Sengaja saya menyebutnya sastrawan, karena memang dia bangga dipanggil sastrawan. Bahkan, dalam identitas KTP pun tertera pekerjaannya sebagai penulis alias sastrawan. Namanya Rizal Anhar. Ia seorang sarjana sastra Indonesia, yang lulus setelah jatuhnya rezim militerisme Orde Baru. Seusai menyelesaikan kuliahnya, ia bekerjasama dengan sebuah penerbit di Jakarta untuk mencetak dan menerbitkan skripsinya yang diberi judul: “Sastra dan Bahasa Indonesia yang Baku.”
Tak berapa lama, ia mulai menulis esai dan kritik sastra, lalu diterbitkan oleh media-media massa cetak dan online. Fakta tersebut menunjukkan, bahwa Rizal bukanlah seorang penulis dan sastrawan amatiran. Sebagai teman lama di bangku SMA dulu, sesekali saya bertandang di kediamannya yang sederhana di Jalan Pabuaran, Kota Tangerang. Sosoknya terlihat rapi dan kurus, dahinya lebar dan rambutnya keriting panjang. Ketika saya membaca beberapa tulisannya di harian lokal Banten, memang tak terlepas dari karakter dan kepribadiannya, seakan menyatu dengan prinsip hidup dan jalan pikirannya yang terkesan sangar, kaku, dan absurd.
Rizal mengaku pernah berziarah ke beberapa makam sastrawan terkemuka, termasuk Rendra, HB Jassin dan Arifin C. Noer. Saya membayangkan wataknya yang temperamen, tiba-tiba harus berdiri dengan khusyuk, membacakan doa-doa secara khidmat, namun sekaligus menyiratkan keakrabannya dengan tokoh-tokoh sastra terkemuka di negeri ini. Seakan ia menemukan kemampuan pada bakat yang langka, serta antusiasme yang tak pernah padam. Bahkan, disertai denyut nadi dan jantung yang sanggup berdetak sebanyak ratusan kali permenit. Getaran jiwanya yang tulus memancar saat menghadiri acara pembacaan sajak atau pertunjukan teater, serta menikmati prosa-prosa para sastrawan yang dibesarkan oleh rezim militerisme Orde Baru.
Rizal mungkin terbilang salah satu sastrawan yang membanggakan prinsip “kebebasan berekspresi”, termasuk adagium yang disukainya: “Tak ada kata mundur, karena hidup adalah perjuangan.” Di setiap acara-acara wisuda almamater kampusnya, ia selalu tampil di atas podium, membacakan gubahan puisi yang ditulisnya sendiri. Bahkan, jika sambutan begitu meriah, ia akan menambahkan pembacaan sajak gubahan Chairil Anwar tentang sang pejuang yang harus terus bertahan hidup hingga seribu tahun lamanya.
Rizal Anhar seakan memiliki keyakinan yang tulus pada panggilan jiwanya. Dia tak pernah goyah, tak ragu sedikit pun, dan tetap merasa puas dengan hasil-hasil kreasinya. Meskipun begitu, kadang ia merasa kesal dan jengkel, karena koran-koran sastra dan kebudayaan yang menampilkan karya puisi maupun prosa memiliki oplah yang sangat terbatas. Ia bertekad untuk bekerjasama dengan beberapa majalah yang siap menayangkan tulisannya, serta media-media daring yang sanggup memberi honor yang sepadan dengan hasil perjuangan dan jerih payahnya.
***
Saat mengunjungi teman lama yang flamboyan ini, sesekali saya memberi penilaian atas karya-karya sastra yang disodorkannya kepada saya. “Kenapa karya-karyamu lebih didominasi oleh nada sedih dan penuh derita, bahkan cenderung melankolis?” tanya saya suatu hari.
“Karena saya harus jujur dengan kehidupan yang ada,” jawabnya singkat dan lugas.
“Apakah kita harus memberi tahu orang dengan cara menunjukkan kesedihan kita?” balas saya lagi.
Ia terdiam sejenak, lalu menimpali dengan suaranya yang ketus, “Kawan, apakah kita harus berpura-pura bahagia?”
“Saya pikir tidak ada salahnya kita menyembunyikan nasib buruk yang dialami dalam hidup kita.”
“Kenapa?”
“Karena faktanya, tidak selamanya kita bernasib buruk, juga tidak selamanya bernasib baik.”
