Korban Longsor yang Selamat

oleh -479 Dilihat
banner 468x60

Iring-iringan panjang pada perayaan Maulid Nabi layaknya festival arak-arakan kaum hedonis dalam pesta hari Halloween di Amerika Serikat. Penduduk desa Waringin terbiasa menghias panjang-panjang dalam bentuk kapal, pesawat, hingga orang-orangan sawah. Para orang berduit dari mereka saling berlomba menghias mobil-mobil dengan pita-pita warna-warni, disertai rupa kue-kue dan masakan khas Banten. Bahkan, di antara pita-pita itu ditempeli lembaran-lembaran uang ratusan ribu yang membuat masyarakat berhasrat pada syahwat kekayaan dan kemegahan duniawi.

Di antara ribuan orang yang mengendarai berbagai kendaraan, dari motor, mobil hingga puluhan truk, sengaja disewa pengusaha dan politisi kampung untuk mengangkuti ratusan warga yang menjadi konstituen mereka di ajang pemilu lalu. Di malam hari, mereka terus mengarak panjang-penjang itu, hingga menjulang terang di dekat laut, diiringi gempita genta yang membubungkan tali temali pada perahu-perahu di sepanjang Pelabuhan Merak. Pawai-pawai berarak melintasi pesawahan dan kebun-kebun tua, melewati taman-taman di sekitar alun-alun hingga masjid agung kota Cilegon. Sebagian di antara mereka adalah orang-orang terhormat. Para tetua yang mengenakan sorban dan kopiah haji, orang-orang berjas hitam selaku anggota dewan yang dibanggakan, para muda-mudi Karang Taruna hingga masyarakat awam selaku simpatisan para ustaz, kiai, dan para elit politik lokal.

Suara-suara gong, kendang, suling dan terompet menghiasi alunan musik degung yang saling bersahutan, disertai teriakan para ibu dan anak-anak yang memekakkan telinga. Pawai akbar itu terus mengulir ke utara kota. Di situ terdapat lapangan bola yang sangat luas, tempat diadakannya pertunjukan debus, topeng monyet, serta lapak-lapak para penjual obat kuat. Di hari perayaan kemerdekaan RI, di lapangan itu para muda-mudi berlumuran lumpur mulai dari kaki, tumit, hingga lengan-lengan mereka, untuk beramai-ramai mengikuti perlombaan massal memanjat batang-batang pohon pinang, guna mendapatkan hadiah-hadiah yang disediakan orang-orang berduit. Mereka mendengus-dengus, berjingkrak-jingkrak, dan membusung satu sama lain. Sesekali angin mengertakkan dan mengibarkan panji-panji yang menandai persiapan lomba balap karung dan tarik tambang, disertai alunan musik mengalun, seakan pecah dalam semarak sukacita yang mendentangkan genta-genta.

Lihatlah, mereka seakan bangga seolah-olah bukan lagi bangsa primitif yang terbelakang. Mereka bersorak-sorai meneriakkan lagu-lagu Salawat Badar, seakan mengenang kebesaran dan keagungan jasa-jasa Rasulullah. Tetapi, adakah di antara mereka yang benar-benar meneladani sejarah hidup Nabi, serta menghayati dan menjiwai cahaya terang Nur Ilahi?

***

Para pemikir dan cendekiawan muslim, kadang membuat asumsi melalui opini-opini mereka di harian-harian Banten. Seolah membayangkan Desa Waringin yang dipimpin seorang sultan yang diutus dari Demak, sedang menunggangi kuda jantan nan gagah serta dikelilingi oleh para ksatria yang mulia. Tetapi, dalam pawai akbar itu sama sekali tak ada sultan, tentara maupun raja. Mereka tidak menggunakan pedang, bahkan juga tidak memerintahkan para budak agar mengarak tuannya.

