Angkat Tema Tarian dan Musik Tradisional, Komunitas Seni L’Art IFTK Ledalero Juara 1 Kompetisi Mural

oleh -1196 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Maumere – Komunitas Seni L’art dari Institut Filsafat Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere berhasil meraih juara 1 dalam ajang kompetisi mural yang diselenggarakan pemerintah daerah Kabupaten Sikka bersama Kecamatan Alok, di Gelora Samador Maumere.

Kegiatan berlangsung pada 6–7 Desember 2025 menempatkan juara satu Advento Luahane selaku anggota dari L’art yang mengaku lebih memilih tema tarian dan musik tradisional karena merupakan bagian paling hidup dan dikenali oleh masyarakat. Tujuannya adalah dapat menghiasi tembok Gelora Samador agar indah dipandang tetapi juga menjadi media eduksi dan pengingat warisan budaya.

“Konsep kami sebenarnya muncul dari keinginan untuk mengangkat identitas lokal Kabupaten Sikka yang kental dengan budaya. Kami pikir, tarian dan musik tradisional merupakan bagian yang paling hidup dan mudah dikenali oleh masyarakat, jadi kami putuskan membuat itu sebagai tema. Tujuannya juga agar mural ini tidak cuma menghiasi tembok-tembok Gelora Samador agar indah dipandang, tapi juga menjadi media edukasi dan pengingat akan warisan budaya kita,” ujar mahasiswa IFTK Ledalero semester 5 ini.

Dalam konsep desain, Advento mengaku telah mengumpulkan referensi tarian tradisional di Sikka, dan juga musik kampung. Setelah itu disatukan lalu digambar mural dalam dua konsep yaitu vektor dan realistis.

“Terkait dengan desainnya, kami mengumpulkan referensi tarian tradisional Sikka seperti tarian Bambu atau Tua Reta Lo’u, Hegong, juga musik kampung seperti Gong Waning yang kemudian kami satukan. Warna yang kami pilih juga cerah dan hidup agar indah dipandang. Pada gambar mural tersebut kami menggabungkan 2 konsep yakni vektor dan juga sedikit realistis,” imbuhnya.

Pria asal Kefamenanu ini mengaku semua hasil perlombaan tidak dikerjakan secara mandiri. Ia dengan tim telah bersama berkolaborasi bersama dengan masyarakat setempat untuk medapatkan arahan dan masukan.

“Perencanaan dari awal sampai juara, pertama kami berkumpul untuk membahas konsep dan mendaftarkan kelompok. Setelah kami sepakat untuk tema. Sebelum pengerjaan, kami sudah membagi tugas agar bisa diselesaikan dengan baik. Kami juga sering berkomunikasi dengan panitia dan bahkan berinteraksi dengan warga sekitar untuk mendapatkan masukan. Semua itu kami lakukan dengan kerja keras dan semangat walaupun berada dibawah terik matahari,” ungkapnya.

Advento pun memberikan apresiasi kepada pemerintah yang telah menyelenggarakan lomba ini. Baginya ini bukan sekadar lomba tapi kesempatan baik untuk memperdayakan seniman lokal serta mempromosikan budaya Sikka.

“Untuk pemerintah yang telah menyelenggarakan perlombaan ini, kami sangat mengapresiasi langkah ini. Sebenarnya ini bukan sekedar lomba semata, tapi juga kesempatan yang baik untuk memberdayakan seniman lokal dan mempromosikan budaya Sikka ke khalayak lebih luas. Dengan melalui perlombaan mural ini, dinding – dinding kota Maumere jadi lebih hidup, jadi kami berharap acara seperti ini bisa terus berlanjut dan bahkan diperluas ke daerah lain di Kabupaten Sikka,” tandasnya.

Ia berharap pemerintah dapat terus menyelenggarakan lomba ini dengan skala lebih besar dengan menghadirkan seniman lain dari luar agar dapat tercipta pertukaran ide.

“Untuk pemerintah, harapan kami adalah semoga perlombaan ini bukan hanya sekali jalan, tapi bisa jadi acara tahunan bahkan dengan skala yang lebih besar, misalnya menambahkan kategori lain atau mengundang peserta dari luar kabupaten agar ada pertukaran ide,” ujarnya.

Advento juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan dukungan dalam proses pengerjaan mural ini. Ia berharap masyarakat tidak cuma menghargainya dari jauh, tapi juga mau mempelajarinya, menyebarkannya, dan melindunginya dari hilangnya makna.

“Untuk masyarakat Sikka, kami ingin mengucapkan terima kasih karena proses pengerjaan selama 2 hari, banyak yang berkunjung, memberi dukungan, bahkan berbagi cerita tentang tarian dan musik tradisional yang kami gambarkan. Harapan kami adalah semoga kita semua semakin peduli dan bangga dengan budaya sendiri tidak cuma menghargainya dari jauh, tapi juga mau mempelajarinya, menyebarkannya, dan melindunginya dari hilangnya makna. Semoga mural ini bisa jadi titik awal agar lebih banyak orang, terutama generasi muda, tertarik untuk mengeksplorasi tarian, musik, dn warisan budaya Sikka yang luar biasa ini,” ucapnya.

Dilansir dari situs resmi IFTK Ledalero, posisi kedua, ketiga, dan keempat rupanya juga di tempati oleh mahasiswa-mahasiswa dari IFTK Ledalero. Mereka adalah tim mural yang berasal dari Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV) IFTK Ledalero. Para pemenang tersebut yakni, Juara II dari Tim Main Kambing yang beranggotakan mahasiswa semester II Prodi DKV, Juara III Tim Goten Craft yang beranggotakan mahasiswa semester 7 DKV, dan Juara IV Tim Uno yang anggotanya gabungan mahasiswa DKV dan seniman luar. (RA/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.