Kisah yang Sulit Diceritakan

oleh -1554 Dilihat
banner 468x60

Sulit bagi saya untuk mengurutkan satu bagian ke bagian lain tentang apa yang perlu saya ceritakan ini. Memang saya punya kisah menarik, tapi entahlah, bagaimana saya harus menjelaskannya untuk Anda. Kisahnya agak samar dan hampir terlupakan, tapi ada bagian-bagian penting yang saya masih ingat, meskipun sulit untuk ditelusuri dan diungkap secara berurutan.

Sebagai sopir dari seorang pengusaha kaya-raya di Jakarta, saya pernah bekerja untuk Pak Samsul selama hampir dua tahun. Kantor perusahaannya cukup megah, terletak di pinggir jalan protokol menuju pusat kota Tangerang Selatan.

Saya sendiri kurang mengamati, perusahaannya bergerak di bidang apa. Hanya lalu-lalang beberapa orang yang kadang menghampirinya di kantor berlantai 5 tersebut. Suatu hari, saya disuruh menjemput seorang wanita yang katanya sedang menunggu di depan sebuah minimarket di prapatan daerah Ciputut.

Saya tidak tahu siapa wanita cantik berambut pendek dengan dandanan yang menor dan seronok itu. Sesampainya di depan kantor, ternyata Pak Samsul sudah menunggu, dan segera masuk ke mobil sambil meletakkan tas koper berwarna hitam, yang entah apa isinya.

 “Yuk, kita berangkat ke arah Monas,” ajak Pak Samsul.

Siang itu, mobil meluncur ke arah Jakarta Pusat, masuk ke tempat parkir sebuah hotel mewah. Kemudian, kami menuju kolam renang untuk menemui dua lelaki berseragam anggota dewan, dan salah satunya sering saya lihat wajahnya nongol di layar teve.

“Dibawa semuanya, Pak?” tanya salah seorang dari mereka.

“Ya,” balas Pak Samsul sambil menyerahkan tas koper itu.

Lelaki yang agak pendek melirik ke arah si wanita, yang kemudian dibalasnya dengan senyuman. Satunya lagi membuka laptop, mereka saling membicarakan sesuatu sambil melihat angka-angka di depan layar.

”Anggaran buat orang-orang susah ini besar sekali, hampir duaratus milyar, ayo kita mainkan.”

Saya melihat mulut Pak Samsul komat-kamit seperti merapalkan mantra. Si wanita diajak masuk oleh seorang pesuruh berpakaian rapi yang datang dari pintu sebelah kiri. Dua lelaki itu saling tertawa, seiring deretan huruf dan angka-angka yang menjelma pada layar laptop.

Pak Samsul mengangguk dan saling bersitatap. Gambar lain kemudian muncul di layar laptop. Antara lain gedung sekolah yang ambruk, jembatan yang roboh, orang gila dan gelandangan di emperan toko, ibu-ibu kurus dan bayi berkepala besar dengan mata melotot, rumah sakit penuh sesak oleh para pasien.

Sepintas saya melihat lelaki yang agak tinggi melotot dengan sorot mata yang tajam. Bergerak gugup, lalu mengambil sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Di lantai empat hotel, tampak si wanita berdiri di atas balkon, dengan tubuh gemulai bersandar di dinding dekat jendela, dalam kegelapan yang menelan sebagian tubuhnya.

Satu jam kemudian, mereka tersenyum saling bersalaman. Kedua lelaki itu bergegas pergi ke lantai atas, kemudian saya bersama Pak Samsul meluncur kembali menuju kantor perusahaannya.

Barangkali itulah semua poin penting yang perlu saya utarakan. Meski banyak bagian yang mungkin terlewatkan karena keterbatasan saya dalam mengungkapkan cerita kepada Anda.

Saya masih ingat lelaki yang lebih tinggi, dengan wajah kusam dan tatapan garang. Yang pendek tampaknya agak pendiam, meski sesekali tersenyum namun sorot matanya begitu sunyi bagai lautan di malam hari. Kakinya mengenakan sepatu bermerk buatan luar negeri, yang mungkin harganya mencapai puluhan juta rupiah.

Menjelang menit-menit terakhir pertemuan mereka, suasana seakan senyap dan lengang. Si wanita cantik melongok sekali lagi dari balkon seakan ia mendambakan sebuah cinta. Tapi saya kurang tahu, apakah cinta seperti itu layak untuk menjadi inti dari sebuah cerita. Ataukah ending yang perlu saya kemukakan ketika mereka tertawa puas, sambil bergegas membawa tas koper dengan penuh kemenangan?

Entahlah, saya tak punya kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang terjadi saat itu. Barangkali si wanita sedang menunggu aksesoris dunia dan cinta yang dianggapnya menjanjikan keabadian. Tapi di sisi lain, terlintas dalam pikiran saya, seberapa lamakah mereka akan menikmati kesenangan itu, sampai kemudian menjerumuskan mereka ke dalam lubang-lubang yang telah mereka gali sendiri.

Bagian wanita yang sedang menunggu cinta kadang menyita seluruh cerita yang saya sampaikan. Barangkali lelaki yang lebih tinggi juga menarik dari sisi wajah dan sorotan matanya yang tajam. Tetapi, si pendek segera menunjukkan ending yang lebih nyata, terutama ketika keesokan harinya saya menyaksikan di layar teve, bahwa kap mobilnya hancur karena menabrak tiang listrik saat ia melarikan diri.

Jika saya mengerti keseluruhannya, mungkin saya bisa menyampaikannya secara berurutan kepada Anda. Tapi, beginilah adanya, dan seperti inilah hasilnya. Mungkin sebagian Anda masih sulit untuk memahami kisah ini. Jika saya mampu bercerita dengan baik, seperti tokoh Bi Marfuah dalam novel Perasaan Orang Banten, tentu banyak sekali kisah menarik yang ingin saya kemukakan.

Mengapa saya tidak memiliki cukup kata-kata untuk mengungkapkan hal-hal menarik dalam pikiran saya? Ya, sebenarnya banyak kisah unik yang ingin saya kemukakan, tapi saya merasa kesulitan untuk menceritakannya. ***

Oleh: Chudori Sukra

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), menulis esai dan prosa di berbagai media nasional, cetak dan online.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.