Sukacita mereka seakan dipengaruhi gegap-gempita hedonisme Barat yang sering ditayangkan oleh teve-teve swasta yang semakin marak di Indonesia. Mereka telah menyerap karya-karya sastra yang difilmkan, juga diadaptasi oleh sinetron-sinetron lokal yang membius hasrat dan nafsu jutaan pemirsa. Seakan yang jahat dan berduit akan berakhir dengan kemenangan; seakan derita kehidupan sebagai tontonan yang memikat dan menyenangkan. Mereka memuja keputusasaan, merengkuh kekejian, bahkan membuat mereka kehilangan pegangan pada apa pun selain itu.

Lalu, apa lagi yang perlu diceritakan mengenai Desa Waringin sebelum kejadian longsor itu?

Orang-orang dewasa di antara mereka menjalani hidup secara layak, cerdas, dan pintar mencari nafkah. Kehidupan masyarakatnya tidak seperti di negeri dongeng. Meskipun desa mereka terletak di kaki bukit Gunung Pinang, namun fasilitas dan sarana teknologi sudah menjangkau luas di wilayah itu. Mereka pergi ke kota industri untuk membeli barang-barang mewah yang dibutuhkan. Di rumah-rumah mereka banyak difasilitasi pendingin ruangan di musim panas, bahkan mereka saling bersaing untuk memiliki segala jenis kendaraan model terbaru,

Di masjid Darul Muttaqin, yang dibangun oleh seorang donatur dari Dubai, Arab Saudi, kadang berkumpul ratusan penduduk desa bersama para kasepuhan untuk mengadakan acara-acara tahlilan atau selamatan di hari-hari besar keagamaan. Tentu saja hidangan belum dibilang lengkap jika tidak ada rokok-rokok kretek yang dihisap oleh para hadirin, hingga asap-asap tebal membubung tinggi memenuhi ruangan masjid. Rokok seakan dapat melenturkan saraf-saraf mereka, serta membuat mereka menjadi rileks untuk saling bersenda gurau dan bertegur sapa.

Pawai akbar yang disertai iring-iringan panjang telah sampai di muka halaman masjid. Aroma masakan yang amat sedap menguar dari pintu dan jendela-jendela masjid. Wajah anak-anak kecil lembap dan berseri. Remah-remah kue bolu, apem, gembleng dan wajik-wajik melekat dalam sorotan mata mereka. Nasi-nasi tumpeng dan berbagai jenis asinan dan lauk pauk bertebaran di setiap sudut-sudut ruangan masjid.

Mereka mulai membentuk barisan, kemudian berkumpul di ruangan masjid yang cukup luas. Kegaduhan dan keramaian di ruangan membahana, sampai kemudian muncul suara dari salon-salon masjid, mengumumkan agar para hadirin bersikap tenang dan tidak membuat kegaduhan.

***

Sekitar tigaratus meter ke arah selatan masjid, terdapat sebuah pohon tua dan batu besar menjulang, yang di bawahnya terdapat sebuah gubuk berukuran 2×3 meter, dan terbuat dari papan kayu dengan beratapkan jerami. Secercah cahaya merembes dalam debu melalui celah-celah pada papan. Di pojok ruangan sempit itu, di dekat sebuah ember karatan, tegak sepasang tongkat pel yang bungkulnya sudah kaku, keras, dan berbau busuk. Lantainya dari tanah, agak lembap jika disentuh, yang semestinya layak dijadikan gudang tempat menyimpan barang-barang bekas.

Dari celah-celah papan yang kokoh itu, tampak seorang anak kecil yatim piatu, tengah duduk di gubuk sempit itu. Entah dia lelaki atau perempuan. Dia terlihat berusia sekitar lima tahun, meski usia sebenarnya sudah menginjak sembilan tahun. Tampaknya bocah itu mengidap keterbelakangan mental. Mungkin dia sudah cacat sejak lahir, atau boleh jadi semacam imbesil karena rasa takut, atau memang kekurangan gizi. Dia mengorek-ngorek hidungnya dengan jari telunjuknya, dan sesekali membenturkan kepalanya pada dinding kayu, sambil duduk membungkuk di pojok yang berseberangan dengan ember dan tongkat pel. Matanya mendelak-delik, dan sesekali melirik ke arah tongkat pel seperti ketakutan setengah mati.

