Prabowo Mahathir

oleh -79 Dilihat
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutan saat meresmikan Motor Listrik Nasional (Molinas) dan ekosistem pendukungnya di Cikarang. (Foto: Istimewa)
banner 468x60

Presiden Prabowo akan jadi Mahathir Mohamad-nya Indonesia?

Lihatlah langkah Mahathir di tahun 1981: Malaysia mengambil alih perusahaan perkebunan terbesar Inggris di Malaysia. Yakni Guthrie Plantation. Tahun berikutnya dua perusahaan Inggris lagi diambil alih: Golden Hope dan Sime Darby.

Nama Mahathir tidak muncul dalam transaksi menghebohkan dunia saat itu. Yang dipakai Mahathir adalah dua tokoh profesional perbankan: Tun Ismail Mohamad Ali dan Abdul Khaled Ibrahim. Saking hebohnya, pengambilalihan itu sampai dikenal dalam sejarah bisnis dengan sebutan “Serangan Fajar”: Dawn Raid.

Nama Prabowo juga tidak muncul dalam transaksi menghebohkan di Kalimantan pekan lalu: kendali PT Bayan Resources dibeli oleh Haji Isam –orang asli Kalsel keturunan Bugis Makassar.

Sama dengan yang dilakukan Mahathir: kilat. Mendadak. Tiba-tiba. Tahu-tahu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia itu pindah dari Low Tuck Kwong ke Haji Syamsuddin ‘Isam’ Arsyad.

Di tahun 1981 itu, Tun Ismail menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Malaysia. Khaled Ibrahim sebagai CEO BUMN Malaysia. Dua orang itulah yang merancang Serangan Fajar di London.

Di hari Jumat tanggal 4 September, pasar modal di London Stock Exchange masih normal. Saham Guthrie masih diperdagangkan dengan harga datar 662 sen Pound sterling. Hari Sabtu dan Minggu bursa London libur.

Tapi sejumlah perusahaan broker saham di London tidak libur. Mereka mengadakan rapat-rapat rahasia dengan Ibrahim yang khusus datang ke London untuk mengendalikan Serangan Fajar itu langsung di lokasi.

Para broker itu secara sendiri-sendiri beroperasi menghubungi beberapa pemegang saham Guthrie. Satu broker menghubungi satu atau dua pemegang saham. Tidak saling tahu. Sangat rahasia.

Para broker itu menawarkan harga yang menggiurkan: 30 persen lebih mahal dari harga yang diperdagangkan di hari Jumat. Banyak pemegang saham yang tertarik untuk menjual. Transaksi rahasia pun terjadi sepanjang hari Sabtu dan Minggu.

Di hari Senin pagi, 7 September 1981, ketika perdagangan saham di lantai bursa dibuka terjadilah kejutan luar biasa: pemegang saham pengendali Guthrie Plantation sudah pindah tangan. Bukan lagi perusahaan Inggris. Tapi pindah ke orang bumiputra Malaysia.

Heboh seheboh-hebohnya. Inilah serangan nasionalisasi perusahaan Inggris di Malaysia.

Di Malaysia sendiri dirasa sangat nasionalis: bisa mengembalikan 800 km2 tanah Malaysia yang dikuasai perusahaan Inggris. Ukuran itu tidak terlalu luas untuk ukuran lahan perkebunan di Indonesia. Tapi sangat simbolis bagi Malaysia.

Apakah setelah itu harga saham Guthrie jatuh? Tidak. Setelah itu harga saham Guthrie terus naik –seperti juga harga saham Bayan Resources setelah pindah ke tangan Haji Isam.

Nilai beli yang kemahalan 30 persen di transaksi Serangan Fajar sudah tertutupi oleh kenaikan harga saham.

Tahun berikutnya aksi lanjutan mampu dilakukan terhadap Golden Hope dan Sime Darby. Tiga perusahaan itu kemudian dijadikan satu holding yang sekarang dikenal dengan nama SD Guthrie Berhad.

Sejak Serangan Fajar itu berakhirlah penjajahan Inggris di Malaysia dalam arti yang sebenarnya: secara politik dan ekonomi. Lima tahun kemudian Guthrie keluar dari bursa saham London. Guthrie pindah ke pasar saham Kuala Lumpur.

Yang menarik, transaksi itu tidak mengguncangkan ekonomi Malaysia. Kenapa? Karena tidak terjadi nasionalisasi secara paksa. Tidak ada perampasan hak. Tidak ada rasa anti-Barat. Tidak pula anti kapitalisme. Transaksi itu dilakukan lewat bursa saham.

Inggris memang sangat terpukul dan heboh: perusahaan yang didirikan tahun 1821 itu jadi perusahaan bekas jajahannya. Tapi Inggris kemudian mengesahkan transaksi itu: fair, wajar, dan legal!

Itu berbeda dengan yang dilakukan Indonesia di tahun 1950-an: perusahaan Belanda dinasionalisasi begitu saja. Perusahaan-perusahaan Belanda itu lantas jadi perusahaan BUMN yang salah urus. Penuh korupsi. Memakan banyak uang negara.

Jelaslah bahwa yang dilakukan Mahathir di tahun 1981 itu sangat profesional. Yang ditunjuk sebagai operator Serangan Fajar pun orang yang sangat profesional meski Tun Ismail masih iparnya sendiri.

Tun Ismail lulusan Cambridge, London. Ia tinggal lama di London karena tidak bisa pulang: dunia sedang terlibat perang dunia. Maka Tun Ismail mengerti benar budaya pasar modal di sana.

Sekarang SD Guthrie Berhad tetap menjadi perusahaan BUMN Malaysia yang ukurannya raksasa. Perkebunan sawit dan karetnya diperluas sampai Sabah, Serawak, dan Indonesia.

Tun Ismail sudah lama meninggal akibat serangan flu di usianya yang 79 tahun. Ia tidak tahu apakah Haji Isam berperan seperti dirinya di tahun 1981. Atau Haji Isam adalah Haji Isam sebagai pribadi dalam membeli 62 persen saham Low Tock Kwong di Bayan dengan harga Rp 300 triliun itu.

Rabu, 19 Agustus 2026


Oleh: Dahlan Iskan

Sumber: Catatan Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.