Kembali ke Asal

oleh -100 Dilihat
banner 468x60

Terpaksa aku menuruti nasehat dan kemauan istriku agar cincin yang kukenakan segera dilempar ke tengah rawa-rawa tempat bersemayamnya kodok-kodok piaraanku yang kini sudah semakin tiada.

Kuperintahkan pula cincin kedua anakku agar dibuang dan dilemparkan pula.

Sebab, mereka pun mengenakan cincin keramat yang pernah diberikan Simbah dari Gunung Lawu yang kini sudah meninggal karena terkena Covid-19.

Kedua anakku memprotes, kenapa kami harus membuang cincin-cincin itu?

Aku pun segera menegaskan, bahwa kehidupan ini hanyalah senda gurau dan kesenangan yang menipu.

Mungkin ada benarnya petuah dalam buku Pikiran Orang Indonesia itu, bahwa kekuasaan yang diraih dengan dendam kelak akan bermuara pada pertentangan yang tak berkesudahan.

Sekarang kita semakin paham nasehat dari Koran Tempo tentang sastra mengenai “Jimat dari Mayor Gibran”

Lebih baik kita pulang saja ke kampung halaman, hidup sederhana seperti yang dulu lagi.

Kita harus kembalikan kekayaan negara yang sebenarnya bukan menjadi hak milik kita.

Kita harus hidup tenang dan nyaman.

Sebab, segala mantra dan azimat itu hanya menguntungkan kita dalam sekejap mata.

Setelah itu, hidup kita pasti diselimuti kegelapan hingga hayat dikandung badan. ***

Oleh: Chudori Sukra

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), juga aktif menulis prosa dan esai untuk media-media nasional seperti Kompas, Republika, Koran Tempo dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.