Takdir Di Balik Lionel Messi Memandikan Bayi Lamine Yamal 19 Tahun Lalu

oleh -113 Dilihat
banner 468x60

Kini Keduanya Berhadapan di Final Piala Dunia 2026.

Seorang bayi berusia sekitar lima bulan menangis pelan ketika tubuh mungilnya dimasukkan ke dalam bak plastik berisi air hangat.

Di hadapannya berdiri seorang pemuda berambut panjang, berusia dua puluh tahun, yang tampak kikuk memandikan bayi itu. Seorang fotografer mengabadikan momen tersebut. Setelah itu, semua pulang tanpa merasa baru saja menyaksikan sejarah.

Sembilan belas tahun kemudian, dunia tercengang.

Bayi itu telah menjadi Lamine Yamal. Pemuda itu telah menjelma Lionel Messi. Kini keduanya berdiri saling berhadapan di final Piala Dunia 2026.

-000-

Ada foto yang indah karena komposisinya. Ada foto yang berharga karena nilai sejarahnya. Namun sangat sedikit foto yang memperoleh makna terbesarnya bukan ketika tombol kamera ditekan, melainkan bertahun-tahun sesudahnya.

Foto Lionel Messi memandikan bayi Lamine Yamal termasuk dalam kategori yang terakhir.

Menjelang final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol, foto itu kembali memenuhi halaman media dunia. Bukan karena direkayasa oleh kecerdasan buatan. Bukan pula karena manipulasi digital. Foto tersebut adalah dokumentasi asli yang diambil fotografer Joan Monfort pada Desember 2007 di ruang ganti Camp Nou.

Saat itu, Monfort mendapat tugas dari harian olahraga Sport di Barcelona untuk memotret kalender amal tahunan yang diselenggarakan bersama UNICEF dan Yayasan FC Barcelona. Gagasannya sederhana. Sejumlah pemain Barcelona akan berinteraksi dengan bayi-bayi yang dipilih melalui undian dari keluarga-keluarga di wilayah Catalunya.

Salah satu keluarga yang beruntung berasal dari kota Mataró. Seorang ibu bernama Sheila Ebana membawa bayi laki-lakinya yang baru berusia sekitar lima bulan. Nama bayi itu Lamine Yamal Nasraoui Ebana.

Lionel Messi ketika itu baru berusia dua puluh tahun. Ia belum mengangkat Piala Dunia. Ia belum memenangkan delapan Ballon d’Or.

Statusnya masih seorang bintang muda yang sedang menanjak, meskipun ia telah memenangkan dua gelar La Liga dan satu trofi Liga Champions bersama Barcelona.

Menurut Joan Monfort, Messi tampak pemalu dan canggung ketika diminta memandikan seorang bayi yang sama sekali tidak dikenalnya. Pada awalnya, ia bahkan tidak tahu bagaimana harus menggendong bayi itu.

Tidak ada pidato. Tidak ada nubuat. Tidak ada simbol yang sengaja diciptakan.

Hanya seorang pemain muda yang menjalankan kegiatan amal.

Setelah kalender itu diterbitkan, foto tersebut praktis terlupakan. Selama bertahun-tahun, hampir tidak ada yang membicarakannya.

Barulah ketika Lamine Yamal muncul sebagai fenomena Barcelona dan kemudian menjadi salah satu pemain muda paling bersinar di Eropa, ayahnya membagikan foto lama itu di media sosial dengan keterangan, “awal dari dua legenda”.

Tiba-tiba dunia melihat sesuatu yang dahulu tidak terlihat.

Sebuah cerita yang ditulis perlahan oleh waktu.

Kini narasi itu mencapai puncaknya. Messi memimpin Argentina. Yamal memimpin Spanyol. Seorang legenda dari satu generasi dan penerus dari generasi berikutnya berdiri sebagai lawan di panggung sepak bola terbesar.

Joan Monfort pernah mengaku bahwa dahulu ia tidak percaya pada takdir. Namun setelah melihat bagaimana kehidupan kedua tokoh dalam fotonya berkembang, ia mulai bertanya-tanya apakah semua itu benar-benar sekadar kebetulan.

Messi pun merasa takjub. Dahulu ia memandikan seorang bayi. Kini bayi itu telah menjelma menjadi salah satu pemain terbaik dunia yang harus dihadapinya di final.

Foto itu menjadi viral bukan karena isinya berubah.

Yang berubah adalah maknanya.

Sejarah memang sering bekerja seperti itu. Kita baru memahami arti sebuah peristiwa setelah waktu menyusun kepingan-kepingannya menjadi sebuah kisah yang utuh.

