Bukan dengan Siapa, Tapi untuk Apa

oleh -1078 Dilihat
Close up top view of young people putting their hands together. Friends with stack of hands showing unity.
banner 468x60

Jika kita berjuang, hal pertama yang harus dijawab adalah untuk apa kita berjuang, bukan dengan siapa kita berjuang. Dengan siapa kita berjuang memang penting juga untuk dijawab tetapi hal itu tak boleh menjadi pegangan karena pada akhirnya apa yang kita perjuangkanlah yang paling penting.

Sebab bisa jadi orang yang berjuang bersama kita sebenarnya tidak setujuan dengan kita, tidak sedang memperjuangkan apa yang kita perjuangkan. Bisa jadi cuma kebetulan kita bersama di satu pihak, bisa jadi karena kita mempunyai musuh yang sama lalu kita bersatu. Bisa jadi kepentingan sesaat kita sama tapi kepentingan terjauh kita berbeda. Jadi sesungguhnya kita tak sejalan, kita cuma kebetulan bertemu pada satu titik yang sama.

Ingat, Pilatus dan Herodes pun satu saat bisa punya sikap yang sama, karena mereka punya musuh bersama yaitu Yesus dari Nazareth. Ingat Yesus pun tidak punya sikap yang sama dengan kedua penjahat di samping kiri kanannya. Mereka hanya punya nasib yang sama: disalib sebagai musuh kekaisaran Romawi.

Lebih dari itu, walau Yesus selama hidupNya adalah musuh Kekaisaran Romawi, ia tidak lantas bersatu dengan para musuh Romawi yang lain dalam masyarakat Yahudi. Ia tidak bersekutu dengan para Zelotis, ia tidak menjadi sekutu para orang Esseni, ataupun tidak bersekongkol dengan Sicari. Ia tidak bersekutu dengan kelompok-kelompok ini lantaran sama sama tidak menyetujui penjajahan Romawi. Ia punya jalan sendiri.

Lagipula ketika di atas salib pun salah seorang yang disalib bersamanya masih mengejeknya. Itulah Yesus. Punya penderitaan dan nasib yang sama dengan para Yahudi lainnya tapi tidak lantaran mengikuti jalan mereka. Ia punya tujuan sendiri, Ia punya jalan sendiri: jalan tanpa kekerasan, jalan Kerajaan Allah.

Dalam hidup ini, saya melihat banyak orang yang awalnya bersekutu bagai tak terpisahkan. Pada titik tertentu berpisah. Bukan berpisah baik-baik tapi berpisah karena aslinya salah satu pihak mulai kelihatan. Berpisah karena merasa tidak memperjuangkan hal yang sama lagi. Sebenarnya sejak awal, kepentingan yang beda ini sudah bisa dilihat. Namun kadang, mata kita tertutup oleh kepentingan yang sama. Kalau kepentingan sudah sama, iblispun bisa dianggap malaikat.

Jadi jelas to? Kalau mau berjuang atau mengaku berjuang, lihat apa yang diperjuangkan, bukan dengan siapa kita berjuang. Sebab kita boleh mengalami hal yang sama, bernasib sama, tapi belum tentu tujuan kita sama. Belum tentu cara kita sama.

Jangan lantaran kita sama-sama terancam, lalu kita mengikat diri dalam persekutuan yang busuk. Ibarat kita mau bersekutu dengan para serigala yang lain, hanya karena kita sama-sama diserang singa. Ingat, ikatan kita adalah tujuan bukan kepentingan. Kesamaan nasib tak lantas membuat kita bersekutu dengan siapa saja, apalagi dengan yang jahat.

Oleh: Ato Messakh

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.