Tersiarnya kabar mengenai kekejaman para petinggi militer Orde Baru yang menganiaya para tahanan politik, membuat saya memutuskan hengkang meninggalkan Indonesia pada akhir tahun 1965. Ayah saya yang pernah bertugas selama beberapa tahun di kedutaan besar Prancis, menganjurkan agar saya membawa serta istri yang baru saya nikahi empat bulan lalu, dan saat itu sedang mengandung jabang bayi yang baru berusia dua bulan.
Sebuah pesawat membawa kami ke bandara, dikawal oleh seorang petugas dari kedutaan, yang kemudian disambut hangat oleh seorang petugas berdarah Prancis di pintu bandara. Mereka saling bercakap-cakap dalam bahasa Prancis. Tak berapa lama, muncullah mobil sedan yang barangkali utusan dari pemerintah setempat, lalu saya bersama istri diperintahkan masuk ditemani oleh seorang Prancis yang fasih berbahasa Indonesia, meskipun dengan logat yang agak terbata.
Dalam perjalanan panjang selama hampir dua jam, saya menyadari posisi saya dan istri sebagai refuji, atau pelarian politik yang butuh perlindungan dari rezim penguasa di dalam negeri yang bertindak fasis dan hendak menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Orang Prancis itu sudah tahu nama saya, dan dia memperkenalkan dirinya sebagai “Frederich”.
“Apakah kamu seorang komunis?” tiba-tiba ia bertanya dengan santai ketika kami memasuki mobil sedan. Istri saya menatap saya dengan pandangan berkaca-kaca, kemudian saya pun menjawab, “Negara saya dikuasai oleh militer, dan keluarga kami memang pendukung partai yang memihak pemerintahan Soekarno.”
“Partai apakah itu?” tanya Frederich lagi.
“Partai Sosialis Indonesia.”
“Apakah itu partainya Soekarno?” pancingnya lagi.
Saya menghela napas dalam-dalam, lalu jawab saya, “Bukan, itu bukan partainya Soekarno, tapi partai yang dianggap berseberangan dengan militer.”
“Kenapa?”
Istri saya menyenggol lengan saya, seakan memerintahkan agar jangan bicara terlalu banyak. Seketika itu, saya pun mengangkat bahu seraya mengatakan, “Saya sendiri tidak tahu.”
Mobil berbelok ke arah kiri, memasuki suatu pedesaan yang agak terpencil. Saya masih ingat kata-kata Frederich sebelum mobil sampai ke tempat tujuan, ia sempat menyatakan, “Saya kira, pemerintahan militer nanti akan memusuhi semua partai yang mendukung presiden Soekarno, paham kan?”
Saya tidak menjawab. Hanya memandang wajah Frederich dengan pandangan terkesima, sambil diliputi pikiran yang penuh tanda-tanya.
***
Sekarang mobil telah sampai tujuan. Seseorang keluar dari bangunan rumah sederhana, menyambut kami dan berbincang-bincang dengan Frederich dalam waktu yang cukup lama. Suasana begitu lengang. Frederich memerintahkan petugas itu agar mengeluarkan koper dari mobil, kemudian menenangkan kami sebelum berpisah, lalu kembali menaiki mobil, dan suasana kembali lengang.
Ia mengarahkan kami untuk masuk ke rumah itu, dan saya merasa lega karena petugas itu cukup fasih bicara dalam bahasa Inggris. Ia menyatakan bahwa di situlah tempat tinggal kami saat ini, dan dapat dikatakan dunia baru kami, sesuatu yang tiba-tiba harus diterima apa adanya, sebagaimana kita semua dilahirkan dari orang tua tanpa pernah memilih dari siapa, kapan dan di mana kita harus lahir di muka bumi ini.
Kini, dunia kami terbagi atas dua bagian. Bagian yang satu terletak di kampung halaman di daerah Menteng, Jakarta, sementara yang satunya terletak di pedesaan bernama Usella di pedalaman Prancis ini. Sekali lagi, ini di luar kehendak kami, dan tak ada pilihan lain selain kami harus menerima apa adanya.
Rumah kami agak memojok. Di sebelah kiri tak ada rumah sama sekali. Orang yang memperkenalkan diri senbagai “Andre” tinggal di sebelah kanan kami, bersama para tetangga lainnya yang berjelujur ke arah kanan. Pertama kali saya bertemu dengan Andre di serambi rumah. Kalau tidak salah, sekitar bulan Mei atau Juni, saya sudah lupa.
