Di Bawah Akronim Kota Kasih

oleh -625 Dilihat
banner 468x60

Setiap kali bus memasuki Terminal Kupang, pandangan pertama selalu jatuh pada huruf-huruf besar yang kokoh berdiri Kupang Kota Kasih. Di bawahnya tersusun lima kata yang ambisius Karya, Aman, Sehat, Indah, Harmonis. Kata-kata itu dipasang dengan harapan mercusuar, memantulkan citra ideal pada setiap mata yang datang dan pergi. Namun kenyataan sehari-hari lebih lambat menyusul harapan. Ketika matahari terbit terlalu cepat, aroma pasar menyusul lebih cepat lagi.

Di simpang tertentu, tumpukan plastik hitam menggunung pelan. Tidak ada papan instruksi, tidak ada tempat khusus, hanya sebidang tanah yang berubah fungsi dengan sendirinya. Orang tahu, tempat itu bukan resmi, tapi seolah semua orang sepakat, sampah membutuhkan rumah, dan kota belum benar-benar menyediakan.

Setiap pagi, seorang sopir angkot melintasi jalur yang sama. Ia mengenali setiap lubang di jalan dan setiap tumpukan sampah yang hadir seperti wajah lama yang tidak pernah benar-benar hilang. Kadang ia berhenti sebentar, bukan untuk berbicara, hanya untuk menghela napas panjang. Udara dipenuhi bau asin dari laut dan aroma menyengat dari kantong plastik yang terbelah. Di belakang kursi pengemudi, sebuah stiker lusuh bertuliskan Kupang Kota Kasih masih menempel. Huruf K-nya retak, tetapi tetap terbaca.

Kota ini baik pada banyak hal. Orang saling membantu saat motor. Para tetangga berbagai makanan ketika ada pesta atau kematian. Hati manusia bekerja dengan lembut. Namun kebaikan hati tidak selalu berubah menjadi sistem yang rapi. Kasih antarwarga tidak sama dengan kasih terhadap lingkungan. Di tepi sungai, papan kayu tua yang pernah dipasang dengan niat mulia telah memudar. Huruf yang memerintahkan agar jangan membuang sampah nyaris hilang di antara lapisan debu. Di bawah papan itu, bertahun-tahun tumpukan plastik tumbuh seperti semak liar.

Pada hari-hari tertentu, angin membawa bau dari sungai, bercampur dengan wangi rumput dan debu dari jaln raya. Di lapangan kecil, bola plastik menggelinding diantara bungkus makanan yang tertinggal di perayaan seblumnya. Anak-anak berlari tanpa peduli. Masa kanak-kanak selalu lebih kuat dari pada bau. Kadang mereka berhenti sebentar, menatap sampah, lalu melanjutkan permainan mereka.

Di kantor kelurahan, rapat digelar dengan layar proyeksi yang menampilkan gambar taman penuh bunga, visi kota bersih dipresentasikan dengan slide yang berganti rapi. Kata “indah” muncul berkali-kali, ditemani tabel anggaran, diagram, dan target tahunan. Semua terlihat teratur di dalam ruangan berpendingin udara. Di luar jendela, angin membawa realitas yang berbeda. Di luar sana , sampah tetap menumpuk, menunggu tindakan nyata, bukan hanya rencana dan kata-kata di layar.

Minggu pagi, lonceng Gereja berdentang. Jemaat datang dengan pakaian rapi, menyanyikan syair pujian yang naik bersama suara angin. Setelah ibadah, halaman Gereja menjadi tempat piknik singkat. Tumpukan botol dan bungkus makanan dibiarkan tertinggal. Tidak ada niat buruk, hanya rutinitas. Seseorang, entah siapa, dipercaya akan membersihkannya. Tokoh tak terlihat ini menjadi legenda kota, makhluk-makhluk tanpa nama yang menanggung sampah semua orang. Dalam daim, kota ini berbicqara tentang harapan dan kepedulian, meski tindakan nyata sering tertunda.

Di tengah kota, patung besar dengan tulisan-tulisan Kupang Kota Kasih berdiri dengan anggun. Lampu sorot memantulkannya pada malam hari, membuat kota tampak megah dari sudut pandang tertentu. Tepat dibawahnya, tong sampah selalu penuh, dan plastik tersangkut di rumput, bergerak pelan mengikuti arah angin. Warga lewat tanpa memperhatikan, tapi patung itu tetap tegak, simbol ambisi dan ironi yang bersatu.

Sore itu, saat angin mulai berubah warna menjadi jingga, sopir angkot yang sudah tua berhenti di dekat tumpukian sampah yang baru. Ia turun, mengambil beberapa kantong kecil, lalu menggantungnya di belakang angkotnya. Tidak ada yang melihat, tidak ada yang memuji, tidak ada yang mencatat.

Tindakannya sederhana, seperti gerak refleks. Kasih yang mungkin tidak besar, tetapi nyata. Sebuah langkah kecil di tengah kota yang besar, namun berat dengan kontradiksi. Di kaca belakang mobilnya, stiker tua itu tetap menempel. Huruf-huruf yang retak tidak mengurangi keyakinan bahwa kasih masih mungkin hadir, bahkan dalam bentuk yang paling kecil. Kota ini mungkin belum bersih.

Slogan itu mungkin belum sepenuhnya benar. Tetapi harapan terus hidup seperti debu yang terangkat setiap kali angkot bergerak. Malam turun. Lampuh menyala. Huruf-huruf Kota Kasih bersinar terang, menembus gelap. Kota ini tetap berjalan, mengolah ironi dan kenyataan. Dibawah akronim yang mulia, orang-orang tetap berusaha.

Kadang kasih bukan pada baliho. Kadang kasih hanya berupa satu kantong sampah yang dipungut tanpa suara. Dalam setiap langkah kecil itu, kota dan warganya tetap bertumbuh, meski lambat, meski penuh kontradiksi.

Oleh: Rikardus Undat

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widiya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.