Datangnya Tatanan Dunia Baru dan Gala Dinner Bersama Tony Blair

oleh -75 Dilihat
banner 468x60

Menghadiri Konferensi Gastech, Bangkok 14–17 September 2026 (2)

Malam itu, di Bangkok, saya datang untuk sebuah jamuan makan malam. Tetapi percakapan yang berlangsung membawa pikiran saya jauh melampaui meja, cahaya, dan ruangan.

Perang berkecamuk. Energi bergejolak. Kecerdasan buatan melesat. China bangkit. Amerika bertahan. Dunia lama seperti sebuah rumah yang fondasinya perlahan bergeser.

Di tengah denting gelas dan percakapan para tamu, satu pertanyaan terus mengikuti saya: dunia macam apakah yang diam-diam sedang lahir di hadapan kita?

-000-

Malam sebelum Konferensi Gastech dimulai, sebuah gala dinner diselenggarakan bagi undangan tertentu. Saya hadir malam itu sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi.

Di sana saya mendapat kesempatan berdiskusi dengan Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris yang memimpin negaranya selama sepuluh tahun, dari 1997 hingga 2007.

Kini Blair aktif sebagai pendiri dan Executive Chairman Tony Blair Institute for Global Change, lembaga yang bekerja bersama berbagai pemerintahan di banyak belahan dunia.

Kehadiran Blair di konferensi energi terasa tepat. Sebab energi hari ini telah tumbuh jauh melampaui minyak, gas, LNG, pembangkit, ataupun harga komoditas.

Energi telah menjadi urat nadi geopolitik. Ia menentukan ketahanan industri, keamanan nasional, daya tawar negara, bahkan kemampuan sebuah bangsa memasuki revolusi kecerdasan buatan.

Gastech mempertemukan pemimpin industri energi, pemerintah, investor, inovator teknologi, dan pengambil kebijakan untuk membaca perubahan besar yang sedang mengguncang sistem energi dunia.

Di sana, gas, LNG, elektrifikasi, energi rendah karbon, dan AI akhirnya bermuara pada satu pertanyaan purba yang selalu kembali: siapakah yang memiliki kekuatan?

Itulah mengapa Blair relevan. Yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar masa depan energi, melainkan arsitektur kekuasaan ketika peta lama dunia mulai digambar ulang.

-000-

Percakapan berlangsung sekitar satu jam. Dari berbagai pertanyaan dan jawabannya malam itu, saya menangkap lima gagasan besar, seperti lima sungai yang menuju samudra sama.

Pertama, Iran dan masa depan Timur Tengah. Blair tidak melihat perang hanya melalui pertanyaan kapan serangan berhenti dan kapan pintu perdamaian akhirnya dibuka.

Baginya, ada pertanyaan yang lebih besar: tatanan apakah yang lahir sesudah perang? Meriam dapat berhenti dalam sehari, tetapi luka sejarah bisa diwariskan berpuluh tahun.

Karena itu diperlukan kesabaran strategis. Kekuatan bukan hanya kemampuan memukul, melainkan kecerdasan menunggu, membaca momentum, dan mengetahui kapan sebuah tujuan benar-benar telah tercapai.

Konflik Iran sekaligus menelanjangi hubungan geopolitik dan energi. Selat Hormuz ibarat tenggorokan sempit dunia: gangguan kecil di sana dapat membuat ekonomi global terbatuk.

Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melintasi kawasan itu setiap hari. Satu titik kecil pada peta ternyata dapat mengguncang meja makan miliaran manusia.

Kedua, China dan pertanyaan geopolitik terbesar abad ini. Bagaimana Amerika dan China bersaing sekeras mungkin tanpa membakar rumah besar yang mereka tinggali bersama?

China pernah menjadi pusat ekonomi dunia sebelum Revolusi Industri menggeser keseimbangan kekuatan, memindahkan pusat kemakmuran ke Barat, dan meninggalkan trauma sejarah yang panjang.

Estimasi Angus Maddison menunjukkan sekitar 1820 China menghasilkan kira-kira sepertiga produk domestik bruto dunia. Ingatan tentang kebesaran itu tidak pernah benar-benar padam.

China tentu tidak ingin tertinggal kembali. Kini gelanggang pertarungannya bernama AI, semikonduktor, energi, manufaktur, data, infrastruktur, teknologi, dan produktivitas.

Namun pemisahan total bukan jawaban sederhana. Kedua raksasa itu terlalu terhubung. Mereka seperti dua pohon besar yang akarnya telah lama bertemu di bawah tanah.

Kompetisi hampir pasti berlangsung. Tetapi dunia tetap membutuhkan suatu bentuk koeksistensi agar persaingan dua raksasa tidak berubah menjadi gempa bagi seluruh planet.

-000-

Ketiga, keamanan energi kini hampir setara dengan keamanan pertahanan. Sebuah negara dapat memiliki tentara perkasa, tetapi tetap rapuh apabila lampunya mudah dipadamkan pihak lain.

