Detik Terakhir Kematian Seorang Jenderal Tua

oleh -958 Dilihat
banner 468x60

Di rumah yang besar dan megah itu, saya akan mengambil uang limaratus juta rupiah, dari seorang purnawirawan yang pernah bertugas di dunia kemiliteran sejak masa pemerintahan Orde Baru. Saya melangkah dengan penuh percaya diri, dan biasanya ia membayar saya dengan uang tunai.

Sengaja saya mengenakan setelan batik biru tua, celana dan sepatu hitam, dengan kaos kaki agak tebal bermotif jam weker zaman baheula. Tinggi ruang masuk utama di kediaman Pak Trisno mencapai dua lantai. Di atas pintu masuknya dihiasi dengan panel kaca bergambar wayang yang cukup besar. Panel itu mempertunjukkan seorang tokoh perwayangan yang menyelamatkan seorang wanita muda belia. Tokoh wayang itu mengenakan baju kesatria, sementara si wanita terikat pada batang pohon tanpa mengenakan pakaian sehelai pun, kecuali rambut panjang yang menutupi payudaranya yang ranum.

Saya membayangkan, seandainya saya tinggal di rumah megah itu, tentu saya akan melibatkan diri dalam petualangan heroik dengan ikut-serta menyelamatkan si gadis yang malang, yang barangkali ada tokoh raksasa yang menculiknya.

Di bagian belakang ruangan terdapat pintu berdaun ganda. Dari jendela kacanya yang transparan, terhampar rerumputan hijau, dengan beberapa pohon kaktus dan akasia yang menghiasi setiap sudut taman. Di depan garasi yang bercat putih, seorang sopir tengah membersihkan debu dari mobil Alphard dan Pajero berwarna hitam dan putih, yang seolah baru keluar beberapa menit dari dealer utama. Di balik garasi ada beberapa pohon hias yang dipangkas secara cermat serupa kucing angora. Di belakangnya ada lebih banyak lagi pepohonan, seperti pemandangan bukit yang tak beraturan, namun kokoh dan menyejukkan.

Beberapa kursi besar dengan dudukan mewah ditaruh di belakang ruang kosong yang dikitari dinding. Kursi-kursi itu sepertinya tak pernah diduduki. Di tengah dinding sebelah barat ada rak pualam berhiaskan lukisan Affandi dan Raden Saleh. Selain itu, ada pula lukisan kucing minyak besar, yang di atasnya terdapat bingkai kaca berisi panji-panji upacara dari panglima perang yang sudah robek, entah karena bekas peluru atau sekadar dimakan rayap.

Ada juga lukisan bergambar tantara Indonesia yang bertugas di Timor Leste sejak tahun 1980-an, tampak para perwira yang melukis pucat dan kusam. Di dinding sebelahnya tampak foto Jenderal Soeharto ketika masih muda, berseragam militer dengan tongkat komando di tangannya. Ketika saya memandangi foto tersebut, meskipun agak sangsi soal keaslian dan kepalsuannya, tiba-tiba muncul seorang wanita kurus dan pendek, namun usianya tampaknya sudah lanjut sekitar 45-an tahun.

Tubuhnya berlenggang panjang dan centil, dengan membentuk mata yang genit, serta polesan bibir yang memerah namun tak beraturan. Ia mengenakan celana panjang gombrang yang nampaknya kurang cocok dengan kakinya yang tirus. Langkahnya seolah melayang di udara. Rambutnya bergelombang dan kecokelatan, dibiarkan tergerai hingga bahu. Mata kelabu, dan nyaris tanpa ekspresi saat menatapku.

Ia mendekati saya dan melangkah pelan-pelan, lalu tersenyum meremehkan, seolah ingin mengolok-olok saya, “Bapak yang penulis itu, ya?”

“Iya,” jawabku mengangguk.

“Hihihi…!”

