Ketakwaan

oleh -560 Dilihat
banner 468x60

Kebutuhan saya enggak begitu banyak, Tuhan, saya hanya menginginkan dia menelepon saya saat ini juga. Saya tak ingin meminta apa-apa dari-Mu, saya juga tak ingin menjadi hamba yang banyak menuntut dan mendesakkan keinginannya pada-Mu. Saya hanya ingin agar dia menelepon saat ini juga. Saya kira ini bukanlah permintaan yang muluk-muluk, juga bukan permintaan yang enggak realistis. Saya hanya ingin agar dia terketuk hatinya supaya menelepon saya saat ini juga. Tolonglah, Tuhan.

Kadang, ketika saya tidak terlalu merindukan dia, tahu-tahu ponsel ini berdering seketika. Tapi saat ini, begitu kuatnya ketergantungan saya padanya, begitu inginnya saya berada di sampingnya. Ah, kalau saja saya bisa memikirkan hal-hal lain selain dirinya, mungkin hati saya merasa bebas dan lapang, tetapi kenapa saat ini begitu kuatnya pengaruh dirinya, hingga membuat batin ini begitu tersiksa.

Oh Tuhan, dia berjanji mau menghubungi saya pada jam 06.00 pagi ini, sedangkan sekarang sudah menunjukkan jam 07.05. Sudah satu jam lebih saya menatap jam dinding. “Saya mau kontak kamu hari Kamis jam 06.00 pagi, Cantik.” Ya, dia menyebut kata “cantik” di akhir suaranya. Kalau tidak salah, kata “cantik” itu disebutnya sebanyak tiga kali ketika dia mengatakannya empat hari lalu. Kata “cantik” yang kedua, saya agak lupa, tetapi “cantik” yang pertama, kalau tidak salah, disandingkan dengan kata “apa kabar”. Ya, kalau tidak salah, “Apa kabar, Cantik”. Seperti itulah kira-kira. Waduh, indah sekali kata-kata itu terdengar di telinga, merdu sekali sanjungan itu terngiang dalam sanubari ini.

Saya tahu dia sedang sibuk dengan urusan pekerjaan di kantornya. Barangkali dia lupa akan janjinya. Barangkali ada jadwal dan agenda lain yang begitu penting, sehingga tidak sempat menghubungi saya. Tapi, kan, dia menyebut kata “cantik” sebanyak tiga kali? Apa salahnya kalau saya menelepon duluan? Ya, apa salahnya saya memencet nomornya saat ini juga. Tapi nanti dulu, seberapa pentingkah kata “cantik” itu diucapkan olehnya? Dia mengaku berasal dari Bandung, berarti etnis Sunda, karena itu saya perlu mencari-cari dulu di Google, seberapa pentingkah kata “cantik” itu diucapkan oleh seorang laki-laki Sunda.

Ah, rasanya dia tak keberatan, kalau saya yang menelepon duluan, walaupun saya seorang wanita yang berasal dari Bali. Tapi, apakah bedanya wanita Bali, Bandung, Solo, maupun Jakarta, jika mereka sedang ngebet dan kesengsem dengan laki-laki pujaannya? Ya, saya tahu, wanita tidak sepantasnya untuk menelepon laki-laki lebih dulu. Saya juga khawatir perasaan laki-laki yang merasa dirinya diteror jika dihubungi oleh perempuan duluan. Karena dengan begitu, dia akan merasa bahwa saya begitu memikirkannya, sehingga dia akan merasa diri saya terlalu ikut campur dalam urusan laki-laki.

Tapi, sudah empat hari ini saya tidak bicara dengan dia. Ah, rasanya lebih dari empat tahun, Tuhan. Saat ini, saya hanya ingin menanyakan kabarnya, mungkin hanya beberapa patah kata, atau mungkin sekitar tiga atau empat paragraf saja. Tetapi, betapa pentingnya empat paragraf itu dalam hati dan pikiran saya. Mungkin dia tidak keberatan kalau saya yang menghubungi duluan. Barangkali, dia tak merasa terganggu, atau dia akan mengatakan dengan suara merdunya, “Ah, tentu saja tidak mengganggu.”

