Hari-Hari dalam Kehidupan Eksil

oleh -726 Dilihat
banner 468x60

Tersiarnya kabar mengenai perlakuan para petinggi militer Orde Baru yang menganiaya para tahanan politik, membuat saya akhirnya hengkang meninggalkan tanah air pada awal tahun 1966. Ayah saya yang pernah bertugas selama beberapa tahun di kedutaan besar Prancis, menganjurkan agar saya membawa serta istri, Lola Amelia, yang baru saya nikahi empat bulan lalu, dan saat itu sedang mengandung jabang bayi yang baru berusia dua bulan.

Sebuah pesawat membawa kami ke bandara Charles de Gaulle, dikawal oleh dua petugas dari kedutaan, yang kemudian disambut hangat oleh seorang petugas berdarah Prancis di pintu bandara. Mereka saling bercakap-cakap dalam bahasa Prancis. Tak berapa lama, muncullah mobil sedan yang barangkali utusan dari pemerintah setempat, lalu saya bersama Lola diperintahkan masuk ditemani seorang berkebangsaan Prancis yang fasih berbahasa Indonesia, meskipun dengan logat yang agak terbata-bata.

Dalam perjalanan panjang selama hampir tiga jam, saya menyadari posisi saya dan istri sebagai eksil, atau pelarian politik yang butuh perlindungan dari ancaman rezim dan penguasa baru yang otoriter, dan hendak menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Orang Prancis yang mengawal itu sudah tahu nama kami, dan dia memperkenalkan dirinya sebagai “Frederich”.

“Apakah kamu seorang komunis?” tiba-tiba ia bertanya dengan rileks setelah kami memasuki mobil sedan. Lola menatap saya dengan pandangan berkaca-kaca, kemudian saya pun menjawab, “Negara saya dikuasai oleh militer, dan keluarga kami memang pendukung partai yang memihak pemerintahan Soekarno.”

“Partai apakah itu?” tanya Frederich lagi. “Apakah itu partainya Soekarno?”

Saya menghela nafas dalam-dalam, lalu jawab saya, “Bukan, itu bukan partainya Soekarno, tapi partai yang dianggap memihak Soekarno.”

“Kenapa?”

Lola menyenggol lengan saya, seakan mengisyaratkan agar jangan bicara terlalu banyak. Mobil berbelok ke arah kiri, memasuki suatu wilayah yang sepi dan agak terpencil. Saya masih ingat kata-kata Frederich sebelum mobil sampai ke tempat tujuan, “Saya kira, pemerintahan militer nanti akan memusuhi semua partai yang mendukung presiden Soekarno.”

Saya tidak menjawab. Hanya memandang wajah Frederich dengan pandangan terkesima, sambil diliputi pikiran yang penuh tanda-tanya.

***

Sekarang mobil telah sampai tujuan. Seseorang keluar dari bangunan rumah sederhana, menyambut kami dan berbincang-bincang dengan Frederich dalam waktu yang cukup lama. Suasana begitu lengang. Frederich memerintahkan petugas itu agar mengeluarkan koper dari mobil, kemudian menenangkan kami sebelum berpisah. Ia kembali menaiki mobil, dan suasana kembali lengang.

Petugas baru itu mengarahkan kami agar masuk ke suatu rumah yang nyaman dan sederhana, dan saya merasa lega karena ia cukup fasih bicara dalam bahasa Inggris. Ia menyatakan bahwa di situlah tempat tinggal kami, dan dapat dikatakan dunia baru kami. Sesuatu yang tiba-tiba harus diterima apa adanya, sebagaimana kita semua dilahirkan dari orang tua tanpa pernah memilih dari siapa, kapan dan di mana kita harus lahir di muka bumi ini.

Kini, dunia kami terbagi atas dua bagian. Bagian yang satu terletak di kampung halaman di daerah Menteng, Jakarta, sementara yang satunya terletak di kota kecil bernama Usella di pedalaman Prancis ini.