Di sebelah kiri rumah ada tanggul yang membatasi sungai. Ada jalan sempit melewati padang rumput dan pertanian. Di belakang rumah ada parit yang airnya jernih mebgalir. Istri saya mengatakan bahwa dirinya tak terbiasa dengan pemandangan semacam itu. Segala sesuatu yang dilihatnya terasa aneh dalam tatapannya. Padang rumput yang hijau dengan beberapa traktor dan alat berat. Tumpukan jerami yang ditutupi plastik hitam. Sapi-sapi yang tengah merumput. Tanggul yang kini tampak menghilang dari kejauhan di balik pepohonan. Dan orang-orang yang mengajak anjing mereka jalan-jalan.
Saya ingin melihat halaman belakang tetapi saya tidak tahu di mana kuncinya. Petugas itu kemudian membukakan pintu belakang untuk kami, seraya menyerahkan kuncinya. Rerumputan di halaman luas itu tumbuh meninggi. Terus terang, saya baru kali itu menginjakkan telapak kaki saya di padang rerumputan negeri Prancis.
Sejenak saya mengamati taman di halaman rumah Andre. Saya melihat-lihat pohon prem di sekitar itu. Di musim panas itu, saya melihat buah-buah prem yang begitu subur dan indah dengan warna-warni yang langka dan ajaib, seakan bersinar di bawah sinar matahari. Beberapa hari kemudian, saya berjumpa dengan Andre. Tinggi dan jangkung, sekitar 15 sentimeter di atas saya. Umurnya sekitar 40-an tahun, sedangkan saya dan istri masih sekitar 32-an.
“Halo!” Andre menyapa dengan ramah sambil menjulurkan telapak tangannya. Saya segera menyambut dan menyalaminya. “Jadi ini tetangga saya dari Indonesia, benar kan?”
Andre bicara dengan bahasa Inggris yang cukup fasih. Beberapa hari sebelum berangkat ke Prancis, saya sempat membeli kamus bahasa Inggris-Prancis, juga Indonesia-Prancis, meskipun dalam pemakaian bahasa Prancis, saya masih terbata-bata. Kami berbincang-bincang sejenak, kemudian Andre segera pamit karena ada keperluan.
Awalnya saya mengira Andre tinggal sendirian, tapi keesokannya saya melihat gadis muda melongok melalui jendela di serambi rumah. Suatu kali, saya ingin sekali menanyakan, siapakah gadis muda belia seumuran 16 tahun itu. Apakah ia puterinya? Mengapa ia tinggal sendiriaan bersama puterinya? Lalu, di mana ibu dari puteri tersebut?
Saya tidak sempat mengucapkan kalimat-kalimat itu. Saya merasa bahwa dengan mengajukan pertanyaan itu, saya terlampau mencampuri urusannya secara berlebihan.
Seketika saya memutuskan, lebih baik pertanyaan serupa itu saya tanyakan dari pihak tetangganya atau saudaranya kelak, meskipun saat itu, saya tak pernah jumpa dengan saudara maupun tetangga lainnya. Tapi bagaimanapun, kami adalah pendatang baru. Orang asing. Kami tidak diperhitungkan, atau tidak layak mencampuri urusan pribumi. Kami harus menunggu lama sebelum kami bisa mengetahui banyak tentang rahasia tempat ini.
Selama beberapa bulan kami menjalani kehidupan di desa Usella. Kandungan dalam perut istri saya semakin membesar. Beberapa tetangga berjalan melewati kami, seolah-olah tidak ada orang asing di sekitar mereka. Saya tidak sempat mengamati mereka satu persatu, hingga saya pun kurang tahu orang yang lewat itu tinggal di sebelah rumah yang mana. Tapi seringnya saya melihat mereka, membuat saya berkesimpulan bahwa mereka itu pun bagian dari tetangga saya juga.
Suatu hari, kami berbelanja barang-barang yang dibutuhkan di pasar loak. Kami membeli meja makan, tirai, jam lonceng, cermin dan beberapa kursi dan meja kecil untuk taman. Seketika lingkungan itu seperti mengawasi kami. Para perempuan di sekitar kami seperti bersembunyi di balik tirai, dan mengamati apa-apa saja yang kami beli untuk rumah kami.