-000-

Saya memandangi foto itu berulang kali. Bukan hanya sebagai pecinta sepak bola, melainkan sebagai seseorang yang selama puluhan tahun mencoba memahami bagaimana sejarah bekerja.

Sepanjang hidup, saya sering menyaksikan pertemuan-pertemuan kecil yang tampaknya biasa saja. Sebuah percakapan singkat. Sebuah makan siang sederhana. Sebuah perkenalan yang berlangsung hanya beberapa menit.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru menyadari bahwa dari momen yang tampak sepele itu lahir persahabatan, perubahan karier, bahkan keputusan-keputusan yang mengubah jalan hidup banyak orang.

Pengalaman semacam itu membuat saya semakin rendah hati di hadapan waktu.

Kita sering merasa sedang menjalani hari yang biasa. Padahal mungkin kita sedang berdiri di sebuah persimpangan sejarah pribadi.

Saya teringat begitu banyak tokoh yang pernah saya jumpai ketika mereka belum dikenal publik. Saya juga pernah melihat orang-orang yang dahulu tampak akan menjadi bintang besar, tetapi kemudian perlahan hilang ditelan zaman.

Dari sana saya belajar satu hal.

Manusia tidak pernah memiliki sudut pandang Tuhan.

Kita hanya melihat satu halaman. Sejarah membaca seluruh buku.

Boleh jadi Joan Monfort hanya sedang menekan tombol kamera. Namun pada saat yang sama, waktu sedang mulai menulis sebuah novel.

-000-

Lalu pertanyaannya menjadi lebih besar. Apakah semua ini takdir? Ataukah hanya sebuah kebetulan yang luar biasa?

Bangsa Yunani menyebutnya moira, garis yang ditenun para dewi. Bangsa Arab menyebutnya qadar, ketetapan yang tersembunyi.

Bangsa Jawa menyebutnya pepesthen, kepastian yang tak tampak. Dari peradaban mana pun manusia berasal, ia selalu menciptakan kata untuk hal yang sama, yakni intuisi bahwa hidup lebih besar daripada kebetulan, meskipun sains belum pernah menemukan buktinya secara empiris.

Ilmu pengetahuan berhati-hati menggunakan kata “takdir”. Sains bekerja dengan sebab-akibat, probabilitas, dan pola yang dapat diuji.

Dalam bahasa statistik, jutaan peristiwa acak terjadi setiap hari. Dari jutaan kemungkinan itu, sesekali muncul rangkaian kebetulan yang terasa begitu mustahil sehingga manusia sulit menerimanya sebagai kebetulan biasa.

Namun filsafat menawarkan lapisan lain.

Persoalannya bukan hanya apakah takdir dapat dibuktikan, melainkan bagaimana manusia memberi makna kepada peristiwa yang dialaminya.

Viktor Frankl pernah menunjukkan bahwa manusia tidak hidup hanya dari fakta. Manusia hidup dari makna yang diberikan kepada fakta.

Foto Messi dan Yamal tidak mengubah masa lalu. Namun foto itu mengubah cara kita membaca masa lalu.

Di situlah letak keindahannya.

Barangkali hidup bukan tentang mengetahui seluruh rencana semesta. Hidup adalah tentang menjalani setiap peristiwa dengan sungguh-sungguh, sebab kita tidak pernah tahu peristiwa kecil mana yang kelak menjadi bab paling menentukan dalam kisah hidup kita.

-000-

Namun, benarkah semua ini merupakan tanda bahwa dunia bergerak mengikuti suatu rancangan yang tersembunyi?

Ataukah manusia, karena takut pada kekacauan, selalu tergoda menemukan pola pada peristiwa-peristiwa yang sebenarnya lahir dari kebetulan?

Di titik itulah sains hadir. Bukan untuk merampas keindahan dari sebuah kisah, melainkan untuk mengingatkan bahwa rasa takjub tidak selalu harus berakhir menjadi keyakinan.

Sains tidak membunuh misteri. Ia hanya membersihkan kaca tempat kita memandangnya.

Untuk memahami batas yang samar antara takdir yang kita rasakan dan kebetulan yang dapat dihitung, dua buku menawarkan jalan masuk yang sangat menarik.

Dua Buku untuk Memahami Mengapa Kebetulan Kadang Terlihat Seperti Takdir. Buku pertama berjudul The Black Swan, karya Nassim Nicholas Taleb, terbit pada 2007.

Taleb mengajukan satu gagasan yang mengubah cara kita memahami sejarah. Menurutnya, kehidupan manusia sangat sering dibentuk oleh peristiwa yang langka, tidak terduga, tetapi membawa dampak luar biasa besar. Ia menyebutnya Black Swan, Angsa Hitam.