Rumah kami agak memojok. Di sebelah kiri berderet beberapa rumah dengan tipe yang sama. Orang pertama yang saya kenal di lingkungan itu adalah Andre. Ia adalah tetangga kanan kami, bersama para tetangga lainnya yang berjelujur ke sebelah kanan. Pertama kali saya bertemu dengan Andre di serambi rumah. Kalau tidak salah, sekitar bulan Mei atau Juni, saya sudah lupa.

Di belakang kiri rumah ada tanggul yang membatasi sungai. Ada jalan sempit melewati padang rumput dan pertanian. Di sebelahnya ada parit yang airnya jernih mengalir. Lola mengatakan bahwa dirinya tak terbiasa dengan pemandangan semacam itu. Segala sesuatu yang dilihatnya terasa aneh dalam tatapannya. Padang rumput yang hijau dengan beberapa traktor dan alat berat. Tumpukan jerami yang ditutupi plastik hitam. Sapi-sapi yang tengah merumput. Tanggul yang tampak kokoh mengitari parit, serta beberapa keluarga yang mengajak anjing mereka jalan-jalan.

Sewaktu saya ingin melihat-lihat halaman belakang, petugas baru itu membukakan pintu belakang untuk kami, seraya menyerahkan kuncinya. Rerumputan di halaman luas tumbuh meninggi. Terus terang, saya baru kali itu menginjakkan telapak kaki di padang rerumputan negeri Prancis. Sejenak saya mengamati taman yang asri di halaman rumah Andre. Saya melihat-lihat pohon prem di sekitar itu. Buah-buah prem yang begitu subur dan indah, dengan warna-warni yang langka dan anggun, seakan bersinar di bawah sinar matahari.

Beberapa hari kemudian, saya berjumpa dengan istri Andre. Tinggi dan jangkung, sekitar 15 sentimeter di atas istri saya. Umurnya sekitar 40-an tahun, sedangkan saya dan Lola masih sekitar 35-an.

“Halo!” sapa istri Andre dengan ramah sambil menjulurkan tangannya. Saya segera menyambut dan menyalaminya. “Jadi ini tetangga kami dari Indonesia, benar kan?”

Andre menerjemahkan sapaan istrinya ke dalam bahasa Inggris. Saya merasa canggung untuk membalas sapaan dalam bahasa Prancis. Karena penguasaan saya dalam bahasa itu masih sedikit, bahkan Lola jauh lebih baik daripada saya. Ia bertanya lebih jauh tentang negeri Indonesia, dan ternyata kedua orang tuanya pernah mengajak berlibur ke Bali belasan tahun lalu, ketika ia masih kuliah di perguruan tinggi.

Belum sempat saya tanyakan, apakah Andre punya anak, tahu-tahu di sore hari seorang gadis kecil mengetuk pintu sambil menyodorkan tatakan plastik berisi buah-buah jeruk yang masih segar. Ia memperkenalkan diri sebagai anak kedua Andre yang masih sekolah di tingkat dasar, dan buah jeruk itu dipetik dari kebun mereka untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga terdekat.

Dalam beberapa bulan kemudian, perut Lola semakin membesar. Beberapa tetangga lain berjalan melewati kami, seolah-olah tidak ada orang asing di sekitar mereka. Saya tidak sempat mengamati mereka satu persatu, hingga saya kurang tahu satu persatu, apakah orang yang lewat itu adalah tetangga kiri kami ataukah tetangga kanan. Tapi, seringnya saya melihat mereka, membuat saya berkesimpulan, bahwa mereka pun bagian dari tetangga saya juga.

Istri Andre pernah mengajak Lola berbelanja barang-barang yang dibutuhkan di pasar terdekat. Lola membeli tirai, jam dinding, cermin dan beberapa kursi dan meja kecil untuk taman yang masih belum terawat. Seketika lingkungan sekitar seperti mengawasi kami. Para perempuan sering menyapa dengan ramah, tak peduli apakah kami pendatang dari negeri mana. Bahkan, salah seorang tetangga yang letaknya sekitar limapuluh meter di sebelah kanan, adalah warga kulit hitam keturunan Afrika, dan penduduk setempat seperti biasa memperlakukannya sebagai tetangga dan sahabat karib.

