Ihwal Yayasan Misterius

oleh -1085 Dilihat
banner 468x60

Saya turun dari kendaraan persis di depan pintu gerbang Yayasan Pendidikan Al-Kudus, lalu melangkah pelan-pelan menuju kediaman Pak Hermawan selaku pemimpin yayasan tersebut. Dua orang pemuda berseragam loreng, berdiri menyambut saya di depan pintu pos penjaga.

Saya menjelaskan, sudah ada janji dengan sekretaris yayasan, bahwa hari itu akan mengadakan serangkaian wawancara khusus mengenai keberhasilan Pak Hermawan dalam memimpin yayasan. Setidaknya, itulah yang sering diberitakan koran-koran lokal selama ini.

“Maaf, apakah Mas belum diberitahu tentang rencana saya mengadakan wawancara dengan Pak Hermawan?” tanya saya sambil mengernyitkan dahi.

Belum sempat mereka menjawab tiba-tiba muncul sedan mewah, dan keluarlah seorang lelaki dari pintu depan, yang langsung memperkenalkan diri,

“Saya Indra, salah seorang sekretaris yayasan Al-Kudus.” Ia melihat ID Card dan kamera tergantung di leher saya, “Bapak dipersilakan menemui Pak Hermawan di halaman rumah beliau.”

Ternyata, lelaki itu bukan bermaksud mengantar saya menemui Pak Hermawan, tetapi segera masuk kembali ke mobilnya, lalu meluncur cepat keluar dari pintu gerbang. Salah seorang dari dua pemuda itu menunjukkan arah ke rumah ketua yayasan, “Bapak jalan lurus melalui kebun sawit itu, kemudian belok ke kanan, dan dari situ sudah kelihatan rumah beliau.”

Saya melangkah menyusuri jalan beraspal yang dikelilingi kebun sawit, dan setelah menempuh perjalanan sekitar 200 meter, saya berbelok ke kanan dan menemui koridor yang diapit oleh dua gedung tinggi. Di situ saya berjumpa seorang ibu yang sedang berjalan seraya tangannya menunjuk dan memberitahu kediaman Pak Hermawan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sesampai di halaman rumah, saya merasa bingung mengapa tak seorang pun datang untuk menyambut kehadiran saya.

Seketika saya mengetuk pintu dan mengucap salam, namun suara ketukan itu terdengar bergema di mana-mana, hingga membuat bulu kuduk merinding. Saya berbalik sesaat, dan hendak meninggalkan tempat itu, tetapi kaki ini sepertinya sulit untuk melangkah.

“Wa’alaikum salam, silakan masuk,” terdengar suara perempuan dari dalam. Nada suara itu agak samar, lirih, namun menembus di genderang telinga saya. Setelah membuka pintu, tampak seorang nenek tua gemuk menyambut saya. Wajahnya dipenuhi bintik-bintik hitam di sekitar pipi dan dahinya. Ia mengenakan kerudung dengan kacamata tebal bergelayut di pipinya.

“Maaf, Pak Hermawannya ada, Nek?” tanya saya kemudian.

“Aah buat apa kamu datang ke sini, buang-buang waktu saja!” bentak si Nenek. Wajahnya tampak aneh, sama anehnya dengan cara bicaranya. Kulit yang menggelambir di lehernya, tampak seperti balon yang kembang-kempis. “Mau cari apa kamu ke sini, Nak?” tanyanya kemudian.

“Saya mau wawancara dengan ketua yayasan, apakah Pak Hermawan ada?” Dia menatap tajam ke arah saya, membuat badan saya semakin bergidik. Sebenarnya, saya tidak ada hasrat untuk mewawancarai ketua yayasan Al-Kudus, apalagi soal kinerjanya yang selalu dibesar-besarkan media lokal. Tetapi, ketika mendengar kabar dari seseorang yang katanya ada ruang isolasi khusus di sekitar bangunan rumah ketua yayasan, saya tertarik juga untuk menyelidiki kebenarannya.

“Benar kamu mau mewawancarai Pak Hermawan?” tanya nenek itu sekali lagi.
“Iya, Nek, saya sudah ada janji.”

