Ada sesuatu yang ganjil tentang hidup: kita datang tanpa membawa apa-apa, lalu sepanjang usia berusaha mendulang harta, pengakuan, cinta, pengetahuan, dan kenangan, seakan semua itu dapat kita bawa ketika tiba saatnya pergi.
Padahal sejak awal, kematian telah berjalan bersama kita.
Ia tidak tergesa-gesa. Ia hanya menunggu di ujung jalan, sementara kita sibuk membagi waktu menjadi kemarin, hari ini, dan esok.
Mungkin karena itu Socrates memandang filsafat sebagai latihan menghadapi kematian. Kesadaran akan batas membuat manusia bertanya lebih sungguh-sungguh: untuk apa aku hidup, apa yang layak kucintai, dan kehidupan seperti apa yang pantas kujalani?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi sebagian besar hidup kita mungkin justru dihabiskan untuk menghindarinya.
Kita bekerja agar merasa berguna, mencintai agar tidak sendirian, mengejar keberhasilan agar keberadaan kita terasa berarti. Kita meninggalkan nama, karya, anak-anak, rumah, dan cerita, seolah jejak dapat menunda kefanaan.
Namun kematian tidak bernegosiasi.
Ia datang kepada raja dan pengemis dengan bahasa yang sama.
Marcus Aurelius, di tengah kemegahan kekuasaan Roma, tetap mengingatkan dirinya bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari alam dan waktu. Pada akhirnya tubuh kembali menjadi debu.
Karena itu setiap detik menjadi berharga.
Nietzsche mengajak kita lebih jauh: bukan sekadar menerima hidup, melainkan mencintai nasib—amor fati. Ada luka yang tak kita minta, cinta yang tak kembali, pintu yang tertutup, orang-orang yang hanya dititipkan untuk beberapa musim.
Mencintai hidup bukan berarti menyukai segala yang terjadi di dalamnya. Ia berarti sanggup berkata: ya, semua ini pernah menjadi bagian dariku.
Bagi Albert Camus, dunia pun tidak selalu memberi jawaban. Kita bertanya mengapa orang baik menderita, mengapa yang dicintai harus mati, mengapa mencintai jika kehilangan menunggu di ujungnya. Alam semesta sering menjawab dengan diam.
Namun ketiadaan jawaban bukan alasan untuk menyerah. Kita tetap dapat hidup, mencipta, mencintai.
Mungkin makna bukan sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang kita kerjakan: dalam secangkir kopi bersama orang yang dicintai, tangan yang menggenggam tangan lain, seorang ibu yang menyiapkan sarapan, atau pohon yang ditanam meski kita tahu tak akan menikmati seluruh rindangnya.
Hidup adalah keberanian menanam sesuatu yang kelak kita tinggalkan.
Rainer Maria Rilke memandang kematian bukan sekadar akhir, melainkan sesuatu yang sejak awal ikut membentuk kehidupan. Barangkali itu sebabnya kehilangan membuat kita melihat dengan lebih jernih.
Ketika seseorang masih di samping kita, kehadirannya terasa biasa. Kita menunda berkata aku mencintaimu, menunda meminta maaf, menunda pulang, seolah esok selalu tersedia.
Sampai suatu hari telepon tak lagi diangkat.
Kursi itu kosong.
Dan suara yang dahulu akrab hanya tinggal di ingatan.
Saat itulah kita tahu: yang paling mahal bukan benda yang dapat dibeli, melainkan waktu yang tak dapat dikembalikan.
Seneca mengingatkan betapa mudah manusia menyia-nyiakan waktu. Kita cemas terhadap masa depan, menyesali masa lalu, dan lupa bahwa hidup hanya berlangsung sekarang.
Tubuh berada di sini, tetapi pikiran mengembara ke tempat lain.
Barangkali kebijaksanaan adalah kemampuan untuk kembali—kepada napas, kepada orang di hadapan kita, kepada cahaya pagi, kepada hidup yang sedang berlangsung.
Bagi Rabindranath Tagore, manusia tidak berdiri sendiri. Kita terhubung dengan sesama, alam, waktu, dan sesuatu yang lebih besar daripada diri kita.
Karena itu seseorang tidak sepenuhnya hilang ketika mati.
Ia tinggal dalam cara kita berbicara, dalam lagu yang mengingatkan kita kepadanya, dalam kebiasaan yang kita warisi, dalam kalimat yang tiba-tiba muncul ketika kita membutuhkannya.
Orang yang mati kadang hanya berpindah tempat: dari dunia yang dapat disentuh menuju dunia yang dapat dikenang.
Tetapi bahkan kenangan pun memudar.
Suatu hari generasi baru akan lahir tanpa mengenal nama kita. Rumah mungkin dihancurkan. Buku mungkin tak lagi dibaca. Foto kita terselip di laci yang tak pernah dibuka.
Bahkan orang terakhir yang mengingat wajah kita akan pergi.
Lalu apa yang tersisa?
Mungkin bukan nama, harta, atau tepuk tangan, melainkan jejak kecil dalam kehidupan orang lain: seseorang yang pernah kita cintai, tangan yang pernah kita genggam, hati yang pernah kita kuatkan.
Mungkin hidup tidak diukur oleh panjang bayangan kita setelah mati, melainkan oleh kehangatan yang sempat kita berikan ketika masih berada di sini.
Kierkegaard mengingatkan tentang keberanian menjadi diri sendiri: memilih tanpa kepastian, mencintai meski kehilangan selalu mungkin.
Sebab tidak mencintai agar tidak kehilangan bukanlah kemenangan.
Itu hanya kehilangan yang datang lebih awal.
Dan tidak hidup agar tidak mati hanyalah kematian yang datang lebih dini.
Maka hiduplah.
Katakan yang perlu dikatakan. Pulanglah ketika masih ada rumah. Peluklah mereka yang masih dapat dipeluk. Maafkan jika mampu. Dengarkan seseorang sampai selesai.
Sebab suatu hari semua yang kita anggap biasa akan menjadi mahal: kesempatan untuk mengalaminya sekali lagi.
Ketika kematian akhirnya datang, kita tidak perlu menyambutnya seperti pahlawan. Cukup dengan ketenangan seseorang yang telah mencoba hidup.
Kita tidak perlu mengatakan bahwa hidup kita sempurna.
Cukup:
Aku pernah mencintai.
Aku pernah terluka.
Aku pernah gagal.
Aku pernah kehilangan dan tetap bangun keesokan paginya.
Aku pernah melihat matahari terbit setelah malam yang panjang.
Aku pernah menjadi rumah bagi seseorang, meski hanya sebentar.
Aku pernah berada di dunia ini.
Dan selama berada di sini, aku mencoba sungguh-sungguh hidup.
Mungkin kematian tidak bertanya berapa banyak yang kita kumpulkan. Ia tidak peduli pada gelar, jabatan, rekening, atau tepuk tangan.
Ia hanya datang.
Sebelum itu, masih ada pagi. Masih ada napas. Masih ada seseorang untuk dicintai, luka yang mungkin sembuh, kebaikan yang dapat dilakukan, halaman yang belum ditulis.
Maka jangan terlalu sibuk memikirkan halaman terakhir sampai lupa membaca halaman yang sedang terbuka.
Kita tidak memiliki selamanya.
Kita hanya memiliki saat ini.
Dan mungkin—hanya mungkin—itu sudah merupakan bentuk keabadian yang cukup.
Oleh: Yudi Latif