Ia menggeser duduknya, menatap saya dengan garang, dan cetusnya lagi, “Jujur saja, apakah nasib baik yang mendominasi kehidupan kita sehari-hari, ataukah justru nasib buruk?”
“Itu tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya.”
“Ah, sudahlah,” tampik Rizal tegas, “kalau kamu mau bicara soal konsep syukur, lebih baik kita berdebat soal agama saja.”
“Saya pikir, kita bukan sedang berdebat, tapi soal berbagi ilmu…”
“Ah, sudah, cukup, saya tetap akan menulis sesuai prinsip yang saya yakini. Jika ada penulis lain yang berbeda dengan saya, itu sah-sah saja. Saya tak akan melarangnya.”
Ketika kami berbincang dalam beberapa menit, tiba-tiba muncul dari ruang dapur seorang wanita paruh baya, yang ternyata adalah kakak kandung Rizal sendiri. Saya berkenalan dan menyalaminya, lalu Rizal menyebutkan nama panjangnya, Mira Puspa Seruni. Dia memandang mata saya dengan tatapan lesu, dan katanya memperkenalkan diri, “Panggil saja Mira.”
Pada pandangan pertama, yang mengejutkan saya tentang wanita ini adalah penampilannya yang tampak kuyu, lelah, seakan kesehatannya memburuk. Usianya mungkin baru 35 tahun, sekitar dua atau tiga tahun di atas saya. Postur tubuhnya langsing dan kurus, fitur wajahnya oval dengan dagu yang lancip dan pucat. Ia terlihat serba kaku dan tegang, tak banyak bicara, lalu saya pun bisa memahami ketika Rizal membisikkan sesuatu ke telinga saya, “Dia sedang sakit, dan istirahat di sini.”
Kata Rizal, kakaknya itu tadinya seorang dokter yang selama dua tahun lebih menangani para pasien Covid dan TBC di tahun 2020 dan 2021 lalu. Setelah suaminya meninggal karena Covid, ia kembali tinggal bersama ibunya di awal tahun 2022. Tetapi setahun kemudian, setelah sang ibu meninggal, ia memutuskan tinggal bersama adiknya selama beberapa tahun terakhir. Mira juga pernah didiagnosa menderita TBC dan berobat jalan selama enam bulan lebih.
“Jadi begitulah, Kawanku,” kata Rizal sambil memegang buku sastra karya Albert Camus di tangannya. Ia menatap mata saya seolah mendapat pembenaran, “Kalau diibaratkan Anda membaca buku yang lusuh dan tak terawat ini, lalu mengintip isi bagian dalamnya, Anda akan membaca tragedi-tragedi kehidupan yang tertuang, dan tentu tak beda jauh dengan kehidupan yang dialami kakak saya itu. Pernikahan selama dua tahun bersama suami yang dicintainya, tiba-tiba nyawa sang suami direnggut paksa oleh Sang Maut karena mengidap Covid. Jadi, sekitar dua tahun dia menjalani masa-masa bahagia, tetapi kemudian tragedi memaksa mereka harus berpisah… apakah Anda kira kehidupan semacam itu hanya fiksi dan karangan manusia… ataukah sesungguhnya dibuat oleh Tuhan sendiri… kalau memang Anda masih percaya pada Tuhan….”
Rizal Anhar melihat sekeliling, menarik lengan baju saya, dan mulai berbisik, “Sekitar tiga tahun terakhir kakak saya tinggal di rumah ini, karena menurutnya, dia merasa kurang cocok menjalankan praktek kedokteran. Entah kenapa, seakan dia tidak memberi kesan bahwa dia menguasai bidangnya, dan saya tidak pernah mendengar dia mengatakan sesuatu yang merujuk pada bidang yang digelutinya. Dia hanya diam saja selama bertahun-tahun, tanpa ada kegiatan apa pun. Mungkin dunia kedokteran di negeri ini adalah sesuatu yang absurd baginya. Satu-satunya kegiatan yang dia lakoni hanya menonton teve, tanpa ekspresi, bahkan dia pun akan mengganti siaran tentang kedokteran dan kesehatan, padahal justru tayangan itu yang mestinya dia sukai.”
***
Suatu malam Minggu di musim hujan, saya menyempatkan diri bertandang ke rumah Rizal, sambil membawakan kue donat dan martabak telor. Dia sedang menulis esai tentang kritik sastra yang difokuskan pada karya seorang penulis yang selama beberapa tahun menjadi sorotan publik atas beberapa novel dan cerpen-cerpennya. Bagi Rizal, cukuplah sebuah karya sastra membicarakan soal kehidupan yang serba chaos dan absurd, tak usah menggugat perihal kekuasaan kosmopolit yang dianggapnya akan mengganggu kebebasan berekspresi.