Saya meletakkan kursi dan meja kecil di taman, lalu duduk untuk mempelajari bahasa Prancis. Saat itu, panas begitu menyengat. Di Jakarta, saya bisa belajar di bawah sinar matahari, tetapi di musim panas di Prancis, suasananya begitu menyengat dan membuat tubuh berkeringat. Burung-burung, jendela yang terlihat dari luar, pepohonan, rerumputan, perempuan setengah telanjang di taman yang menarik perhatian saya. Sementara, istri saya agak riskan, karena bagaimanapun ia lahir dan dibesarkan dari keluarga NU yang sangat ketat dengan aturan-aturan keagamaan. Di hari pertama kami menempati rumah itu, tak lupa ia mengambil posisi di sudut kamar, menggelar sejadah, mengenakan mukenah dan melaksanakan salat lima waktu.
***
Minggu pagi, saya melihat Andre sedang berbaring di tamannya. Melalui pintu gerbangnya yang agak rusak, saya melihat badannya yang putih seputih susu, sementara kulit saya dan istri berwarna cokelat dan agak gelap. Andre rebahan dalam posisi celentang sambil mata menengadah di kursi panjang. Tiba-tiba mencuat burung besar dan panjang yang menyembul dari resleting celananya. Warnanya putih agak kemerahan, begitu menegang dan panjang sekali, mungkin sekitar 25 hingga 30 sentimeter.
Belum pernah saya melihat burung sebesar dan sepanjang itu, seperti kepala ular sanca yang menggeliat-geliat di atas tanah. Istri saya mengomel dan mengajak saya segera masuk ke dalam rumah. Saya sendiri kurang paham, apakah ia mengomel lantaran sayang pada suaminya agar tak terlalu lama di bawah matahari, ataukah dia sendiri benar-benar melihat burung besar itu, meski tak diakuinya secara terus-terang.
Hal itu mengingatkan saya ketika dulu sewaktu duduk di bangku SD, keluarga kami piknik ke pemandian air hangat di daerah Bogor, Jawa Barat. Ada sekitar 20 hingga 30 laki-laki yang berendam di air hangat dengan mengenakan celana kolor, kemudian berbilas dengan air dingin di beberapa toilet yang tersedia. Seorang lelaki dewasa sekitar 35-an tahun keluar dari toilet lalu duduk di atas kursi lipat di sekitar kantin. Dari belahan handuk yang dikenakan semaunya, tiba-tiba mencuat burung yang bertengger lama di tempatnya, tanpa disadari oleh pemiliknya.
Keluarga kami yang sedang asyik menyantap baso di gerai kantin itu, tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan suara Ibu yang melengking, “Astaghfirullah al-adzim!”
“Kenapa, Bu, ada apa?” tanya saya kaget.
Tiba-tiba muncul suara dari mulut Ayah, “Jangan menoleh ke kanan!”
Tentu saja saya menoleh, emangnya ada apa di samping kanan. Lalu, Ayah berteriak dengan bentakan keras, “Kamu harus nurut sama orang tua, jangan menoleh ke kanan!”
Lelaki di kursi itu seketika bersejingkat dari tempat duduknya, dan segera ngeloyor pergi menuju toilet.
Sepanjang hari, sepanjang malam, saya terlampau sibuk mempelajari bahasa Prancis, sambil sesekali bercakap-cakap dengan istri dengan menggunakan bahasa asing itu. Saya semakin memahami jika orang-orang itu bicara, tetapi saya belum sanggup menanggapinya dengan bahasa yang sama. Setelah tiga bulan, saya masih belum memliki kontak nyata dengan Andre. Saya hanya menjumpainya di sekitar taman saja.
“Halo,” dua wanita Prancis tiba-tiba mengetuk pintu depan.
“Hey,” balas istri saya.
Karena kami pengungsi, mereka menawari kami barang-barang bekas. “Apakah kalian menginginkan ini?”
“Tidak, terima kasih,” balas istri saya.
“Kenapa? Musim panas hampir berakhir. Barangkali kalian butuh mantel ini, dan ini ada sweater untuk tidur supaya jangan kedinginan. Dan ini masih sangat bagus, kami sudah mencucinya.”
“Maaf tidak, terima kasih.”