Masalah terbesar manusia, menurut Taleb, bukan hanya karena kita tidak mampu memprediksi masa depan. Masalahnya adalah bahwa dari jutaan peristiwa yang terjadi, kita tidak pernah mengetahui peristiwa mana yang kelak akan menjadi penting.

Setelah sebuah kejadian berlangsung, otak manusia segera menyusun cerita yang membuat semuanya tampak masuk akal. Padahal sebelum peristiwa itu terjadi, hampir tidak seorang pun mampu meramalkannya.

Foto Lionel Messi memandikan bayi Lamine Yamal merupakan ilustrasi yang nyaris sempurna atas gagasan Taleb.

Pada 2007, tidak ada analis sepak bola, pelatih, ataupun fotografer yang dapat memperkirakan bahwa bayi itu akan menjadi salah satu pemain terbaik generasinya.

Tidak ada pula yang dapat membayangkan seberapa jauh Messi kelak menjelma menjadi salah satu ikon terbesar dalam sejarah Barcelona dan Argentina.

Lebih mustahil lagi membayangkan keduanya akan bertemu sebagai lawan dalam final Piala Dunia hampir dua dekade kemudian.

Taleb mengingatkan agar kita berhati-hati terhadap ilusi narasi. Setelah rangkaian kejadian selesai, kita mudah berkata, “Memang sudah seharusnya demikian.”

Padahal sejarah selalu dipenuhi jutaan kemungkinan lain yang tidak pernah terjadi.

Namun justru karena ketidakpastian itu, kehidupan menjadi begitu indah.

Kita dipanggil untuk menjalani setiap hari dengan sepenuh hati, sebab kita tidak pernah mengetahui peristiwa kecil mana yang kelak menjadi Angsa Hitam dalam perjalanan hidup kita.

-000-

Buku kedua berjudul The Drunkard’s Walk: How Randomness Rules Our Lives, karya Leonard Mlodinow, terbit pada 2008.

Mlodinow membawa pembaca memasuki dunia probabilitas dengan bahasa yang sederhana, tetapi menggugah. Ia menunjukkan bahwa manusia secara naluriah tidak nyaman menghadapi kebetulan.

Karena itu, kita terus-menerus mencari pola, bahkan ketika pola itu mungkin tidak pernah ada.

Menurut Mlodinow, otak manusia memang dirancang untuk menemukan makna. Dalam proses evolusi, kemampuan tersebut membantu manusia bertahan hidup. Namun kemampuan yang sama juga menyebabkan kita sering melihat hubungan sebab-akibat di tempat yang sebenarnya hanya dipenuhi kebetulan statistik.

Namun Mlodinow tidak mengatakan bahwa hidup tidak bermakna.

Sebaliknya, ia mengajak kita membedakan antara fakta objektif dan makna subjektif.

Secara ilmiah, banyak peristiwa merupakan hasil dari kombinasi peluang yang sangat kecil. Namun secara manusiawi, kita tetap dapat memberi makna kepada pengalaman itu.

Foto Messi dan Yamal menjadi contoh yang sangat menarik.

Secara statistik, foto itu mungkin hanyalah hasil dari satu undian keluarga UNICEF, satu sesi pemotretan, dan perjalanan hidup dua manusia yang memiliki bakat luar biasa.

Namun bagi jutaan orang di seluruh dunia, foto tersebut berbicara lebih jauh daripada angka probabilitas.

Ia menjadi simbol estafet generasi, harapan, dan misteri kehidupan yang tidak pernah sepenuhnya dapat dijelaskan oleh matematika.

Mlodinow mengingatkan bahwa kebijaksanaan bukanlah memilih antara sains dan makna.

Kebijaksanaan adalah mengetahui batas keduanya.

Ilmu menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi. Makna menjelaskan mengapa sesuatu menyentuh hati manusia.

-000-

Ada orang-orang yang akan menolak seluruh renungan di atas.

Mereka berkata bahwa semua ini hanyalah kebetulan statistik. Dari miliaran manusia dan jutaan foto yang diambil setiap tahun, sangat mungkin muncul satu kisah yang tampak luar biasa.

Tidak ada alasan untuk membawa konsep takdir ke dalamnya. Yang bekerja hanyalah hukum probabilitas.

Pandangan itu layak dihormati.

Memang benar, sains tidak menemukan bukti bahwa foto tersebut merupakan tanda gaib. Tidak ada eksperimen ilmiah yang mampu membuktikan bahwa Messi ditakdirkan memandikan penerus simboliknya.