Biar saja para elit penguasa berbuat sesuka hati mereka. Kalau pun diperlukan adanya kritik dan saran, cukuplah para pengamat dan lawan politiknya yang bertugas untuk itu. Tak perlu penulis dan budayawan ikut campur mempersoalkan kesewenangan penguasa, yang baginya ketidakadilan sistem adalah bagian dari kehendak, ketentuan, bahkan permainan Tuhan.
Mira Puspa sedang duduk di sampingnya. Seakan ia mengamati gerak tangan adiknya yang cukup lincah memainkan jari-jemarinya di atas keyboard laptop. Kritikus sastra itu menulis dengan cepat, tanpa banyak koreksi maupun delete. Di atas meja dekat laptopnya, tergeletak majalah sastra Horison edisi baheula yang tampak tipis, dengan kualitas kertas koran yang sudah lapuk dimakan usia. Ketika saya membuka-buka majalah tersebut, Rizal memerintahkan agar membaca cerpen di dalamnya, yang bertajuk tentang kehidupan seorang petani.
Rizal mengakui sangat mengagumi tulisan itu, bukan karena penulisnya menguasai seluk-beluk dunia pertanian, melainkan karena kehidupan petani dinilainya sangat nelangsa dan mengenaskan. “Dunia petani seperti dunia yang tanpa arti, bagaikan nenek-nenek tua yang sedang menghitung uang receh di belakang meja warungnya. Bahkan, untuk membeli obat bagi penyakitnya, uang berminggu-minggu yang dia kumpulkan masih belum cukup,” kata Rizal dengan mata menerawang.
Dia sendiri sebenarnya kurang banyak tahu tentang kehidupan petani, kecuali dari buku dan sekelumit karya penyair Taufik Ibrahim yang terpaksa menulis puisi tentang petani karena pesanan dari Departemen Pertanian Nasional. Mira Puspa menatap mata adiknya. Perasaannya tergugah oleh pembicaraan mengenai penderitaan seorang petani. Kemudian, tak berapa lama dia mengajukan pertanyaan, “Rizal, menurutmu apa artinya orang yang sabar dan sanggup menahan diri?”
“Orang yang sabar dan menahan diri?” ulang Rizal sambil mengerutkan keningnya. “Misalnya, kita menjanjikan sesuatu kepada orang lain agar menunggu…”
“Berikan saya definisi yang logis, bukan penjelasan yang berbelit-belit.”
“Orang yang sabar itu adalah,” Rizal merenung kembali dalam-dalam, “orang yang tidak memberi reaksi apa pun, meskipun diperlakukan jahat oleh orang lain.”
“Berarti dia bersikap apatis?” protes saya yang waktu itu menyaksikan perdebatan mereka.
“Bukan begitu, tetapi memang dalam hidup ini selalu saja pihak yang lemah harus mengalah oleh mereka yang serba berkuasa.” Sambil berkata begitu Rizal membungkuk dan mengambil sebuah novel dari belakang laptopnya. Dia menjelaskan bahwa novel itu ditulis oleh seorang wanita asal Madura yang menceritakan kejadian Carok yang dimenangkan oleh seorang yang licik dan culas di perkampungan Madura. Rizal mengakui senang dengan cerita, plot, dan penyajian yang dinilainya menarik. Ia membuat ringkasan singkat perihal novel tersebut, memilih bagian-bagian terbaik, dan menambahkan dalam uraiannya: “Betapa indah dan realistisnya novel ini! Bagi saya, penulisnya bukan hanya seorang sastrawati cantik, tetapi juga psikolog yang sangat menjiwai karakter tokoh-tokohnya. Di dalamnya ada deskripsi yang sangat jelas tentang emosi dan dendam manusia, serta bagaimana dusta dan kebohongan dapat bersifat langgeng dan abadi di muka bumi ini.”
Kami saling membisu dalam waktu yang cukup lama, lalu Mira angkat bicara memecah kesunyian, “Rizal, setelah saya membaca novel karya penulis milenial, yang bertema tentang perlawanan terhadap rezim militerisme Orde Baru selama beberapa dekade, saya merasa dihantui oleh sebuah gagasan aneh sejak kemarin. Saya diliputi berbagai pertanyaan, di mana posisi kita jika kehidupan manusia diatur berdasarkan prinsip membiarkan kejahatan, lalu pemerintah bersikap acuh tak acuh terhadap kebodohan dan ketidakadilan dalam suatu masyarakat?”