Minyak dan gas bukan lagi sekadar komoditas. Jaringan listrik, terminal LNG, kilang, pipa, mineral kritis, dan pusat data telah menjadi benteng strategis negara.

Perang di satu kawasan dapat menaikkan harga energi ribuan kilometer jauhnya. Gangguan sebuah jalur pelayaran dapat mengetuk pintu pabrik di benua berbeda.

Karena itu, kemandirian energi bukan lagi sekadar agenda ekonomi. Kemampuan menjaga pasokan telah menjadi salah satu bahasa baru bagi ketahanan dan kedaulatan nasional.

Keempat, AI akan menjadi sumber baru kekuatan negara. Revolusi ini bukan kereta masa depan yang masih jauh. Kereta itu sudah memasuki stasiun kita.

Negara yang mampu menggunakan AI bagi industri, energi, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan pertahanan akan memperoleh jarak keunggulan yang semakin sulit dikejar.

Di sinilah AI bertemu energi. Algoritma memang tidak makan dan tidur, tetapi pusat data tempat ia hidup mempunyai rasa lapar yang luar biasa terhadap listrik.

IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data global akan meningkat lebih dari dua kali lipat menuju sekitar 945 TWh pada 2030, sebuah lompatan yang sangat besar.

Maka perlombaan AI diam-diam juga merupakan perlombaan energi. Di balik kecerdasan mesin, selalu ada kabel, turbin, jaringan listrik, gas, uranium, matahari, atau angin.

Tidak akan lahir negara adidaya digital tanpa energi dalam skala besar. Bahkan dunia virtual pada akhirnya tetap berdiri di atas fondasi yang sangat fisik.

Kekuatan abad ini tidak lagi hanya dihitung melalui kapal perang, minyak, atau ekonomi, tetapi kemampuan mengubah data, energi, dan kecerdasan mesin menjadi produktivitas.

Kelima, dunia sedang kembali menuju politik kekuatan. Inilah bagian percakapan Blair yang paling lama tinggal dalam pikiran saya setelah jamuan itu berakhir.

Bukankah dunia seharusnya dibangun melalui hukum internasional, multilateralisme, perdagangan terbuka, hak asasi manusia, dan kerja sama, bukan perlombaan kekuatan di antara negara?

Keberatan itu sah. Tetapi sejarah menyimpan ironi: nilai tanpa kekuatan mudah menjadi doa, sementara kekuatan tanpa nilai dapat menjelma menjadi monster.

Karena itu pilihannya bukan nilai atau kekuatan. Kita membutuhkan kekuatan yang dijinakkan oleh nilai, sekaligus nilai yang mempunyai tangan untuk mempertahankan dirinya.

Bagi Indonesia, prinsip ini penting. Kita tidak perlu menjadi satelit Washington ataupun Beijing. Kita juga tidak perlu menciptakan musuh hanya untuk membuktikan kemandirian.

Indonesia harus cukup kuat sehingga persahabatan dengan keduanya lahir dari kebebasan memilih, bukan dari ketergantungan, rasa takut, ataupun kelemahan di hadapan kekuatan besar.

Itulah politik bebas aktif dalam zaman baru. Bebas bukan berarti kesepian. Aktif bukan berarti permusuhan. Keduanya membutuhkan keberanian untuk menentukan jalan sendiri.

Namun Blair sendiri bukan figur tanpa bayangan. Perang Irak 2003 mengingatkan bahwa kalkulasi geopolitik yang kehilangan kompas moral dapat meninggalkan luka lintas generasi.

-000-

Percakapan malam itu mengingatkan saya pada dua buku yang membaca perubahan kekuasaan melalui dua jendela berbeda: energi dan kecerdasan buatan.

Buku pertama adalah The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations, karya Daniel Yergin, diterbitkan Penguin Press di New York pada 2020.

Yergin menunjukkan bahwa geopolitik selalu mempunyai bayangan energi. Di belakang pipa, tanker, LNG, pembangkit, dan jaringan listrik, tersembunyi kepentingan, ketergantungan, serta kekuasaan.

Negara yang menguasai pasokan, teknologi, infrastruktur, dan distribusi memperoleh lebih daripada keuntungan ekonomi. Ia memperoleh sesuatu yang lebih mahal: pengaruh atas pilihan negara lain.

Bahkan transisi energi tidak mematikan geopolitik energi. Ia hanya memindahkan papan caturnya menuju mineral kritis, listrik, teknologi, infrastruktur, dan rantai pasok global.

-000-

Buku kedua, The Age of AI: And Our Human Future, ditulis Henry Kissinger, Eric Schmidt, dan Daniel Huttenlocher, serta diterbitkan Little, Brown and Company pada 2021.