Dia tertawa cekikikan. Tampak letaknya yang kecil-kecil agak menguning, seperti biji jagung yang masih muda. Lalu, matanya menyorot tajam, seakan mengamati wajahku, sambil berujar lirih, “Bohong… Bapak bohong… tukang bohong…!”

“Apanya yang bohong?” tanyaku heran.

“Bapak ngibul… tukang ngibul… semuanya ngibul….”

Matanya membulat. Dia tampak bingung. Dahinya mengerutkan kening, sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Tapi entah kenapa, untuk berpikir saja sepertinya dia merasa kesulitan.

“Tapi Bapak kelihatannya ganteng, kasep,” tiba-tiba dia memuji saya. “Siapa nama Bapak?”

“Fadil.”

“Oya, nama seperti apa itu? Seperti nama anjing pudel? Hihihi….”

Dia tertawa lagi, kemudian sedikit berubah, dan matanya bergerak-gerak masih memandangi wajahku. “Tampang Bapak seperti pengacara, ya kan?”

“Saya penulis, bukan pengacara,” tegas saya.

“Seperti wartawan, ya?”

“Anu… iya,” kataku ragu.

“Apa bedanya dengan pengacara? Apa bedanya dengan petinju bayaran, hihihi….”

Perempuan itu menatapku sambil mengangkat jempolnya, lalu mengemotnya seperti permen. Jempol itu bentuknya aneh, kurus kecil bagaikan jari tambahan, seolah tanpa garis di persendian atas. Ia menggigit jempol itu dan menghisapnya perlahan, memutar-mutarnya dalam mulut seperti bayi sedang mengemot titik.

“Bapak cakep,” kikihnya. “Tapi aku juga cantik.”

Saya tidak menanggapi rayuannya. Tak berapa lama, muncul seorang pembantu berusia 20-an tahun, yang tampaknya tak henti-hentinya ketika perempuan tua itu bercanda menyebut perek dan pelacur.

Pembantu itu berjalan pelan, lalu berseloroh sambil menunjuk ke atas, “Sudah ditunggu Pak Trisno di atas, Pak.”

Setelah perempuan itu pergi, saya pun mendekati pembantu sambil berbisik, “Siapa itu tadi?”

“Mbak Poppy, anak Pak Trisno yang paling bungsu,” terangnya. “Sepertinya dia kena gangguan jiwa.”

“Apa dia nggak punya suami?”

Pembantu menjawab agak ragu, “Beberapa kali pernah menikah.”

“Apakah enggak punya anak?”

“Punya, dari suami yang ketiga, tapi anaknya ikut mantan suami.”

Lalu, saya pun mengulik banyak perihal Poppy dan para mantan suaminya. Rupanya pembantu bernama Midah itu lebih banyak tahu mengenai kehidupan anak-anak Pak Trisno, karena ia sudah empat tahun menjadi pembantu di rumah megah itu.

***

Melalui pintu berdaun ganda saya memasuki lantai dua, melewati jalan halus berbendera merah-putih, kemudian seorang pembantu lain mempersilakan saya sambil berdiri menyisi.

Si pembantu masuk dan menutup pintu sebelah luar. Terasa hawanya yang panas, dengan udara lembab seolah mengeluarkan uap. Atap dan dinding kacanya seperti serupa. Cahayanya kehijauan bagai buatan, seolah menyaring melalui tangki akuarium. Tanaman hias memenuhi tempatnya, hingga terasa agak rimbun. Sebagian batang tanaman itu menguarkan aroma misterius dengan batangnya seperti jari-jari mayat.

Di tempat tetirah Pak Trisno, seorang jenderal tua yang sepanjang tahun duduk di kursi roda, seolah-olah tak menyadari bahwa dirinya tengah bernafas.

