Sudah tiga hari kami menginap di sebuah rumah bernomor 19/E di Komplek Cilegon Permai (KCP), provinsi Banten. Tapi masih juga belum ada tanda-tanda akan berjumpa dengan orang yang kami janjikan. Sebagai jurnalis di salah satu harian nasional, saya berjalan di sekitar alun-alun Cilegon, di antara taman-taman kota yang sunyi dan lengang.
Hari Minggu pagi, sekitar Pk. 03.05, tiba-tiba ponsel saya berdering, “Mas Alim?”
“Bjorka?” tanya saya pelan, “Benar ini, Bjorka?”
“Ya,” jawabnya singkat.
“Oo, suara Mbak seperti laki-laki?”
“Ya, saya memang laki-laki.”
Saya agak terkesiap, tapi berusaha mengendalikan diri, “Baik, jadi di mana kita ketemu?”
Ponsel dimatikan. Saya mengamati logatnya yang agak medok, apakah dia dari Aceh, Bali, Madura, ataukah dari Papua? Nampaknya sulit sekali diidentifikasi. Benarkah laki-laki tadi suara milik Bjorka, sosok yang selama ini dicari-cari pihak aparat serta menjadi banyak gunjingan di media-media daring dan luring?
Sebatang rokok saya keluarkan dari kantong, setelah saya nyalakan, saya pun menghisapnya pelan-pelan.
Tiba-tiba seseorang mengenakan jaket biru menepuk pundak saya dari belakang, “Mas Alim?”
“Ya,” kata saya sambil menengok.
Seketika ia mengamit lengan, mengajak menjauh dari area terminal. “Mau ke mana kita?” tanya saya agak gugup.
“Ssst,” ia menempelkan telunjuknya ke bibir, mengisyaratkan agar saya diam.
Terus kami melangkah ke arah barat, “Ada sesuatu yang mau saya sampaikan pada Mas Alim,” katanya berbisik.
“Baik, tapi di mana kita harus bicara?”
Saya bisa memahami ketika tadi dia bicara seperlunya lewat ponsel. Sepintas tampak postur tubuhnya kurang lebih sama dengan saya, agak tinggi sedikit. Dengan logat bahasa Indonesia yang agak medok dia mengakui, bahwa bicara secara empat mata dengan seorang jurnalis akan lebih baik ketimbang melalui orang ketiga maupun lewat jaringan internet. “Tapi, di mana kita harus bicara?” tanya saya tanpa tedeng aling-aling.
Ada beberapa taksi yang sedang mangkal di jalur utama menuju terminal, lalu dia menawarkan apakah saya keberatan jika dia memesan taksi? Silakan saja, jawab saya. Lalu, kami pun memasuki salah satu taksi yang kemudian meluncur ke arah barat. “Waktunya sangat terbatas, kita jangan buang-buang waktu,” katanya di dalam taksi. Dalam beberapa menit kemudian, dia berkata pada Pak Sopir, “Kita menuju ke jalan Ahmad Yani.”
“Baik, Pak,” jawab sopir singkat.
Tak berapa lama, mobil berhenti di depan minimarket, dan Bjorka mengajak saya masuk ke dalam. Ada empat kursi dan meja besi di halaman minimarket. Bjorka menyuruh saya memesan kopi atau mengambil roti bakar maupun sosis yang tersedia di dalam oven, “Ambil saja apa yang Mas Alim suka, nanti saya yang bayar,” katanya.
Ia menenteng satu cangkir kopi dengan sepiring plastik roti keju dan satu sosis besar, sedangkan saya mengambil sepotong roti dan secangkir kopi. Dia menunggu di meja kasir untuk membayarnya sekaligus, kemudian kami keluar bersama-sama seraya mengambil posisi duduk di halaman depan minimarket.
Sambil menghirup kopinya, ia menanyakan apakah saya membawa alat perekam atau tidak. Saya nyatakan cukup dengan menyetel recorder melalui ponsel, nanti pembicaraan kami akan terekam dengan sendirinya. Suasana masih gelap, sekitar Pk. 04.30, bunyi suara azan subuh terdengar dari sayup-sayup pengeras suara di kejauhan.
Saya mengamati seraut wajahnya yang oval dan putih dari sorotan lampu terang minimarket. Tentu saja muka itu sangat berbeda dengan gambar visual yang sering tampil di media-media sosial. Rambutnya agak panjang dan gondrong. Badannya bidang, agak gemuk dan berisi.
“Saya kira kamu seorang perempuan?”
“Ya, banyak yang mengira saya perempuan.”
Kami terdiam sesaat, lalu tanya saya lagi, “Kamu berani sekali menelepon saya melalui ponsel? Bagaimana kalau terlacak oleh mereka?” sepintas saya menengok kiri-kanan.
“Saya sudah mengacak nomornya,” jawabnya sambil tersenyum, “mereka tak punya kemampuan untuk melacak kami.”
“Tapi mereka punya kesanggupan untuk membayar orang-orang pintar,” ujar saya lagi.
“Orang yang benar-benar pintar, tak akan mau dibayar oleh mereka.”
“Oya?”
“Ya,” katanya meyakinkan, lalu dengan gaya seorang filosof sambil menopangkan tangannya dia berkata, “Lim, orang pintar dan kaya itu bukanlah orang yang mampu membeli dunia, tetapi ketika dunia tidak sanggup membeli dia…”
“Semacam Snowden?” pancing saya.
“Kurang lebih seperti itu. Tapi Snowden masih terbayar juga sebelum dia hijrah dan bersembunyi ke Rusia.”
