Korban Peledakan Bom 

oleh -747 Dilihat
banner 468x60

Lelaki itu menatap police line yang melintang mengepung area tersebut. Sambil menahan rasa gundahnya, ia melangkah pelan-pelan menuju sekumpulan orang yang berdiri di sekitar area. “Pak, apakah saya boleh ketemu Sarwani?” kata lelaki itu pada salah seorang polisi, seusai reka ulang kejadian yang digelar Detasemen Khusus 88.

Melihat wajah lelaki yang pipi dan pelipis kanannya menghitam seperti bekas luka bakar, serta salah satu pergelangan tangannya terputus, polisi itu pun bertanya dengan suara agak berbisik, “Bapak ini siapa?”

“Saya salah satu dari korban peledakan bom,” jawabnya dengan nada lirih.

Polisi itu mempersilakan lelaki paruh baya itu masuk dan menerobos police line. Ia diantar menuju salah satu pintu ruangan, di mana Sarwani sedang duduk menunduk di atas kursi dengan mengenakan baju tahanan oranye bertuliskan “Tersangka”. Melihat lelaki yang wajah dan tangannya cacat itu, Sarwani mengangkat kepalanya pelan-pelan, lalu melengos seketika ke arah dinding seakan menghindari tatapan lelaki itu.

Lelaki itu hanya diberi waktu lima menit. Ia menatap wajah Sarwani yang memerah, dan pertanyaan langsung diajukan ke pokok persoalan, “Kenapa kamu tega melakukan itu?”

Ia menunduk tak menjawab, kemudian katanya dengan suara agak serak, “Saya nggak tahu ada orang pribumi. Saya kira yang tinggal di situ hanya orang-orang bule.”

“Apakah kamu nggak mikir, berapa banyak anak-anak yang juga menjadi korban?”

Ia menghela napasnya, dan ujarnya lagi, “Sasaran kami hanya orang-orang bule. Itulah yang diperintahkan pada kami.”

Tak lama kemudian, seorang polisi menghampiri lelaki itu, kemudian memperingatkan bahwa perbincangan saat itu bukanlah momentum yang tepat. “Kalau Bapak ingin leluasa bicara dengan dia, lebih baik nanti saja di kantor Polda Metro Jaya,” bisik sang polisi.

“Baik, terima kasih, Pak,” lelaki itu pun menyalami polisi, kemudian segera meninggalkan tempat itu.

***

Hotel yang menjadi sasaran pengeboman itu terletak di jalan Denpasar, bersebelahan dengan kantor kedutaan besar RRC. Lelaki paruh baya itu berangkat dari daerah Cakung menuju Kelapa Gading, seusai mengunjungi cabang perusahaan tempatnya bekerja. Ketika seorang rekan kerjanya berjanji mentraktir makan siang di jalan Denpasar, lelaki itu memutar haluan menuju tempat itu, membelah jalanan kota Jakarta yang disarati kemacetan di sana-sini. Apalagi jalur menuju segitiga emas Casablanca, begitu padat merayap saat jam-jam istirahat kantor.

Sesampainya di lobi hotel, ia bergegas masuk bersama dua orang rekan kerjanya. Ketika sedang berbincang-bincang sambil menunggu makan-minum yang sedang dipersiapkan beberapa pelayan, tiba-tiba terdengar suara ledakan memekakkan telinga.

Lelaki itu mengira suara ledakan itu bersumber dari tempat yang jauh. Tetapi, ruangan sekitar mendadak gelap gulita. Ia tak tahu apa yang terjadi, karena berada dalam kondisi setengah sadar. Ia hanya bisa merasakan panas luarbiasa menjalar di sekujur tubuhnya. Selang beberapa waktu, lelaki itu terkesiap dan membuka matanya. Ia baru menyadari bahwa di sekitar tubuhnya dipenuhi pecahan kaca-kaca kristal. Dalam suasana gelap yang mencekam, ia pun berusaha bangkit, sambil menyingkirkan pecahan-pecahan kaca yang menyelubungi tubuhnya.

Lelaki itu masih bisa berdiri, lalu melangkah pelan-pelan meninggalkan ruangan yang sudah porak poranda. Bau amis darah, bercampur dengan bau bakaran yang menyengat seperti korsleting arus listrik. Dengan memicingkan matanya, ia mencari-cari cahaya untuk menemukan jalan keluar. Suara orang-orang saling merintih di sekitarnya. Darah berceceran sejauh kakinya menginjak. Terdengar suara-suara sirene meraung-raung di kejauhan. Ia berhasil menemukan jalan keluar, kemudian berlari di antara pecahan-pecahan bangunan gedung menuju jalan raya.

Ia memberhentikan setiap taksi yang melintas. Ketika sebuah taksi berhenti dan melihat mukanya bercelomot darah dan mengerikan, serta-merta taksi itu menancapkan gasnya dan menjauh. Tak lama kemudian, ada seorang sopir taksi yang mau peduli, lalu berputar haluan dan menaikkannya di belakang. Sang sopir segera membawa lelaki itu sesuai perintahnya menuju rumah sakit terdekat.

