Gawi Bergema di Stasi Bello, Jejak Budaya Lio di Tanah Timor

oleh -944 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Jelang perayaan pesta pelindung Stasi Santo Agustinus Bello Senin (25/8/2025) sore, halaman Stasi Santo Agustinus Bello, Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, Kupang, dipenuhi keceriaan. Suara tawa anak-anak bercampur dengan irama musik tradisional gawi, sebuah tarian khas masyarakat Lio, Ende, yang digelar dalam rangka menyongsong pesta pelindung Gereja Santo Agustinus pada 28 Agustus mendatang.

Sebanyak delapan tim dari kalangan pelajar SD hingga SMP tampil bergantian dalam lomba gawi. Lingkaran-lingkaran kecil tercipta di tengah halaman, sementara kaki-kaki mungil menapak ritmis mengikuti alunan lagu Sa Ate. Sorak penonton menambah semarak suasana yang penuh sukacita.

“Lomba ini bukan hanya hiburan, tetapi juga cara menanamkan kecintaan pada budaya sejak dini. Kami ingin anak-anak bangga dan akrab dengan tradisi leluhur mereka,” ujar Agustinus Nebon Koten, panitia penyelenggara, saat ditemui media ini.

Tarian gawi sendiri memiliki makna yang mendalam. Dalam bahasa Lio, ga berarti segan dan wi berarti menarik. Digabungkan, gawi dimaknai sebagai gerakan yang mengundang, merangkul, dan mengajak semua orang merayakan kehidupan bersama.

Agar penilaian objektif, panitia menghadirkan dewan juri dari kalangan praktisi seni budaya, yakni Kamilus Longo, Lefi Leta, dan Elias Djoka. Mereka dikenal luas di dunia seni NTT.

Ketua Stasi Santo Agustinus Bello, Donatus Manehat, menegaskan bahwa pesta pelindung harus menjadi momen spiritual sekaligus kultural.

“Kami ingin tradisi tidak hilang di tengah arus modernisasi. Gawi adalah identitas kita sebagai orang NTT, dan melalui kegiatan ini kita wariskan kepada generasi muda,” kata Don Manehat.

Senada dengan itu, Ketua Tim Juri, Lefi Leta, memberikan apresiasi atas penampilan para peserta.

“Kami bangga karena anak-anak berani tampil dan menunjukkan cinta pada tradisi, meski tidak semua berasal dari Ende. Semua tampil baik, tapi karena ini lomba, kami menilai dengan kriteria tertentu seperti formasi, jumlah penari, keseragaman, gerakan, dan kekompakan. Jangan berkecil hati bagi yang belum maksimal. Tujuan utama adalah memeriahkan pesta pelindung Stasi,” jelasnya.

Lomba gawi anak-anak ini membuktikan bahwa tradisi tak pernah lekang oleh waktu. Di tanah Timor, jejak kaki kecil para penari gawi kembali menggema, mengikat dan menyatukan dalam sukacita perayaan iman dan budaya. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.