Saya meletakkan kursi dan meja kecil di taman, lalu duduk untuk mempelajari bahasa Prancis. Saat itu, panas siang hari begitu menyengat. Di Jakarta, saya bisa belajar di bawah sinar matahari, tetapi di musim panas di Prancis, suasananya begitu menyengat dan membuat tubuh berkeringat. Burung-burung yang terlihat dari jendela, pepohonan, rerumputan, anak-anak berlarian di taman, semuanya tampak menarik dalam perhatian saya.

Setelah Andre dan istrinya tahu bahwa kami ini dari keluarga muslim, mereka dengan antusias menunjukkan letak masjid di arah selatan yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah. Kemudian, saya terbiasa mendatangi masjid tersebut untuk melaksanakan salat Jumat pada setiap minggunya.

***

Sepanjang hari saya menyibukkan diri mempelajari bahasa Prancis, sambil sesekali bercakap-cakap bersama Lola dengan menggunakan bahasa asing itu. Saya semakin memahami jika orang-orang bicara, tetapi saya belum sanggup menanggapinya dengan bahasa yang sama. Setelah empat bulan, kami semakin akrab dengan keluarga Andre, meski kami tak pernah tahu agama apakah yang dipeluk oleh mereka, sementara istri saya pernah menyatakan bahwa mereka juga tak pernah ke gereja pada hari Minggu.

“Kami ini seorang agnostik,” demikian kata Andre pada suatu hari.

“Berarti kalian tak percaya adanya Tuhan?” tanya Lola.

 “Kami percaya adanya kekuasaan Tuhan, tapi kami tidak menganut agama apa pun.”

Kami menyadari posisi kami sebagai eksil, juga sebagai pendatang asing yang menetap di negeri mereka. Di sisi lain, kadang kami merindukan tanah air dan masyarakat Indonesia, namun kadang juga membandingkan kepercayaan mereka dengan orang-orang liyan di sekeliling kami yang memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap tetangga, bahkan terhadap non-pribumi yang berbeda warna kulit sekalipun.

Suatu kali, mereka menawarkan barang-barang bekas untuk keperluan rumah-tangga kami. “Apakah kalian menginginkan ini? Sebentar lagi akan datang musim dingin,” kata istri Andre. Seorang tetangga lainnya menawarkan payung, sweater dan jaket pada kami. Juga ada menawarkan dispenser untuk memanaskan air, kompor gas, hingga kursi yang tak terpakai. Barang-barang itu memang bekas, tapi masih bagus dan masih layak untuk dipakai.

“Musim panas hampir berakhir. Barangkali kalian butuh mantel ini, dan ini ada selimut untuk tidur supaya jangan kedinginan. Kami membelinya dua, sedangkan yang satu belum terpakai,” tawar yang lainnya. Kami sendiri belum paham, apakah pemberian itu atas dasar pendekatan, ataukah sengaja memberi sebagai bentuk amal atau sedekah kepada pihak yang membutuhkan.

“Kawan!” suatu sore tiba-tiba muncul seseorang di depan pagar. Ia melihat-lihat sekeliling, dan bicara dalam bahasa Inggris. Ia menyatakan dirinya sebagai sahabat Andre. “Maukah kami buatkan sebuah taman kecil di depan rumah kalian? Nanti akan saya bawakan beberapa pohon palem dan kaktus, yang tak akan gugur daunnya pada musim dingin nanti.”

Tak berapa lama, muncul Andre dari balik pagar rumahnya, lalu menjelaskan pada saya bahwa sahabatnya itu adalah sarjana arsitek lingkungan (lanskap) yang akan membantu kami untuk merapikan halaman rumah, membuatkan taman dan menanam pohon baru di serambi agar telihat asri dan nyaman. “Teman saya ini mampu bicara dengan makhluk apapun,” sambung Andre seraya bercanda, “jangankan dengan manusia, bahkan bicara dengan hewan dan tumbuhan pun dia sanggup.”