Seluruh fakta dapat dijelaskan melalui rangkaian sebab-akibat yang rasional.

Namun di sinilah letak perbedaannya.

Esai ini tidak berusaha membuktikan keberadaan takdir melalui foto tersebut. Esai ini mengajak kita merenungkan sesuatu yang lebih dalam.

Mengapa manusia, dari zaman Yunani hingga era kecerdasan buatan, selalu terdorong mencari makna di balik kebetulan?

Karena manusia bukan hanya makhluk biologis.

Manusia juga makhluk yang hidup melalui cerita.

Sejarah dibangun bukan hanya oleh data, tetapi juga oleh narasi yang memberi arah kepada data itu.

Bangsa-bangsa bertahan bukan semata-mata karena ekonomi. Mereka bertahan karena memiliki kisah bersama.

Keluarga tidak dipersatukan hanya oleh hubungan darah. Mereka dipersatukan oleh kenangan yang dimaknai bersama.

Foto Messi dan Yamal menjadi kuat bukan karena ia membuktikan adanya takdir.

Foto itu menjadi kuat karena mengingatkan kita bahwa hidup selalu lebih besar daripada kemampuan kita menjelaskannya.

-000-

Semakin bertambah usia saya, semakin saya menyadari bahwa hidup bukanlah teka-teki yang harus diselesaikan seluruhnya.

Hidup adalah perjalanan yang harus dijalani dengan kesungguhan.

Saya pernah menyusun rencana yang begitu rinci, tetapi kehidupan memilih jalan yang sama sekali berbeda.

Saya juga pernah memasuki sebuah pertemuan tanpa harapan apa pun, lalu justru dari sanalah lahir kerja sama yang mengubah arah hidup saya.

Ada orang-orang yang datang hanya sebentar, tetapi meninggalkan pengaruh selama puluhan tahun.

Ada pula orang-orang yang setiap hari bersama kita, tetapi tidak pernah benar-benar mengubah apa pun.

Karena pengalaman-pengalaman itulah, saya semakin berhati-hati memperlakukan setiap perjumpaan.

Mungkin orang yang hari ini hanya kita sapa sepintas kelak menjadi sahabat terdekat.

Mungkin buku yang hari ini kita baca sambil lalu mengubah cara kita memandang dunia.

Mungkin keputusan kecil yang kita anggap sepele justru menentukan arah hidup anak cucu kita.

Dan mungkin pula, seperti Joan Monfort ketika menekan tombol kameranya pada Desember 2007, kita sedang merekam sejarah tanpa pernah menyadarinya.

Tidak seorang pun mampu melihat seluruh rancangan kehidupan.

Namun setiap orang dapat memilih untuk menjalani bagian kecil yang dipercayakan kepadanya dengan penuh integritas.

Barangkali di situlah makna terdalam dari foto Messi dan Yamal.

Bukan bahwa masa depan telah ditentukan secara pasti, melainkan bahwa masa depan sering kali tumbuh diam-diam di dalam peristiwa yang hari ini kita anggap biasa.

-000-

Sembilan belas tahun lalu, dunia hanya melihat seorang pemain muda memandikan seorang bayi.

Hari ini, dunia melihat dua generasi berdiri di panggung yang sama, saling menatap sebelum peluit final Piala Dunia dibunyikan.

Apakah itu takdir?

Apakah itu kebetulan?

Barangkali pertanyaan tersebut tidak akan pernah memperoleh jawaban yang benar-benar memuaskan.

Namun satu hal pasti.

Hidup selalu menyimpan kemungkinan yang jauh lebih besar daripada yang mampu dibayangkan oleh pikiran manusia.

Sejarah tidak hanya dibentuk oleh peristiwa-peristiwa besar yang sejak awal dikenali sebagai sejarah.

Sejarah sering kali justru lahir dari peristiwa-peristiwa kecil yang tampak biasa, lalu baru dikenali sebagai titik balik setelah waktu menyelesaikan pekerjaannya.

Karena itu, jangan pernah meremehkan hari ini.

Waktu memiliki cara yang sunyi untuk mengubah momen biasa menjadi sejarah luar biasa.

Mungkin, tanpa kita sadari, hari ini kita sedang hidup di halaman pertama dari sebuah kisah yang kelak akan dikenang dunia.***

Jakarta, 18 Juli 2026

Oleh: Denny JA

REFERENSI

  1. The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable
    Nassim Nicholas Taleb
    Random House, 2007.
  2. The Drunkard’s Walk: How Randomness Rules Our Lives
    Leonard Mlodinow
    Pantheon Books, 2008.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.