Nenek tua itu memberi isyarat. Melewati pintu masuk menuju ke ruang tengah, kemudian melalui koridor kiri dengan sinar lampu remang. Kami pun terus melangkah menyusuri cahaya lampu yang remang-remang itu. “Terus ikuti saya,” kata nenek tua itu. Kami menempuh sekitar 50 meter untuk sampai di persimpangan koridor.

Kali ini dia melangkah ke lorong kanan, lalu mengambil langkah ke kiri lagi. Pikiran saya agak kalut karena merasa aneh. Bagaimana mungkin sebuah tempat tinggal, seakan memiliki lorong labirin yang sangat panjang dan berkelok-kelok seperti ini? Ingin sekali saya tanyakan soal itu kepada si nenek, tetapi saya tak mampu membuka mulut, karena khawatir mendapat bentakan lagi.

Akhirnya, perjalanan labirin berakhir pada pintu baja besar. Sebuah papan menggantung pada pintu itu bertuliskan

“Ruang Rehabilitasi”. Nenek tua itu mengeluarkan logam cincin besar yang penuh anak kunci bergemerincing dari dalam sakunya, lalu mengambil salah satu yang bentuknya agak langka. Dia memasukkannya ke dalam lubang kunci, menatap saya sepintas, dengan penglihatan yang mengandung teka-teki. Pintu baja itu terbuka, dengan deritan panjang dan memilukan.

“Baik, sekarang kamu sudah sampai, masuklah,” katanya sambil menjongokkan kepalanya.

“Ke dalam?” tanya saya.

“Mau ke mana lagi?” katanya dengan nada jengkel.

“Tapi di sini gelap sekali, Nek?” protes saya sambil menatap ke bagian dalam, seakan ditenggelamkan ke dalam liang kubur.

“Apakah kamu termasuk wartawan yang suka mengutak-atik masalah sepele, untuk dibesar-besarkan?” tanya si nenek dengan mata melotot.

“Bukan, Nek, saya bukan tipikal wartawan seperti itu. Kalau saya berwatak seperti itu, mana saya berani datang ke sini untuk mewawancarai Pak Hermawan?”

“Dasar, pembohong!” bentak si nenek lagi. “Saya tidak suka dengan orang yang suka mendramatisir masalah yang sebenarnya tak pantas dipersoalkan. Bagi saya, orang semacam itu adalah sampah!”

“Tolonglah, Nek, saya bukan tipikal wartawan seperti itu. Saya hanya mau mewawancarai Pak ketua yayasan, dan menampilkannya di koran beberapa hari kemudian…”

“Setelah dipermak dan ditambah-tambah?”
“Saya tidak akan menambah-nambah, Nek… maksud saya, kalaupun ada yang ditambahkan, saya tetap tidak akan keluar dari substansi masalahnya.”

“Omong kosong!” teriaknya sekali lagi.
Kami saling diam membisu. Ingin sekali meronta dan memaksakan diri kabur dari tempat itu, tetapi saya merasa ada sesuatu yang mengikat di sekujur tubuh, dan tak dapat berbuat apa-apa.

“Ada tangga setelah kamu memasuki pintu itu, lalu kamu harus berpegangan pada pagar pembatas supaya enggak jatuh, paham?”

“Iya, Nek,” kata saya mengangguk.
Saya pun melangkah sendirian menuju pintu angker itu, merayap sepanjang jalan. Ketika nenek tua itu menutup pintunya kembali, suasana menjadi gelap gulita. “Nek!” teriak saya, “kenapa pintunya ditutup?”

“Diam! Itu aturan di sini! Ruangan ini harus dikunci, dan tak ada seorang pun yang bisa membukanya kecuali saya dan anak saya, Hermawan!”

Saya menghela napas dengan pandangan menerawang. Baru kali itu, saya tahu, kalau nenek tua berusia sekitar 80-an itu, ternyata ibu dari pemimpin yayasan pendidikan Al-Kudus.


