Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

oleh -96 Dilihat
banner 468x60

Getaran dahsyat yang merobek rahim bumi Flores meremukkan tembok semen dan mematahkan genting; ia merobek selubung ilusi tentang keabadian yang selama ini kita sangka kokoh. Di tengah kepulan debu kapur dan puing-puing kayu yang berserakan, manusia kini berdiri telanjang di bawah dinginnya langit malam, kehilangan atap yang dulu menjadi batas antara dirinya dan semesta.

Namun, justru di dasar kehancuran dan ketelanjangan eksistensial itulah, pandangannya yang kabur oleh air mata mulai mendongak menatap langit. Jiwa yang rapuh itu meraba-raba kegelapan, melafalkan rindu purba: “Wajah-Mu kucari, ya Tuhan.” Pencarian akan wajah Sang Ilahi bukanlah pelarian dari realitas yang pahit, melainkan sebuah keberanian untuk menatap langsung ke dalam kedalaman penderitaan, lalu menemukan di sana detak jantung kehadiran-Nya yang tak pernah beranjak.

Gempa bumi yang melanda Flores pada 15 Agustus 2026 menyisakan duka-derita yang dalam. Rumah-rumah yang dibangun dengan keringat bertahun-tahun runtuh dalam sekejap. Anak-anak ‘memeluk ketakutan’. Dan, orang tua mencemaskan hari esok yang tiba-tiba menjadi kabur. Dalam situasi itulah Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup Agung Ende, menulis Surat Gembala Pascagempa yang bertanggal 12 September 2026. Surat itu bukan dokumen administratif, melainkan sebuah ‘renungan iman’ yang lahir dari rahim penderitaan bersama. Surat itu dibacakan dalam perayaan ekaristi di semua paroki di wilayah Keuskupan Agung Ende.

Surat Gembala tersebut mengajak umat untuk merenungkan Pesta Pemuliaan Salib Suci yang dirayakan setiap 14 September. Salib, dalam iman Katolik, bukanlah simbol kekalahan. Santo Paulus menyebutnya sebagai kekuatan Allah bagi mereka yang diselamatkan. Tuhan yang diimani oleh umat Katolik bukanlah Tuhan yang menjaga jarak dari penderitaan manusia. Tuhan itu adalah Allah yang turun, merendah, dan memikul salib bersama ciptaan-Nya. Wajah Tuhan tampak justru dalam diri Kristus yang tersalib.

Mgr. Budi menegaskan bahwa wajah Tuhan yang dicari itu tampak pada wajah para penderita. Ia hadir dalam diri mereka yang meratapi kehilangan orang terkasih, dalam diri pengungsi yang tidur di tenda-tenda penampungan, dan pada wajah anak-anak yang diliputi ketakutan. Namun, wajah Tuhan juga bercahaya dalam diri mereka yang mengulurkan tangan untuk membantu. Solidaritas dari Paus Leo XIV, perhatian pemerintah, dan kepedulian berbagai pihak menjadi pancaran wajah belas kasih Ilahi. Tuhan tidak memalingkan wajah-Nya dari Flores. Ia justru ‘menatap lebih dekat’.

Gempa bumi bukanlah hukuman Tuhan. Pernyataan ini penting untuk ditegaskan di tengah kebingungan dan ketidakpercayaan yang mungkin menyergap hati umat. Bencana alam adalah bagian dari dinamika ciptaan, dan dari setiap peristiwa alam manusia dipanggil untuk belajar. Mgr. Budi mengajak Gereja untuk menghayati semangat ‘kenosis’. Apa itu? Ia adalah keberanian mengosongkan diri dari kepentingan dan kenyamanan sendiri demi hadir bagi mereka yang miskin dan menderita. Di titik ini, bangkit dari bencana berarti membangun kembali dengan semangat baru yang berakar pada kepekaan terhadap penderitaan sesama.

Surat Gembala tersebut juga memuat pedoman praktis yang sangat relevan dengan situasi saat ini. Pertama, perayaan liturgis hendaknya disesuaikan dengan kondisi gereja atau kapela yang masih aman. Para pastor paroki diberi kewenangan untuk menentukan tempat yang tepat bagi perayaan Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya. Kedua, dalam hal penerimaan bantuan, Uskup menekankan bahwa prioritas harus diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan. Keadilan tidak selalu berarti memberikan hal yang sama kepada semua orang, melainkan memberikan perhatian sesuai dengan tingkat penderitaan masing-masing. Iri hati dan kecemburuan harus dijauhkan agar bencana alam tidak ‘melahirkan bencana sosial’ berupa perpecahan dan konflik.

Ketiga, Mgr. Budi meminta agar pesta-pesta yang menyertai perayaan gerejani disederhanakan atau bahkan ditiadakan. Permandian tidak dipestakan, dan perayaan komuni pertama, pernikahan, tahbisan imam, serta peringatan ulang tahun paroki harus diadakan secara sederhana. Kesederhanaan ini merupakan ‘pilihan iman dan tanda bela rasa’ terhadap mereka yang masih berjuang memulihkan kehidupan. Ia juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap keluarga sendiri, terutama bagi pendidikan anak-anak dan perawatan orang tua serta orang sakit.

Keempat, mengenai tahapan pemulihan, Mgr. Budi mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menempatkan pemerintah sebagai penanggung jawab utama. Tahap transisi dan pemulihan mencakup pendampingan pastoral dan trauma healing, pemulihan ekonomi, serta perbaikan hunian warga dan fasilitas umum. Keuskupan Agung Ende akan berpartisipasi sesuai kemampuan yang ada. Dalam rehabilitasi fasilitas gereja, prinsip solidaritas dan subsidiaritas menjadi panduan. Pembangunan kembali harus menjadi kesempatan untuk belajar dari pengalaman gempa sehingga bangunan yang didirikan lebih aman, layak, dan sederhana.

Reruntuhan, pada akhirnya, dapat menjadi ‘altar yang baru’. Di atas puing-puing yang pernah menjadi dinding dan atap, manusia menaburkan benih harapan yang akarnya menembus kedalaman duka dan batangnya menjulang menuju langit yang tak lagi asing. Flores tidak sedang ditelan oleh kegelapan. Ia sedang dilahirkan kembali melalui air mata dan tangan-tangan yang saling menggenggam. Wajah Tuhan tidak pernah jauh dari tanah yang gemetar, sebab Ia telah lebih dahulu memilih untuk tinggal di sana. Di dalam retakan, di dalam duka-derita, di dalam napas setiap orang yang masih berani berharap.

Oleh: Anselmus DW Atasoge

Penulis adalah Staf Pengajar di Stipar Ende dan Anggota Puspas KAE

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.