Saya masih ingat beberapa minggu lalu ketika kami berjumpa, dan ia mengajak saya jalan-jalan keliling alun-alun kota dengan mobilnya, lalu mampir untuk makan siang di kios masakan Padang. Dia menanyakan pada saya, apakah tidak keberatan kita makan masakan Padang. Tentu saja saya merasa senang, sambil berbasa-basi bahwa selera masakan kita adalah sama.

Dia tersenyum saat itu, suatu senyuman yang menawan bagaikan sosok malaikat yang wujudnya tak pernah saya jumpai secara konkret. Tetapi, dia adalah laki-laki ganteng, tampan, dan baik hati. Tentu saja, dia adalah makhluk yang realistis, mewujud, dan terjamah oleh pandangan kasatmata kita. Bahkan, sentuhannya begitu mendebarkan kalbu dan jiwa kita.

Suatu kali dia melingkarkan tangannya ke pundak saya, ketika kami menyaksikan perlombaan pada acara peringatan hari kemerdekaan RI. Saat itu, tubuh saya seperti merinding hingga melayang jauh dan jauh, sambil menikmati eloknya pemandangan alam di sekeliling kota. Tak ada hari yang indah, seindah mendapat pujian dan sanjungan dari seorang lelaki pujaan hati. Tak ada waktu yang indah seindah saat-saat merasakan sentuhan darinya.

***

“Saya mau kontak kamu hari Kamis jam 06.00 pagi, Cantik.” Saya hafal betul kalimat itu, tanpa perlu saya catat dengan pena di atas kertas. Saat itu, tampaknya dia sedang sibuk, dikelilingi banyak perempuan dan laki-laki sepantarannya, tapi dia tak ragu-ragu menyebut saya “Cantik” di antara kerumunan para kolega atau para penggemarnya.

Oh Tuhan… saya menginginkan dia… saya mendambakan dia… saya berjanji akan menjadi wanita baik-baik jika dia menjadi bagian dari hidup saya… saya berjanji menjadi wanita solehah jika mendapat izin dari-Mu agar hidup bersamanya. Saya berjanji kepada-Mu, Tuhan, seandainya dia menelepon saya saat ini juga.

Jangan sampai doa saya ini dianggap remeh dan sepele. Jangan sampai permintaan saya ini tak terdengar oleh-Mu, Tuhan. Saya tahu Engkau begitu dekat dengan semua hamba-Mu, saya percaya firman-Mu dalam Alquran, bahwa Engkau Maha Dekat, bahkan lebih dekat dengan urat nadi dan leher.

Engkau tahu, betapa pedihnya siksaan dan penderitaan saya ini. Engkau tahu, betapa nikmatnya hidup ini jika wanita dapat dipersatukan dengan laki-laki pujaannya. Saya yakin dia pujaan hati saya yang sempurna, ya Tuhan, bukankah dia juga adalah makhluk ciptaan-Mu. Bukankah, ketika saya memuja ciptaan-Mu, berarti saya juga memuja Engkau sebagai Khaliq dan Penciptanya?

Ya Tuhan, apakah Engkau tetap duduk manis di atas singgasana, dikelilingi para malaikat dan bintang-bintang, sementara saya dibiarkan mengaduh dan meminta, tanpa mendapatkan sambutan dan perhatian-Mu? Padahal permintaan saya tidak muluk-muluk, ya Tuhan. Keinginan saya mungkin tak seberapa nilainya bagi-Mu. Saya toh tidak menghendaki gunung-gunung itu menjadi emas, atau lautan itu menjadi madu dan susu. Saya hanya ingin agar dia menelepon saya saat ini juga. Saya hanya ingin agar Engkau mengetuk hatinya, atau mengingatkan dia, jika memang dia lupa untuk menelepon saya saat ini.

Oh Tuhan, begitu pedih dan menderita saat-saat penantian ini. Engkau pernah mengatakan, “Mintalah kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan permintaanmu.” Tapi, mana buktinya, ya Tuhan, mana janji yang telah Kau katakan itu? Ini sudah lebih dari satu jam, dan dia tidak menelepon-nelpon juga. Sementara, saya ini bukanlah wanita tak senonoh, juga bukan tipe perempuan yang abai atau gampangan untuk melanggar segala perintah-Mu.