Saya mulai menuruni tangga yang cukup panjang. Pegangan pagar pembatas terasa lekat dengan karat. Tidak ada titik cahaya dari arah manapun. Setelah sampai di anak tangga terakhir, saya melihat secercah cahaya nun jauh di kegelapan, sebentuk cahaya lemah, tapi masih cukup kuat untuk membuat mata sakit setelah berada dalam kegelapan yang panjang. Beberapa orang mendekati saya dari sebuah ruangan. Mereka pada umumnya berbadan kurus, dengan mengenakan kaos lusuh bergambar sebuah logo partai politik. Kaos itu cocok dengan warna kulit mereka yang hitam dan dekil. Mereka menatap mata saya erat-erat, kemudian salah seorang angkat bicara, “Apakah benar kamu seorang wartawan?”

“Ya,” kata saya mengangguk.
“Lokal atau nasional?”
“Lokal,” jawab saya singkat.
“Jadi, benar kamu datang ke sini mau mewawancarai Pak Hermawan?”
“Ya,” kata saya agak ragu.

Ada yang aneh dengan nada bicara lelaki itu. Saya bahkan menemukan diri terheran-heran, hingga kehilangan kata-kata. Lalu, muncullah dua orang bertubuh kekar yang barangkali adalah petugas. Mereka menggiring saya menuju sebuah lorong sempit, lalu salah seorang berkata tegas, “Ya, sekarang sudah sampai.”

“Lho? Saya mau mewawancarai Pak Hermawan, kenapa saya dibawa ke dalam kerangkeng seperti ini?” mata saya terbelalak kaget.

“Kami hanya menuruti perintah, pokoknya kamu sudah sampai di sini.”
“Bagaimana mungkin saya…”

“Diam, bangsat!” bentak petugas di sebelahnya sambil menarik pentungan yang bertengger di pinggang, hendak dipukulkannya ke tubuh saya. Maka, saya pun melompat ke belakang untuk segera menghindar.

Tak berapa lama, si nenek tua tiba-tiba muncul di depan mata, sambil menyeringai memperlihatkan gigi emasnya.

“Sekarang ringkus dia, dan lempar ke dalam sel!” kata si nenek tua seraya ngeloyor pergi. Seketika saya digelandang oleh kedua petugas bertubuh kekar itu. Saya dimasukkan ke dalam sel berjeruji besi yang amat kokoh. Di dalamnya terdapat enam orang lelaki menyorot tajam ke mata saya.

“Saya enggak suka melakukan ini, tapi karena ini perintah mereka, terpaksa saya harus lakukan.”

Saya pun tak merasa perlu untuk bertanya lagi, siapakah yang dimaksudkan dengan “mereka” itu.


Di dalam sel itu terdapat tempat tidur sederhana, sebuah meja, wastafel, dan toilet terbuka. Sebuah sikat gigi dan cangkir diletakkan di samping wastafel yang sudah kotor berjamur. Enam orang itu tak berkata apa-apa, hanya terdengar bisikan lirih yang keluar dari mulut-mulut mereka.

Mereka terus mengamati saya dan berkumpul di sudut kanan ruang sel. Saya duduk-duduk di atas tempat tidur, sambil bertanya dalam hati, mengapa semua ini harus menimpa diri saya? Apa salah saya? Yang ingin saya lakukan hanya mewawancarai Pak Hermawan selaku ketua yayasan, dan menayangkannya untuk harian lokal, tapi kenapa harus seperti ini akibatnya?

“Jangan terlalu dipikirkan,” kata salah seorang dari keenam penghuni sel itu, “mereka akan membawakanmu makan tiga kali sehari, ditambah dengan berbagai cemilan di waktu siang dan malam hari.”
“Tapi kenapa saya harus dimasukkan ke dalam sel, apa salah saya?”

“Bukankah Mas seorang wartawan?” tanya salah seorang dari mereka.

“Ya, tapi apa masalahnya dengan wartawan?”

“Justru karena Mas ingin tahu urusan orang,” kata yang lainnya.

“Bukankah wawancara itu memang soal membuka urusan orang?” tanya saya lagi.
“Ya, benar, tapi Pak Hermawan tidak suka urusannya dibuka-buka.”

