Tidak Mati

oleh -116 Dilihat
banner 468x60

MODEL komunikasi Presiden Prabowo terlihat baru: sehari setelah mencopot Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana, sebuah acara besar diadakan di gedung pertemuan besar dan mewah di Sentul. Yang dihadirkan para pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Gedung berkapasitas 10.000 orang itu penuh sesak: mereka adalah penggerak dan pelaksana dapur MBG.

Jelaslah bahwa MBG tidak akan dibatalkan. Masyarakat pun kelihatannya terpuaskan oleh pemecatan dan penangkapan kepala BGN beserta dua wakilnya. Banyak yang usul diberikan hukuman tambahan kepada mereka: kepala mereka dipukuli dengan panci dan wajan.

Bahwa biayanya sangat besar, Presiden Prabowo sedang berusaha cari uang: menyatukan ekspor batu bara dan sawit lewat satu pintunya Danantara Sumberdaya Indonesia. Bagi rakyat, yang penting, kelihatannya, jangan jadikan uang besar itu sebagai barang jarahan para pimpinan BGN/MBG. Soal uangnya dari mana bukan tugas rakyat untuk memikirkannya.

Satu per satu mulai ditemukan cara kontrol sederhana atas mutu MBG. Setidaknya sudah dua jenis makanan yang ditemukan cara kontrolnya: telur dan ayam. Telur tidak boleh didadar. Harus direbus. “Kalau didadar bisa dicampuri macam-macam,” ujar presiden di acara di Sentul itu. “Campuran tepungnya bisa lebih banyak,” ujar presiden, yang disambut teriakan serentak dari sebagian besar yang hadir: “betuuuuuul….”.

Telur itu juga tidak boleh dipotong dua atau tiga. Harus satu butir telur. “Kalau perlu difoto,” ujar presiden. Maksudnya kalau di sajian menu ditemukan telur dadar dan telur yang tidak utuh bisa dilaporkan.

Juklak kedua: untuk menu ayam, ayamnya dipotong berapa. Di dekat podium presiden ada sajian dua piring ayam goreng yang dipotong-potong. Di piring yang kanan satu ayam dipotong 14. Di piring kiri satu ayam dipotong 8. Presiden minta agar kamera media menampilkan potongan ayam itu dari atas, agar jelas. Lalu emak-emak dari dapur MBG diminta naik panggung. Mereka berebut ke podium, menyaksikan potongan ayam itu dari dekat. Presiden pun mengajak emak-emak itu untuk membicarakan potongan itu.

Akhirnya satu “kesepakatan” diambil: dipotong 14 terlalu kecil, dipotong delapan terlalu besar. Maka sebaiknya satu ayam dipotong antara 10 sampai 12 potong tergantung besar-kecil ayamnya. Ayam yang dijual di pasar selama ini beratnya antara 1 sampai 1,2 kg (setara dengan ayam hidup antara 1,2 kg sampai 1,5 kg).

Di panggung itu presiden seperti seorang penyuluh dapur MBG. Yang hadir pun terlihat antusias. Kepentingan dapur MBG adalah agar anggaran satu porsi yang ditentukan pemerintah jangan banyak berkurang di proses pengurusannya.

Menurut ilmu gizi, untuk anak SD, kebutuhan proteinnya sekitar 35-50 gram sehari. Berarti satu ayam dipotong 10 sampai 12 masih cukup. Asal, ada tambahan protein dari telur, tempe atau tahu. Dan susu.

Rasanya enam bulan ke depan fokus pimpinan baru BGN ke soal telur yang jangan didadar dan ayam yang jangan jadi 14 potong. Tapi tahun depan harus lebih maju lagi: bagaimana MBG menjadi pendorong bergeraknya ekonomi di desa. Agar biaya yang besar dari APBN itu tidak habis begitu saja.

Memang sampai sekarang belum ada juklaknya: siapa penanggung jawab pengaitan MBG dengan perputaran ekonomi di desa. Kalau itu diserahkan ke BGN terlalu jauh. Kalau diserahkan ke menteri pertanian terlalu detail. Diserahkan ke bupati setempat? Apakah ada bupati yang mau berpikir teknokratis dan manajerial seperti itu?

Sebenarnya ideal sekali ada koordinasi di satu kabupaten: berapa telur dan ayam dibutuhkan oleh seluruh dapur MBG di satu kabupaten itu. Lalu perlu sayur apa saja dan berapa banyak. Apakah sudah ada peternak telur dan daging ayam di kabupaten itu. Bagaimana pula mengatur distribusinya. Ini pekerjaan mulia tapi njelimet. Pasti bisa. Asal mau.

MBG terlihat akan jalan terus. Anggaran yang dibelanjakan sudah terlalu besar. Ekosistem sudah mulai terbentuk meski masih di tahap awalnya. Perbaikan terus dilakukan.

Kalau keputusan sudah dibuat, kalau dikritik seperti apa pun tidak juga dibatalkan, maka pilihannya hanya satu: harus all out, termasuk mencari jalan bagaimana kian efisien. Kuncinya: efisien atau mati. (*)

Jumat, 5 Mei 2026

Oleh: Dahlan Iskan

Sumber: Catatan Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.