Dinasti Kerajaan Sumarto

oleh -1059 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Indah Noviariesta

Sejak tampilnya Raja Toni Sumarto di tampuk kekuasaan, ia ingin mengambil kebijakan yang berbeda dengan ayahnya Raja Sumarto. Sebagai dinasti kedua dari kerajaan, Toni mengerahkan segenap aparat agar berkeliling menuju desa dan perkotaan, kemudian mereka melaporkan pada sang raja bahwa mayoritas rakyat sedang riang gembira bermain layang-layang di seluruh penjuru negeri.

Raja Toni merasa senang mendengar keterangan dari para aparatur kerajaan, kemudian saking gembiranya, ia memerintahkan mereka agar kembali berkeliling, “Kabarkan pada mereka, bahwa pemerintah baru di bawah kepemimpinan Raja Toni, mulai saat ini membolehkan seluruh rakyat untuk bermain apa saja sesuka hati mereka.”

Seketika itu, para aparat kembali berkeliling di tengah rakyat yang sedang asyik bermain layang-layang, baik yang berkumpul di balai desa, alun-alun kota, perbukitan, hingga di tengah padang rumput dan ilalang.

“Dengarkan para hadirin sekalian,” teriak seorang aparat di alun-alun kota, “saat ini, saya menyampaikan amanat dari Paduka Raja, bahwa kalian boleh melakukan apa saja sesuka kalian! Mengerti?”

Tak seorang pun menghiraukan teriakan aparat di alun-alun kota itu. Mereka tetap asyik bermain layang-layang di siang hari, barulah ketika fajar mulai menyingsing, mereka akan menggulung benang-benang, kemudian menaruh layang-layang di rumah-rumah mereka.

Di desa dan perkampungan begitu juga. Ketika para aparat berkeliling dan mengabarkan bahwa rakyat boleh bermain apa saja, tetap mereka bungkam dan tak mendengar apapun yang diumumkan para aparat kerajaan tersebut.

“Jadi, kalian boleh bermain yoyo, lato-lato, spinner, karambol, catur, scrable, ular tangga, atau apapun permainan yang kalian sukai, mengerti?”

Tak seorang pun membalas. Mereka terus saja menarik-ulur benang-benang di tangan mereka, tetap asyik bermain layang-layang.

“Apa?!” teriak seorang warga yang sudah sepuh, dan umurnya sudah menginjak 70-an tahun.

“Bapak boleh melakukan apapun!” ulang seorang aparat di hadapannya.

“Apanya yang boleh?” teriak kakek tua itu.

“Bapak boleh melakukan apapun, tidak hanya bermain layang-layang!” jelas seorang ajudannya.

Kakek tua bernama Roni Gerung itu menghindari mereka, berlari ke tengah alun-alun kota, dan kembali bermain layang-layang.

Karena merasa jengkel, beberapa aparat menyerobot ke tengah kerumunan, memakai pengeras suara sambil menegaskan bahwa mereka adalah aparat-aparat yang diperintah Sang Raja. Jabatan mereka sebagai elit kerajaan, mengantarkan mereka sebagai petugas-petugas yang loyal memberikan informasi kepada masyarakat. Mereka juga dengan bangga mengabarkan bahwa para aparatur kerajaan telah membagi-bagikan sembako kepada masyarakat desa, hingga masyarakat berduyun-duyun mendatangi kantor-kantor mereka.

Namun sayangnya, orang-orang yang sedang bermain layang-layang itu tetap tak bergeming. Mereka cuek bebek saja, tetap menarik-ulur benang-benang mereka, seakan berlomba siapakah yang memiliki layang-layang terbagus, dan siapakah yang mampu memainkan layang-layang hingga melambung tinggi ke angkasa raya.

Akhirnya, usaha yang sia-sia dari para aparatur kerajaan, membuat Raja Toni murka, hingga memberikan ultimatum: “Kalau begitu, berikan pengumuman agar mereka jangan bermain layang-layang!”

Serentaklah para aparat mengerahkan pentungan dan pengeras suaranya, sambil berteriak kepada masyarakat agar mereka memainkan permainan lainnya, kecuali bermain layang-layang. Namun rupanya,  mereka tetap semarak memainkan layang-layang mereka, hingga semakin lihai dan terampil dengan berbagai bentuk warna-warni layang-layang yang semakin indah dan menarik.

Ada yang berbentuk segi empat, segi tiga, lonjong, dengan ekor yang panjang menjuntai. Ada yang bercorak batik, merah-putih, bergambar orang-orangan, garuda, kupu-kupu, capung, lebah, bahkan berbagai bentuk wayang dan robot, dan sebagainya.

“Bagaimana? Apakah mereka sudah berhenti bermain layang-layang?” tanya Raja Toni.

“Alih-alih berhenti, Paduka Raja…”

“Goblok! Apa maksudnya alih-alih?”

“Boro-boro berhenti, justru mereka semakin memperbaharui layang-layang, dan semakin berlomba siapakah pemain terbaik di antara mereka?”

“Para anak-anak?”

“Semua kalangan, Paduka, baik anak-anak, perempuan, dewasa hingga kakek-nenek, semuanya kompak dan senang bermain layang-layang.”

Sang Raja makin murka, matanya memerah dan wajahnya nanar. Setelah berdehem dan batuk-batuk beberapa kali, ia pun berteriak: “Kalau begitu, sita semua layang-layang mereka berikut benang-benangnya. Musnahkan semua sampai ke akar-akarnya. Awas, saya ingin mendengar kepastian, bahwa tak ada satu pun peralatan di rumah-rumah mereka, yang berhubungan dengan layang-layang, mengerti?”

“Mengerti, Paduka Raja,” teriak mereka serempak.

Tak berapa lama, setelah pelarangan itu dikumandangkan ke seluruh penjuru negeri, seluruh rakyat berontak dan mendatangi kantor kelurahan, kantor aparat, hingga berdemonstrasi masal di depan halaman gedung kerajaan.

Para aparatur kerajaan menjadi kewalahan dan kalang-kabut, karena rakyat semakin menyerbu, merangsek, mengobrak-abrik dan membakar kantor-kantor aparat , sampai akhirnya gedung istana kerajaan hangus berantakan dan luluh lantak.

Setelah musnahnya kerajaan Toni Sumarto, sebagai dinasti kedua yang berjalan gemilang selama puluhan tahun, masyarakat berbondong-bondong menuju pasar-pasar, membeli segala kebutuhan hingga berbagai peralatan, untuk kembali bermain layang-layang. (*)

Penulis adalah Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), menulis prosa dan esai di berbagai harian daerah dan nasional.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.