“Bukankah dia seorang pemimpin yayasan pendidikan, yang perlu membuka diri?”
“Ya, tapi membuka masalah dengan membuka aib, itu dua hal yang berbeda.”
“Tapi, bukankah kebenaran itu perlu disampaikan, biarpun terasa pahit?”
“Ya, benar, tapi saya kira Pak Hermawan hanya menyukai yang manis-manis,” celetuk yang lainnya sambil tersenyum.
Kami pun terdiam dalam waktu yang cukup lama, kemudian tanya saya dengan suara pelan, “Berapa lama mereka akan mengurung saya di tempat ini?”

“Mungkin seminggu, sebulan, atau seumur hidup…”

“Seumur hidup?”

“Ya, ini teman di samping saya sudah dikurung sejak tahun 2010 lalu, dan belum juga ada tanda-tanda mau keluar,” ia menunjuk teman di sebelahnya.
“Apa kesalahan kamu?” tanya saya pada temannya itu.

“Pecandu narkoba,” jawabnya singkat.
“Kenapa hanya seorang pecandu, sampai dikurung selama sepuluh tahun lebih?” tanya saya lagi.

“Karena saya dipekerjakan juga,” ujarnya.
“Di mana?”

“Di kebun kelapa sawit.”
“Diberi upah?”

“Diberi pelatihan untuk mengolah sawit menjadi minyak goreng.”

Baru kali itu saya memahami, bahwa yang dimaksud dengan kata “pendidikan” di yayasan tersebut, adalah diberi bekal pelatihan agar kelak bisa bekerja di pabrik pengolahan kelapa sawit.


Baru tiga hari saya mengalami kejemuan dan kebosanan di tempat itu. Menu makanan yang disediakan memang memenuhi gizi, bahkan disertai tambahan snack dan buah-buahan. Tetapi, tentu saja saya merasa sumpek dan gerah jika harus disatukan dengan enam tahanan dalam ruangan tertutup berjeruji besi.

Seminggu kemudian, saya berbisik-bisik dengan seorang penghuni yang agak aktif diajak bicara, apakah ada teman yang bisa diajak membantu saya agar keluar dari tempat itu.

“Kenapa kamu ingin keluar,” tanyanya kemudian.

“Karena saya harus kerja di kantor redaksi, dan melaporkan hasil liputan saya. Apakah kamu bisa membantu saya?”

“Tidak bisa,” katanya sambil menggeleng. “Kalau saya menemani kamu keluar dari tempat ini, mereka akan mengejar saya dan memasukkan saya ke ruang isolasi.”

“Ruang isolasi? Bukankah ini ruang isolasi?”

“Bukan. Mereka punya tempat khusus di sebelah selatan yang lebih tersembunyi,” katanya sambil menunjuk ke arah selatan.
Pada hari Minggu, kami mendapat hidangan makanan yang cukup lezat. Terdapat sup kambing dan sate ayam, berikut lalap emping dengan minuman juice mangga dan melon. Yang mengantarkan hidangan itu adalah dua gadis cantik sambil mendorong dua kereta makanan. Dua gadis itu mengenakan hijab berwarna ping, dengan baju gamis yang rapi namun agak transparan.

Setelah menyodorkan nampan terakhir, kedua gadis itu tersenyum dan wajahnya bersinar seakan terpancar terang bagaikan embun tipis di pagi hari.

“Kenapa mereka tidak bicara sama sekali?” tanya saya pada seorang tahanan.

“Mereka tidak punya pita suara,” ujar yang lain.

“Kenapa?”

“Mereka telah mengoperasi pita suaranya sejak masih kecil.”

Saya menengadah dan menarik nafas panjang. Keduanya membuka pintu dan meninggalkan ruangan, mendorong kereta makanan dan menjauh dari ruang sel. Gerakannya cepat dan ringan seperti angin sepoi-sepoi. Kini, saya harus memutuskan hal terbaik yang bisa dilakukan di tempat itu. Saya diperbolehkan membaca kitab suci Alquran berikut terjemahannya. Di saat suntuk, saya menuruti beberapa teman yang mengajak main catur atau gaplek. Kadang saya berpikir, kalau saya ingin menemukan cara untuk melarikan diri, pertama saya harus memberikan kendali penuh pada para penjaga, dan berpura-pura menuruti perintah mereka.
Hari Minggu sore, sekitar jam lima, si nenek tua muncul sambil membawa dua kaleng biskuit yang dibawa dengan tas plastik. Kemudian, saya tanyakan padanya tentang dua gadis cantik yang mengirim makanan siang tadi.