Saya yakin dia mencintai saya. Tidak mungkin dia memanggil tiga kali dengan sebutan “Cantik” jika dia tidak menyukai saya. Kalau dia memang suka pada saya, bahkan sedikit saja, tentu saya masih punya harapan untuk itu. Tetapi di sisi lain, apakah Tuhan tidak mencintai saya? Apakah Tuhan sedang benci pada saya? Kesalahan dan dosa besar apa yang telah saya lakukan hingga Tuhan membenci saya? Bukankah saya sudah berusaha, semampu saya, untuk mencintai-Mu, bahkan mencintai makhluk-makhluk ciptaan-Mu? Apakah saya ini pantas mendapat hukuman dari-Mu atas dosa dan kesalahan yang tak sengaja saya perbuat? Atau, justru saya tidak tahu sama sekali kalau perbuatan itu mengandung unsur dosa dan kesalahan? Lalu, mengapa belum juga Kau kabulkan permintaan saya ini? Hanya agar dia ingat dan terketuk hatinya untuk menghubungi saya saat ini?

***

Barangkali, saya tak pantas untuk bertingkah ceroboh seperti ini. Mungkin saja dia di perjalanan, karena ingin datang langsung ke sini, tanpa perlu menelepon dahulu. Kalau dia nongol di depan pintu, jangan-jangan merasa kesal karena melihat mata saya yang merah dan sembab, karena tak bisa tidur semalaman. Mungkin dia tipikal laki-laki yang enggak suka melihat wanita cengeng dan menangis. Tapi di sisi lain, kadang saya berharap agar dia yang menangis sesenggukan karena hatinya terluka oleh ulah dan perbuatan saya, sampai-sampai dia bertekuk lutut di hadapan saya.

Sepertinya dia tak bakal punya harapan yang sama ingin melukai hati saya. Mungkin dia tak sadar atau tak merasakan bagaimana terlukanya hati ini jika merindukan seorang kekasih pujaan hatinya. Ingin sekali saya mengungkapkan agar dia tahu perasaan saya yang sebenarnya. Laki-laki kadang tidak suka kalau wanitanya menangis karena merindukannya. Mereka tak suka diberi tahu kalau hati kita bersedih atau terluka. Kerena dengan begitu, dia akan mengira kita posesif dan membelenggu gerak-langkah mereka. Konsekuensinya, dia akan membenci kaum wanita jika mengatakan sejujurnya tentang suasana hati kita. Untuk itu, kita harus pintar-pintar bersandiwara di hadapan mereka.

Tapi pikir-pikir, apa perlunya bersandiwara di hadapan kaum lelaki. Bukankah, sebaiknya kita katakan saja terus terang tentang kondisi perasaan dan pikiran kita. Tapi ah, rasanya enggak perlu, dan sepertinya kita tak sanggup melakukan itu. Seandainya saat ini dia menelepon, tentu enggak mungkin saya katakan terus terang perihal kesedihan yang selama ini saya alami. Saya kira, semua laki-laki enggak suka melihat perempuan bersedih. Bagaimana pun, saya harus tetap berpenampilan menarik dan ceria di hadapannya, karena itu yang paling disukai olehnya. Oh, seandainya dia menelepon saat ini juga, oh….

Mungkin dia sedang menuju ke sini, atau mungkin ada sesuatu yang terjadi padanya. Tapi ah, tak mungkin ada sesuatu yang terjadi padanya. Tak mungkin ada mobil bus atau tronton melindas tubuhnya. Jangan sampai. Saya tak bisa membayangkan seandainya dia tewas lalu saya menemuinya tergolek bersimbah darah di tengah jalan raya. Ah, jangan sampai. Itu hanya pengandaian yang tega dan tak masuk akal. Sebab, kalau dia mati lalu menjadi milik saya satu-satunya. Apa jadinya nanti.

Sungguh ini harapan yang konyol. Ya, konyol sekali. Bagaimana mungkin saya tega menginginkan orang mampus hanya karena tidak sempat menelepon kekasihnya, meskipun dia sudah berjanji akan menelepon. Atau, jangan-jangan jam dinding di kamar ini kecepatan. Saya bahkan tidak sempat memeriksa apakah jarum jam ini benar ataukah ngawur, atau jangan-jangan ada cicak masuk dan menyelusup ke dalam, lalu mengecoh jalannya jarum jam ini.