Kami sendiri belum paham, apakah pemberian itu atas dasar pendekatan, ataukah sengaja memberi sebagai bentuk amal atau sedekah kepada pihak yang membutuhkan. Sementara itu, istri saya merasa canggung seakan pemberian itu dianggap sebagai penghinaan. Kami memang berasal dari budaya yang berbeda, dan sama sekali tidak menerima barang bekas dari pihak lain. Entahlah, apakah budaya ini semacam kelebihan, ataukah justru kekurangan kami.
“Kawan!” suatu pagi tiba-tiba Andre melongokkan mukanya di atas pagar taman. “Saya punya sepeda yang tak terpakai, tapi masih bagus. Apakah kamu mau saya bawakan sepeda itu untuk keluargamu?”
“Oh ya, terimakasih banyak,” jawab saya singkat.
Sepeda itu memang saya inginkan, meski istri saya agak keberatan. Sudah lama saya tidak memakai sepeda sejak usia SD. Sepeda itu saya periksa, memang masih bagus, tinggal menununkan joknya yang terlalu tinggi untuk ukuran tubuh dan kaki saya. Dulu keluarga kami hanya memiliki satu sepeda, yang dipakai bergantian untuk semua laki-laki. Sepeda itu selalu ada di lorong untuk orang yang membutuhkannya. Suatu hari, saya pernah mengayuh sepeda itu cepat-cepat menuju kebun kelapa milik Ayah. “Ayah, cepat pulang ke rumah, Kakek sudah tidak bangun lagi,” kata saya.
“Kenapa? Apakah ada tentara lagi yang masuk ke rumah? Apakah mereka bersenjata?” tanya Ayah kaget.
“Bukan, kakek tidur sejak pagi tadi, dan sore ini sudah tidak bernafas lagi.”
Sepertinya Ayah merasa khawatir kejadian serupa dialami lagi oleh kakek. Sebab, ia pernah diinterogasi petinggi militer Orde Baru di akhir tahun 1965, serta menuduhnya sebagai pengurus dari partai PKI. Meski kemudian, mereka tak bisa membuktikan bahwa kakek adalah salah seorang yang terlibat dalam peristiwa September 1965 itu.
***
Zona waktu Prancis berbeda dengan zona waktu di Jakarta. Terkadang kami membicarakan hal-hal yang sudah lampau. Terkadang juga saling diam, tak mengatakan apa-apa. Hanya menunggu. Setiap siang dan malam akan tampak sama, tetapi hari selalu punya sesuatu yang baru bagi kami. Suatu sore, saya berjumpa seorang pemuda yang mengenakan anting di telinganya. Ia sedang duduk di taman rumah Andre. Paras mukanya tampak kelabu, dan ia terus saja merokok seperti cerobong asap.
“Selamat sore, Tetangga.”
Tetangga? Apakah benar dia tetangga saya? Tapi barangkali saja dia mengatakan apa adanya. Seluruh lingkungan seakan sudah mengenal kami. Meskipun perhatian kami sangat terbatas untuk mengetahui mereka satu-persatu.
“Halo, Pak,” balas saya kemudian.
“Tidak usah memanggil Pak.”
Ia menyalami saya dan menyebutkan namanya, meski saya sulit sekali melafalkannya. Beberapa nama tidak tersimpan di otak saya. Ketika saya mendengar, seketika saya menyadari bahwa sulit sekali nama orang Prancis itu untuk masuk ke memori saya. Ketika istri saya menanyakan siapa nama pemuda itu, kontan saya menjawabnya, “Coki-Coki”.
Kini, memasuki musim dingin. Barangkali kami perlu menunggu beberapa musim untuk lebih mengenal banyak tempat ini. Tetapi, sebelum musim-musim itu datang, tiba-tiba muncul Andre seraya mengetuk pintu depan.
“Maaf, saya berulang tahun hari ini. Apakah kalian bersedia untuk datang ke rumah malam ini?”
“Ya, terimakasih, kami akan datang nanti malam,” tiba-tiba istri saya menyahut dari belakang.
“Wah, saya senang sekali, terimakasih,” balas Andre sambil tersenyum. Dan ia pun pamit sambil menutup pintu pelan-pelan.
Seketika itu, saya menoleh ke wajah istri saya. Ia menjelaskan, apa salahnya kita mendatangi acara ulang tahunnya sesekali. Sebab, selama beberapa bulan ini, dirasa inilah momentum yang pas untuk saling berjumpa antar tetangga, serta mengenal lebih jauh tentang kehidupan masing-masing.