“Apa?” katanya dengan mata terbelalak, “Dua cewek yang mana? Kami hanya mempekerjakan petugas laki-laki. Tidak ada petugas wanita di sini.”

“Dua perempuan yang membawa kereta makanan siang tadi?” kata saya menegaskan.

“Kamu itu orang aneh. Mana ada perampuan cantik datang ke tempat semacam ini,” katanya sambil menaruh tas plastik dan ngeloyor pergi.

Seminggu kemudian, dua gadis misterius itu muncul lagi bersama kereta makanannya. Menu kali ini adalah ayam goreng dan pecel lele, berikut lalapan, sayur-mayur dan buah-buahan.

“Maaf, boleh saya tanya, siapakah kalian ini sebenarnya?”

Salah seorang dari mereka bicara dengan menggunakan bahasa isyarat, yang artinya “aku adalah aku” itu saja.

“Tapi nenek tua itu mengatakan bahwa kalian itu tidak ada.”

Saya minta salah seorang tahanan menerjemahkan kata-kata gadis itu: “Nenek itu hidup dalam dunianya sendiri. Kami pun hidup dalam dunia kami sendiri. Kamu juga sebagai wartawan yang berada di luar lingkungan yayasan, memliki dunia tersendiri. Karena itu, ketika hidup saya tak tampak di mata kalian, bukan berarti saya tidak ada.”

“Tapi apakah kalian adalah bagian dari yayasan pendidikan di sini?” tanya saya kemudian.

“Tentu saja kami adalah bagian dari wanita yang harus melayani Pak Hermawan.”
“Maksudnya?”

Saya terhenyak dan berhenti bicara. Setelah mereka menyediakan makanan untuk para penghuni sel, saya mengajak keduanya untuk berbincang lebih jauh di salah satu sudut ruangan.

“Saya berencana untuk melarikan diri dari tempat ini. Apakah kalian tidak ingin keluar dari tempat yang sumpek ini?”

Salah seorang dari mereka menjawab dengan bahasa isyarat: “Kalau ada laki-laki yang membawa saya keluar, saya pasti mau.”

“Siapa nama Mbak,” tanya saya pada gadis pemberani itu.
“Sarah.”

“Serius, Mbak Sarah mau keluar dari sini?”
Dia pun mengangguk senang, sambil memberi senyuman cerah. Namun, gadis yang satu lagi sepertinya menolak, dan tak memberi komentar apapun.


Malam yang sudah dijanjikan, Sarah muncul. Teman-teman tahanan lain sedang tertidur lelap. “Ayo, kita berangkat sekarang,” kata saya sambil berbisik pelan.
Sarah menyanggupi dan membuka ruang sel. Dia melangkah di samping saya. “Ayo jalan cepat, sebab kalau mereka sampai menemukan saya, bisa-bisa saya dikurung di ruang isolasi.”

Kami keluar kamar dan berangkat menyusuri koridor gelap. Saya bertelanjang kaki karena meninggalkan sepatu di dalam sel. Saya baru teringat bahwa kamera juga belum sempat saya bawa. Saya hendak berbalik menuju sel, tetapi Sarah kontan melarang saya.
“Sudahlah, lupakan kamera dan sepatu itu… yang penting kita selamat,” kata Sarah meyakinkan.

“Okelah kalau begitu,” kata saya, dan terus melangkah dengan cepat.

“Sst, sekarang malam bulan purnama, saya yakin nenek tua itu sedang tertidur pulas,” kata Sarah. Saya pun semakin akrab memahami bahasa isyarat.

“Apa yang kamu takuti dari nenek tua itu?” tanya saya kemudian.

“Tanpa pandang bulu, korbannya lelaki atau perempuan, dia akan menghajar tubuh kami keras-keras dengan pentungan.”

“Apakah pentungannya itu memiliki kesaktian?”