Penyelesaiannya ia sudah menunggu kedatangan saya sejak tadi. Matanya yang hitam menyorot tajam seperti batu pualam, seolah mengandung ketajaman mata elang yang siap menerkam mangsanya. Raut mukanya lesu, dengan bibir pucat, hidung mangir dan pelipis cekung, serta cuping telinga yang menonjol keluar seperti hampir putus. Dalam hawa sepanas itu, tubuhnya yang tirus keanggunannya terbungkus oleh selimut kuning yang sudah kusam. Tangannya serupa cakar ayam yang terlipat lunglai di atas selimut, dilekati kuku-kukunya yang agak panjang. Rambutnya putih dan tipis masih menempel kaku di kulit kepalanya, bagaikan bunga pembohong yang tengah berjuang hidup di atas batu sempur.

Pak Trisno tidak bergerak ataupun berbicara, seakan-akan ia menunggu saya untuk menyapanya terlebih dahulu, maka saya pun angkat bicara, “Bapak sehat?”

“Ya, mudah-mudahan,” jawabnya lesu.

Ia berdehem beberapa kali, menggeser posisi duduknya. “Jadi, apa yang akan kamu tulis untuk buku kedua ini?” tanyanya kemudian.

Seorang pelayan masuk, menyorongkan kursi anyaman yang agak basah ke belakang kaki saya, lalu saya pun duduk di atasnya.

Pak Trisno menimba suaranya dari kerongkongan yang sudah aus dan kering, seperti lubang sumur yang sudah lama tak terpakai. “Bagaimana kalau perjuangan saya sewaktu peristiwa Lubang Buaya?”

“Apa yang bisa Bapak ceritakan seputar peristiwa Lubang Buaya?” pancing saya.

Tangannya yang kurus bersusah payah mengangkat tubuhnya untuk membetulkan duduknya, lalu berkata lagi, “Sebetulnya enggak banyak posisi, tapi kamu bisa bisa membuatnya lebih banyak.”

“Dengan mengembangkan cerita itu?”

“Ya.”

“Bagaimana kalau saya membahas juga soal perjalanan hidup anak-anak Bapak?”

“Jangan,” jawabnya cepat. “Kalau almarhum istri saya boleh, tapi sepintas saja.”

Saya pun bangkit, menyesap teh dari meja, kemudian mengeluarkan saputangan, dan mengelap wajah, leher, serta bagian belakang pergelangan tangan. Saya duduk lagi dan seketika ingin merokok namun agak ragu. Pria tua itu melihat gerakan tubuh saya, seolah membaca pikiran saya.

“Anda boleh merokok, enggak apa-apa,” katanya sambil tersenyum samar.

Saya pun mulai menyalakan rokok dan mengembuskan asapnya pada pria tua itu. Senyumannya tertarik hingga ke sudut mulut yang gelap.

“Anda tidak perlu menceritakan bagaimana istri saya dalam mendidik anak-anak, tetapi cukup menyampaikan soal kesetiaan dan ketulusannya dalam mendampingi saya sebagai jenderal atau perwira tinggi.”

“Hingga akhir hayatnya?” pancing saya lagi.

“Cukup diceritakan sewaktu muda saja. Mungkin beberapa teman masih ada yang hidup sekarang ini, nanti akan saya pilihkan orang-orangnya kalau kamu mau mewawancarai mereka.”

“Bisa juga dari seudara-saudaranya?”

“Jangan! Kebanyakan mereka menyebalkan bahkan menjijikkan. Bagi saya, mereka tidak jauh berbeda dengan kehidupan para pelacur.”

Pak Trisno memicingkan sebagian matanya. Hawa panas yang lembap semakin menyelubungi kami. Pria tua itu mengangguk-angguk, seolah-olah mencerminkan goyah tak sanggup menahan beban di kepalanya. Sekali lagi saya hirup minuman dari meja. “Ayo, ceritakan saja apa yang perlu Bapak ceritakan. Nanti setelah saya mentranskrip dan memilah-milah bagian penting yang perlu ditampilkan, setiap bab bisa Bapak baca sebelum memasuki proses editing terakhir.”