Tapi, tentu banyak hal yang membuat seseorang bisa terlambat, misalnya macet di jalan, mobilnya mogok, atau ada keperluan keluarga karena bapaknya mati kesetrum listrik. Macam-macam alasan yang membuat orang bisa terlambat. Bisa juga karena lembur di kantornya. Ah, mungkin setelah lembur, dia akan segera ke serambi kantor dan bergegas memencet nomor ponsel saya. Atau, justru dia berharap agar saya menelepon duluan. Oh, tentu saya bisa melakukan itu, tentu saya bisa. Tapi masalahnya, apakah betul dugaan dan asumsi saya ini?

Tapi, oh Tuhan, bagaimana pun jangan sampai saya menelepon duluan. Tolong cegah saya agar jangan sampai menelepon duluan. Jika dia memang khawatir pada saya, tentu dia akan segera menghubungi saya di mana pun dan kapan pun. Pada saat berkendara, di tengah keramaian, atau bahkan dalam kondisi sesibuk apapun. Tolong sadarkan saya akan hal ini, Tuhan, mengapa Engkau berpangku tangan saja. Atau, apakah urusan-Mu sedemikian besar untuk mencipta dan mengatur alam semesta ini, sehingga urusan saya ini danggap kecil dan sepele.

Oh, Tuhan, bukankah Kau sendiri pernah menyatakan, bahwa ketika perkara kecil terselesaikan dengan baik, maka segala urusan besar akan terselesaikan juga. Tolonglah, segera urus masalah yang sederhana ini, Tuhan, tolonglah ketuk hatinya agar segera menelepon saya saat ini juga, oh Tuhan….

***

Ingin sekali saya tahu seberapa besar perhatian lelaki itu pada saya. Jangan membuat diri saya ini merana dan menderita. Jangan biarkan diri ini bertahan sedemikian teguh, mengendalikan diri sebegitu kuat, sampai-sampai hati dan jantung ini seakan remuk-redam, ya Tuhan….

Sebenarnya, mudah saja bagi saya untuk meneleponnya. Mungkin meneleponnya bukanlah hal yang bodoh dan memalukan. Mungkin dia menganggap wajar dan biasa saja, atau bahkan merasa senang jika ditelepon duluan. Atau, boleh jadi, sinyalnya sedang bermasalah, atau mungkin jaringannya yang terputus. Atau, boleh jadi ada operator seluler yang iseng dan berniat mengganggu hubungan cinta kami? Sungguh tindakan yang gegabah, bodoh dan dungu… kenapa harus sibuk ngurusin orang lain… urus tuh dirimu sendiri, bangsat!

Tapi ah, kepala saya bisa pecah memaki-maki orang yang gak jelas kesalahannya apa. Jaringan seluler bermasalah bukanlah perkara jarang, itu memang sering terjadi, di mana-mana, di negeri manapun. Untuk itu, lindungilah saya dari teknologi yang meninabobokan ini, Tuhan, jauhkanlah kami dari gangguan seluler yang tak terhubung, sehingga menghambat kontak antara dua kekasih yang boleh jadi akan menjadi jiwa-jiwa yang terpilih, oh Tuhan….

Di sisi lain, apa gunanya kepura-puraan itu? Apa gunanya saya mempertahankan harga diri, jika terus-menerus tersiksa seperti ini. Kadang, menjaga harga diri adalah perbuatan konyol yang merugikan dan menggerogoti hati kita. Bukankah, jika kita berlebihan menjaga harga diri adalah perbuatan sombong dan egois, dan bukankah kesombongan itu adalah perbuatan setan yang durhaka. Oh, saya ingin menelepon sekarang, Tuhan, saya tak ingin tergolong hamba-Mu yang sombong dan durhaka. Tolonglah, Tuhan, biarkan saya meneleponnya sekarang juga, tolonglah, Tuhan….