“Kemungkinan besar, kita akan memberikan kebebasan penuh kepada kehendak para kriminal?” jawabnya singkat.
“Lalu, apa tugas sastrawan dan budayawan bagi kemajuan peradaban bangsa…”
“Dan apa pula tugas ulama dan agamawan?”
Perbincangan kami bertiga terus merambah ke seputar kebebasan berekspresi, lalu ke soal novel Remy Sylado (Hotel Prodeo), lalu meningkat ke soal karya Eka Kurniawan (Cantik Itu Luka), kemudian kepada karya Leila S Chudori (Pulang). Dari nada dan ekspresi kakaknya, Rizal dapat menangkap bahwa dia tidak menyukai artikel-artikel yang ditulisnya pada minggu-minggu terakhir. Dengan rasa kesal dan jengkel, Rizal berkomentar: “Pembiaran adanya kebodohan dan kejahatan memang tak bisa dibenarkan. Apa jadinya kalau kita mendirikan surat kabar atau media online yang membiarkan orang-orang jahat bebas menulis apa saja di dalamnya? Apa jadinya jika kita membiarkan para bajingan intelektual menulis semaunya, lalu mengambil keuntungan melimpah dari hasil pikirannya yang kotor dan picik? Bukankah itu pun dapat dikatakan korupsi intelektual?”
“Nah, itu yang saya maksud. Kamu sendiri harus jujur dengan dirimu sendiri!” tandas Mira Puspa.
Kakak beradik itu sering berdebat ngalor-ngidul tanpa dapat menemukan penyelesaian yang berarti. Jika ada orang luar yang mendengar mereka, tentu mereka takkan bisa memahami apa yang mereka perbincangkan. Seringkali mereka menghabiskan waktu sore di beranda rumah, karena memang mereka tak membutuhkan teman, bahkan tak ada rumah orang lain yang bisa dikunjungi. Kadang mereka pergi menyaksikan acara pembacaan puisi oleh Taufik Ismail, Sutardji atau Jose Rizal Manua di Gedung Kesenian Jakarta, atau sesekali menonton film di Tweenty One. Mereka tak pernah pergi menonton pertunjukan musik maupun stand up comedy, karena mereka berdua tak menyukai musik, juga kurang memiliki selera humor.
Mira Puspa menatap mata adiknya yang kemudian menunduk kaku. Ia bangkit dan keluar dari kamar menuju sofa di ruang teve, lalu berbaring dengan tatapan menerawang dan penuh tanda tanya.
Hari demi hari, bahkan bulan demi bulan, kakak-beradik itu terus dicekam oleh berbagai pemikiran absurd, yang kemudian mengarah pada perdebatan yang semakin meruncing. Hubungan mereka semakin tegang setiap hari. Sang adik menjadi sulit untuk fokus bekerja di hadapan kakaknya, bahkan menjadi mudah marah ketika tahu kakaknya berbaring di sofa, menatap gerak-geriknya, seakan membayangkan luka-luka masa lalu yang semakin terkuak dengan jelas. Tetapi, luka apakah yang pernah mereka alami di masa lalu? Hal itu pun menjadi sulit ditemukan solusinya. Meskipun dalam hidup ini, tak mungkin ada saudara-kerabat yang tak memiliki luka masa lalu.
Setiap malam Rizal mengeluh bosan, dan bicara tentang kemandirian berpikir seakan ingin meronta-ronta menggugat tradisi; seakan terhanyut oleh gagasan dan ide-ide terbarunya. Tetapi di sisi lain, Mira kakaknya semakin mampu membuktikan bahwa pekerjaan yang dilakoni adiknya sudah mengalami disrupsi, obsolete, dan sangat konvensional. Baginya, karya-karya tulis yang digeluti sang adik tak ubahnya suatu pikiran konservatif yang sia-sia belaka; hanya untuk melestarikan apa yang sudah usang dan menghilang dari peredaran dan panggung kehidupan. Mira juga mampu membuat banyak perbandingan. Suatu saat ia membandingkan pekerjaan seorang sastrawan sebagai alkemis, kemudian dengan seorang mistikus atau para pemain debus dari Banten, yang seakan memilih mati daripada mendengarkan nurani dan akal sehat.
