Tentu ada yang mengeluh: makanan MBG tidak enak. Ada seorang ibu yang bercerita anaknya tidak mau makan makanan MBG. Apakah itu berarti semua makanan MBG tidak enak?
Saya teringat saat makan ke restoran yang belum pernah ke situ sebelumnya. Belum tahu masakannya enak atau tidak. Saya coba satu menu. Tidak enak. Saya pun bercerita ke Galuh Banjar: jangan pesan banyak-banyak. Biasanya, kalau satu menu tidak enak, menu lainnya juga tidak akan enak. Pun sebaliknya.
Anda sudah tahu: enak dan tidak enak itu selera. Anda juga sudah tahu: enak itu belum tentu bergizi, bahkan, belum tentu tidak berbahaya bagi kesehatan.
Sering saya memuji satu masakan di awal: makanan ini enak sekali. Setengah jam setelah makan mulailah menyesal: tenggorokan terasa terganggu. Juga lidah. Tingkat terganggunya tidak seberapa tapi saya langsung merasa tidak perlu lagi ke restoran itu. Saya tidak tahu apa penyebab makanan enak yang berujung tidak enak itu. Mungkin karena terlalu banyak menggunakan vetsin?
Soal MBG enak-tidak-enak itu mungkin belum waktunya dibahas. Bukankah masih terlalu banyak persoalan internal BGN yang lebih prioritas untuk diselesaikan? Maka yang saya tulis hari ini jangan dibaca dulu. Simpan saja. Tidak terlalu penting. Bukan prioritas.
Tapi itu penting untuk kita pahami: tidak enak di satu MBG bukan berarti tidak enak semua. Mana yang lebih banyak? Yang enak atau yang tidak enak? 90:10 untuk menang yang enak? 70:30? Atau 30:70? 10:90?
Yang jelas tidak semua MBG tidak enak. Artinya tidak semua investor berhati busuk. Perkiraan saya, berdasar diskusi dengan para investor, yang busuk itu sekitar 10 persen. Sebenarnya tidak banyak. Tapi bukankah ada pepatah nila setitik rusak susu se Malinda? Maka soal busuk dan keracunan sebaiknya jangan pakai persentase.
Prinsip ”kalau satu menu enak, menu lainnya juga enak” bisa dipakai untuk mencarikan jalan keluar ketidakenakan rasa MBG. Caranya: kumpulkan keluhan ”tidak enak”. Lalu petakan per dapur MBG. Jangan-jangan keluhan tidak enak datang dari dapur MBG tertentu. Itu pun jangan langsung diberi sanksi. Adakan survei kecil-kecilan khusus untuk siswa yang dapat makanan dari dapur tersebut. Serahkan hasil survei ke kepala dapur. Barulah kepala dapur menentukan langkah berikutnya. Terserah mau diapakan.
Untuk melakukan tindakan tidak mudah. Kita sudah terbiasa tidak menganut prinsip meritokrasi.
Harusnya ”meritokrasi” pun perlu dilakukan di level dapur MGB. Kalau antara kepala dapur dan juru masak terjadi hubungan khusus, tentu sulit bagi kepala dapur untuk melakukan penggantian juru masak. Maka hasil survei itu perlu diserahkan ke atasan kepala dapur: agar dipertanyakan mengapa tidak ada tindakan.
Jangan-jangan lebih berat dari itu: masakan tidak enak lantaran bumbunya dikurangi. Bumbu adalah komponen paling mahal dibanding item lain.
Anda sudah tahu kenapa bumbu dikurangi: untuk menekan biaya. Kenapa biaya perlu ditekan pasti karena anggarannya kurang. Bukankah anggarannya cukup?
Cukup. Kalau tidak ada biaya-biaya lain.
Anda sudah tahu: ada kepala dapur yang ingin cari tambahan penghasilan. Caranya: minta uang tambahan ke pemilik dapur MBG. Permintaan itu bervariasi. Ada yang Rp5 juta/bulan. Sampai ada yang minta dibelikan sepeda motor.
Berarti belum tentu tidak enak itu karena kokinya kurang cocok. Kalau di satu area banyak keluhan MBG-nya tidak enak memang kokinya harus dievaluasi. Tapi kepala dapurnya juga perlu diganti.
Korupsi rupanya tidak hanya terjadi di pucuk BGN tapi juga di akarnya.
Kalau kerusakan akar seperti itu terus meluas nilainya bisa sama dengan 74 kg emas.
Rabu, 5 Agustus 2026
Oleh: Dahlan Iskan
Sumber: Catatan Dahlan Iskan







