan mereka membawa saya ke sini.”

Semut menggoyangkan kepalanya sedikit. “Saya tahu. Tidak apa-apa, jangan khawatir. Bapak sangat membantu saya dalam pertempuran melawan Nyi Roro Kidul tadi malam.”

“Ah, yang benar?” ia terperanjat kaget.

“Ya, benar. Benar sekali. Bapak melakukan pekerjaan besar dalam mimpi Bapak. Itulah yang membuatnya mungkin bagi saya untuk melawan Nyi Roro Kidul, hingga dia mengurungkan niat jahatnya. Bagaimana pun, saya harus mengucapkan terima kasih atas kemenangan kita.”

“Saya enggak mengerti, Semut,” kata Udin sambil garuk kepala. “Selama hampir dua hari saya tak sadarkan diri di pembaringan ini. Mereka menginfus saya. Saya bahkan tidak ingat lagi apa yang saya mimpikan?”

“Itu bagus, Pak Udin. Lebih baik Bapak tidak ingat. Seluruh pertempuran mengerikan terjadi di dalam imajinasi. Itu adalah lokasi yang tepat dari medan perang kita. Di puncak gunung Anak Krakatau kita telah memenangkan pertempuran itu, setidaknya Pak Udin telah berteriak memberi tahu saya ketika Nyi Roro Kidul melemparkan tombak segoro, sebagai senjata pamungkasnya. Lalu, ketika dia memakai keris pusaka miliknya, Pak Udin juga telah memerintahkan saya agar merebut keris sakti itu dari genggamannya. Dan sekarang, semua senjata miliknya telah berada dalam genggaman saya.”

Semut membuka karung yang tersimpan di sekitar kepala dan punggungnya, lalu menyodorkan keris pusaka dan tombak segoro kepada Udin, “Apakah Pak Udin mau mengambil salah satu benda pusaka ini, atau kedua-duanya?”

“Enggak usah terimakasih, sebaiknya kamu simpan saja benda-benda itu,” ujar Udin. “Jadi, bagaimana Anda bisa mengalahkan Nyi Roro Kidul hingga membatalkan niat jahatnya? Lalu, apa yang telah saya lakukan di sana?”

“Kita telah mengeluarkan semua kekuatan yang kita miliki dalam pertarungan sampai titik darah penghabisan. Kita telah menggunakan setiap senjata yang bisa kita raih. Kita telah mengerahkan semua keberanian kita. Kegelapan adalah sekutu dari musuh-musuh kita. Bapak membawa generator bertenaga kaki dan menggunakan tenaga Bapak untuk mengisi tempat dengan cahaya. Nyi Roro Kidul tiba-tiba murka, lalu menjelma sebagai ular raksasa, dan mencoba untuk menakut-nakuti kita sebagai hantu dari kegelapan. Tetapi, Bapak tetap bertahan dengan sekuat tenaga. Kegelapan telah bersaing dengan cahaya dalam pertempuran mengerikan, dan dalam terang saya bergulat dengan ular raksasa yang menjijikkan itu. Dia bergelung di sekitar saya, dan membelit tubuh saya dengan ekor dan kakinya yang tajam menggelikan. Seketika itu, saya meronta-ronta dengan sekuat tenaga, lalu Pak Udin menyodorkan lampu senter dengan nyala terang, hingga terpampang dengan jelas seluruh tubuh ular raksasa itu. Itulah yang membuatnya merasa malu, dan lari terbirit-birit.”

“Apakah dapat dikatakan bahwa kita telah menang dalam pertempuran ini?”

“Menang dan kalah, itu soal lain… tapi setidaknya, kita telah mencapai apa yang menjadi tujuan kita?”

“Menyelamatkan ratusan ribu manusia dan trilyunan penduduk semut?”

“Ya, benar. Tapi bagaimana pun kita telah menyelamatkan makhluk-makhluk hidup ciptaan Allah lainnya juga.”

“Termasuk menyelamatkan oknum jawara, bajingan mafia dan perampok BLBI yang menimbun utang trilyunan itu?”

