Kisah Pilu Makan Bergizi Gratis

oleh -3460 Dilihat
banner 468x60

Siswa Sekolah Dasar di sejumlah daerah ketika menerima makan bergizi gratis (MBG) enggan memakan makanannya di sekolah bersama teman-teman tetapi memilih membawa pulang ke rumah untuk dimakan bersama orangtua.

Kisah seorang siswa SDN Bone Raya, Bone Bolango Gorontalo memilih tak memakan makanan bergizi gratis yang dibagikan petugas dari Polsek Bone Raya. Saat ditanya alasan sangat mengharukan, ia memilih membawa pulang makanan yang dibagikan demi untuk diberikan kepada sang ibu yang ada di rumah.

Demikian halnya, seorang siswa kelas VI SDN 040445 Desa Ketaren, Kecamatan Kabanjahe menangis ingat orangtua saat dibagikan paket makanan dalam uji coba MBG oleh Kodim 0205/TK, Selasa (7/1/2025).

Program MBG yang baru berjalan sepekan menyingkap kisah mengharukan gambaran kodisi empiris masyarakat yang selama ini seakan tertimbun hiruk pikuk “kepalsuan” yang terus diglorifikasi.

MBG seakan membuka tabir kelaparan yang mengendap dan membeku di relung-relung hati terdalam di berbagai pelosok negeri. Kondisi yang semakin mempertegas keyakinan sang Presiden Prabowo Subianto, “berikan saya waktu untuk memberi makan anak-anak Indonesia yang masih kelaparan”.

MBG bukan sekadar memberi makan gratis, tetapi mengungkap masalah kebutuhan mendasar tentang ketahanan dan kedaulatan pangan.

Berdasarkan laporan Neraca Bahan Makanan yang dikeluarkan oleh Badan Pangan Nasional pada tahun 2018-2020, belum semua pangan strategis Indonesia dapat dipenuhi oleh produksi domestik.

Sejumlah pangan utama masih harus dipenuhi dari impor, termasuk kedelai (80-90 persen impor), gula pasir (65-70 persen impor), bawang putih (90-95 persen impor) dan daging sapi (25-30 persen impor). Jika produksi dunia untuk pangan strategis tersebut terganggu, maka akan sangat berpengaruh pada kondisi pangan nasional.

Risiko yang dihadapi ketahanan pangan diperparah dengan rendahnya diversifikasi pangan. Produk utama dari hasil pertanian dunia adalah padi-padian (cereals), gula dan minyak nabati. Khusus jenis padi-padian, 90 persen produksinya didominasi oleh jagung, beras dan gandum. Hal ini mengindikasikan tingginya ketergantungan dunia atas komoditas pangan tertentu.

Di sisi lain, malnutrisi masih menjadi masalah kesehatan yang besar di Indonesia. Setidaknya, ada 23 juta orang Indonesia yang tidak mampu memenuhi asupan gizi berimbang (undernourished) setiap hari. Selain itu, berbagai masalah kesehatan yang berkaitan dengan gizi dan nutrisi seperti stunting, obesitas, dan berbagai penyakit bawaan akibat pola makan juga menjadi tantangan untuk Indonesia.

Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan kepada remaja putri di 335 sekolah di daerah Jawa Barat menyebutkan bahwa 45 persen remaja putri tersebut mengalami anemia dan 18 persen obesitas yang keduanya berkaitan dengan pola makan (Agustina et al., 2020).

Melihat kompleksitas permasalahan pangan, diperlukan perubahan multi-pilar untuk mewujudkan transformasi sistem pangan di Indonesia. Hal ini dilakukan oleh Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL), bagian dari Food and Land Use Coalition (FOLU), yaitu komunitas global pembuat perubahan yang bekerja bersama para mitra guna mentransformasikan sistem pangan dan tata guna lahan dunia, melalui penyusunan solusi berbasis sains dan aksi kolektif yang ambisius.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.