Inilah kakak beradik yang bisa saling mengisi. Hasilnya: sukses besar sebagai eksporter mebel ke seluruh dunia. Si kakak bagian marketing. Si adik bagian produksi. Si kakak bertugas mengejar omzet, si adik yang menjaga kualitas produksi.
“Anda ini insinyur?” tanya saya kepada si adik.
“Saya dokter gigi,” jawabnya.
“Hah?”
“Dokter gigi lulusan Unair,” jelasnya.
“Bagaimana seorang dokter gigi bisa jadi kepala produksi pabrik mebel berskala internasional?”
“Terpaksa,” katanya serius.
Kala itu si kakak, Ir Harsono Enggalhardjo, sedang ingin mendirikan usaha baru. Ia tertarik pada dokumen perencanaan bisnis sebuah perusahaan mebel raksasa. Dokumen itu sudah di peti es. Tidak jadi dijalankan. Kalau ada yang mau menjalankannya silakan saja ambil dokumen itu.
Si kakak tahu bagaimana cara menjual produk yang batal diproduksi itu. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara memproduksinya. Cari-cari orang yang cocok pun tidak ketemu.
Maka si kakak bertekad merayu adiknya agar mau memimpin produksi. Sayangnya si adik sudah jadi pegawai negeri. Apakah mau berhenti. Apalagi ia baru berhasil pindah ke Semarang setelah bertugas di Kalsel, Jayapura, dan Manokwari.
Itulah drg Winarto Enggalhardjo. Setelah lulus Unair, Winarto mendaftar menjadi tentara. Pangkatnya letnan satu.
“Kan Anda Tionghoa. Kenapa ingin jadi tentara?”
“Kakak saya yang satunya juga tentara. Pangkatnya letnan kolonel,” ujar Winarto.
Ia akhirnya berhenti dari dinas tentara. Pilih pindah jadi pegawai negeri.
Di Manokwari, Winarto sempat buka praktik sebagai dokter gigi. Ia beli kursi pasien buatan Jepang. Ketika pindah ke Semarang kursi itu ia jual.
Tidak lama setelah jadi pegawai negeri itulah si kakak minta Winarto mengepalai produksi pabrik yang baru. “Apa boleh buat,” kata Winarto.
Ketelitiannya sebagai dokter gigi itulah yang ia terapkan di produksi mebel. Kualitasnya ia jaga sungguh-sungguh seperti menjaga giginya orang kaya. “Kebetulan mata saya awas. Dokter gigi itu matanya harus baik,” katanya.
Kini perusahaan di Semarang itu, PT Saniharto menjadi eksporter mebel kelas atas ke seluruh dunia. Hotel-hotel bintang lima di berbagai kota dunia ambil mebel Saniharto. Mulai di Las Vegas, Boston, sampai New York.
Terakhir, sebuah resort berbintang tujuh di Laut Merah, Arab Saudi, juga sepenuhnya pakai produk Saniharto. Hotel mewah itu disebut Shebarah Resort, di sebuah pulau antara Jeddah dan Neom. Lihat desain resort itu. Unit-unitnya terpisah semua di atas laut Merah. Pasti hanya orang super kaya yang bermalam di sana –konon tarif satu malamnya di atas Rp 50 juta.
Kini Saniharto sudah mulai dipimpin generasi kedua. Si kakak, Harsono, 75 tahun, masih aktif ngantor. Masih sehat. Pun si adik, Winarto, jalannya masih cepat. Tapi direktur utama Saniharto kini sudah dipegang putri Harsono: Merysia Enggalhardjo. Muda, cantik, lulusan Purdue University, Amerika, satu kampus dengan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Merysia tidak akan mengubah merek Saniharto menjadi yang berbau Barat. Kini Saniharto sudah menjadi merek yang ternama di negara-negara maju. Pabriknya tetap saja sibuk –bahkan lebih sibuk dari yang saya lihat tiga tahun lalu. Saniharto sama sekali tidak terganggu oleh gejolak dolar. Penghasilannya dolar. Kalau dirupiahkan hitung sendiri kenaikannya.
Tapi Harsono dan Winarto tetap ingat: kepercayaan pertama yang mereka terima dari hotel bintang lima adalah dari Hotel Mulia Senayan, Jakarta.
Itulah hotel yang sangat bersejarah. Pegang rekor: membangun hotel 40 lantai, 1000 kamar, hanya delapan bulan, dengan kualitas yang tetap istimewa –dan Saniharto menjadi bagian dari sejarah itu.
Jumat, 19 Juni 2026
Oleh: Dahlan Iskan
Sumber: Catatan Dahlan Iskan