Beberapa minggu setelah halaman rumah kami dibenahi, seorang teman wanita dari istri Andre juga menawarkan sepeda bekas untuk Lola, dan kami pun menyambutnya dengan senang hati.

Sepeda memang sangat kami butuhkan. Dulu, sewaktu saya menjalani pendidikan dasar di Jakarta, keluarga kami hanya memiliki satu sepeda, yang dipakai bergantian untuk semua laki-laki. Sepeda itu selalu ada di lorong untuk orang yang membutuhkannya. Suatu hari, salah seorang adik saya pernah mengayuh sepeda cepat-cepat menuju kebun kelapa milik Ayah. “Ayah, cepat pulang ke rumah, Kakek sudah tidak bangun lagi,” serunya.

“Kenapa? Apakah ada tentara lagi yang masuk ke rumah? Apakah mereka bersenjata?” tanya Ayah kaget.

“Bukan, kakek tidur sejak pagi tadi, dan sore ini sudah tidak bernafas lagi.”

Sepertinya Ayah merasa khawatir kejadian serupa dialami lagi oleh kakek. Sebab, ia pernah diinterogasi petinggi militer Orde Baru di akhir tahun 1965, serta menuduhnya sebagai pengurus dari partai PKI. Meski kemudian, mereka tak bisa membuktikan bahwa kakek adalah salah seorang yang terlibat dalam kekisruhan politik di tahun 1965 itu.

***

Zona waktu Prancis berbeda dengan zona waktu di Jakarta. Sebagai keluarga eksil, kadang kami membicarakan hal-hal yang sudah lampau. Terkadang juga saling diam, tak mengatakan apa-apa. Hanya menunggu. Setiap siang dan malam akan tampak sama, tetapi hari selalu punya sesuatu yang baru bagi kami. Setelah 30 tahun lebih tinggal di negeri asing, kami dikaruniai seorang puteri yang kini sudah berkeluarga. Ia tinggal bersama suaminya yang berkebangsaan Prancis.

Beberapa tahun lalu, kami sempat mengunjungi kediaman mereka di Paris, saat kami merasa bahagia dapat menimang cucu pertama, dan satu-satunya. Di awal tahun 2000 lalu, setelah rezim militerisme Orde Baru tumbang, puteri kami sempat berjumpa dengan Presiden Abdurrahman Wahid ketika beliau mengunjungi para eksil dan refuji yang tinggal di negeri Prancis. Semula kami menaruh harapan baik pada presiden baru Indonesia yang menjanjikan perubahan dan demokrasi di tanah air tercinta. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian semakin marak petualang-petualang politik warisan Orde Baru yang berjuang ingin mengembalikan Indonesia kepada rezim militerisme.

Hal ini, mengingatkan saya pada pernyataan kitab suci, bahwa perubahan hanya akan terjadi bilamana ada itikad baik dari kaum tersebut, untuk bersama-sama bangkit menuju era perubahan.

Ya, perubahan suatu bangsa tak akan jatuh gratis dari langit. Kebenaran harus diperjuangkan sebagai kebenaran. Ia bukan sejenis retorika politik yang sering didakwahkan dan diceramahkan, tetapi para pelakunya kopong dari karakter yang pantas dicontoh dan diteladani oleh mayoritas rakyat yang merasakannya.

“Manusia Indonesia terlahir sebagai orang beragama, tapi seakan tak pernah memahami kualitas kemanusiaannya,” demikian tegas istri saya.

Sampai saat ini, ketika kami belum mendapat kenyamanan untuk hidup dan tinggal di tanah air sendiri, sulit bagi saya untuk menyangkal pendapat istri saya Lola Amelia, yang suatu kali pernah menyatakan: “Mungkin orang Indonesia harus lebih dulu belajar untuk menjadi manusia, sebelum pikiran mereka disibukkan oleh perkara hukum-hukum agama melulu.” (*)

Oleh: Alim Witjaksono

Penulis adalah Pengamat dan penikmat sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.