Kami pun tertawa seraya memandang ke angkasa. Nampak beberapa bintang masih terlihat di atas langit, seakan menyaksikan percakapan kami berdua.
Tiba-tiba seorang pria muncul dari sebuah sisi jalan dan menyambut kami. Bjorka juga menyambutnya. Si pria mengulurkan tangan. “Alif,” ujarnya. Bjorka menjabat tangannya dan memperkenalkan saya. Alif menepuk-nepuk punggung saya dan bertanya apakah bersedia diambil gambarnya selama wawancara nanti.
Saya menengok ke muka Bjorka agak kesal, “Saya kira kamu sendirian di tempat ini?”
“Alif hanya mau mengambil gambar selama kita bercakap-cakap di rumah nanti. Apakah kamu keberatan?”
“Di rumah mana?” tanya saya lagi, “saya kira kita akan melakukannya di sini?”
“Di sini kurang aman, Alim,” tegurnya dengan suara berbisik. Saya menengok ke muka Alif, nampaknya dia pun mengiyakan.
Bagaimanapun, sudah sangat terlambat jika saya merasa komplain dengan apa yang mereka agendakan. Saya hanya pasrah dan mencoba menuruti apa yang mereka rencanakan, dengan bekal ponsel di kantong saya. Tak berapa lama, setelah menghirup kopi dan sepotong roti yang masih panas, kami bertiga masuk ke taksi yang sejak tadi menunggu. Taksi berputar mengelilingi alun-alun kota seperti yang diperintahkan Alif. “Maaf, jika kami mengawal kamu agak ketat,” ujar Alif.
Saya duduk di kursi belakang didampingi Bjorka, sementara Alif di depan bersama sopir. Matanya melirik ke kiri dan kanan di seputar alun-alun kota, melintasi masjid agung kota Cilegon. Rintik-rintik hujan mulai turun, dan mobil berjalan pelan-pelan di atas aspal yang mulai basah. Suasana hening dan senyap. Mobil terus meluncur ke arah barat. Sopir menyalakan penyeka kaca mobil.
Kini, hujan semakin deras. Angin berhembus kencang. “Sekarang,” kata Alif di samping Sopir, “putar balik, lalu belok kiri. Mereka tidak akan melihat kita lagi.”
Mobil memasuki area komplek perumahan, kemudian masuk ke jalan sempit yang ditumbuhi ilalang dan semak belukar. Setelah berbelok ke arah kanan, kami pun sampai di tujuan. Seorang pria mengenakan jaket dan payung menyalakan senter lalu mengarahkan mobil ke sebuah garasi terbuka. Sebuah rumah kecil dengan bangunan unik berdiri di sebelah kiri garasi. Pintu mobil dibuka, dua orang memerintahkan kami untuk keluar.
Kedua orang itu mengapit saya, sementara Bjorka dan Alif berjalan berdampingan.
“Saya kira kita bisa melakukan wawancara sekarang,” kata seorang pria berjaket hitam.
“Tapi cuacanya dingin sekali? Apa masih ada waktu sekitar satu jam sambil menunggu matahari terbit?” tawar Bjorka.
“Supaya lebih aman, sebaiknya kita wawancara sekarang. Kami sudah mempersiapkan kopi dan pisang goreng. Sebenarnya, kita setengah jam lebih cepat dari jadwal.”
“Oke, mari kita masuk.”
Mereka lalu mengapit saya dan Bjorka. “Alim duduk di sebelah sini, sedangkan Bjorka di sebelah situ.” Lelaki berjaket muncul lagi sambil membawa kopi dan gula di dalam toples, kemudian dia balik lagi membawa termos dan sepiring nampan berisi pisang goreng.
“Ini kopi hasil racikan dari daerah Rangkasbitung,” kata lelaki berjaket hitam. “Dari kebun yang ditanam oleh rakyat sendiri, dengan seorang mandor bernama Max Havelaar.”
Saya tersenyum mendengar penjelasan itu. Lalu, kami pun bersenda-gurau menjelang wawancara dimulai sambil menikmati kopi dan menyantap pisang goreng bersama-sama.
***
Seusai wawancara selama satu jam setengah, matahari mulai terbit di ufuk timur. Saya menyempatkan diri berjalan-jalan bersama Alif di sekitar komplek perumahan dalam jarak beberapa puluh meter ke arah utara. Ternyata, paviliun tempat kami mengadakan wawancara itu masih berada di sekitar Komplek Cilegon Permai, provinsi Banten. Di komplek yang sama, kami para jurnalis telah mengontrak rumah, dan tinggal selama tiga hari di rumah nomor 19/E yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari paviliun tempat kediaman buronan Bjorka bersama tim IT-nya.
Sampai sekarang pun, perbincangan di medsos masih marak mempersoalkan apakah Bjorka itu warga negara Indonesia ataukah asing? Apakah dia mata-mata dan intelijen bentukan pemerintah sendiri? Ataukah dia betul-betul seorang independen yang berjiwa merdeka, tanpa ikatan kontrak dan kerjasama dengan pihak manapun?
Boleh jadi dia hanyalah penduduk lokal yang tinggal dan menetap di sekitar kita, bahkan minum kopi dan menyantap pisang goreng sambil bergurau dan bercanda-ria bersama kita juga? ***
*Beberapa nama tokoh, tempat dan lokasi wawancara, sengaja ditulis secara kias dan fiktif.
Oleh: Alim Witjaksono
Peneliti dan pengamat sastra milenial Indonesia, menulis esai dan prosa di berbagai media nasional, cetak dan online.







