Akal Sehat

oleh -92 Dilihat
banner 468x60

Puji Tuhan, akhirnya akal sehatlah yang menang di Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang yang berakhir hari ini.

Saya tidak sedang bicara siapa yang terpilih sebagai rais aam –pemimpin tertinggi ormas Islam terbesar di dunia itu. Juga tidak sedang membahas siapa yang terpilih sebagai ketua umum tanfidziyah (eksekutif PBNU).

Menangnya akal sehat yang saya maksud adalah: disetujuinya cara baru pemilihan ketua umum eksekutif pengurus pusat NU: tidak lagi berdasar pemungutan suara one man one vote. Cara baru itu mirip dengan tata cara pemilihan Rais Am PBNU: Lewat Ahwa Plus.

Persidangan untuk mencapai cara baru itu memang sangat alot. Yang mempertahankan cara lama masih sangat kuat. Tidak mau dikompromikan. Musawarah mufakat pun gagal. Akhirnya harus voting. Yang pilih one man one vote dapat 150 suara. Yang pilih cara baru 501 suara.

Maka berakhirlah era demokrasi langsung di NU.

“Uji coba” demokrasi murni di NU selama ini hanya menghasilkan hiruk pikuk yang membelah kerukunan nahdliyin. Bahkan membelah kiai dan santrinya sendiri. Martabat kiai NU dibuat taruhan. Seorang anak SD mengoreksi secara terbuka kemampuan bahasa Arab kiai tertinggi dalam hirarki NU.

Kekalahan demokrasi one man one vote pasti dilatarbelakangi keprihatinan atas kerusakan parah moralitas berjam’iyah di NU.

Muhammadiyah sudah lebih dulu menghindari cara one man one vote. Kini NU juga sudah secara total meninggalkannya. Berarti sudah dua organisasi terbesar di Indonesia mengabaikan demokrasi hiruk-pikuk.

Berarti sebagian besar orang Indonesia sudah menyadari bahwa demokrasi one man one vote harus ditinggalkan.

Di Muhammadiyah sistem pemilihan pemimpin “cara Muhammadiyah” terbukti menghasilkan kualitas pemimpin yang sangat baik. Juga menghasilkan stabilitas dan ketenangan berorganisasi. Ujung-ujungnya amal sosial Muhammadiyah luar biasa.

Untuk NU, hasilnya masih perlu kita lihat satu kurun ke depan. Tapi “jalan baru” NU dan “jalan matang” Muhammadiyah memberikan harapan bagi kita bahwa akal sehat akhirnya menang.

Memenangkan akal sehat seperti itulah yang masih sulit dilakukan di lingkungan partai politik di Indonesia. Rakyat sudah mulai muak dengan partai politik tapi belum tahu cara merombaknya.

Kemenangan cara baru pemilihan ketua umum tanfidziyah NU itu sekaligus seperti pertanda “mati angin”-nya KH Miftakhul Akhyar di pemilihan rais aam dan “mati angin”-nya Gus Yahya Staquf di posisi perebutan ketua umum.

Tapi di saat penjaringan majelis Ahwa ternyata nama KH Miftakhul Akhyar masih masuk “sembilan besar”. Perolehan suaranya masih nomor empat –turun dari nomor tiga di Muktamar Lampung lima tahun lalu.

Waktu itu KH Miftakhul Akhyar terpilih sebagai rais aam karena yang dapat nomor urut satu dan dua tidak bersedia menjabat rais aam.

Apakah dengan dapat suara di urutan empat KH Miftakhul Akhyar masih akan bisa jadi rais aam? Apakah kali ini yang dapat nomor urut di atasnya juga tidak bersedia jadi rais aam?

Tampaknya tidak lagi. Yang memperoleh suara terbanyak di Tambakberas tadi malam adalah KH Nurul Huda Djazuli dari Kediri. Di Muktamar Lampung KH Nurul Huda mendapat suara nomor empat.

KH Nurul Huda tidak mungkin menyatakan menolak amanah itu. Bukan karena ambisius tapi demi penyelamatan NU. Kiai besar Jatim KH Asep Saifuddin Chalim akan sangat marah kalau sampai KH Nurul Huda tidak bersedia menjabat rais aam.

Kalau KH Nurul Huda menjabat rais aam ganti banyak tokoh NU yang “mati angin”. Nurul Huda adalah nama yang paling tidak diharap terpilih oleh para tokoh itu. Gagallah impian banyak tokoh NU yang ingin bisa menyetir seorang rais aam.

KH Nurul Huda adalah kiai yang sangat independen dan kuat dan bersikap. Tidak bisa disetir-setir.

Nomor dua di bawah KH Nurul Huda adalah KH Nuruzzahri Yahya dari Beureun, Aceh. Selisih suaranya sangat tipis. Di urutan ketiga adalah KH Dr Bajaruddin Hs dari Bone, Sulsel. Hebatnya, KH Said Aqil Siradj terpilih di nomor urut delapan. Yang nomor sembilan adalah Abun Bunyamin dari Purwakarta. Masih ada KH Anwar Iskandar, KH Afifuddin Muhajir dari Sukorejo Situbondo dan Anwar Manshur Lirboyo Kediri. KH Wildan Salman dari Martapura tergeser dari sembilan besar.

Ketika artikel ini selesai saya tulis, tadi malam, demo berlangsung di kawasan Muktamar. Para pendukung KH Yusuf Chudlori tidak rela kalau kiai mereka dicoret dari pencalonan ketua umum dengan alasan masih belum melewati “masa idah” setelah bercerai dengan Partai Kebangkitan Bangsa. Mereka mengatakan Kiai Yusuf sudah lebih dua tahun tidak lagi di PKB. Sebaliknya pihak yang anti menilai Kiai Yusuf masih “sangat PKB”.

Pemilihan sembilan majelis Ahwa sudah selesai. Tadi malam mulailah pertempuran yang sebenarnya untuk menentukan siapa ketua umum NU yang baru. Pemungutan suaranya pasti lebih “dingin” karena satu cabang mengajukan lima nama. Bukan satu nama. Yang memperoleh suara terbanyak pun belum tentu bisa jadi ketua umum.

Majelis Ahwa akan menentukan siapa di antara lima besar nama calon akan dipilih sebagai ketua umum. Itu pun rais aam harus memberikan persetujuan.

Hari ini Muktamar ke -35 NU selesai. Rasanya NU akan lebih baik dengan kepemimpinan hasil muktamar Tambakberas. Ini bukan hanya muktamar persatuan tapi juga sekaligus muktamar jalan baru demokrasi ala NU. Demokrasi Akal Sehat.


Senin, 31 Agustus 2026

Oleh: Dahlan Iskan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.