Di pelataran rumah sakit, ternyata sudah bergelimpangan puluhan korban yang mengalami nasib serupa. Derita yang sudah ia tahan lama, rupanya kurang disambut dengan pelayanan yang semestinya dari pihak rumah sakit. Mereka hanya mengolesi tubuh lelaki itu dengan salep pendingin, lalu membiarkannya dalam rubungan para wartawan yang sibuk mengambil rekaman gambar dan wawancara. Beberapa jam kemudian, beberapa perawat memasukkan lelaki itu ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan ia pun terhempas di pembaringan, dan tenggelam dalam ketidaksadaran.

Keesokan harinya, lelaki itu dipindahkan ke rumah sakit khusus yang memiliki banyak tenaga ahli dalam menangani luka bakar. Pakaian dan sepatunya dilucuti. Ia dimandikan dengan air yang mengandung alkohol. Sekujur tubuhnya terasa perih dan pedih. Ia baru merasakan sebagian anggota tubuhnya yang membiru dan membengkak.

Tubuh lelaki itu dipenuhi dengan perban. Bebarapa selang saling menyilang untuk memenuhi kebutuhan oksigen, makan dan minum, hingga membuang hajat. Ia terbaring kepayahan dan terputus dari dunia luar. Semua pembesuk, baru bisa berkomunikasi beberapa minggu kemudian, dan itu pun hanya melalui gagang telepon, yang tersekat oleh dinding kaca. Sesekali ia menangis dalam kesendirian, dan sesekali pula rasa frustasi dan putus asa menghampiri batinnya.

Waktu demi waktu teramat panjang dan menjemukan. Dunia seolah berhenti berputar. Tertinggal ia meratapi nasib hidup. Seluruh perasaannya jadi tabularasa. Di kamar isolasi itu, ia menghadapi hari-hari yang harus dilalui, diselubungi pertaruhan antara hidup dan mati selama enam bulan lebih.

Pernah suatu ketika, terlintas di pikirannya ingin menenggak cairan toilet (liquid) yang berada di pojok ruang isolasi. Ia sudah mengalami jalan buntu, bagaimana lagi harus menjalani sisa hidupnya. Sang ibu menjenguknya dan membaca adanya ketidakseimbangan pada perasaan dan pikirannya. Dengan tatapan berkaca-kaca sang ibu berkata sambil meneguhkan hatinya, “Kalau kamu tidak ada, lalu siapa yang akan merawat anak-anakmu, Le?”

Dan ia pun teringat kedua anaknya yang beranjak remaja, terutama si bungsu yang pintar bermain bulutangkis, dan sejak berusia tiga jam di permukaan bumi, ia telah ditinggalkan ibunya yang wafat karena pendarahan.

***

Di Polda Metro Jaya, lelaki itu diantar oleh seorang petugas kepolisian menuju ruang bawah tanah. Ia sudah mempersiapkan kesempatan itu sebelumnya, hingga berhasil mengajak seorang sahabat wartawan dari harian Kompas. Kali ini, mereka diberi waktu selama satu jam, suatu momentum yang tepat untuk berbincang-bincang dengan leluasa bersama Sarwani, sang pelaku peledakan bom di hotel itu.

Duduk berdampingan dengan lelaki itu, ditemani seorang wartawan yang mengabadikan suasana tersebut. Sarwani menjelaskan secara panjang-lebar, mengapa ia sampai tega melakukan pengeboman di sekitar hotel, dan mengapa pula ia bisa memiliki keyakinan hingga bertekad melakukan tindakan terorisme tersebut.

“Pertama, saya percaya pada Dr. Azahari, karena ia memiliki otoritas penting sebagai seorang doktor dan intelektual,” ujar Sarwani dengan tatapan berkaca-kaca. “Dia mendidik dan mengajar kami para jamaahnya tentang urgensi jihad, bahwa hidup ini adalah perjuangan, dan selama hayat di kandung badan, kita harus mengobarkan ‘jihad fi sabilillah’. Ketika kami menuju hotel dengan segala peralatan yang dipersiapkan, mobil yang kami kendarai melewati pelataran senayan, dan kami melihat para atlet nasional sedang berolahraga di sekitar itu. Seketika terlintas ide dalam benak saya untuk menanyakan kepada Dr. Azahari, tentang apa yang dimaksud manusia sebagai khalifah di muka bumi? Rupanya dia menolak memberi jawaban dalam kaitannya manusia sebagai khalifah, tetapi yang mau dia bahas hanya soal jihad dan mati syahid, itu saja.”

“Apa yang membuat Anda begitu mengagumi Dr. Azahari?” tanya sang wartawan.

“Wah, dia itu seorang syaikh, dia itu tokoh penting, Pak,” ia pun menghela napasnya sambil memandang sinis ke wajah dua tamunya. “Dia itu akademisi dan ilmuwan yang sangat disegani…”

“Disegani Anda dan jamaah Anda, tentunya?”