Buku ini membawa persoalan kekuasaan lebih jauh. AI bukan sekadar teknologi baru. Ia perlahan mengubah cara manusia mengetahui, memutuskan, bahkan memahami realitas.

Karena itu persaingan teknologi segera menjelma menjadi persaingan kekuatan nasional. Keunggulan AI akan menentukan produktivitas, keamanan, daya saing, bahkan kemandirian sebuah bangsa.

Yang diperebutkan bukan sekadar siapa mempunyai AI tercanggih, melainkan siapa mampu mengubah kecerdasan mesin menjadi kesejahteraan, keamanan, produktivitas, dan kekuatan nasional nyata.

-000-

Di tengah percakapan itu, pikiran saya pulang kepada pekerjaan sendiri: dunia energi dan tanggung jawab yang kini saya jalankan di Pertamina Hulu Energi.

Sebagai Komisaris Utama PHE, semakin sulit bagi saya melihat tambahan produksi minyak hanya sebagai deretan angka dalam laporan korporasi atau pencapaian target tahunan.

Sebab di belakang setiap barel ada sesuatu yang tak tercetak dalam grafik: devisa, pekerjaan, industri, ketahanan ekonomi, dan berkurangnya ketergantungan kepada bangsa lain.

Ketika berbicara tentang produksi, eksplorasi, sumber daya non-konvensional, teknologi, AI, dan efisiensi operasi, sesungguhnya kita sedang membangun otot strategis sebuah bangsa.

Blair melihat persoalan dari balkon geopolitik. Saya melihatnya dari ruang mesin energi. Dua jendela berbeda itu ternyata memperlihatkan cakrawala yang sama.

Energi bukan hanya komoditas. Ia adalah darah yang mengalir di tubuh peradaban modern: ekonomi, teknologi, industri, pertahanan, rumah sakit, sekolah, hingga kehidupan sehari-hari.

Namun kita tidak boleh begitu terpesona oleh kekuatan hingga lupa bertanya: untuk apakah kekuatan itu dibangun? Kekuatan hanyalah kendaraan, bukan tujuan perjalanan.

Kekuatan sebuah negara akhirnya harus diukur dari kemampuannya membuat rakyat lebih aman, lebih sejahtera, lebih bebas, dan lebih percaya diri menatap hari esok.

Indonesia memiliki minyak, gas, nikel, panas bumi, matahari, manusia, pasar besar, serta posisi geografis strategis. Tetapi semua kekayaan itu masih bernama potensi.

Potensi adalah janji yang belum ditepati. Ia seperti benih di telapak tangan: mengandung hutan, tetapi belum memberikan satu pun tempat berteduh.

Sejarah tidak memberikan mahkota kepada bangsa hanya karena kaya potensi. Sejarah memberikannya kepada mereka yang sanggup mengubah kemungkinan menjadi kekuatan nyata.

-000-

Saya meninggalkan malam itu dengan kesadaran bahwa tatanan dunia baru mungkin tidak pernah diumumkan melalui sebuah deklarasi besar yang didengar seluruh umat manusia.

Ia mungkin datang tanpa mengetuk pintu: melalui perang dan chip, tanker dan algoritma, pusat data dan listrik, aliansi baru dan ketergantungan lama.

Semuanya bergerak hampir bersamaan, seperti lempeng bumi di bawah kaki kita: sunyi, perlahan, tetapi akhirnya mampu mengubah seluruh bentuk permukaan dunia.

Indonesia tidak perlu menjadi Amerika ataupun China. Kita hanya perlu menjadi Indonesia yang cukup kuat, terbuka, cerdas, dan merdeka menentukan arah masa depannya sendiri.

Dunia baru sedang datang. Pertanyaan terpenting bukan apakah kita mampu menghentikannya, melainkan apakah kita cukup peka mendengar langkahnya sebelum ia tiba di depan pintu.

Sebab sejarah jarang mengirim undangan. Ia datang, mengubah ruangan, memindahkan kursi, lalu menentukan siapa yang duduk di meja dan siapa yang hanya menonton.

Bangsa yang memenangkan masa depan bukan sekadar bangsa yang melihat dunia baru datang, tetapi yang membangun kekuatannya sebelum dunia baru menentukan nasibnya.

Bangkok, 14 September 2026

REFERENSI

Daniel Yergin. The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations. New York: Penguin Press, Penguin Publishing Group, 2020.

Henry A. Kissinger, Eric Schmidt, Daniel Huttenlocher. The Age of AI: And Our Human Future. New York: Little, Brown and Company, 2021.

Angus Maddison. Contours of the World Economy, 1–2030 AD: Essays in Macro-Economic History. Oxford: Oxford University Press, 2007, untuk estimasi historis posisi China dalam ekonomi dunia.

International Energy Agency. Energy and AI, 2025, untuk proyeksi konsumsi listrik pusat data global menuju sekitar 945 TWh pada 2030.

Oleh: Denny JA

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.