Pria tua itu menjilatinya seraya memandang erat, seolah-olah membuktikan kejujuran saya. Ia menggesekkan kedua telapak tangan secara perlahan, diiringi isapan menelan, layaknya seorang pengurus pemakaman yang sedang menyeka kedua belah tangan.

***

Untuk bukunya yang kedua ini, Pak Trisno berjanji akan membayar sejumlah uang yang sama dengan royalti pada buku pertamanya. Kali ini, ia menyiapkan selembar cek di atas meja yang siap ditandatangani. Meski begitu, ia masih menarik saya perihal poin-poin yang akan saya sampaikan, terutama pada bagian jejak-langkah dan perjuangannya, juga perihal pengabdian istrinya di masa lalu.

“Tadi saya sedikit menyinggung soal almarhumah istri saya. Anda layak menuliskan jerih-payahnya sebagai istri tantara, tapi mengenai anak-anak saya, kira-kira apa yang Anda ketahui tentang anak-anak saya?” katanya agak tegang.

“Saya kurang tahu banyak Pak, tapi kalau Bapak mau, silakan disampaikan dalam bentuk oral history …”

“Enggak usah!” seketika ia membentak. Pandangannya menerawang, dan katanya dengan ketus, “Apa yang pantas Anda tulis mengenai anak-anak saya? Semuanya enggak ada yang beres… semuanya enggak ada yang karena…”

Saya menarik napas panjang. menatap saya terpancang pada raut mukanya yang memerah. Otot-otot menegang di sekitar jidat dan keningnya. Saya membiarkan ia berbicara panjang lebar tentang kehidupan anak-anaknya:

“Yang pertama sudah tiga kali menikah, tapi istri-istrinya enggak ada yang beres. Mereka cantik-cantik tapi nakalnya bukan main, bahkan bekas istri yang ketiga malah tertangkap polisi karena menyelundupkan narkoba ke dalam sel. Dia sendiri pernah terlibat dengan istrinya, kalau saya enggak memperjuangkan mati-matian untuk mengeluarkannya dari penjara. Lalu, anak saya yang kedua berkali-kali minta modal bisnis, tahu-tahunya menjadi bandar judi dan bekerja sama dengan oknum di kepolisian…”

“Bagaimana dengan istrinya?”

“Istrinya memang orang baik-baik dan rajin solat, tapi orang soleh mana yang mau kawin dengan seorang bandar judi?” katanya bengis. “Lalu anak saya yang ketiga adalah perempuan…”

“Poppy,” kataku.

“Lho? Dari mana kamu tahu?” tanyanya kaget.

“Dari pembantu Bapak yang ada di lantai bawah…”

Seketika itu, ia terperanjat dari kursi rodanya, memanggil-manggil pembantunya seperti orang kesurupan, berputar-putar di sekitar ruangan sambil memekik histeris: “Midah! Midaaah! Ngapain kamu bicara tentang orang gila… orang sinting…! Ngomong apa kamu? Ngomong apa kamu, sama tamu brengsek ini… tamu kurang ajar… penulis bajingan ini…!”

Ia menunjuk-nunjuk muka saya sambil marah-marah tak keruan. Tiga orang pembantunya masuk ke lantai dua, seorang sopir ikut menyaksikan kejadian itu. Ketika Pak Trisno kehabisan suara dari kerongkongannya, matanya masih menyorot tajam. Tiba-tiba ia melompat dari kursi rodanya hendak menempeleng saya. Tetapi, kaki yang lumpuh tak dapat menyangga tubuh dan kepalanya, hingga terpelanting ke lantai.

Sambil mengeluarkan suara mendesis bagaikan ular, matanya memelotot tajam. Dari hidung dan mulut ke eluar lendir seperti busa putih, kemudian ketika didudukkan kembali ke kursi roda, tepat pada Pk. 09.13 pagi, ia menghela napasnya yang terakhir. (*)

Oleh: Hafis Azhari

Penulis prosa dan esai di berbagai media nasional, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Jenderal Tua dan Kucing Belang .

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.