“Bapak ini bagaimana?” ia merasa tersinggung dengan pernyataan itu. “Dr. Azahari itu ahli yang dikenal kepakarannya di zaman Presiden Soeharto!” katanya ngotot.

“Mungkin saja dia pakar bagi kalian, atau bagi sebagian orang di zaman Soeharto, tapi sekarang dia dikenal sebagai teroris, sama seperti Anda.”

“Maksud Bapak, apakah Pak Harto juga teroris?” Sarwani marah dengan mata melotot, ia bangkit dari tempat duduknya.

Seorang petugas kepolisian merengkuh lengan tangannya, lalu mendudukkan kembali ke tempat semula. “Mereka itu datang untuk menanyakan beberapa hal yang perlu ditanyakan kepada Anda,” bisik petugas mengingatkan, “mereka itu adalah tamu, mengapa kamu tidak bisa menghormati tamu?”

Sarwani duduk sambil terbengong, menatap tembok dengan mata berkaca-kaca. Ketika ia dipancing beberapa pertanyaan lagi, ia pun menjawab secara lugas dan gamlang, yang kemudian ditampilkan – oleh sang wartawan – dalam bentuk artikel pada keesokan harinya. Sang wartawan menulis bahwa Sarwani, mengakui dirinya pernah mengagumi Dr. Azahari yang dianggap “syaikh” dan gurunya. Dengan demikian, tak terlepas dari faktor pola ajar dan pola didik, yang sangat berkaitan erat antara ideologi sang guru yang dipompakan kepada pola-pikir murid-muridnya. Begitu juga antara sang pemimpin dengan rakyat yang dipimpinnya.

Meskipun Sarwani berpendapat, bahwa tidak ada kitab dan ajaran apapun yang menganjurkan murid agar bertindak anarkis, tapi ia telah memandang ajaran agama secara sepotong-sepotong. Seakan ia hanya memilih sub-sub judul pada lembaran kertas, yang dianggap mengenakkan untuk kepentingan egoisme dan keangkuhannya. Lalu, bagaimana dengan bab-bab yang lebih prioritas, misalnya anjuran untuk bersabar, tawakkal, kasih-sayang terhadap sesama, atau keagungan ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin?

Lelaki itu menatap wajah Sarwani erat-erat, kemudian angkat bicara lagi, “Sejak berbulan-bulan lalu di rumah sakit, saya sangat mengharapkan berjumpa dengan Anda. Seandainya saya ini adalah keluarga Anda, bagaimana perasaan Anda, Bung?”

Ia terdiam dengan pandangan menerawang, kemudian jawabnya pelan, “Mohon maaf, Pak, saya tidak tahu ada Bapak di tempat itu.”

“Bukan cuma saya, tapi anak-anak kecil juga banyak yang menjadi korban. Bagaimana kalau mereka itu adalah anak kandung Anda sendiri?”

“Mohon maaf sekali lagi, Pak. Ketika saya dibawa oleh guru saya, yang terpikir oleh saya di sepanjang perjalanan hanyalah bule-bule saja. Guru saya bahkan meyakinkan, bahwa tak ada siapa-siapa di tempat sasaran kecuali hanya bule-bule saja.”

“Lalu, apakah ada rencana dalam benak Anda, bahwa Anda akan menghabisi bule-bule di seluruh dunia ini?” pancing sang wartawan.

Sarwani terhenyak dan menghempaskan badannya di kursi. Tatapan matanya melolong bagai anjing liar, lalu katanya menutup perbincangan, “Saat itu, yang terpikir oleh saya, kalau saya berhasil membunuh bule, maka saya telah berhasil membunuh bule-bule di seluruh dunia. Kalau saya berhasil membunuh satu orang kafir, maka semua orang kafir di dunia ini akan musnah seluruhnya.”

***

Minggu pagi, lelaki itu mengantarkan anak bungsunya yang baru menginjak sembilan tahun, menuju lapangan Gedung Olah Raga (GOR) yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari tempat kediamannya. Ia merasa bersyukur, bahwa tahun ini si bungsu terpilih sebagai atlet bulutangkis anak-anak yang mewakili provinsi Banten di ajang nasional.

Saat menyaksikan si anak bermain bulutangkis di bawah pengarahan sang pelatih, ia senantiasa mendukung dan menyemangati sang anak, agar kelak dapat ikut-serta menyumbang dan membawa nama baik bangsa Indonesia di kancah internasional, sebagaimana Greysia dan Apriyani di ajang Olimpiade lalu.

Sepintas ia teringat pada pengakuan Sarwani yang pernah mengajukan pertanyaan kepada Dr. Azahari, bagaimana sosok teroris macam dirinya memiliki konsep tentang peran khalifah di muka bumi? Pantaskah orang-orang yang melakukan perusakan disebut sebagai “khalifah”, meskipun mereka merasa dirinya telah melakukan pembangunan? (*)

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis adalah cerpenis dan pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.