Padahal, dalam tradisi NU di keluarganya, jarang ada perayaan tentang kelahiran seseorang. Justru perayaan atas kematianlah yang paling diutamakan, seperti tahlilan, nujuh hari, nyeratus hari atau haul setiap tahun. Bagi keluarga istri saya, orang mati justru lebih penting untuk dirayakan, atau lebih tepatnya ‘didoakan’. Kami tidak tahu tanggal kelahiran kakek maupun nenek, tetapi kami saling mengingat hari pemakaman mereka. Sewaktu kakek meninggal, saya diizinkan untuk membawa keranjang bunga, lalu menaburi bunga-bunga itu di sekitar pekuburannya.
Dengan seikat bunga yang telah kami beli, saya bersama istri melangkah pelan-pelan menuju rumah Andre sekitar jam tujuh petang. Saya mengenakan baju batik, sementara istri saya mengenakan sweater dan celana panjang, sambil mengenakan kerudung NU yang diselendangkan di sekitar bahu.
Kami mengintip ke dalam rumah dari jendela. Tidak ada siapa-siapa, juga tidak ada tamu, balon, bunga, juga tak ada hiasan lampu apapun. Jangan-jangan ini bukan hari ulang tahunnya (pikir saya). Ataukah kami telah salah memaknai ucapannya tadi pagi?
Saya pun memanggilnya. Tak berapa lama, muncul seorang pemuda tampan membukakan pintu. “Maaf, saya agak ragu, apakah hari ini benar ulang tahun Andre?”
“Ya, benar, kalian sedang kami tunggu… silakan masuk….”
Pemuda itu memanggil Andre seraya mengabarkan bahwa kami sudah masuk.
Andre muncul dari ruang tengah. Ia menjabat tangan saya, dan hendak mengecup istri saya, tetapi ia merasa ragu untuk melakukan.
“Selamat… ulang… tahun…,” kata saya dengan suara agar terbata.
“Ya, terimakasih atas kedatangannya,” jawab Andre.
Saya mencari-cari gadis yang melongok di jendela beberapa waktu lalu, tetapi ia tidak ada di sini. Saya menunggu tamu lain yang akan datang, tetapi tidak seorang pun yang muncul. Kamilah satu-satunya tamu yang hadir. Apakah benar hari itu adalah ulang tahunnya? Tak ada lilin yang dinyalakan, juga tidak ada kue-kue ulang tahun?
“Apakah benar hari ini ulang tahunmu?” tanya saya kemudian.
“Tentu saja. Malam ini saya akan berumur 42 tahun.”
Saya melihat tempat tidur hitam yang tersimpan di bawah jendela. Saya bertanya-tanya mengapa tempat tidur itu tersimpan di sana? Apakah benar ada seorang anak gadis berusia 16 tahun di rumah itu? Sementara, tempat tidur yang tergolek itu sepertinya bukan untuk anak-anak perempuan. Apakah para pemuda itu, termasuk si Coki-Coki yang beranting itu juga berkumpul di tempat tidur itu?
Setelah acara ulang tahun itu, saya terus menelusuri jejak kehidupan Andre bersama para pemuda itu. Beberapa kali saya bertandang di kediamannya, mencari-cari kesempatan untuk mengetahui lebih jauh tentang istrinya. Apakah ia punya istri, ataukah masih melajang?
Ketika Andre sedang membereskan pepohonan di sekitar taman, saya memasuki ruang tengah, dan seketika menemukan gambar-gambar aneh terpajang di sekitar dinding. Foto laki-laki telanjang bulat. Foto laki-laki yang mempertontonkan bokong dan burungnya. Ada sebuah foto yang agak miris untuk saya ceritakan pada istri saya, yakni beberapa pemuda telanjang yang seakan berlomba menunjukkan burung-burung mereka yang paling besar. Di bawah foto itu terdapat patung lelaki yang menggambarkan sensualitas postur tubuhnya, otot-ototnya, hingga pelir dan penisnya yang menegang dan menjulang ke angkasa.
Beberapa hari kemudian, kami mendatangi pihak pemerintah daerah. Dan mereka pun mengizinkan kami untuk berpindah tempat tinggal dalam minggu itu, mengingat kondisi istri saya yang sudah memasuki bulan ke sembilan, dan sebentar lagi menuju persalinan untuk menyongsong kelahiran anak saya yang pertama. (*)
Oleh: Alim Witjaksono, Pengamat dan penikmat sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional luring dan daring