Rizal tak kuasa menahan rasa jengkel bahkan benci melihat wajah Mira yang dingin, seolah tak henti-hentinya mengendus dan menyelidiki gerak-geriknya, bahkan mengamati setiap sel-sel yang menggeremet di dalam otaknya. Ia khawatir, suatu saat kakaknya itu sampai pada kesimpulan, bahwa karya-karya sastranya dianggap palsu dan munafik; suatu rekayasa dan akal-akalan yang dibuat untuk membodohi pembaca, bahkan membuat mereka frustasi dan ingin bunuh diri.
Sejak saat itu Rizal selalu memperlakukan kakaknya dengan dingin; dengan ironi yang acuh tak acuh; seakan ia tak lagi mentoleransi keberadaannya, bagaikan kehadiran wanita jompo yang terus bergantung kepadanya. Sementara itu, ia berhenti berdebat dan menanggapi argumen dan serangannya yang tendensius dan merendahkan, yang justru membuatnya semakin merasa jengkel.
***
Suatu pagi yang kelabu diliputi rintik-rintik hujan, Mira Puspa berpakaian untuk bepergian dengan tas di bahunya. Ia masuk ke kamar adiknya, dan berkata dengan suara dingin, “Saya mau pergi?” katanya.
“Pergi ke mana?” tanyanya dengan terkejut.
“Saya mau bergabung dengan Palang Merah Indonesia, mau melakukan vaksinasi di provinsi Papua.”
“Oo, jadi itu yang Kakak mau… menolong orang-orang di Papua… dasar perempuan gak jelas….”
Mira melangkah keluar rumah, lalu tanya Rizal dari balik pintu, “Apakah enggak perlu ongkos untuk ke sana?”
“Enggak usah, terima kasih.”
Adiknya menatapnya, serta memerhatikan tas dan jas hujannya yang sudah lusuh. Dari kejauhan ia melihat kakaknya berjalan gontai dan lesu, memaksakan diri untuk menghela napas dalam-dalam. Meski kemudian, ia bersikeras untuk tidak membangkitkan perasaan menyesal terhadap kakaknya sendiri. Ia pun berbalik ke kamarnya, segera duduk di meja dan mulai mengerjakan artikel sastranya.
Sejak peristiwa itu, saya tak lagi mendengar kabar tentang Mira Puspa. Saya juga tidak tahu di mana dia sekarang. Rizal Anhar terus saja menulis artikel dan karya-karya sastranya, serta sibuk meluangkan waktu bersama para penulis dan sastrawan, yang secara diam-diam saling bersaing sengit memperebutkan ketip demi ketip penghasilan dari penerbit atau media, yang masih berbaik hati memberikan honor bagi para penulis Indonesia.
Saat pergantian musim di bulan Maret, Rizal jatuh sakit karena radang paru-paru. Ia terbaring selama dua bulan lebih. Awalnya tinggal di rumah, namun beberapa teman sastrawan membawanya ke Rumah Sakit. Pihak dokter memerintahkan agar merujuknya ke dokter spesialis paru-paru. Para sastrawan berusaha mengumpulkan sumbangan semampunya, namun kemudian ia meninggal sebelum sempat dirujuk ke dokter spesialis.
Kami menguburnya di TPU Karet Bivak, Jakarta, beberapa puluh meter dari kuburan Chairil Anwar dan Armijn Pane, tempat para seniman dan sastrawan dimakamkan. Setahun kemudian, saya mengabarkan teman-teman sastrawan di Taman Ismail Marzuki, bahwa baru-baru ini saya berziarah ke makam Rizal Anhar. Namun sayang sekali, makamnya agak menurun, doyong, dan hampir amblas terkena longsor. Mungkin dibutuhkan sekitar dua atau tiga juta rupiah untuk merehabilitasi makam berikut batu nisannya.
Sebagian besar sastrawan mengangkat bahu seakan bersikap acuh tak acuh. Saat itu, saya tak bisa mengumpulkan satu rupiah pun dari teman-teman seniman dan sastrawan. Akhirnya, saya menghabiskan sisa saldo di tabungan untuk memperbaharui makam sahabat saya, meskipun boleh jadi karya-karyanya telah banyak dilupakan orang. []
Oleh: Hafis Azhari
Penulis adalah Peneliti historical memory dan penulis novel Pikiran Orang Indonesia, juga menulis prosa dan esai di berbagai media massa lokal dan nasional