“Ah, saya kurang tahu. Barangkali iya.”
Kami berjalan sedikit lebih jauh menuruni koridor tanpa berbicara. Kami menaiki tangga yang terasa dingin dan licin. Batu di bagian depan anak tangga terdapat bekas tapak kaki akibat sering dipijak. Akhirnya, kami mencapai puncak anak tangga dan berlari mendekati pintu gerbang.

“Kita harus melangkah pelan-pelan. Jangan sampai nenek tua itu bangun,” kata Sarah memperingatkan.

“Ya,” jawab saya.

Dia memasukkan kunci gerbang dan memutarnya ke kiri. Ada bunyi “ceklik” yang agak keras, dan pintu terbuka dengan deritan panjang. Melihat kecemasannya, membuat perasaan saya agak gelisah. Setelah melewati kebun sawit sepanjang 200 meter, kami sudah mencapai pintu terakhir ketika matahari mulai terbit. Saat menjangkau pintu gerbang itu, muncullah si nenek tua bersama empat kaki-tangannya keluar dari pos penjagaan.

“Kami sudah menunggu dan menunggu,” kata nenek tua dengan senyum menyeringai. “Apa yang membuat kalian begitu keras kepala, heh?”

“Maafkan kami, Nek,” kata Sarah mengaduh,” biarlah saya akan ceritakan semuanya…”

“Diam, tolol! Percuma saja kamu ceritakan, tak ada gunanya!”

Dia menarik pentungan dari meja yang terletak di dalam pos penjagaan. Suasana jadi semakin mencekam. “Sekarang, sudah waktunya kalian harus menjadi penghuni sel isolasi, mengerti?” teriak nenek tua.
“Kenapa Nenek tidak tertidur saat bulan purnama?” balas Sarah tergagap.

“Hahaha, kamu memang kurang ajar, perempuan bisu sontoloyo! Saya tidak tahu dari mana kamu dapat informasi mengenai bulan purnama itu? Tapi ketahuilah, bahwa saya mudah mengendus kalian, dan tidak bakal tertipu! Saya bisa membaca pikiran kalian, semudah mengupas mangga di siang bolong!”

Suasana begitu tegang. Sarah berlindung di belakang saya, terlihat gemetar dari kepala sampai kaki. Saya berbalik ke belakang, memberi isyarat lewat tatapan mata agar dia berlari sekencang-kencangnya. Maka setelah saya menghitung dengan jari, dalam hitungan ketiga, kami pun melompat keluar pintu gerbang lalu berlari sambil berteriak minta tolong sekeras-kerasnya.

Kami berbelok ke kiri menyusuri kebun kelapa sawit, mengambil arah ke tengah rerimbunan pohon, hingga mereka pun turun dari mobil dan memulai pengejaran. Kami berlari kencang menuju taman kota, sambil berlindung di balik bangunan tua tak berpenghuni. Sambil mengendap-endap, kami menuju sebuah toko sembako di perempatan jalan, dan pemilik toko tersebut berbaik hati melindungi kami, hingga para petugas yayasan itu kehilangan jejak-jejak kami berdua.

Keesokan harinya, saya mengajak Sarah menuju kantor redaksi. Para wartawan kemudian terperangah mendengar pengakuan Sarah yang selama ini bertugas “melayani” Pak Hermawan selama belasan tahun di yayasan tersebut. Ternyata, yayasan yang dinamakan Al-Kudus itu bukanlah lembaga pendidikan untuk mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa. Tujuh korban lainnya telah memberikan kesaksian serupa di hadapan Komnas Perempuan, bahwa selama ini mereka pun terkena imbas dari perlakuan sang ketua yayasan dalam melampiaskan nafsu birahinya.

Puluhan aparat kepolisian dikerahkan untuk menyisir lokasi, sambil menangkap dan meringkus sang ketua yayasan yang telah terbukti melakukan pencabulan dan pemerkosaan terhadap belasan anak-anak asuhnya. (*)

Oleh: Alim Witjaksono,
Cerpenis adalah pengamat sosial dan kritikus sastra milenial Indonesia, menulis cerpen di berbagai media luring dan daring.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.