Di tengah derasnya dinamika politik dan pembangunan di Nusa Tenggara Timur (NTT), satu peristiwa akademik mencuri perhatian. Pius Rengka, nama yang lama dikenal sebagai jurnalis, politisi, dan intelektual publik NTT, kini resmi menyandang gelar Doktor Studi Pembangunan dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.
Rabu, 1 Oktober 2025, menjadi hari bersejarah. Di lantai 5 Gedung Pascasarjana UKSW, Salatiga, Pius berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji lintas kampus. Judul yang ia pilih tegas dan menohok: “Kepemimpinan Transformasional: Analisis Perubahan Sosial Ekonomi dan Politik Kebijakan di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Masa Kepemimpinan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat.”
Disertasi ini tidak lahir di ruang hampa. Ia berangkat dari pengalaman panjang Pius sebagai jurnalis yang kritis, sebagai anggota DPRD NTT, dan sebagai staf khusus Gubernur Viktor Laiskodat. Dengan bekal itu, ia tidak hanya memandang fenomena kepemimpinan sebagai teori, tetapi juga sebagai lanskap hidup yang ia saksikan, amati, bahkan hidupi.
“Saya sudah menaruh perhatian pada kepemimpinan politik sejak 1977. Bagi saya, kepemimpinan selalu terkait erat dengan relasi kekuasaan,” ujar Pius dalam presentasi disertasinya.
Tema besar yang diangkat Pius adalah kepemimpinan transformasional, sebuah konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh James MacGregor Burns. Konsep ini menekankan bagaimana seorang pemimpin bukan sekadar mengelola, tetapi mentransformasi masyarakat dengan visi, nilai, dan energi perubahan.
Pertanyaannya: apakah gaya kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat (2018–2023) benar-benar transformasional? Apakah kebijakan-kebijakan yang digulirkan—dari pariwisata premium, industrialisasi garam, hingga energi terbarukan—sudah mendorong perubahan sosial ekonomi NTT, atau justru meninggalkan paradoks?
Pius menelaah persoalan ini secara kritis. Ia menempatkan kebijakan Viktor dalam konteks sejarah panjang NTT yang selama ini kerap dicap sebagai provinsi miskin, kering, dan terbelakang. Dari ruang sidang akademik, ia berusaha menunjukkan bahwa politik lokal tidak bisa dipahami hanya dari pragmatisme kekuasaan, melainkan perlu dibaca melalui struktur sosial, budaya kepemimpinan, dan visi perubahan.
“Fenomena kepemimpinan politik bukan hal baru. Bahkan telah menjadi perdebatan sejak era Great Man Theory dari Thomas Carlyle,” tegas Pius. Dengan kata lain, perdebatan tentang pemimpin besar atau transformasional bukan sekadar romantisme, tetapi soal bagaimana kekuasaan benar-benar bekerja untuk rakyat.
Sidang promosi doktor Pius diwarnai suasana serius dan penuh apresiasi. Tim penguji internal UKSW terdiri atas Prof. Daniel Kameo, Ph.D (promotor dan Ketua Program Doktor Studi Pembangunan), Dr. Titi Susilowati Prabowo, dan Dr. Ir. Royke R. Siahainenia, M.Si.
Dari pihak eksternal, hadir Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si, Ph.D, Guru Besar Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, yang dikenal luas dalam kajian pembangunan daerah. Kehadiran Prof. Benu memberi bobot penting: disertasi ini tidak hanya dipertimbangkan dari kacamata UKSW, tetapi juga dinilai langsung oleh akademisi NTT.
Pius sendiri menempuh studi doktoralnya dengan bimbingan Prof. Daniel Kameo, didampingi dua co-promotor: Prof. Dr. Intiyas Utami, SE, M.Si, Ak., Rektor UKSW, serta Dr. Wilson Therik, MA. Hadir pula sejumlah akademisi senior UKSW, termasuk Prof. Willy Toisuta, Ph.D, tokoh pendidikan yang lama dikenal sebagai “guru besar Indonesia Timur.”