“Bagi setiap kejahatan, dan siapapun yang bersalah, pasti akan dihakimi oleh imajinasinya sendiri,” ia terdiam sejenak, dan lanjutnya, “begitu pun dengan orang-orang baik yang pasti akan memetik buah dari kebaikan moralnya. Tapi bagaimanapun, perjuangan yang telah kita capai adalah menyelamatkan semua peradaban makhluk hidup, dan itu telah diperintahkan Tuhan sebagai tugas manusia selaku khalifah di muka bumi ini.”

Keduanya saling diam membisu. Tak lama kemudian, Semut itu bergumam, “Pak Udin, kalau Bapak ingin tahu, saya ini memang seekor Semut murni, tapi pada saat yang sama saya juga punya dunia yang bukan Semut.”

“Hmm, lagi-lagi membuat saya bingung,” gumam Udin sambil mengernyitkan dahi. “Sekarang Anda sepertinya lelah, Semut. Lebih baik Anda istirahat dulu dan tidur sajalah.”

Tetapi Semut Raksasa itu terus saja bicara, meski kata-katanya mulai kehilangan arah. Tubuhnya lunglai dan jatuh ke lantai. Moncongnya mengeluarkan lendir. Antenanya layu dan melengkung. Berusaha untuk memfokuskan matanya, Udin melihat dua luka robek di sekitar punggung Semut. Goresan berwarna putih dan pucat muncul di bagian punggung atas dan bagian bawah punggung kirinya. Udin menatap lama hingga merasa iba kepadanya.

Tak lama kemudian, Semut mulai bergerak-gerak. Udin pada awalnya mengira bahwa ini hanyalah gerakan normal saat tidur, tetapi ia segera sadar. Ada sesuatu yang tidak wajar tentang cara tubuh Semut yang terus menyentak, seperti boneka besar yang diguncangkan pemiliknya dari belakang. Udin menahan napas dan mengamati. Dia mencoba bangun dari pembaringannya, lalu tiba-tiba terdengar suara perawat berteriak dan memegang tengkuknya.

“Pak Udin! Pak Udin!” panggil sang perawat. Udin membuka matanya. Tubuhnya bermandikan keringat. Wajahnya menatap kosong ke langit-langit kamar.

“Mimpi buruk lagi, ya?” Dengan gerakan cepat dan efisien perawat cantik itu menyiapkan suntikan dan menusukkan jarum ke lengannya.

Udin mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Jantungnya mengembang dan berdetak keras.

“Mimpi apa lagi, Pak Udin?” tanya perawat itu lembut.

“Apa yang kita lihat dengan mata kita, sebenarnya tidak selalu nyata,” gumamnya pada dirinya sendiri.

“Itu memang benar,” kata perawat dengan senyum. “Terutama kalau Bapak dalam keadaan mimpi.”

“Kalau Semut?” gumamnya.

“Apa yang terjadi dengan Semut?” tanya perawat cantik itu.

“Dia telah menyelamatkan penduduk Banten, Jakarta dan Lampung Selatan dari kehancuran akibat gunung meletus dan tsunami. Apakah dia Satrio Piningit atau Imam Mahdi, hingga melakukan perjuangannya sendirian tanpa perlu pujian, bahkan tanpa membutuhkan penilaian manusia?”

“Oo, begitu… tapi setiap perbuatan baik, Tuhan pasti akan membalasnya.”

Sambil tersenyum, perawat itu mengeringkan keringat dengan handuk pada dahi Udin. “Sepertinya Anda merindukan Satrio Piningit, Pak Udin?”

“Ya, tentu saja semua orang merindukan Satrio Piningit.”

Dan ia pun menutup matanya, tertidur pulas tanpa mimpi buruk lagi. ***

*Catatan: Nama-nama tokoh maupun institusi perusahaan, dibuat secara kias dan fiktif.

Oleh: Muhamad Pauji

Penulis adalah Cerpenis dan esais di berbagai media luring dan daring, pegiat organisasi OI (Orang Indonesia)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.