Pintu gubuk itu digembok dari luar, tak seorang pun yang membukanya, kecuali seseorang yang diperintahkan Pak RT agar mengirimkan sepiring nasi dari celah papan di waktu sore. Di hari Jumat pagi, biasanya muncul dua orang yang masuk sambil membentak bocah itu agar berdiri. Seketika itu, mangkuk dan teko untuk minuman diisi kembali, sementara dari mulut bocah itu hanya mengeluarkan suara rengekan: “Eh… hee… eh… heee….”

Saking cekingnya bocah itu seperti tak memiliki betis lagi, bahkan pahanya juga tak berdaging. Sehari-hari makanannya hanya satu-dua suapan nasi yang disodorkan, hingga di sekitar bokongnya dipenuhi luka bernanah, karena seringkali ia duduk di atas kotorannya sendiri.

Para penduduk desa yang sedang merayakan Maulid Nabi, sebenarnya tahu tentang bocah itu. Sebagian dari mereka pernah datang menjenguknya, dan yang lain hanya sekadar ingin tahu saja. Namun, mereka seakan mengerti bahwa kebahagiaan perayaan mereka, keindahan desa mereka, kehangatan persahabatan mereka, keriangan anak-anak mereka, kecakapan para ustaz dan elit politik mereka, bahkan kelimpahan panen dan kemurahan cuaca pada langit mereka, bergantung sepenuhnya pada penderitaan bocah yang dijuluki “anak PKI” itu.

Orang-orang tak bergeming, seakan berpendapat bahwa tanpa adanya bocah itu, segala kemakmuran, keindahan, dan kesenangan yang ada di desa akan seketika redup dan musnah. Seakan begitulah sistem yang harus berlaku. Menukar seluruh kehidupan yang tentram dan sejahtera, sambil mengorbankan bocah kecil yatim piatu yang harus dikurung sepanjang hidup.

Mereka berpendapat, bahwa kemegahan rumah dan kemewahan kendaraan mereka, bahkan tingginya kedudukan jabatan mereka, hanya mungkin diwujudkan berkat adanya gubuk kayu beratapkan jerami itu. Suara-suara degung dari kendang, gong dan terompet, hanya mungkin bertalu-talu saat perayaan hari besar keagamaan, jika si bocah meneriakkan rengekan dan tangisan di dalam gubuk itu.

Hanya seorang penduduk desa bernama Hamdan yang merasa kasihan dan gusar dengan kondisi bocah itu, hingga di pagi buta sekitar Pk. 03.00 dini hari, ia mencoba mengendap-endap menuju gubuk, dan berencana mengeluarkannya. Dia berpikir, akan lebih baik jika bocah itu dibebaskan setelah bertahun-tahun mendekam, kemudian dimandikan, diberi makan, disekolahkan, atau dikirim ke yayasan anak-anak yatim piatu.

***

Ihwal kejadian longsor itu baru tersiar di layar-layar teve sekitar Pk. 06.00 pagi. Penduduk desa Waringin tak sempat menyelamatkan diri, ketika bongkahan-bongkahan batu besar turun dan menggelinding dari bukit Gunung Pinang, disertai air bah yang kotor bercampur lumpur berikut gelondongan kayu-kayu besar.

Banjir dan longsor itu menghantam bagian barat desa Waringin yang padat penduduk, serta menenggelamkan ratusan rumah-rumah dan menewaskan sekitar 112 penduduk desa.

Tak ada seorang pun yang selamat dari penduduk desa yang tinggal di bagian barat. Kecuali dua orang yang berada di sebuah gubuk kayu, serta dilindungi oleh sebongkah batu besar dan sebuah pohon tua yang akarnya menancap di kedalaman bumi. (*)

Oleh: Alim Witjaksono

Penulis adalah Prosaik dan pengamat sastra milenial, telah banyak menulis cerpen dan esai di berbagai media nasional dan daerah

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.