“Selamat kepada Dr. Pius Rengka. Ini adalah kontribusi penting untuk dunia akademik, dan terutama bagi pembangunan sosial-politik di NTT,” ujar Prof. Kameo dalam pidatonya.
Sebenarnya, proses akademik Pius Rengka tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Sebelum sidang terbuka, ia sudah aktif terlibat dalam diskusi-diskusi publik yang diselenggarakan Fakultas Interdisiplin UKSW. Dalam Diskusi Kamisan bertajuk “Dinamika Sosial Ekonomi Politik Kepemimpinan Viktor Laiskodat”, Pius menyampaikan sebagian gagasan yang kemudian ia pertajam dalam disertasinya.
Forum-forum itu menjadi ruang uji awal: bagaimana pandangannya mengenai transformasi NTT mendapat respons dari akademisi lain, mahasiswa, maupun pegiat sosial. Dengan kata lain, disertasinya bukan sekadar karya akademik kering, tetapi telah diuji dalam “pasar ide” yang lebih luas.
Media lokal pun turut mengangkat kiprah akademiknya. Beberapa media di NTT, termasuk Victory News, menulis tentang perjalanannya sebagai doktor baru dari Salatiga, dengan menyoroti topik khusus tentang kepemimpinan Viktor Laiskodat. Media nasional seperti Media Indonesia pun memberi porsi berita, menandakan bahwa capaian Pius tidak sekadar milik pribadi, melainkan juga menyangkut kepentingan wacana publik.
Bagi sebagian orang, gelar doktor adalah puncak perjalanan. Namun bagi Pius Rengka, gelar ini justru membuka ruang tafsir baru. Disertasinya berpotensi menjadi bahan rujukan penting untuk memahami bagaimana politik lokal di kawasan timur Indonesia seharusnya dibaca dan dipraktikkan.
NTT kerap dipandang sebagai pinggiran, baik secara ekonomi maupun politik. Namun, melalui karya akademiknya, Pius ingin menunjukkan bahwa daerah pinggiran pun punya nilai analisis dan pengalaman kepemimpinan yang layak dikaji secara serius. Dalam kerangka itu, politik lokal bukan lagi sekadar urusan elite, tetapi bagian dari wacana pembangunan nasional.
Dalam refleksinya, Pius menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional bukan sekadar jargon. Ia menuntut kejujuran politik, keberanian mengambil keputusan, sekaligus kemampuan merangkul rakyat kecil. Tugas akademisi, menurutnya, adalah menjaga agar wacana kepemimpinan tidak terjebak dalam puja-puji, tetapi diuji lewat analisis tajam dan bukti nyata.
Capaian akademik Pius Rengka bukan hanya milik pribadi. Ia adalah cermin dari perjalanan panjang seorang intelektual yang pernah hidup di jantung politik, lalu kembali ke ruang akademik untuk menafsir ulang apa arti kepemimpinan.
Dari ruang redaksi hingga gedung DPRD, dari forum publik hingga sidang doktoral—Pius Rengka menunjukkan bahwa ide dan komitmen tidak pernah berhenti tumbuh. Kini, dengan gelar doktor di pundaknya, ia bukan hanya seorang jurnalis senior atau mantan politisi, tetapi seorang akademisi yang siap memperkaya percakapan tentang masa depan NTT.
Perjalanan ini mengingatkan kita bahwa politik dan ilmu pengetahuan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, keduanya harus saling menerangi. Politik tanpa ilmu akan rapuh, sementara ilmu tanpa politik bisa kehilangan relevansi sosialnya.
Dengan disertasi yang kini resmi dipertahankan, Pius telah menghubungkan keduanya. Ia meneguhkan bahwa ruang akademik bisa menjadi tempat terbaik untuk membaca ulang kepemimpinan, dan dari sana, masyarakat bisa belajar untuk menuntut kepemimpinan yang lebih bermakna.
Tim Redaksi