Ya, apa gunanya menjaga harga diri? Bukankah hal ini persoalan kecil dan sederhana, lalu apa hubungannya dengan menjaga harga diri? Boleh jadi, saya keliru dalam menafsirkan perkataannya. Sore itu dia mengatakan, “Saya mau kontak kamu hari Kamis jam 06.00 pagi, Cantik.” Apakah benar-benar seperti itu yang dia maksudkan sekitar empat hari lalu? Ataukah bahasanya itu mengandung kias atau metafora seperti yang diributkan oleh seniman Indonesia yang suka mendayu-dayu itu? Semakin mendayu-dayu bahasanya, malah semakin enggak jelas juntrungannya!

Ataukah yang dia maksudkan justru sebaliknya, “Kontak saya hari Kamis jam 06.00 pagi, Cantik.” Mungkin saja terdengar seperti itu lantaran banyak suara-suara orang yang berada di sekelilingnya. Oh, Tuhan… jeleskan saya, terangkan bahasa yang benar… terangkan juga penafsiran yang sesungguhnya, Tuhan….

Kalau saja saya bisa duduk tenang. Kalau saja saya bisa mengerjakan hal-hal lain selain memikirkan dirinya. Atau, kalau saja saya bisa membaca buku atau novel-novel Indonesia. Tapi, ah, bukankah ribuan dan jutaan buku di dunia ini kebanyakan menceritakan soal cinta, atau hubungan cinta antara sang kekasih bersama pasangan yang dicintainya? Betapa banyak buku bercerita tentang cinta yang suci dan kudus. Betapa banyak buku mengajarkan manusia agar saling mencinta dengan penuh ketulusan? Apakah itu fakta atau hanya fiksi? Adakah sesuatu yang disebut cinta yang tulus itu? Ah, jangan-jangan hal tersebut hanyalah bualan omong kosong belaka….

Sekarang saya merasa lelah, capek, dan saya akan diam saja di sini. Sepertinya, tak ada yang perlu dipersoalkan, apalagi dirisaukan. Sebab, kalau saja dia bukan laki-laki yang saya kenal, mungkin enggak bakal dia menjadi pujaan hati saya. Atau, seandainya dia hanya sahabat saya, mudah saja saya teriak lewat ponsel: “Hey, ke mana aja kamu? Tumben, gak nelpon-nelpon?” Itu yang akan saya lakukan, dan saya enggak mungkin capek-capek berpikir, menghayal, dan ngelantur seperti ini.

Kenapa saya enggak bisa berbuat santai dan rileks pada seseorang, hanya karena saya merasa jatuh cinta kepadanya? Padahal, seharusnya saya bisa, seharusnya saya bisa memperlakukan siapa saja, dan sama saja pada semua laki-laki. Kenapa harus dibeda-bedakan. Sungguh, enggak masuk di akal. Tapi ah, saya enggak mau… saya enggak bakal mau menelepon duluan. Jangan biarkan saya menelepon duluan, ya Tuhan, jangan, jangan, jangan….

Saya akan tetap diam di sini. Saya enggak mau putus asa menunggu rahmat-Mu, Tuhan, saya tetap berharap pada janji-Mu Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Mengapa Kau biarkan dia lupa untuk menghubungi saya? Mengapa Kau tidak mengetuk hatinya agar tergerak dan segera menelepon saya, saat ini juga, detik ini juga.

Tidak bisakah Kau mengabulkan permintaan saya sekarang ini? Bukankah permintaan saya enggak muluk-muluk amat, Tuhan, saya hanya membutuhkan dia agar menelepon segera, itu saja. Saya ingin saat ini, sekarang ini juga. Akan saya hitung sebanyak 10 kali dalam hitungan mundur, jika Kau tidak mau meninggalkan hamba-Mu yang lemah dan hina dina ini.

Sepuluh… sembilan… delapan….

Sebelum hitungan ketujuh, saya melihat seekor kucing belang tergolek di depan pintu kamar, tetapi saya biarkan kucing itu tidur dengan nyaman, dan saya tidak akan menendangnya karena rasa kesal dan jengkel.

Tujuh… enam… lima… empat….

Sebelum hitungan ketiga, saya menuju dapur dan menyodorkan seiris daging ikan untuk kucing belang itu.

Tiga… dua… sa…. ***

Oleh: Pujiah Lestari

Penulis adalah Prosais generasi milenial, juga pegiat Gerakan Membangun Nurani Bangsa.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.